BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Gagal Resign


__ADS_3

Laki-laki dengan postur tinggi besar itu pun menghampiriku, yang masih berdiri terpaku dengan tangan dan kaki yang gemetar.


"Sedang apa kau di sini?!"


Matanya melebar, menatapku dengan teliti. Suaranya terdengar begitu keras di telingaku. Apa ... apa dia akan memarahiku?


"Hei! Kau tidak dengar? Kau sedang apa di sini?!"


"A-a-aku ... aku baru saja meletakkan berkas di meja kerja Anda, Pak?" jawabku seraya menunduk. Bibirku gemetar. Mengapa aku merasa sangat takut ketika menatapnya?


"Apa itu?!" Pak Wibowo mengambil foto yang berada di tanganku dengan kasar.


"A-aku me-mengambilnya tadi. Tadi foto itu ... fo-foto itu terjatuh," jawabku lagi dengan bibir yang masih bergetar.


Dia tampak semakin geram saat melihat foto tersebut di tangannya. "Siapa yang menyuruhmu menyentuhnya?!"


Aku sudah tidak tahu apa yang harus kukatakan. "Maaf ... maafkan aku ...." Hanya kata itu yang terlontar dari mulutku.


"Maaf?" Laki-laki itu semakin mendekat. "Kau pikir kata maaf itu cukup? Tidak! Kau sudah melakukan kesalahan yang fatal! Kau dipecat!!"


Aku langsung mendongak. Menatapnya terkejut. "Pak ... tapi ...."


"Keluar!!"


Aku pun langsung melangkah ke luar. Kututup kembali pintu itu. Aku berjalan menuju meja kerjaku. Aku pun duduk dengan perasaan hati yang sesak. Mengapa dia marah-marah? Apa salahku? Bukankah itu hanya sebuah foto? Tapi kenapa dia geram sekali? Dan mengapa harus menecatku? Apakah menyentuh sebuah foto adalah sesuatu yang fatal? Apa itu dosa? Bukankah itu hanyalah sebuah foto?


"Imania, kau kenapa?" tanya mas Bastian yang sedari tadi memperhatikanku.


Aku hanya menggeleng padanya seraya melempar senyum tipis.


Dia mengerti, bahwa aku sedang tidak ingin bicara. Mas Bastian pun sepertinya mengurungkan niatnya, untuk bertanya lebih.


Dimas ... ayahmu memecatku. Aku harus bagaimana? Bagaimana lagi untuk membuat ayahmu menyukaiku. Bahkan, aku baru mau bicara dengan ayahmu. Tapi dia sudah membenciku lagi. Dimas ... aku harus bagaimana?


***


Jam kerja sudah selesai. Semua karyawan yang bekerja di staf back office sudah pulang. Tinggal aku dan mas Bastian yang masih duduk di meja kerja. Melihat suasana sudah sepi, aku pun bergegas membereskan meja kerjaku. Dengan perasaan lesu, aku harus tetap semangat. Meski harapanku sudah pupus. Pak Wibowo telah memecatku. Untuk apa lagi aku di sini.


Saat aku akan beranjak, mas Bastian menahanku.


"Imania, mau kuantar pulang?"


"Mas, tidak usah. Terima kasih, ya?" tolakku dengan sedikit senyum tipis.


"Aku memperhatikanmu dari tadi. Apa kau baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja," jawabku lagi.

__ADS_1


"Imania, mengapa kau selalu menolak bila kuantar pulang?"


"Maaf, Mas. Bukannya menolak, tapi ... aku tidak mau ini menyebabkan fitnah. Kita sudah bercerai, jadi ... kita fokus pada jalan masing-masing saja, ya?"


Aku pun beranjak meninggalkan meja kerjaku. Akan tetapi, tiba-tiba mas Bastian menahan lenganku.


"Tunggu!"


Aku menoleh tangannya yang mencekal lenganku.


"Maaf ...," katanya. "Aku ingin bicara denganmu. Bisakah kita bicara sembari mengantarmu pulang?


"Apa kita akan membicarakan sesuatu yang penting?"


"Ya, ini penting."


Aku pun berpikir sejenak. Melihat tatapan mas Bastian, sepertinya dia memang ingin membicarakan sesuatu hal yang serius. Apa lebih baik, aku mengiyakan?


"Dia hanya akan pulang bersamaku!"


Suara seseorang di depan pintu masuk—pintu masuk bagian belakang— mengejutkan kami. Mas Bastian pun segera melepaskan tangannya dari lenganku.


"Dia hanya akan pulang bersamaku!" katanya lagi.


"Dimas!" seruku terkejut.


"Imania, aku hanya ingin bicara penting. Sebentar saja!" kata mas Bastian dengan pandangan serius.


"Tidak bisa! Dia akan langsung pulang bersamaku!" kata Dimas sembari menatap tajam mas Bastian.


"Aku pulang dulu, ya, Mas," kataku pada mas Bastian.


Aku dan Dimas pun ke luar, dan pergi meninggalkan mas Bastian yang masih terpaku memandang kepergianku. Dan aku pun masuk ke dalam mobil bersama Dimas.


"Nia, Bastian sekantor denganmu?" tanya Dimas seraya menyalakan mobilnya.


"Iya," jawabku.


"Bukankah, Bastian ditempatkan di cabang satu?"


"Aku tidak tahu soal itu. Mungkin dia pindah. Aku belum pernah bertanya padanya tentang kepindahannya ke kantor pusat," jelasku.


Dimas pun menjalankan mobilnya. Dia tampak penasaran sekali dengan kepindahan mas Bastian.


"Besok, aku akan meminta pada sekertaris Ve, agar memindahkan kembali ke cabang satu!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Agar dia tak dekat-dekat denganmu! Lagi pula, meja kerja kalian sangat dekat. Aku tidak suka melihat Bastian mendekatimu lagi!"


Aku menatap Dimas tak mengerti. "Di, kami sudah bercerai. Tak ada hubungan lebih dari pertemanan di antara kami!"


"Jika saja aku tahu. Aku tidak akan membuatmu bekerja di sana!"


"Kau tenang saja. Mulai besok, aku juga tidak akan bekerja lagi di kantor ayahmu itu," kataku dengan nada lirih.


Dimas tiba-tiba mengehentikan mobilnya. Ia menoleh ke arahku dengan bingung. "Kenapa memangnya? Jika gara-gara Bastian, aku bisa memindahkannya besok, kau tenang saja! Kau tidak perlu keluar dari kantor. Dan—"


"Di! Aku dipecat!" Aku memotong perkataan Dimas.


"Kau dipecat? Siapa yang berani menecatmu? Apa sekertaris Ve? Tapi mana mungkin?!" tanya Dimas dengan nada meninggi.


"Bukan. Bukan sekertaris Ve yang memecatku. Tapi ayahmu!"


Dimas terbelalak kaget mendengar penuturanku. "Ayahku menecatmu?"


Aku hanya mengangguk. Aku pun menunduk dalam seraya menitikkan air mata. Aku sudah gagal membuat pak Wibowo menyukaiku. Aku sudah kalah sebelum bertanding. Pak Wibowo tidak akan menerimaku. Dia sangat membenciku!


Dimas menatapku bingung. Tanpa bertanya lebih jauh, tentang alasan pak Wibowo memecatku. Dimas langsung mengambil handphone. Ia menelepon seseorang, yang entah siapa.


"Halo." Suara di seberang panggilan.


"Kak Ve, apa yang terjadi pada Imania? Dia bilang, dia dipecat oleh ayahku?"


Aku masih menangis. Dan aku bisa mendengar jelas suara sekertaris Ve di telepon, karena Dimas menekan tombol loud speaker di handphone-nya.


"Oh, aku sudah tahu itu. Aku sudah mengurusnya tadi. Pak Wibowo datang ke ruanganku dengan sangat marah. Akan tetapi aku sudah berhasil membujuk ayahmu. Alhasil, Imania tidak jadi dipecat. Aku baru saja mau meneleponnya, kau sudah meneleponku duluan," katanya.


Aku terkejut mendengarnya. Segera kusapu air mataku. Benarkah? Benarkah apa yang baru saja kudengar? Pak Wibowo tidak jadi memecatku? Dan ... itu berarti, aku masih punya kesempatan untuk membuatnya menyukaiku?


"Baik, terima kasih, Kak Ve. Kau menjaga kekasihku dengan baik."


Setelah mereka berbincang, Dimas pun menutup teleponnya.


"Tidak jadi nangis?" godanya padaku.


Aku hanya tersenyum tipis. Kemudian dia menyalakan mobilnya kembali.


"Kita akan ke rumah barumu dulu, ya?" ajaknya.


"Mau ngapain?" tanyaku.


"Mau ninu-ninu, ha-ha ...!"


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2