BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Keluarga Yang Harmonis


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, kami pun mendaftar. Kali ini aku yang meminta kepada Dimas untuk tertib mengantri. Namun, sayang, karena sudah mengantri selama lima belas menit, akhirnya lagi-lagi Dimas tidak sabar. Ia kembali meminta untuk diberlakukan khusus. (Biasalah, orang kaya, pakai money langsung beres. WKWK)


Kami menemui dokter Susi dan melakukan USG. Dokter Susi pun mengoleskan sesuatu ke perutku, lalu menempelkan transducer ke kulit perutku. Sehingga muncullah gambar janinku di layar monitor.


"Wah!" ucap dokter Susi tiba-tiba sembari menatap layar monitor dan tangan tetap menempelkan transducer ke perutku.


"Ada apa, Dokter Susi?" tanya Dimas khawatir.


"Coba, Dokter Dimas lihat. Ini maksudnya apa? Kau seorang dokter, pasti paham."


Dimas dengan cemas pun menatap layar monitor tersebut lebih serius.


"I-itu ... ada dua?" Dimas menatap dokter Susi tidak percaya.


Dokter Susi mengangguk. "Benar," jawabnya sembari tersenyum.


"Itu berarti?" Dimas tidak bisa melanjutkan perkataannya karena saking bahagianya.


"Selamat, bayinya kembar," kata dokter Susi.


Dimas langsung memelukku erat, menciumi pipi dan keningku, lalu mengelus perutku. "Terima kasih, Sayang. Keinginanku memiliki anak kembar terwujud juga."


"Silakan, Dokter Dimas bila ingin melihat lebih bayi kembarnya." Dokter Susi memberikan alat yang digunakan untuk USG tersebut kepada Dimas.


Akhirnya, dengan perasaan bersyukur sekali, Dimas menyoroti perutku menggunakan transducer tersebut. Dan kami pun tahu bahwa jenis kelamin bayi kembarku adalah laki-laki dan perempuan.


"Sekali lagi, selamat, Dokter Dimas. Saya turut bahagia," kata Dokter Susi sembari terus tersenyum mengamati betapa bahagianya kami.


***


Sepulang dari rumah sakit, aku melihat ada tukang somay dan pempek. Aku pun meminta Dimas untuk membeli somay dan pempek terlebih dahulu. Makanan itu adalah jajanan favoritku sewaktu SMP. Tak disangka kedua bayiku juga ingin merasakan betapa lezatnya kedua makanan itu. Usai membeli kedua jajanan itu, kami pun segera masuk ke mobil.


Baru masuk ke mobil, aku sudah tidak sabar ingin makan somay tersebut.


"Sayang, boleh aku makan sekarang?"


"Boleh, dong?" Dimas tersenyum melihatku.


Segera kubuka somay yang sangat menggiurkan itu.


"Sini, biar aku yang suapin," pinta Dimas.


Dimas pun menyuapiku. Dimas senyum-senyum sendiri melihatku makan dengan begitu lahap. Ketika somay tersebut tinggal beberapa biji, gantian aku yang menyuapi suamiku.


"Mau lanjut pempeknya?" tanya Dimas.


"Iya," jawabku.


"Biar kusuapi lagi."


Dengan penuh perhatian, Dimas menyuapiku lagi. "Lain kali, kau tidak boleh jajan sembarangan. Jika ingin makan sesuatu, aku akan meminta chef untuk membuatkannya untukmu. Itu lebih terjamin hiegenis."


"Ya, Sayang."


Usai makan pempek, Dimas menawariku untuk mampir ke restoran Rudi. Berhubung perutku masih mau diajak untuk makan, aku pun setuju. Kebetulan sekali aku sedang ingin makan dessert yang manis dan dingin. Ah, itu pasti sangat segar dan lezat.


Beginilah pola makan seorang ibu hamil. Porsi makan pun bertambah banyak, apalagi di dalam perutku tidak hanya satu bayi, tapi ada dua bayi. Jadi, porsi makanku menjadi tiga kali lipat lebih banyak, ha-ha.


(Awas gendut, loh, Imania. wkwk)


Usai makan di restoran Rudi, kami pun pulang.


***


Malamnya, saat aku sedang duduk bersantai di sofa sembari menonton Drama Korea bersama Dimas. Tiba-tiba aku ingin sekali makan martabak manis rasa greentea. Aku langsung mengutarakan keinginanku itu.


"Sayang, kayaknya makan martabak manis greantea enak, deh," ucapku yang tengah bersandar di bahunya.


"Kamu mau martabak?"


"Iya."


"Pengen banget?" Dimas mengelus perutku. "Anak-anak Papa ingin martabak, ya?"


"Iya," jawabku dengan suara dibuat seperti anak kecil.


"Anak pintar." Dimas mencium perutku.


Kemudian Dimas meraih handphone dari atas meja.


"Mau ngapain?" tanyaku.


"Meminta Chef Arnold untuk membuatkan martabak greantea untukmu."


"Wah, iya, tapi bilang, ya, ke Chef Arnold untuk cepat-cepat bikinnya. Udah pengen banget, nih?"


"Iya, Sayang."


Dimas segera menghubungi Chef Arnold. Chef yang bekerja di restoran Rudi. Pasti Readers Keceh penasaran, ya? Chef Arnold itu siapa? Apa yang jadi juri di Master Chef Indonesia? Wah, Imania juga enggak tahu, gaes. Coba saja tanya sendiri sama Author Keceh si tuhannya novel ini. Wkwk.


Selang lima belas menit, martabak pesananku diantarkan oleh seorang anak buah Rudi. Aku sangat senang menyantap kelezatan martabak buatan Chef Arnold. Yang pastinya lezat, mozzarella cheese-nya lumer, dan cokelatnya, uh! Meleleh di mulut. Membuat lidahku menari-nari dimanjakan oleh perpaduan rasa yang sempurna.


"Sayang, ini sangat enak."


"Aku senang melihatmu makan dengan lahap."


"Tapi nanti aku gendut."


"Tidak apa, wajar, kan, kalau ibu hamil itu gendut. Nanti berat badanmu akan normal kembali setelah melahirkan."


"Jika tidak?"


"Ya, kamu harus rajin olahraga, ha-ha."


"Ish!" Kucubit pinggangnya.


Kami menikmati martabak lumer ini sama-sama. Oh my God, ini lezat sekali. Mana masih hangat lagi. Hm ... lidahku seakan bergoyang.


Hayo? Pasti Readers Keceh lagi ngebayangin sambil menelan ludah. Wkwk.


Saat kami tengah menonton drakor sembari menikmati martabak manis greantea ini, tiba-tiba adegan romantis pun terjadi pada kedua tokoh utama tersebut. Ciuman-ciuman panas ikut membakar jiwa kami. Aku menelan saliva sendiri menyaksikan betapa sweet adegan tersebut.


Dan tiba-tiba Dimas meraih wajahku. Kemudian ia mendekatkan wajahnya. Pelan-pelan ia mengusap bibirku yang belepotan menggunakan lidah dan bibirnya. Ia menjilat dan mengecup lembut setiap sudut bibirku. Aku hanya terpejam menikmati kelembutan sekaligus rasa manis yang berpadu di dalam mulut kami.

__ADS_1


Terjadilah dua adegan yang tengah berlangsung, di televisi dan juga yang sedang live. Wkwk. Jangan-jangan ... yang baca novel ini juga sedang ikut live, ya? Wkwk.


***


Tiga bulan kemudian.


Ketika mentari pagi tengah bersikeras menghangatkan buminya. Aku tengah berdiri di tepi balkon bersama Dimas. Akhir-akhir ini suamiku menjadi sering di rumah. Dia bilang ingin selalu berada di dekatku untuk menjagaku.


"Sayang, sebaiknya rumahku diberikan sekarang saja untuk kedua orang tuaku. Aku tidak tega menjual rumah tersebut. Terlalu banyak kenangan bersama Arka. Aku tidak ingin rumah itu ditempati orang lain," tuturku.


"Berikan saja, itu rumahmu. Dan itu adalah hakmu, Sayang," ujar Dimas yang berdiri di sampingku.


"Nanti kita mengunjungi orang tuaku, ya? Sekaligus memberitahukan tentang ini."


"Ya, Sayang."


Saat kami tengah asyik berbincang sembari menikmati pemandangan alam nan indah dari balkon rumah, dengan sinar mentari yang terasa hangat di tubuh, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna orange masuk ke halaman rumah kami.


"Itu mobil siapa?" tanyaku pada Dimas.


"Tidak tahu."


Seseorang pun turun dari mobil tersebut. Seorang wanita dengan balutan hijab modern turun dan melepaskan kacamata hitamnya.


"Fania." Aku memandangnya gembira. "Ayo, turun," ajakku tak sabar.


"Tunggu." Dimas menggandeng tanganku.


Aku menoleh. "Ada apa?"


"Bukankah sudah pernah kubilang? Aku tidak akan membiarkanmu jatuh, kecuali dalam pelukanku."


"Hah?"


"Jangan terburu-buru. Ada tiga nyawa dalam dirimu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan pada kedua bayi kembarku."


Dimas pun menggenggam jemariku, membawaku menuju lantai bawah. Sesampainya di sana, bi Murti yang membuka pintu. Fania dipersilakan masuk.


"Terima kasih, Bi," ucap Fania kepada bi Murti.


"Fania, kau bawa apa itu?" tanyaku menghampirinya.


"Ini ... kue buatanku."


Fania memberikan sekotak kue tersebut padaku.


"Terima kasih, Fan. Memangnya, kamu sudah bisa bikin kue?" tanyaku.


"InsyaAllah sudah. Makanya cicipi, dong?"


Lebih bahagia lagi melihat cara bertutur Fania yang mulai berubah. Selain pakaiannya yang berubah, gaya bicaranya pun menjadi lebih anggun. Fania benar-benar serius untuk menjadi lebih baik.


"Ayo, silakan duduk," ucapku.


Kami pun duduk di sofa ruang keluarga. Aku meminta bi Murti untuk mengambil juice untuk Fania dan juga pisau untuk membelah kuenya.


"Kakak pencopet, kue ini aman, kan?" tanya Dimas sembari mengamati kue yang kuletakkan di atas meja. "Jangan membuat istri dan bayi kembarku bermasalah."


"InsyaAllah aman ...." Lagi-lagi Fania menjawabnya dengan suara yang lembut nan syahdu dan sikap yang anggun.


"Wah, iya, ini mencurigakan. Jangan-jangan ...." Dimas sengaja meledek Fania.


"InsyaAllah aman ...," jawab Fania dengan sabar.


"Dari tampilannya, sih, oke." Aku mengomentari kue bolu pandan tersebut. "Wangi pandannya juga sangat menggoda."


"Aku sudah pernah bilang, kan, dulu sewaktu membuatkanmu kue ulang tahun yang gagal untukmu. Kau ingat?" kata Fania, "aku pernah mengatakan akan membuatkanmu kue yang sangat enak dan lezat, bukan? Dan ini aku menepati janjiku. Bukankah janji adalah hutang?"


Aku pun kembali mengingat-ingat kejadian sewaktu Fania membuatkan kue yang terasa pahit untukku. (Episode 166)


"Imania, kau membuatku terharu. Kuenya sama sekali tidak enak dan kau memakannya hingga separuh dari bulatan itu. Jika kubiarkan, mungkin kau akan memakannya sampai habis."


"Fania, persahabatan itu tidak seperti cokelat, yang harus terasa manis. Tidak seperti keju yang terasa asin dan gurih. Persahabatan juga tidak seperti es krim, yang terasa dingin dan segar. Persahabatan itu mencampurkan berbagai macam rasa. Perpaduan antara manis, asam, pedas, asin, bahkan pahit. Dalam kondisi panas ataupun dingin. Itu semua akan terasa enak dan hangat, jika kita mendasarinya dengan rasa ketulusan dan kasih sayang. Seperti kue buatanmu itu. Aku merasakan ketulusan dan kasih sayang, yang kau torehkan pada kue itu lebih besar ketimbang rasa kue itu sendiri. Jadi, saat memakannya, itu lebih dominan rasa kasih sayangmu ketimbang rasa kuenya."


"Maafkan aku, Imania. Apa kau tidak sakit perut gara-gara memakannya?"


"Aku merasa kenyang setelah memakannya."


"Aku berjanji, suatu saat nanti, aku akan membuatkan kue yang paling enak dan lezat untukmu, Imania."


"Janji, ya?"


"Ya, aku janji."


Untuk sejenak aku bernostalgia. "Ya, aku ingat."


Bi Murti mengantarkan tiga gelas orange juice untuk kami.


"Ini pisaunya, Mbak." Bi Murti juga memberikan pisau tersebut padaku.


Aku pun segera mengiris kue tersebut. Kemudian mengambilnya.


"Tunggu!" Dimas menahan tanganku.


"Ada apa?" tanyaku.


Dimas mengambik kue tersebut dari tanganku. "Biar aku yang mencobanya terlebih dahulu. Jika tidak terjadi sesuatu pada perutku, berarti ini aman."


"Ya, Tuhan. Adik durhaka ini benar-benar menguras kesabaranku," gerutu Fania lirih.


"Apa yang kau ucapkan, Kakak pencopet?" tanya Dimas yang sepertinya tidak mendengar jelas ucapan Fania tadi.


"Tidak ada apa-apa, kok, Adikku Sayang. InsyaAllah ... aman ...." Dengan nada suara yang dibuat super lembut.


Aku menahan tawa melihat sahabatku bersikap seperti itu. Aku yakin, dia sudah cukup menahan kekesalannya terhadap Dimas. Akhirnya, Dimas pun memakan kue tersebut.


"Bagaimana rasanya?" tanyaku.


"Sebentar." Dimas berhenti mengunyah. "Em ... ini ... tidak dapat diprediksi."


"What?!" Fania mulai kesal, ia memutar bola matanya.


"Sabar, tunggu reaksinya di perutku sekitar setengah jam."

__ADS_1


"Oh, my God! Kau pikir aku meracuninya?" Fania semakin kesal.


"Aku tidak bilang begitu."


"Kau menuduhku secara tidak langsung. Aku bisa saja menyebut ini pencemaran nama baik, bukan?"


"Hei, kenapa serius sekali?" Dimas kembali mengambil sepotong kue dan memakannya.


"Kau menyebalkan!"


Melihat cara Dimas yang memakan kue tersebut dengan lahap. Sepertinya rasanya memang tidak mengecewakan. Aku pun ikut mengambil sepotong kue tersebut. Namun, lagi-lagi Dimas menahan tanganku.


"Kenapa lagi?" tanyaku heran.


"Aku hanya ingin bilang, hati-hati makan kue ini. Meski rasanya enak, aku khawatir ini tidak hiegenis," celoteh Dimas.


"Oh, shilt! Kau menghina kue buatanku!" Fania berdiri. "Bilang saja ini enak. Jika tidak, kau tidak perlu memakannya."


Dimas tertawa melihat ekspresi wajah Fania. "Kau memang lebih cocok bersikap begini. Tidak perlu sok jaim, Kakak. Itu tidak pantas untukmu."


"Dasar adik durhaka! Kau membuatku gagal latihan menjadi wanita anggun. Padahal aku sudah susah payah berlatih berhari-hari. Di rumah aku menahan adu mulut dengan serigala betina. Dan sekarang kau menggagalkannya? Aku sedang berlatih untuk menjaga image-ku di depan ibunya Rudi."


Fania yang kesal pun mengejar Dimas yang berlari.


"Awas kau!"


Aku hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.


"Fania, itu berarti kalian sudah jadian lagi?" tanyaku sembari menyantap kue bolu pandan yang lezat.


Fania berhenti mengejar Dimas. "Belum. Ini hanya mempersiapkan diri saja. Rudi juga belum menembakku. Aku menunggunya benar-benar mencintaiku dengan tulus."


"Bagaimana jika ternyata Rudi mencintai wanita lain?" tanya Dimas meledek Fania.


"Itu tidak mungkin!" Tiba-tiba saja seseorang muncul menghampiri kami.


"Rudi," ucap Fania dengan pipi bersemu merah karena menahan malu.


Rudi pun menghampiri Fania dengan membawa sesuatu di balik tangan yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Sedangkan Dimas kembali duduk di sebelahku.


"Se-sejak kapan kau datang?" tanya Fania gugup.


"Sejak lima menit yang lalu," jawab Rudi lalu bersimpuh di hadapan Fania. Rudi mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan. Lalu menyodorkannya kepada Fania.


"Will you marry me?" ucap Rudi sembari membuka sebuah kotak berisi cincin ke hadapan Fania.


Fania menatap Rudi terbelalak. Seakan masih merasa ini semua hanyalah mimpi, Fania menampar pipinya sendiri. "A-aku ... aku tidak sedang bermimpi?"


"Jawab pertanyaanku, Pirang! Will you marry me?"


Fania tampak menelan saliva berkali-kali, kemudian dengan mata berkaca-kaca, ia mengangguk. "Yeah, sure!" jawabnya mantap.


Bahagia sekali menyaksikan kedua sahabatku itu kembali bersatu. Akhirnya, perjuangan cinta Fania tidak sia-sia. Memang benar, bukan? Tidak ada perjuangan yang sia-sia, asalkan kita gigih memperjuangkannya. Dan serius memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik.


Saat Rudi meraih jemari tangan Fania dan memakaikan cincin tersebut di jari manis Fania, aku dan Dimas pun bertepuk tangan. Lebih mengejutkan lagi, karena suara tepuk tangan terdengar semakin meriah, beserta langkah kaki beberapa orang yang menghampiri kami di ruang keluarga. Kami pun menoleh bersamaan.


"KEJUTAN ...!" seru mereka serentak sembari terus bertepuk tangan.


Aku dan Dimas pun berdiri, sembari menatap terkejut ke arah pak Wibowo, bu Hera, sekertaris Ve, Helena, dan bu Widya. Fania lebih terkejut lagi sepertinya.


"I-ini ...." Bibir Fania bergetar.


"Ini kejutan untuk wanita spesial sepertimu."


Akhirnya, Fania tak dapat menahan air matanya. Ia menangis haru di pelukan Rudi. Dan lebih mengharukan lagi, ketika Fania berbaikan dengan pak Wibowo—ayah yang begitu ia benci.


"Pukuli ayahmu ini seratus kali Fania, putriku," ucap pak Wibowo di hadapan Fania.


Fania semakin terisak di depan ayahnya.


"Ampuni ayahmu ini, Fania. Aku ayah yang tidak bertanggung jawab. Kau boleh menghukumku. Tapi jangan pernah membenciku lagi Fania. Aku tidak bisa hidup tenang. Ayah akan menuruti segala keinginanmu. Ayah akan membahagiakanmu sebagaimana putri ayah. Mohon ... ampuni aku ...." Pak Wibowo bersimpuh di hadapan Fania.


Fania mengusap air matanya, lalu membungkuk menegakkan tubuh sang ayah. "Ayah."


Kini mereka pun saling berhadapan.


"A-apa barusan kau memanggilku?"


"Ayah."


"Sekali lagi, Nak?"


Fania menghela napas dan kembali berucap, "Ayah."


Keduanya pun saling berpelukan. Tangis haru pun pecah dari seluruh mata yang menyaksikan.


"Putriku ... putriku telah kembali ke pelukanku."


"Maafkan aku, Ayah. Aku sudah mendoakan hal buruk padamu."


"Tidak perlu meminta maaf. Aku sudah pasti memaafkanmu."


"Tapi aku punya janji untuk memukulimu seratus kali. Bukankah janji adalah hutang?"


"Kau bisa mencicilnya mulai dari sekarang."


Fania memukul lembut punggung ayahnya tiga kali. "Sisanya besok dan besoknya lagi. Aku akan menghitungnya, Ayah."


"Bahkan sejuta kali pun, ayah rela, Sayang ...."


Sebuah keluarga yang harmonis adalah keluarga yang masing-masing personilnya memiliki hati yang lapang, mudah memaafkan, dan mendasari pondasi kekeluargaan dengan bumbu kasih sayang dan cinta yang tulus. Segala masalah akan mereda bila masing-masing dapat mengesampingkan ego. Percayalah ... bahwa harta terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada umatnya, selain istri salehah, suami yang saleh, dan anak-anak yang manis dan lucu, itu adalah keluarga yang erat dan harmonis.


Semoga kita senantiasa dianugerahi berkat dan rahmat oleh Yang Maha Kuasa, berupa keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah, aman, tentram, dan harmonis, aamiin ya Rabbal alamiin.


-- BERSAMBUNG --


___________________________________________


Readers Keceh Tersayang?


Bagaimana perasaan kalian?


Saksikan Episode selanjutnya, ya?

__ADS_1


Karena Episode selanjutnya adalah ENDING KISAH MEREKA. ONE MORE!


THANK YOU ...!


__ADS_2