
"Kumohon ...," pintaku terus memohon. Air bening mulai berjatuhan dari pelupuk mataku.
Kutarik selimut putih untuk menutupi tubuhku. Namun, Dimas menariknya. Tanpa berkata-kata, ia mendekatkan kembali bibirnya. Kelembutan yang terus menerus menghujam. Mata sayu ini tertuju pada sesosok tubuh yang tergolek di sofa. Perasaan berdosa selalu menyelimuti benak. Saat diri memilih untuk memberontak. Suara itu terdengar semakin lembut berbisik di telinga.
"Aku mencintaimu," bisiknya. "Tataplah aku dan nikmati saja, bila sanggup. Jika tidak, pejamkan matamu. Aku tak mau mata indahmu ini terus mengeluarkan bulir-bulir kesedihan. Atau penyesalan. Tutup matamu dan nikmati. Akan kulakukan dengan lembut, sepenuh hati."
Ia dekatkan kembali bibir itu. Menyentuh lembut tiap sudut bibirku. Dalam mata terbuka, kupandangi wajahnya yang tampan rupawan. Pelan-pelan mata ini terpejam. Setengah hati merasa mati. Setengah jiwa merasa hidup. Dalam kenikmatan cinta yang menyiksa. Sungguh ... cinta memang gila. Bahkan, pelan-pelan aku mulai menikmatinya. Berpadu gairah di dalam cinta yang salah.
"Aku sangat mencintaimu. Akan kumiliki dirimu seutuhnya, segera. Cepat atau lambat, kau akan mengerti. Tiada yang lain. Hanya kamu. Hanya dirimu, Niaku Sayang," bisiknya lagi.
Ia melakukannya hati-hati. Bibir itu pun mulai turun ke leher jenjangku. Menghiasi dengan warna-warna cinta. Meninggalkan beberapa tanda di sana. Sungguh ... aku menikmatinya.
"Dimas ...."
"Izinkan aku melakukannya. Aku tak akan memberimu janji imitasi lagi. Kamu adalah milikku. Aku adalah milikmu. Cinta kita akan bersatu. Satu hati selamanya. Janganlah ragu. Aku selama ini menunggumu. Masih dengan rasa yang sama. Dengan cinta yang persis seperti biasa." Dimas membisikkan kalimat-kalimat itu dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Getaran-getaran yang terus merasuk ke hati. Membuat aliran tersendiri. Memikat rasa percaya untuk terus melakukannya. Nafsu benar-benar memabukkan. Bahkan mata ini terpejam menikmati rasa nikmat yang keruh. Tiada keberanian lagi untuk menatapnya. Lelaki yang masih jatuh menyelinap di dalam benak.
Ia mulai memainkan lembut jari-jemarinya. Membelai wajahku lembut. Perlahan ia turunkan belaian itu ke telinga dan leher. Sentuhan-sentuhan ini sangat berbeda.
"Dimas ...."
Sentuhan paling lembut dan menggoda. Sentuhan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Bahkan, dari suamiku.
Ya, Tuhan!
"Dimas!" pekikku dengan intonasi lirih. "Hentikan!"
Dimas berhenti, lalu menatapku. "Kenapa?" Sorot matanya mulai memahami kegundahan di setiap bulir-bulir yang jatuh.
"Jangan! Jangan lakukan! Kumohon ... hentikan!" Air mata itu terus berderai. Getaran di dada berubah menjadi sesak yang menyiksa.
__ADS_1
"Tenanglah. Aku--"
Plak!
Saat dia akan membisikkan kalimat-kalimat memabukkan itu. Aku langsung menamparnya. Ia pun menatapku tajam. Kemudian mencekal pergelangan tanganku. Melekatkan tubuhnya kembali di atas tubuhku. Aku semakin terisak. Tidak mampu melawan. Tenaga bertubuh kekar itu sangat kuat. Kurasa, air mata sudah basah di sekujur tubuhku. Bersama keringat dingin yang terus mengalir.
Saat aku benar-benar kacau. Dimas bergeming. Menatapku dalam. Mengambil napas panjang, kemudian ia embuskan. Cengkeraman tangannya mulai ia longgarkan. Tubuh kekar itu pun turun perlahan.
"Maafkan aku. Maafkan aku, Nia. Jangan menangis. Kumohon ... maafkan aku," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan. Ia usir satu persatu air yang terus menerus turun dari mataku dengan jemarinya.
"Aku tak bermaksud menyakitimu. Sama sekali tak ingin membuatmu tersiksa. Aku sudah berjanji untuk tidak melakukannya, bila kamu pun tak menginginkan. Maafkan aku ... maafkan aku ... aku khilaf." Tatapan mata elang itu berubah sendu.
Bibir itu mengecup lembut keningku. Kemudian melepaskan pergelangan tanganku. Ia berdiri. Mengambil kaos yang tergeletak di lantai. Dengan langkah gontai, ia berlalu keluar dari kamar.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1
_____________________________________________