
"Di, jangan kurang ajar!" omelku kesal.
Dimas hanya tertawa dan terus melajukan mobilnya. Aku pun segera mengambil handphone. Tadi pagi, Fania tampak marah dan kesal padaku. Dia hanya ingin melihat-lihat tempat kerjaku. Akan tetapi aku malah melarangnya. Sebenarnya, aku hanya tidak ingin Fania dipandang oleh laki-laki seperti itu. Pakaian yang Fania kenakan sangat seksi. Aku hanya mengkhawatirkannya.
Karena posisi rumah baruku terbilang dekat dengan kantor, tidak lama kami pun sampai. Dimas turun untuk membuka gerbangnya. Setelah itu, Dimas naik lagi ke mobil, kemudian membawa mobilnya masuk. Ia pun memarkirkan mobilnya, di depan rumah baruku, yang merupakan pemberiannya.
Kami turun, dan segera membuka pintu rumah tersebut. Sesampainya di depan pintu, Dimas menanyakan kunci rumah itu padaku.
"Kemarikan kunci rumahmu!" katanya.
"Oh, iya, aku tidak membawanya," kataku seraya mennyentuh jidatku sendiri.
"Harusnya kau selalu membawanya. Rumah ini adalah milikmu."
"Tapi aku tidak membawanya. Kuncinya kuletakkan di laci. Bersama dengan dokumen kepemilikan yang sudah kutanda tangani."
Aku pun berbalik dan beranjak untuk masuk kembali ke dalam mobil.
"Hei, kau mau ke mana?"
Aku berbalik, seraya berkata, "Pulang. Bukankah aku tidak membawa kuncinya?"
"Tapi aku ada duplikat kuncinya!" katanya seraya menggantung kunci tersebut di depan wajahnya, dengan jari telunjuknya.
Aku pun kembali menghampirinya. "Kau juga punya kuncinya?" tanyaku setelah sampai di hadapannya.
"Apa aku bodoh? Jika kau sudah tinggal di sini, dan aku ingin masuk, tapi kau menguncinya. Atau sedang marah dan ngambek denganku. Aku bisa langsung masuk, tanpa mengetuk pintu. Lalu ... lalu ... coba bayangkan sendiri saja, tentang apa yang akan terjadi selanjutnya," katanya diiringi tawanya yang khas.
"Di! Jangan macam-macam! Kita belum halal!" omelku kesal, tetapi wajahku sepertinya memerah karena malu.
Dimas pun membuka pintu tersebut dengan kunci di tangannya. Kami pun masuk ke dalam rumah. Aku mengekor di belakangnya. Entah mengapa, jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Aku khawatir Dimas akan berbuat macam-macam di sini. Aku pun melangkah dengan hati-hati di belakangnya.
Sepertinya Dimas menyadari bahwa aku terlihat gugup di belakangnya. "Kenapa? Apa yang kau pikirkan?" katanya seraya menoleh padaku. Kemudian ia tetap berjalan menaiki tangga, menuju lantai dua.
"Di! Kita mau ngapain ke sini, sih?"
__ADS_1
"Bukankah sudah kubilang di mobil tadi?"
Aku pun mengingat-ingat perkataannya tadi.
"Kita akan ke rumah barumu dulu, ya?"
"Mau ngapain?"
"Mau ninu-ninu, ha-ha ...!"
Sontak aku pun menghentikan langkah. Dan berbalik menuruni tangga. Akan tetapi Dimas langsung menahan lenganku.
"Hei, kau mau ke mana?"
"Aku mau pulang saja!"
"Oh, ayolah? Sebentar saja, please ...."
"Apa di otakmu hanya ada pikiran mesum seperti itu?!"
"Hei, lepaskan!" Kupukuli dada bidang miliknya dengan sedikit keras.
"Sakit, Nia! Tenanglah!" katanya seraya tetap menggendongku.
"Kau gila! Aku tidak mau!"
Dimas pun membawaku ke sofa. Dia menurunkan tubuhku di sofa yang sangat empuk. Kemudian dia mencekal pergelangan tanganku. Ia membungkukkan tubuhnya, tepat di atasku. Tatapannya begitu lembut, tetapi terkesan tajam.
"Nia ... aku mencintaimu," ucapnya dengan nada lembut.
"Di, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku ingin menciummu," katanya.
Aku memeluk salivaku sendiri. Menatapnya dengan was-was. Detak jantungku semakin tak beraturan. Entah mengapa, ini terasa berbeda. Mungkin karena, kami hanya berdua di rumah yang seluas ini.
__ADS_1
"Kenapa kau tampak gugup? Kita sudah pernah berciuman, kan? Ini hanya ... seperti mengulang sesuatu yang lembut dan enak. Seharusnya kau tidak menatapku terkejut seperti ini, Sayang ...."
"Di, aku ... aku lapar! Aku ingin makan," kataku mencoba beralasan.
"Kau ingin makan? Kau boleh memakan ini. Gratis!" katanya seraya memajukan bibirnya.
"Kau gila! Otakmu mesum!" umpatku seraya memalingkan wajah.
Dimas pun meraih wajahku. Mengarahkan wajahku agar tetap menatapnya. Kemudian ia dekatkan wajahnya. Ia mendekat ... mendekat ... mendekat ... dan ....
Ting! Tung!
Suara bel pintu menghentikannya, sesaat sebelum bibir kami menempel.
"Sial! Siapa yang datang?!" umpatnya seraya berdiri.
Aku menghela napas lega, lalu mendudukkan tubuhku.
Dimas pun beranjak turun menuju pintu. Dia sangat penasaran tentang siapa yang datang tiba-tiba. Aku pun beranjak dan mengekor di belakangnya. Dan sesampainya di depan pintu, Dimas pun membuka pintu tersebut.
"Tara?? Aku datang??"
Seseorang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang sangat ceria. Sangat jauh berbeda dengan mimik muka Dimas saat ini. Dan Dimas sangat terkejut melihat siapa yang datang.
"Fania!" kata Dimas dengan mata yang terkejut.
"Kalian sedang apa berduaan di sini? Wah, ini mencurigakan! Tidak bisa dibiarkan! Ini tidak benar! Kalian belum halal dan sudah tinggal hanya berdua di rumah yang sebesar ini?! Oh, My God!!" katanya nyerocos seraya menepuk jidatnya. Ia pun masuk dengan sedikit mendorong kasar tubuh Dimas.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah Fania. Dia masuk dengan sangat kegirangan.
"Apa ini ulahmu?" tanya Dimas seraya menatapku penuh selidik.
"Kalau iya kenapa?" Kuangkat satu alisku di depan wajahnya.
Dimas menatapku dengan kesal. Bagaimana aku lupa? Aku sudah mengirim pesan kepada Fania, agar mengikuti alamat rumah baruku, yang kukirim lewat share location WhatsApp, sesaat setelah Dimas mengatakan akan ninu-ninu.
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --