
Hari Kamis, pukul empat pagi, aku sudah bangun. Hari ini aku akan berangkat ke Bali bersama pak Wibowo. Beliau bilang akan menjemputku pukul 08.00 WIB. Jadi, kusegerakan membuat sarapan pagi. Setelah itu menunaikan salat Subuh.
Segera kutata pula barang-barang yang akan kubawa ke dalam koper. Usai menata barang-barang, aku beranjak menuju kamar Fania, guna membangunkannya.
Kuketuk pintu kamar Fania. Aku melenguh, sudah pasti dia masih tidur. Kubuka pintu kamar yang selalu tidak ia kunci. Kuhampiri Fania yang membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Fania, bangun!"
Kugoyang-goyangkan tubuhnya. "Fania, ayo bangun!"
"Hmph, aku mengantuk sekali. Jangan ganggu aku," katanya dengan mata masih terkatup.
Aku duduk di sebelahnya. Dan saat aku hendak membangunkannya lagi, tiba-tiba aku melihat buku diary milik Fania terjatuh. Segera tanganku meraih buku diary tersebut. Sebuah foto terjatuh saat aku mengambil bukunya.
Kuraih kembali foto tersebut. Dan ... betapa terkejutnya saat melihat gambar seorang wanita yang kuperkirakan usianya 20-an itu di dalam foto. Eh, foto ini ... apakah ....
Apa ini sekertaris Ve sebelum operasi plastik? Ya, ini sangat mirip dengan sekertaris Ve. Tetapi ... entah mengapa seperti ada sedikit perbedaan antara foto KTP sekertaris Ve yang kulihat waktu itu dengan foto wanita ini. Tapi di mana, ya, letak perbedaannya? Akan tetapi, ini sangat mirip dengan foto sekertaris Ve semasa muda.
Aku kembali mengingat-ingat sesuatu. Tetapi ada satu lagi yang tiba-tiba terngiang di dalam memoriku. Ah, iya. Ini foto yang sama dengan yang kulihat di balik bingkai itu. Foto yang ada di ruangan pak Wibowo waktu itu. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Apa ... jangan-jangan ... ada hubungannya antara foto ini dengan pak Wibowo?
Lalu, siapa wanita di dalam foto ini? Mengapa Fania dan pak Wibowo sama-sama memilikinya? Atau ... ini adalah sekertaris Ve? Lalu, apa hubungan di antara mereka bertiga? Oh, mendadak ada getaran aneh yang membuncah di dadaku. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara mereka bertiga.
Kuamati wajah Fania sesaat. Wajah Fania mirip dengan foto sekertaris Ve sebelum operasi plastik. Lalu aku membandingkan wajah Fania dengan foto wanita yang ada di tanganku. Ya, ini sangat mirip. Apa ... ini adalah ibunya Fania?
"Fania!" Aku kembali membangunkannya.
"Fania, ayo, bangun!"
"Fania, ini sudah pukul tujuh. Sebentar lagi aku akan berangkat ke Bali."
Sontak, Fania membuka kedua matanya, menatapku dan mendudukkan tubuhnya.
"Kau akan berangkat ke Bali?"
"Ya."
"Aish! Kenapa cepat sekali. Aku masih mengantuk," gerutunya sembari mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Fania, apa ini foto ibumu?" Aku menghadapkan foto hitam putih, berukuran 3x4 cm itu ke arah Fania.
Fania langsung kaget dan merebutnya dari tanganku. "Imania, jangan sentuh foto ini!"
"Kenapa? Aku boleh tahu sedikit tentangmu, bukan?" tanyaku heran mendapati ekspresi kesal Fania.
"Dia sudah pergi dari dunia ini. Dan dia mati setelah melahirkanku. Bukankah itu berarti dia membenciku? Dia tidak ingin melihat putrinya sendiri tumbuh dan hidup bersamanya," katanya dengan sedih.
"Itu ... foto ibumu?" tanyaku lagi.
Fania mengangguk. "Sepertinya iya. Hanya ini satu-satunya yang kudapat dari laci bibiku di kampung."
Aku meraih telapak tangannya yang tengah menggenggam foto itu. "Fania, ibumu tidak membencimu. Ini semua takdir. Semua atas kehendak Tuhan. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa ibumu membencimu. Mungkin saja, sampai saat ini ia masih menjagamu, bahkan di dalam tidurmu."
Fania menundukkan kepala. "Aku merasa Tuhan tidak berlaku adil padaku. Dia menurunkan aku ke bumi, tetapi mengangkat ibuku ke langit. Bahkan, aku belum sempat merasakan kasih sayangnya. Terlebih lagi, aku dilahirkan tanpa seorang ayah. Orang-orang menyebutku anak haram. Sejak lahir, aku sudah terhina," ucapnya dengan suara bergetar.
Kuhela napas panjang, dan berkata, "Aku tahu perasaanmu. Bukankah, sekarang ada aku yang selalu menyayangimu? Kita akan melewati hidup ini bersama-sama. Dan ... satu lagi. Apa kau sangat ingin bertemu dengan ayahmu?"
Fania menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan membantumu menemukan ayahmu."
Aku mengangguk sembari tersenyum. "Aku janji."
"Tapi itu mustahil," keluhnya.
"Tidak ada yang mustahil dalam hidup ini. Selalu ada keajaiban, Fania."
"Bagaimana jika ayahku ternyata sudah meninggal?"
"Itu berarti, kau harus mengikhlaskannya," jawabku.
Fania tertunduk dalam. Bibir itu tertarik ke bawah. Air matanya mulai mengaliri pipinya. Ia terisak. Sekarang aku tahu, bahwa di balik sisi cerianya itu, sesungguhnya Fania banyak menyimpan kepedihan dalam hidupnya.
"Boleh kutahu, apa yang ingin kau katakan padanya, jika ayahmu masih hidup?"
Fania mengusap air matanya, lalu berkata masih dengan terisak, "Aku ingin memukulinya seratus kali. Aku ingin menanyakan alasannya meninggalkan ibuku. Aku ingin tahu kenapa dia tega melakukan ini padaku dan pada ibuku. Aku ... aku ingin meminta penjelasan darinya tentang segalanya yang telah terjadi. Aku sangat membencinya! Aku ... aku benar-benar ingin memukulinya!"
__ADS_1
Kupeluk tubuh sahabatku itu. Kuusap lembut punggungnya, menenangkannya. "Kau ingin bertemu dengannya, hanya untuk memarahinya dan memukulnya?"
"Wajar aku marah padanya. Dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia ... dia adalah penjahat. Dia ayah yang kejam! Bahkan ... sejujurnya ... aku berharap agar dia sudah mati saja," katanya terus terisak.
"Aku baru saja mau berlanjut membantumu menemukan ayahmu. Tetapi kau malah memasang dendam seperti itu," kataku turut sedih atas perasaan Fania.
"Jika memang dia masih hidup, bawa dia padaku. Aku benar-benar ingin memukulinya seratus kali!"
***
Pukul delapan pagi, Fania dan Arka sudah duduk di teras bersamaku. Sebuah koper sudah siap menemaniku selama tiga hari di Bali. Aku sudah memberikan pemahaman kepada Arka tentang kepergianku ke Bali dan dia mengerti.
Kulirik kembali jam tanganku, seharusnya pak Wibowo sudah menjemputku. Tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman rumahku. Akan tetapi, bukan mobil pak Wibowo. Itu mobil Rudi. Ia keluar dari mobil dan menghampiri kami yang tengah duduk di teras.
"Kau belum berangkat ternyata," katanya padaku.
"Sebentar lagi, pak Wibowo pasti menjemputku."
Benar saja, mobil mewah milik pak Wibowo pun muncul. Aku segera bangkit dan mengambil koper. Kami semua berjalan menghampiri mobil pak Wibowo yang berhenti di depan gerbang.
Sampai di depan mobil pak Wibowo, aku berpamitan kepada mereka semua. Arka terus memelukku. Seakan begitu berat melepas kepergianku, padahal tadi dia sudah mengerti. Entah mengapa, Arka merengek lagi.
"Mama .... "
"Sayang ... kan, ada Tante Fania dan Om Rudi. Mereka akan menjaga Arka."
"Iya, Arka. Om janji, deh. Om akan menginap di sini bersama Arka," kata Rudi.
"Wah, Om Rudi akan menemani Arka tidur, tuh. Asyik?" ucapku.
Setelah Fania dan Rudi membujuk, akhirnya Arka pun melepaskanku. Aku pun beranjak masuk ke dalam mobil. Sedangkan koperku dimasukkan ke bagasi oleh sopir pribadi pak Wibowo.
Aku duduk di sebelah pak Wibowo. Sesaat aku memperhatikan mimik pak Wibowo yang terus menerus memperhatikan Fania. Itu aneh. Sepertinya memang ada hubungannya antara foto di balik bingkai itu dengan Fania. Foto yang sama seperti yang dimiliki Fania. Meski milik pak Wibowo sudah luntur, tapi kupastikan bahwa itu adalah foto yang sama.
Mobil pun melaju. Fania, Rudi, dan Arka, melambaikan tangannya ke arahku. Mereka tampak serasi. Seandainya saja Rudi menyukai Fania, bukan aku.
Saat mobil terus berlalu, kedua mata pak Wibowo masih menatap jauh ke belakang, ke arah Fania.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Mengapa memperhatikan Fania seperti itu?"
-- BERSAMBUNG --