BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Suara Minta Tolong


__ADS_3

Malam pertama bersama suamiku, Dimas. Aku terbangun pukul delapan malam. Mataku langsung menoleh sosok lelaki yang tengah tertidur pulas di sisiku. Kupandangi wajah tampannya ketika terlelap. Sungguh ... bahagia sekali rasanya. Masih terasa seperti mimpi aku bisa menikah dengannya. Atas kehendak Tuhan, ini adalah mimpi yang terwujud menjadi kenyataan.


Kukecup pipinya pelan-pelan agar dia tidak terganggu. Namun, tiba-tiba, kedua matanya terbuka, menatapku sedikit terkejut. "Kau sudah bangun?"


"Maaf, membuat tidurmu terganggu," ucapku merasa sedikit bersalah karena membuatnya terbangun.


Dimas langsung melemparkan senyum padaku dan meraih tubuhku ke pelukannya. "Selamat malam, Sayang," ucapnya seraya mencium keningku.


"Selamat malam juga, Suamiku."


"Tadi itu sangat menyenangkan. Apa kau masih mau lagi?"


"Dimas, jangan berkata begitu."


"Kenapa? Apa kau malu?"


Kutenggelamkan wajah ke dalam dekapannya karena malu.


"Sayang, kita sudah sah menjadi suami-istri. Untuk apa malu?"


"Kau mesum."


Dimas langsung melonggarkan dekapannya. Ia meraih daguku, menatapku terkejut atas perkataanku. "Apa kau bilang?"


"Kau mesum. Terlalu blak-blakan. Apa kau marah dengan perkataanku ini?"


"Ya, aku sangat marah." Dimas melepaskan pelukannya. Ia berbaring membelakangiku.


"Apa kau serius marah padaku?"


Dimas tidak menjawab. Sebenarnya aku tahu, ini pasti hanya aktingnya saja. Jadi, aku pun ikut membelakanginya. Kutarik selimut untuk menutupi tubuh polosku. Setelah diam beberapa menit, Dimas tak kunjung bersuara. Apa dia tidur lagi?


Aku berbalik posisi untuk mengecek, apakah dia tidur. "Sayang, apa kau tidur?"


Dimas tetap tidak menyahut. Kududukkan tubuh di sisinya, menengok apa dia benar-benar tidur. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhku sampai ke dada.


"Maaf, bila perkataanku menyinggungmu. Tidurlah. Selamat malam, Suamiku ...."


Saat aku hendak berbaring, tiba-tiba Dimas berbalik dan meletakkan kepalanya di pangkuanku.


"Dimas, aku mau tidur."


"Kita sudah tertidur lima jam. Apa tidak capek tidur terus?"


"Terus kita mau ngapain lagi? Ini sudah pukul delapan malam."


"Aku lapar dan haus," ucapnya sembari melingkarkan tangannya ke pinggangku yang hanya tertutup selimut.


"Kalau begitu mari kita makan dulu," ajakku yang juga merasakan lapar, karena sejak pagi aku belum sempat makan.


"Aku haus sekali. Aku ingin minum."


"Baiklah, aku akan mengambilkanmu air minum." Aku melirik ke arah meja. Di sana sudah tersedia air minum. "Lepaskan aku, Di. Aku akan mengambilkanmu air."


Dimas malah semakin mengeratkan tangannya memeluk pinggangku. Kepalanya terangkat menatapku. "Aku mau minum susu."


"Bukankah kau bisa menelepon pelayan untuk mengantarkannya?"


"Mengantarkan apa?" Dimas malah balik bertanya.


"Kau ingin minum susu, kan?"

__ADS_1


Dimas meletakkan kepalanya kembali ke pangkuanku. "Aku tidak mau susu yang itu. Aku mau yang ini." Dimas menunjuk dadaku menggunakan telunjuknya.


"Dimas!" Kusingkirkan kepalanya dari pangkuanku.


Dimas pun duduk menatapku sembari tertawa. "Aku ini, kan, suamimu. Masak tidak boleh?"


"Bukannya tadi sore sudah?"


"Aku mau lagi."


"Dimas, jangan nakal!"


Namun Dimas menarik selimut yang menutupi tubuh polosku. Kemudian ia menyergap tubuhku dan langsung melesatkan bibirnya ke bibirku. Sebenarnya aku sudah lemas, tetapi Dimas sepertinya menginginkan itu lagi. Jadi, aku pun pasrah dibuai hasrat hangat itu.


Terjadilah kembali sesuatu yang tadi sore baru kami lakukan. Bahkan, kali ini, kami melakukannya beberapa kali.


*ADEGAN DISENSOR*


Ha-ha, silakan bayangkan sendiri.


***


Usai melepaskan hasrat, kami pun merasa lelah.


"Tubuhmu seperti candu untukku, Nia." Dimas mengecup keningku lembut.


"Aku lapar," ucapku langsung karena perutku sudah meronta meminta makan.


Dimas membelai pipiku. "Maafkan aku, Sayang. Membuatmu kelelahan."


Dimas pun bangkit dan mengambil handphone-nya. Ia menghubungi seseorang.


"Tolong antar makanan ke kamarku!"


"Mari kita mandi. Sebentar lagi makanan akan datang," katanya.


"Tapi ... tidak ada pakaian ganti di sini, bukan? Pakaian kita ada di kamar sebelumnya," kataku.


"Tapi di sini ada handuk, bukan? Setelah mandi kita akan menuju ke kamar awal. Nanti biar aku yang mengurus semuanya."


"Tapi ...."


"Kau bisa memakai jas-ku untuk menutupi tubuhmu."


Akhirnya, kami pun mandi bersama.


***


Usai mandi, kami langsung menuju kamar awal. Aku hanya memakai handuk kimono dengan ditambah jas pengantin milik Dimas untuk menutupi dadaku. Dimas pun hanya memakai handuk kimono. Sebenarnya malu sekali karena harus berjalan dengan hanya memakai handuk.


Beberapa orang yang berpapasan dengan kami pun seperti memandang kami geli. Sungguh, ini memalukan. Saat kami sampai di depan pintu kamar, tiba-tiba aku menoleh dan mendapati beberapa orang karyawan hotel yang tengah memperhatikan ke arah kami.


"Hei, apa yang kalian lihat?" Dimas menyadari hal itu. "Kalian ingin dipecat?"


"Maaf ...."


"Maaf, Mas, Mbak."


Mereka pun segera menunduk dan pergi.


Saat kami mau masuk ke kamar, tiba-tiba mas Surya dan mbak Nonita keluar dari kamar sebelah.

__ADS_1


"Hei, kalian darimana? Mengapa hanya berpakaian seperti itu?" tanya mbak Nonita dengan keheranan.


"Kami habis jalan-jalan," jawab Dimas.


Mbak Nonita dan mas Surya pun menghampiri kami.


"Hanya memakai handuk seperti itu?" tanyanya lagi


"Iya," jawab Dimas.


"Apa ... kalian tidak malu?"


"Sepertinya racauan Mbak Nonita lebih memalukan tadi."


"Kalian mendengarnya? Bukankah kamar hotel kedap suara?"


"Sepertinya kamar kalian tidak."


"Bagaimana mungkin?"


Tiba-tiba tiga orang pelayan datang membawakan makanan ke kamar kami. Kami pun masuk dan meninggalkan mas Surya dan mbak Nonita yang masih berdiri di depan pintu.


Usai pelayan-pelayan itu menyajikan makanan di meja, mereka pun segera pergi. Dimas menutup pintu kamar tersebut, lalu duduk bersamaku untuk makan malam.


"Ini banyak sekali," ujarku.


"Makanlah agar energimu full kembali. Supaya kita bisa bertempur lagi dengan semangat," godanya.


"Dimas!" sergahku.


Dimas pun tertawa dan berkata, "Kau terlihat sangat manis saat pipimu merona begitu."


Akhirnya, kami menyantap hidangan makanan dengan lahap karena merasa sangat lapar. Kami juga saling menyuapi dengan sangat romantis.


***


Keesokan paginya, kami bangun tidur dengan tubuh yang terasa fit. Lalu kami mandi bersama. Usai mandi dan berpakaian rapi, kami sarapan pagi di kamar.


Setelah selesai, Dimas mengajakku pergi ke pantai. Aku pun setuju. Kami menuju pantai dengan berjalan kaki, karena pantainya tidak jauh dari jangkauan. Hanya sekitar seratus meter dari resort ini.


Suasana pantai masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang tengah berjemur di pantai, menikmati mentari pagi. Kami yang baru saja sampai di pantai, tiba-tiba dikejutkan oleh suara orang meminta tolong.


"Tolong ...! Tolong ...!"


Kami segera mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Ada seorang wanita yang tengah kesulitan untuk berenang karena terbawa arus pantai.


"Kau tunggu di sini, Sayang," ucap Dimas, kemudian segera berlari untuk menolongnya.


"Dimas, hati-hati!" ucapku.


Dimas masuk ke dalam air untuk menolong wanita itu.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Readers Keceh Tersayang ...!


Hayo, lagi mikir apa?


Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, DAN KASIH KECUPAN BINTANG LIMA!!

__ADS_1


Thank you ...!


__ADS_2