
Hari mulai menggelap dan aku masih berdiri melihat tragedi ini. Fania sudah dibawa pergi oleh polisi. Dan beberapa tenaga medis sedang mengangkat tubuh Reza, memasukkannya ke dalam ambulan.
"Dia masih hidup!"
Suara seorang tenaga medis mengejutkanku. Reza masih hidup? Kuusap wajahku yang basah. Aku langsung menghampiri mobil ambulan yang berisi Reza tersebut. Aku menyaksikan seorang dokter sedang memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan dan leher Reza.
"Benar, dia masih hidup!" kata sang dokter yakin.
Jantungku kembali bergemuruh. Apa ... itu berarti ... itu berarti Fania dapat diperingan hukumannya? Aku tidak tahu soal hukum. Akan tetapi, ada sedikit rasa lega mendengar Reza masih bernyawa. Bukankah, itu berarti ... Fania tidak membunuh orang?
Seluruh mobil polisi dan ambulan pun segera meninggalkan tempat kejadian ini. Suara sirine mewarnai hari yang mulai gelap. Sedangkan di TKP, masih tersisa orang-orang yang berkerumun dan membicarakan tentang kejadian tersebut.
"Imania, ayo kita pulang!" ajak sekertaris Ve yang menuntunku masuk ke mobilnya.
Dalam pikiran yang berkecamuk, aku pulang diantar sekertaris Ve. Sekertaris Ve pun ikut terdiam mendapati kejadian ini. Sepertinya, dia ikut shock dengan apa yang ia lihat.
Sesampainya di rumahku, aku turun dan menawari sekertaris Ve untuk masuk.
"Kau beristirahatlah. Besok pagi aku akan menjemputmu," kata sekertaris Ve.
Aku hanya mengangguk. Dan mobil sekertaris Ve pun pergi meninggalkan halaman rumahku.
***
Malam harinya, aku berbaring sendirian di kasur. Ibu bilang, Arka diajak mas Bastian untuk menginap bersamanya. Sehingga saat aku pulang, aku sudah tidak menemui Arka di sini.
Kuambil handphone dan menghubungi sebuah nomor. Tersambung.
"Halo." Suara mas Bastian.
"Mas, apa Arka akan menginap di rumahmu?"
"Dia akan menginap bersamaku."
Mendadak aku khawatir. Bukankah Bella tidak suka Arka berada di rumahnya?
"Mas, bisa kau antar Arka pulang?"
"Kenapa? Dia sedang asyik bermain dengan kakek dan neneknya."
"Arka di rumah ibu?"
"Iya. Kami akan menginap semalam di sini."
Apa maksudnya 'kami'? Apa mas Bastian tidak pulang ke rumahnya?
"Mas, kau tidak pulang ke rumahmu?"
Mas Bastian terdiam sesaat, lalu berkata, " Aku ... Bella ... Bella kebetulan juga sedang menginap di rumah ibunya."
Sepertinya aku mendengar kebohongan dari mas Bastian. "Mas, Bella sedang hamil. Kau harus sering-sering memahaminya."
Apa aku terkesan ikut campur? Seharusnya aku tidak membahas apapun tentang hubungan mereka.
__ADS_1
"Terima kasih untuk saranmu," ucap mas Bastian.
"Ya, sudah. Kututup teleponnya, ya? Selamat malam ...."
"Selamat malam ...."
Kuakhiri panggilan, dan kuletakkan handphone di nakas.
Hari ini, pikiranku benar-benar kacau. Pertama, aku berdebat dengan pak Wibowo. Kedua, Fania terjerat kasus hukum. Kedua masalah ini berputar-putar di otakku. Akan tetapi, aku lebih terfokus pada Fania. Sedang apa dia sekarang?
Apa polisi memperlakukannya dengan baik? Apa Fania tidak dipukuli saat diinterogasi? Apa Fania sudah makan? Apa dia bisa tidur di jeruji besi? Ya, Tuhan ... meskipun aku kecewa padanya, tapi aku selalu mengkhawatirkannya.
Oh, kepalaku sakit. Aku tidak tahu apakah aku bisa tidur malam ini.
Dering handphone-ku berbunyi. Aku bangkit dan meraih handphone dari nakas. Kutatap layar handphone, Dimas meneleponku.
"Halo."
"Nia, apa kau baik-baik saja?"
"Ya."
"Suaramu terdengar lemah. Apa aku perlu ke rumahmu?" Suara Dimas terdengar panik.
"Tidak usah. Aku mau tidur."
"Nia, aku sudah mendengar semuanya dari sekertaris Ve. Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa Fania."
"Iya."
"Aku lelah sekali. Aku mau tidur."
"Oh, baiklah. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Nia. Kau pasti sangat pusing memikirkan kejadian hari ini. Aku tidak ingin kau sampai sakit."
Aku tidak menjawab perkataannya. Aku sibuk menahan bulir-bulir bening yang kembali memenuhi mataku. Dan aku tidak bisa menahannya. Bulir-bulir itu menetes tak beraturan.
"Nia, apa kau menangis?"
Aku tidak menjawab.
"Nia ... aku mengerti perasaanmu. Aku juga terkejut dengan kejadian ini. Reza ... Reza sudah ditangani. Dia sudah menjalani operasi di bagian perutnya. Sekarang dia masih kritis. Namun, setidaknya Reza masih hidup. Ini akan memperingan kasus Fania."
Lagi-lagi aku tak menanggapinya.
"Nia, aku akan mengurus kasus Fania. Kau tenang saja. Aku akan segera menyelesaikannya!"
"Terima kasih ...."
"Istirahatlah! Aku mencintaimu ...."
"Aku juga."
"Aku menyayangimu ...."
__ADS_1
"Aku juga."
"Aku ingin menciummu ...."
"Aku—" Sontak kuhentikan perkataan yang hampir terlontar dari mulutku.
"Kenapa berhenti. Katakan saja, bahwa kau juga ingin."
Aku tersenyum sembari mengusap wajahku yang basah.
"Nah, begitu. Kau harus tetap tersenyum. Tetaplah hadapi masalah dengan senyuman. Ada aku yang selalu siap sedia menjadi sandaranmu."
"Terima kasih ...."
"Tidurlah, bayangkan saja aku ada di sampingmu saat ini."
"Iya."
"Bayangkan saja aku sedang memelukmu saat ini."
"Iya."
"Bayangkan saja aku sedang ...."
"Dimas, jangan berpikiran aneh-aneh!"
Dia tertawa kecil mendengarku kesal. "Berpikiran apa? Aku tidak berpikiran negatif. Kau pasti salah sangka. Atau jangan-jangan ... kau sudah menginginkannya, ya? Ayo ngaku!"
"Ish! Apaan, sih! Aku mau tidur!" ucapku kesal.
"Sayang, aku lebih baik melihatmu kesal seperti ini. Daripada melihatmu menangis."
"Memangnya kau bisa melihatku saat ini?"
"Aku bisa melihatmu, kapanpun, di manapun, bahkan saat kita tidak bersama. Itu karena ... aku punya CCTV sendiri di hatimu. Jadi, jangan pernah main-main dengan pria lain. Kau pasti ketahuan!"
"Sudah cukup basa-basinya. Aku mau tidur," kataku. Tanpa kusadari, emosiku sudah stabil. Ini semua berkat Dimas.
"Tidurlah ... mimpi indah, Sayang ...."
"Terima kasih ...."
Telepon pun diakhiri dengan suara kecupan dari seberang telepon. Dan aku membalasnya.
Sesaat sebelum aku memutuskan untuk tidur. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah tas yang berada di atas meja. Itu adalah tas milik Fania. Sempat terpikir olehku untuk membuka tas Fania. Apa itu sopan?
Aku pun meraih tas tersebut. Fania, kau tidak pernah mengatakan apapun tentang dirimu. Izinkan aku mengetahui sesuatu tentangmu, sedikit saja. Kubuka tas tersebut, aku menemukan sebuah KTP. Di sana tertulis sebuah alamat, tempat kelahiran Fania.
Aku pun kembali mencari sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan tentang asal-usul Fania. Tetapi tidak ada. Hanya ada peralatan make up, dan ... dan ... sebuah buku.
Kubuka buku tersebut. Belum sempat membacanya, mataku langsung tertarik mendapati sesuatu di buku tersebut. Terselip sebuah foto di sana. Ini ... ini ... ini foto masa balita Fania. Foto berukuran 2R. Ya, ini foto Fania yang digendong oleh seorang wanita. Apakah dia ibunya? Atau bibinya?
Fania bilang, ada satu foto berukuran 3x4 cm, yang ia pikir adalah ibunya. Tapi di mana? Apa foto tersebut tersimpan di dalam lemari?
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --