BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Serigala Betina


__ADS_3

Aku masih memperhatikan wajah sekertaris Ve. Saat itu ... di depan pintu gerbang kantor, dia juga sudah melihat Fania. Dia bertanya padaku tentang siapa yang mengantarku. Dan kujawab, 'dia Fania, temanku'. Saat itu aku sudah menangkap mimik penasaran dari wajah sekertaris Ve.


"Fania, namamu Fania?" tanya sekertaris Ve kepada Fania yang masih berdiri.


"Ya, aku Fania. Harus kubilang berapa kali lagi kepada Anda?" ucap Fania dengan begitu santainya.


"Kau ... kau ... kau tinggal di mana?"


"Aku tinggal di rumah Imania. Kenapa memangnya? Anda tampak penasaran sekali terhadapku," jawab Fania diiringi tawa kecil dari mulutnya.


"Fania, jaga sikapmu!" Aku pun berdiri dan memposisikan tubuh di sisi Fania.


Sekertaris Ve meraih cangkir di mejanya. Ia pun meneguk beberapa kali minumannya. Kemudian meletakkan cangkir itu kembali. Sekertaris Ve seperti sedang mencoba merileks-kan dirinya.


Ia kembali memandang Fania. "Duduklah!"


Fania pun duduk dengan santai di hadapan sekertaris Ve. "Katakan saja, sejauh apa ketertarikanmu padaku?"


Sekertaris Ve masih tetap sabar menghadapi Fania yang bersikap seenaknya dan berbicara dengan begitu ketusnya.


"Kenapa kau tinggal di rumah Imania?" tanya sekertaris Ve.


Fania tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan sekertaris Ve. Hingga aku pun mencubit lengan Fania agar segera menghentikan tawanya itu.


"Imania, bukankah dia sangat aneh?" ujar Fania seraya tertawa. "Dia bahkan baru melihatku, dan dia memperhatikanku seolah sedang menyelidiki pencuri. Terlebih lagi, pertanyaannya itu, seperti wartawan saja, ha-ha!"


"Hentikan tawamu itu! Aku bertanya serius kepadamu!" Mimik sekertaris Ve sedikit berubah lagi. Sepertinya dia sudah mulai emosi terhadap sikap Fania. "Katakan! Di mana tempat tinggal aslimu?"


"Hei, Nyonya! Kau itu lucu. Bisakah kau bertanya baik-baik,?"

__ADS_1


"Bisakah kau menjawabku dengan baik-baik?"


Sekertaris Ve menghela napas kesal. "Fania, katakan di mana tempat tinggalmu?"


"Bukankah sudah kukatakan? Aku tinggal bersama Imania."


"Baiklah." Sekertaris Ve berusaha menyabarkan dirinya. "Di mana kau tinggal sebelum bersama Imania?"


Fania terdiam sesaat. Kemudian ia dekatkan wajahnya ke arah sekertaris Ve dengan tatapan serius. "Aku ... tinggal ... di rumah pacarku!"


Sekertaris Ve kembali menghela napas kasar. "Baiklah. Sebelum kau tinggal di rumah pacarmu, di mana kau tinggal?"


"Oh ... itu. Sebelum bersama pacarku, aku hanyalah gelandangan. Yang berjalan di atas tanah dan bernaungkan langit. Aku sama sekali tidak punya tempat tinggal," ucap Fania dengan ekspresi wajah setengah bercanda.


"Ya, Tuhan! Anak ini! Lama-lama aku bisa naik darah karenamu!" gerutu sekertaris Ve kesal.


"Aku serius? Aku hanya gelandangan!" Kini wajah Fania tampak serius.


"Apa kau sangat penasaran?"


"Apa kau tidak pernah diajari sopan santun oleh kedua orang tuamu?"


"Aku memang tidak pernah diajari sopan santun oleh kedua orang tuaku!"


Kali ini sekertaris Ve berdiri. Dia tampak begitu marah oleh sikap Fania. "Kau ini!!"


Fania pun turut berdiri. "Apa? Kau terlihat seperti serigala betina saat marah-marah! Ha-ha!"


"Fania!" sergahku.

__ADS_1


"Pergi! Keluar dari ruanganku!!" gertak sekertaris Ve seraya mengacungkan telunjuknya ke arah pintu.


Fania menatap sekertaris Ve seraya mengangkat satu sudut bibirnya. "Wanita ini! Dasar aneh! Jika kau terus marah-marah seperti ini, kulit wajahmu itu akan semakin keriput!"


Sekertaris Ve menatap Fania dengan sangat marah. Mata sipitnya itu seakan mau keluar. Sungguh, Fania memang tidak bisa dipercaya. Baru kubawa sekali ke kantor, dia sudah membuat onar.


"Pergi!!"


Fania pun beranjak seraya tertawa. Dan saat dia hampir menyentuh gagang pintu, Fania berbalik, seraya berkata, "Nyonya, lipstikmu itu terlalu menyala. Kau tampak seperti serigala betina yang habis membantai mangsa! Ha-ha!" Fania pun pergi dan menutup pintu tersebut dengan sedikit keras.


"Kaulah mangsaku!! Kemarilah!! Biar kucabik-cabik tubuhmu!!" seru sekertaris Ve dengan sangat keras seraya memegangi dadanya yang naik turun.


Aku pun langsung menghampirinya. Mencoba menenangkan sekertaris Ve. "Kak Ve, tenangkan dirimu!"


Sekertaris Ve pun mendudukkan tubuhnya kembali di kursi. "Imania, dia itu manusia atau apa? Bagaimana kau bisa bertemu dengan gadis seperti itu? Dan bagaimana kau bisa tinggal bersama orang sepertinya?" ucap sekertaris Ve yang masih mencoba menetralkan emosi di dadanya.


Kuusap punggung sekertaris Ve, mencoba menenangkannya. "Kak Ve, maafkan temanku, ya? Dia memang sedikit aneh. Tapi ... sebenarnya dia gadis yang baik."


Sekertaris Ve melepaskan tanganku dari punggungnya. Kemudian berbalik menatapku tajam. "Apa kau masih waras? Gadis kurang ajar seperti itu kau bilang baik? Oh, Imania, aku sungguh mengkhawatirkan mentalmu bila terus menerus dekat dengannya."


Setelah emosi sekertaris Ve sudah sedikit stabil, ia pun menyerahkan dokumen yang sempat ia antarkan ke mejaku tadi pagi. Ia memintaku agar segera mengerjakannya. Dia juga meminta, agar bila sudah selesai, aku harus memberikan hasil pekerjaanku ke ruang pak Wibowo. Lalu aku pun keluar dari ruangannya.


-- BERSAMBUNG --


___________________________________________


Readers Keceh ...!


Tetap setia ya? Oh, ya, sejam kemudian Author akan up lagi. Tungguin ya?

__ADS_1


Oh, ya? Cast Pigiran Rudi sudah berhasil UP di episode 15. Silakan cek? Selanjutnya Bella dan Fania masih review.


Thank You ...!


__ADS_2