BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Terungkapnya Misteri


__ADS_3

"Mbah, kami benar-benar memerlukan informasi darimu," ucapku dengan penuh harap.


Mbah Mar mengangguk-angguk. "Iya, aku tahu. Masalahnya ... siapa tadi nama wanita yang kau cari itu?"


"Fania Larasati, Mbah," kataku.


Mbah Mar kembali mengangguk-angguk. "Oh ...."


"Kenapa? Mbah Mar tahu, kan?" tanyaku harap-harap cemas mendapati ekspresinya.


"Hm ... sebentar ... sebentar." Mbah Mar tampak mengingat-ingat. "Ya!"


Aku melebarkan mata, menatap nenek tua di hadapanku. "Sudah ingat?"


Nenek itu menghela napas kasar. "Belum."


"Sudah kuduga! Kita hanya membuang-buang waktu di sini! Ayo, pulang, Imania!" Sekertaris Ve kembali berdiri.


Sedangkan mbah Mar tertawa lagi. Aku jadi bingung dengan wanita tua ini. Sebenarnya ... dia bersungguh-sungguh tahu tentang Fania, atau hanya mengerjai kami. Tetapi ... dia bisa meramalku. Itu yang membuatku berpikir dua kali untuk meninggalkan tempat ini.


"Kak Ve?" Aku kembari meminta sekertaris Ve untuk duduk. Tapi dia kekeuh. Sekertaris Ve pun beranjak.


"Fania Larasati pernah tinggal di kampung ini!" kata mbah Mar.


Itu menghentikan langkah sekertaris Ve. Namun, ia tidak berbalik. Aku tahu, sekertaris Ve sudah tidak sabar untuk meladeni gurauan mbah Mar.


"Dia dulu juga lahir di sini. Ibunya tinggal beberapa bulan di sini," lanjut mbah Mar. "Dia diusir dari kampung halamannya.


Sekertaris Ve tiba-tiba berbalik. Ia menatap mbah Mar dengan terkejut.


"Siapa nama ibu kandung Fania, Mbah?" tanyaku.


"Orang kampung sini biasa memanggilnya Rintik. Karena dia selalu menitikkan air mata. Bak hujan rintik-rintik. Dia sangat menderita."


"Apa Mbah Mar tahu nama aslinya?" tanyaku lagi.


"Dia menyembunyikan identitas aslinya. Mbah kurang tahu soal itu. Tapi dia cantik."


Sekertaris Ve perlahan berjalan mendekat. "Kau serius mengetahui tentang Fania dan ibunya?"


"Apa aku terlihat bercanda? Kau adalah wanita yang tidak sabaran! Sama seperti nafsumu itu!" kata mbah Mar pada sekertaris Ve.


"Dasar kempong perot!" umpat sekertaris Ve lirih.


"Apa tadi kau bilang? Kau mau kukutuk menjadi lalat? Biar menjilati kotoran di lingkungan ini. Anak durhaka! Beraninya macam-macam dengan orang tua!"


"Haish!" cibir sekertaris Ve kesal.


Aku pun meraih lengan sekertaris Ve, memintanya untuk duduk. Dan dengan sedikit terpaksa, sekertaris Ve kembali duduk.

__ADS_1


"Kalian ini serius atau tidak? Jika tidak, aku tidak akan bicara!" kata mbah Mar mulai kesal.


"Maafkan kami, Mbah? Kami akan mendengar cerita tentang Fania dan ibunya, dari Mbah Mar," ucapku serius.


"Minumlah dulu, baru akan kuceritakan," pinta mbah Mar.


Aku pun meraih secangkir teh hangat yang mbah Mar jamukan.


"Apa ini aman? Aku khawatir ada sesuatu yang tercampur di dalamnya," ucap sekertaris Ve tiba-tiba, seraya mengendus bau teh tersebut.


"Apa kau pikir aku akan meracunimu?"


"Bisa saja, bukan?"


"Kak Ve?"


"Aku tidak akan bercerita bila tehnya belum kalian minum!"


"Imania, bukankah ini mencurigakan? Dia memaksa kita untuk meminum teh ini. Jangan-jangan ...." Sekertaris Ve meletakkan kembali teh tersebut di atas meja.


"Tidak akan terjadi apa-apa, Kak Ve?"


Aku pun meminum teh yang sudah berada di tanganku. Sedangkan sekertaris Ve hanya menatapku dengan cemas. Secangkir teh telah habis kusesap. Kuletakkan kembali cangkir tersebut di atas meja.


"Imania! Bagaimana jika ada racun di dalam tehmu?"


Mbah Mar tersenyum padaku. Kemudian mengalihkan pandangannya pada sekertaris Ve. "Ayo, habiskan tehmu!"


Setelah mendorong sekertaris Ve dengan sedikit paksaan, akhirnya dia pun mengambil secangkir teh tersebut.


"Ya, Tuhan ... lindungilah hamba-Mu ini ...." Sekertaris Ve berdoa sebelum akhirnya menyesap teh tersebut sampai habis.


"Hoe!" Sekertaris Ve tiba-tiba mual.


"Kau tidak apa-apa, Kak Ve?"


"Rasanya aneh sekali! Aku tidak tahu, apakah setelah ini, aku akan baik-baik saja," katanya seraya memegangi perutnya.


Mbah Mar tertawa melihat ekspresi sekertaris Ve. Kemudian ia berkata, "Jangan suka menilai sesuatu dari yang tampak. Bahkan, kau tidak bisa membedakan firasat dengan intuisi."


"Nak? Apa yang menjadi persepsimu itu, akan mempengaruhi akal, tindakan, dan umpan balik. Jadi, berlatihlah untuk memiliki pemikiran yang kritis. Kau terlalu mudah dipengaruhi persepsi. Pantas saja! Kau tidak menikah sampai saat ini!" lanjut mbah Mar.


"Apa maksudmu?" tanya sekertaris Ve bingung.


"Pahami saja sendiri. Itu adalah seni di dalam kehidupan!"


Sekertaris Ve terdiam. Dan kami menunggu mbah Mar untuk bercerita.


"Baiklah, kuceritakan. Dulu, ada seorang wanita yang tiba-tiba datang ke kampung ini. Dia dalam kondisi hamil. Tentu saja, warga kampung ini tidak menerima baik wanita tersebut."

__ADS_1


"Kira-kira berapa usia wanita itu ketika datang ke kampung ini?" tanya sekertaris Ve.


"Hm ... dia masih muda. Mungkin sekitar 20-an, lah," jawab Mbah Mar.


"Terus bagaimana kisah selanjutnya?" tanya sekertaris Ve.


"Dia tinggal di rumah Rina dan Toni, warga kampung sini. Rumahnya ada diujung selatan kampung. Rintik bilang, bahwa dia akan menyerahkan bayi yang dikandungnya setelah lahir. Kebetulan Rina dan Toni tak kunjung diberi keturunan."


Mbah Mar bicara dengan serius. "Rintik bekerja begitu keras saat hamil. Menjadi buruh tani, mencuci pakaian tetangga, menyetrika, apapun! Dalam kondisi hamil, dia tetap semangat bekerja. Ada yang iba terhadapnya, tetapi kebanyakan, warga malah menghina dan mencerca Rintik."


Kami masih terus mendengar cerita dari mbah Mar dengan seksama.


"Wajar saja. Dia hamil tanpa suami. Tentu saja didiskriminasi dalam lingkungan. Bahkan, banyak warga yang sempat berusaha mengusir Rintik dari kampung ini. Tetapi berkat pak RT, seluruh warga pun mengurungkan niat untuk mengusirnya."


Mbah Mar tampak sedih menceritakan kisah itu. "Hingga akhirnya, Rintik melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Cantik seperti paras ibunya. Namun naas, Rintik mengembuskan napas terakhirnya, sesaat setelah melahirkan Fania."


"Jadi, dia benar-benar sudah meninggal?" Raut wajah sekertaris Ve berubah sendu.


"Ya, ibunya Fania meninggal dunia setelah berjuang melahirkannya."


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya, Mbah?" tanya sekertaris Ve dengan mata berkaca-kaca.


"Sesuai janji. Fania diberikan dan diasuh oleh Rina dan Toni. Awalnya, mereka sangat menyayangi Fania. Akan tetapi, enam bulan setelah Fania lahir, Rina hamil. Padahal, dia sudah didiagnosa mandul oleh dokter. Itu keajaiban. Dan ... sekaligus malapetaka bagi Fania. Mereka tidak lagi menyayangi Fania. Bahkan, Fania diperlakukan tidak layak oleh mereka. Mereka sering kasar terhadap Fania. Kerap kali gadis malang itu mendapat pukulan dan lebam di tubuhnya."


Aku kembali teringat tulisan Fania di buku itu. Dan aku semakin yakin, bahwa kisah yang Mbah Mar ceritakan ini benar.


"Terlebih ketika Keisya lahir. Keisya adalah putri kandung Rina dan Toni. Mereka tidak pernah berlaku adil terhadap Fania. Fania bekerja keras sejak kecil. Dia bekerja apapun. Dia selalu bilang ingin sekolah. Jadi, uang hasil bekerja ia gunakan untuk biaya sekolah. Dia juga lumayan pintar, hingga kabarnya, sekolah memperingan biaya. Setelah tamat SMP, Fania pergi dari kampung ini. Katanya, dia ingin merantau saja. Dia tidak tahan dengan sikap paman dan bibinya itu."


"Tapi, Mbah. Fania meneruskan SMA di sekolah yang sama dengan mantan suamiku," kataku.


"Kalau soal itu, aku kurang tahu. Aku hanya tahu, Fania tinggal di sini hingga tamat SMP."


"Tapi kenapa, warga tidak ada yang tahu ketika kami menanyakan perihal Fania?" tanyaku heran.


Mbah Mar menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan bercerita, "Ini permintaan paman dan bibinya Fania. Mereka bilang, mereka tidak ingin terlibat masalah gara-gara Fania dan ibunya. Terlebih lagi, Rintik pernah berpesan, agar tidak membuka identitasnya dan anaknya kelak. Dia sudah cukup menderita gara-gara mencintai seorang laki-laki."


"Mbah, bagaimana kau tahu tentang ini semua? Bukankah kau bilang, ibunya Fania merahasiakan segala tentangnya?" tanya sekertaris Ve.


Mbah Mar tersenyum. "Rintik pernah bercerita padaku."


"Benarkah?" Mata sekertaris Ve melebar. "Berarti kau tahu siapa laki-laki itu?"


"Tidak banyak. Rintik hanya bilang bahwa lelaki itu dijodohkan oleh orang tuanya."


Sekertaris Ve tiba-tiba memegangi dadanya. Bulir-bulir bening dari mata sekertaris Ve pun berjatuhan.


"Lelaki itu tampan dan kaya." Mbah Mar kembali melanjutkan.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2