BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Jangan Cintai Pacarku


__ADS_3

"Apa yang kau lihat?" tanya Fania yang memperhatikanku, yang sedang menoleh ke belakang mobil.


"Bukan apa-apa," jawabku.


Fania pun melirik kaca spion samping mobilnya. "Itu ... bukankah itu mobilnya Bastian?"


"Iya."


"Apa dia mengikuti kita?"


"Untuk apa?"


"Tapi kuperhatikan, mobil itu terus mengekor di belakang kita," ujar Fania.


"Hanya kebetulan saja."


"Kebetulan apanya?!" Fania menolehku.


"Kebetulan, dia bekerja di kantor yang sama denganku."


"What?!" Fania sangat terkejut mendengar penuturanku. "Kau serius?"


Aku tidak menjawab pertanyaannya tersebut. Dia tentu tahu, bahwa aku jarang bercanda.


"Apa Dimas tahu tentang ini?" tanya Fania dengan penasaran.


"Jika dia tahu, maka tidak akan dia biarkan kami bekerja di kantor yang sama."


"Wah, hati-hati CLBK, tuh! Ha-ha ...!"


Aku tidak menggubris pernyataan Fania. Tidak mungkin aku mencintai dirinya lagi. Apalagi kembali dengannya. Itu mustahil! Dia hanya mantan, no more!


Setelah setengah jam berkendara, kami pun sampai di rumah. Arka segera menyambutku dengan pelukan, saat melihatku sudah pulang.


"Maafkan, Mama, ya, Sayang ...."


Kupeluk erat tubuh Arka. Karena harus bekerja, Arka terpaksa juga harus kutinggalkan bersama kakek-neneknya, dan juga Fania—yang setia menjadi teman sepermainan Arka.


Kemudian aku bergegas mandi. Usai mandi, aku langsung beristirahat. Kami menonton televisi bersama, dan makan malam bersama.


Hari ini Dimas belum menghubungiku. Padahal aku ingin sekali bercerita tentang sekertaris Ve. Orang yang mengetahui banyak hal tentang hubunganku dengan Dimas. Bahkan tentang keluarga Dimas, sekertaris Ve tahu hampir segalanya. Aku jadi penasaran, sebegitu dekatkah sekertaris Ve dengan keluarga Pak Wibowo?


Ting! Pesan yang kutunggu pun datang. Aku segera membukanya.


[Selamat malam, Sayang?]


[Selamat malam, Cinta,] balasku.


[Ciye? Tumben so sweet.]

__ADS_1


[Aku kangen!] balasku tanpa basa-basi.


Biasanya bila aku langsung mengirimi pesan seperti itu, Dimas langsung meneleponku. Dan benar saja, selang beberapa menit, handphone-ku berdering. Segera kuangkat panggilan darinya.


"Halo?"


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam?" jawabku.


"Aku juga kangen," katanya.


"Sudah pulang?" tanyaku.


"Belum," jawabnya.


Aku pun melirik jam dinding. Sudah pukul 21.00 WIB. Tapi Dimas belum pulang dari rumah sakit.


"Berarti saat ini kau sedang sibuk?" tanyaku.


"Iya."


"Lalu kenapa menelepon?"


"Katanya kamu kangen. Takut kamu keberatan, nanggung kangen sendirian. Jadi, kita kangen bareng saja, ya?"


Aku tersenyum mendengar gombalannya itu.


"Kau ini dokter atau peramal?"


"Aku bisa jadi apapun yang kau mau!"


"Di!"


"Ya?"


Tiba-tiba terdengar suara Dimas menjauh dari telepon.


"Dimas! Aku ingin bicara denganmu!" Suara seorang wanita di seberang telepon.


Aku pun mengurungkan niat untuk bertanya tentang sekertaris Ve.


"Sekarang?" Suara Dimas menjawab wanita itu.


"Ya, sekarang!" ucap wanita itu.


"Halo?" Dimas kembali mengangkat teleponnya.


"Pergilah," balasku.

__ADS_1


"Nanti lanjut, ya?" katanya.


"Iya," jawabku.


"I love you ...."


"I Miss you ...."


Dimas pun menutup teleponnya. Aku sedang berpikir tentang suara wanita yang tadi. Itu seperti ... Nessa! Ya, itu suara Nessa. Apa yang akan mereka bicarakan? Apakah seputar pekerjaan, atau seputar hubungan?


Kuletakkan handphone-ku di nakas. Saat aku akan berbaring, tiba-tiba Fania dan Arka berlari menuju ranjang. Tawa mereka terdengar gaduh.


"Hei! Apa yang kalian lakukan?"


Fania pun menangkap Arka yang terbaring di ranjang. Ah, dasar! Mereka sangat serasi.


Setelah itu, aku pun menidurkan Arka. Kali ini, aku membacakan sebuah novel fantasi terbaru di Noveltoon. Arka sangat senang mendengarkanku dubbing novel. Katanya serasa didongengkan. Setelah sekitar setengah jam, akhirnya Arka tertidur pulas.


Fania sedang sibuk membaca novel di handphone-nya sembari tengkurap.


"Fania!"


"Hm ...."


"Kau sedang baca novel apa lagi?" tanyaku penasaran.


"Biasa, lah. Novelnya si Author Keceh," kata Fania seraya tetap menatap layar handphone-nya.


"Oh, yang judulnya BUKAN PELAKOR?"


"Iya."


"Aku juga suka. Kisahnya mirip dengan kisahku."


"Makanya jangan sampai ketinggalan. Author Keceh, mah, tiap hari pasti up! Rajin banget dia."


"Iya. Aku juga setia menanti. Sama seperti menanti Dimas meneleponku? He-he ...!"


"Yah, aku jomlo sekarang," ucap Fania kemudian meletakkan handphone-nya. Ia pun duduk bersandar ke kepala ranjang.


"Kau ingin kembali pada Reza?"


"Enggak! Tapi aku iri sama kemesraan kalian. Andai aku mendapatkan pacar seperti Dimas. Oh ... bahagianya ...."


"Fania ...." Aku pun melirik Fania yang sedang duduk.


"Ya ...."


"Kau jangan sampai jatuh cinta kepada Dimas, ya?"

__ADS_1


Fania sangat terkejut. Ia pun langsung menatapku dengan tatapan mata yang melebar.


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2