BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Dekapan Terhangat


__ADS_3

Aku sudah tak peduli dengan gosip murahan itu. Pelakor? Ya, Tuhan ... mulut-mulut mereka sangat kejam. Bagaimana bisa mereka menyimpulkan sesuatu yang bahkan tidak mereka ketahui secara pasti. Seandainya aku punya bukti. Seandainya saja aku bisa memperlihatkan nomor siapa yang Dewi tuduhkan.


Seharusnya saat itu aku langsung meminta Dewi untuk menunjukkan buktinya padaku. Mungkin segalanya akan terjawab. Semua tuduhan tetangga terhadapku akan terluruskan dengan jelas. Bodohnya aku yang hanya diam di saat itu. Bodoh!


Aku terlalu panik. Tidak tahu harus bilang apa. Emosi Dewi sudah meledak-ledak. Suamiku pun sempat tidak mau mendengar penjelasanku. Lalu aku diam. Diam. Tanpa klarifikasi. Tetapi untungnya suamiku sudah tidak mempertanyakan apa pun. Meski sebenarnya sedikit aneh. Bagaimana bisa dengan mudah dia melupakan masalah itu?


Ah, biarkan saja. Yang penting mas Bastian mempercayaiku. Aku percaya, Yang Maha Benar perlahan akan menunjukkan bukti, serta kebenaran yang belum terungkap.


***


Beberapa bulan kemudian.


"Sayang, malam ini aku akan pergi sebentar."


Meski sebenarnya sedikit sebal, karena aku dan Arka harus ditinggal sendirian. "Ya, Mas. Jangan kemalaman pulangnya, ya?"


Mas Bastian menyemproti tubuhnya dengan parfum. "Ya, Sayang."


Sudah wangi, rapi. Katanya, Mas Bastian akan pergi berkumpul bersama teman-temannya. Malam Minggu memang menjadi malam paling menyebalkan bagiku. Sebab Mas Bastian sudah pasti pergi keluar, jika tidak hujan lebat saja.


"Papa ... Papa .... " Arka yang baru lancar berjalan menghampiri papanya.


"Sini ... sini peluk Papa. Emmuah, Jagoan Papa sudah tambah pintar!"


Seakan tahu bahwa papanya akan pergi. Arka tidak mau ditinggal. Ia merengek minta digendong. Namun sepertinya, rengekan si mungil sama sekali tidak menghentikan niatnya untuk tetap keluar.


"Arka main dulu sama Mama. Ayo sana, ikut Mama, ya?" Sambil menurunkan Arka dari gendongannya.


Namun Arka tetap menangis.


"Mas, kasihan Arka. Mungkin dia ingin bermain. Atau lebih baiknya, Mas tidak usah pergi malam ini."


"Tidak bisa! Aku sudah terlanjur janji sama mereka."


"Ayo, sini Sayang ... kamu mainnya sama Mama, yuk?"


"Papa? Ma .... " Arka menatapku dengan memelas.


Suamiku menciumi Arka dengan gemas, kemudian pamit. "Papa pergi dulu ya, Nak?"


Tidak lupa Mas Bastian mengecup keningku lembut. "Jaga Arka baik-baik, Sayang."


"Kamu hati-hati, Mas!"


Mas Bastian pun pergi dengan motornya.


Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya jam segini anakku sudah tidur. Tumben Arka sedikit rewel. Tidak mau tidur, anakku terus merengek memanggil-manggil ayahnya.


Kususui anakku untuk menenangkannya. Tetapi seperti ada yang tidak biasa dengannya. Dia tidak mau tidur. Terus memanggil-manggil papanya.


Dengan sabar kutimang-timang dan kuperdengarkan salah satu lagu piano favoritku. Setelah sekitar satu jam anakku tertidur. Syukurlah ... lega rasanya.


Hari semakin malam. Aku terbaring di ranjang menemani Arka yang terlelap. Kuraih handphone untuk memeriksa jam berapa sekarang. Sudah hampir pukul satu. Tumben sekali Mas Bastian belum pulang.


Hujan rintik-rintik mulai turun. Tiba-tiba handphone-ku berdering.


"Halo, assalamualaikum?"


"Maaf, ini benar istrinya Mas Bastian?"

__ADS_1


Ada suara seorang wanita di seberang sana. Perasaanku mulai cemas.


"Iya, ini siapa ya? Kenapa handphone Suamiku ada pada Mbak?"


"Saya temannya Mas Bastian." Ia menghentikan bicaranya sejenak. "Mas Bastian, tadi ...."


"Iya, kenapa? Dimana Suamiku?"


"Mas Bastian ada di rumah sakit karena kecelakaan. Segera kesini!" Lanjut wanita tersebut. Kemudian mematikan sambungan telepon.


Aku langsung lemas mendengarnya. Kudekap tubuh Arka. Aku menangis, panik. Apa yang terjadi dengan suamiku? Bagaimana kondisinya? Ya, Tuhan ... cobaan apa lagi ini?


Ting!


Pesan masuk dari nomor Mas Bastian. Sebuah alamat rumah sakit dikirimkan padaku. Segera kuhubungi mertuaku untuk memberitahukan kabar dan untuk menitipkan Arka. Meminta untuk menjaganya yang masih terlelap.


***


Dalam perjalanan menuju rumah sakit aku masih terus berdoa. Semoga suamiku tidak terluka parah. Ternyata firasat Arka benar. Seandainya Mas Bastian tidak pergi, dan memilih tetap di rumah bersama kami, semuanya tidak akan terjadi. Namun takdir tetaplah takdir. Apa yang dikehendaki Tuhan, mau sekeras apapun kita menghalangi, pasti terjadi.


Kubayar ongkos ojek, kemudian bergegas masuk dan mencari tahu dimana ruang Mas Bastian dirawat.


"Suster! Suamiku dirawat di sini. Bisa kau tunjukkan dimana Suamiku dirawat?"


"Pasien atas nama siapa?"


"Muhammad Bastian," terangku.


"Sebentar ...." Wanita itu tampak sedang mencari data. "Ada di ruang Wijaya Kusuma 3."


"Baik, terimakasih."


"Mas Bastian!" Kulihat suamiku sedang di cek oleh seorang dokter yang tidak asing di mataku. Di sebelahnya berdiri seorang suster yang sedang mencatat. Dan ... di samping Mas Bastian berdiri seorang wanita, kuperkirakan adalah yang memberi kabar tadi.


"Bagaimana keadaanmu, Mas?" Tanpa menanyakan pada sang dokter.


"Aku tidak apa-apa. Kamu tenang saja," jawabnya sembari tersenyum.


"Hanya luka ringan. Tenang saja, tidak perlu khawatir, " timpal sang dokter.


"Syukurlah," ucapku lega.


"Ya, sudah aku permisi dulu," ucap seorang wanita cantik yang berdiri di samping Mas Bastian.


"Oh ... Mbak yang tadi menelepon, kan?" Tanyaku mengamatinya.


"I-iya, " ucapnya gugup.


"Ah, dia temanku. Kebetulan tadi pas di jalan dia melihatku, dan langsung membawaku kesini." Mas Bastian menerangkan.


"Oh ... Terimakasih, ya?" Kuulurkan tangan padanya.


"Iya." Wanita tersebut pun menjawab sembari menjabat tanganku. "Aku permisi dulu." Ia pun melangkah pergi.


"Tunggu!" seruku.


Ia menoleh padaku.


"Aku sepertinya pernah melihatmu." Kuingat-ingat sesuatu. "Kamu bukannya yang waktu itu ada di acara pertunangan itu kan?" selidikku.

__ADS_1


Ia tampak risih dengan tatapanku. "Ah, aku lupa," tukasnya sambil tersenyum.


"Tapi aku ingat betul. Kamu kan yang--"


"Sayang ... sudahlah biarkan dia pergi. Ini sudah pagi. Kasihan dia sedari tadi menungguiku." Mas Bastian memotong pembicaraanku.


"Permisi ...."


Wanita itu pun bergegas pergi. Diikuti seorang suster yang ikut keluar dari ruangan rawat inap Mas Bastian. Tetapi tidak dengan dokter itu. Dia masih berdiri di sini. Padahal kurasa dia sudah selesai memeriksa.


"Sebentar, Mas. Aku coba menghubungi Ibu dulu. Memberikan kabar agar mereka tidak usah cemas."


Mas Bastian hanya mengangguk. Tanpa melirik dokter itu dan tanpa mempedulikan, aku keluar dari ruangan.


Aku keluar menuju taman belakang rumah sakit. Kududuki sebuah bangku. Lalu kuhubungi ibu mertuaku.


"Halo, Bu! Mas Bastian baik-baik saja. Hanya luka ringan. Ibu tidak perlu cemas, ya?" ucapku.


"Syukurlah."


"Bagaimana Arka? Apa dia tidur nyenyak?" tanyaku mengkhawatirkan anak laki-lakiku yang baru berusia satu setengah tahun.


"Tenang saja, Ima. Dia masih nyenyak, kok?" jawab ibu.


"Ya, sudah. Nanti kalau Arka rewel, Ibu hubungi aku ya, Bu?"


"Iya, Nak."


Setelah menelepon aku tidak langsung pergi. Kusandarkan tubuh pada bangku taman. Di sini sangat sejuk. Lega sekali Mas Bastian tidak terluka parah. Tetapi kenapa harus bertemu dengan dokter itu lagi?


Aku tidak tahu rencana Tuhan. Seseorang yang pernah meninggalkanku, kini ia kembali. Orang yang pernah paling aku butuhkan. Karena dengan cintanya hidupku terasa berbeda. Orang yang merajai hatiku. Mengisi hati dengan puisi-puisi romantis. Orang yang pergi meninggalkan janji manis yang tak bisa ia tepati. Sekarang, ia kembali dalam kehidupanku. Entah mengapa, melihatnya membuatku muak! Muak dengan segala hal yang pernah kami lalui. Mengapa harus dipertemukan lagi?


Ya, aku sadar memang keadaan kami sudah berbeda. Aku sudah menikah. Dan dia sudah bertunangan. Sudah bukan apa-apa lagi. Dan tidak ada apa-apa lagi. Melihatnya sekarang, dia Pangeran Elang yang telah mengubah sayapnya menjadi Dokter Elang muda nan tampan. Seharusnya aku bahagia dengan kesuksesannya meraih impian itu. Ya impian! Bukankah itu impian terbesar seorang Dimas Adi Wibowo? Impiannya hanyalah sukses menjadi seorang dokter, bukan untuk hidup bersamaku. Hey! Kenapa aku jadi memikirkannya? Bodoh!


"Hey!" sapa seseorang mengagetkan lamunanku.


Seorang pria tinggi berjas putih berdiri di hadapanku.


"Kaget?" ledeknya.


Aku bangkit dan segera melangkah pergi. Namun tubuh atletis itu menghalangiku.


"Mau menghindar?"


"Minggir!" seruku.


"Masih tidak mau mengenaliku?"


"Aku tidak peduli. Minggir!"


Dengan kasar kuempas tubuhnya. Namun dia tetap bersikeras menahanku.


"Nia!"


"Aku bilang, Minggir!"


"Putri Angsa, aku merindukanmu!"


Tiba-tiba dia memeluk tubuhku. Aku terdiam membisu. Apa ini? Tubuhku tidak mampu mengelak. Kurasakan hawa dingin tubuhku langsung menghangat dalam pelukannya. Detak jantungku berdegup tak beraturan. Rasa sakit dan kecewa di dadaku seakan terlupakan. Aku pasrah dipeluknya. Menerima dekapan hangat yang sama, seperti yang kurasakan bertahun-tahun silam bersama Pangeran Elang. Aku tidak mampu membohongi diri ini terhadap kerinduan yang tersimpan begitu lama. Kerinduan yang teramat dalam membelenggu jiwa. Pria ini seakan menghipnotisku. Hingga raga ini tak mampu menolak dekapannya. Ya, Tuhan ... dosakah aku?

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2