
"Aku hanya ... heran."
"Kamu tidak sedang bertengkar dengan Dimas, kan?" Entah mengapa tiba-tiba terlontar kalimat tersebut dari mulutku. Seharusnya aku tidak perlu ikut campur. "Maaf ... itu masalah kalian. Aku tak bermaksud untuk ikut campur."
Nessa tersenyum. "Dimas bukan orang yang mudah dalam mencintai. Dia keras kepala. Entah sampai kapan dia terus memaksakan kehendaknya."
Nessa beranjak dari kursi duduknya. Menuju ke tepi balkon. Memandang bebas pemandangan sekitar villa.
"Di sini sejuk sekali. Kemarilah!"
Aku pun mengikutinya. Berdiri di samping wanita langsing itu. Tubuhnya lebih tinggi lima sentimeter dariku. Dulu, aku pernah selangsing itu. Setelah hamil, tubuhku menjadi sedikit berisi. Namun, masih sangat ideal.
"Menurutmu, apa arti cinta yang sesungguhnya?" Nessa bertanya padaku.
Aku memandang bebas ke sebuah pegunungan yang tergambar indah di jagad. "Cinta itu keikhlasan hati. Mencintai tanpa keikhlasan, sama saja bohong. Membohongi diri sendiri. Dan mencintai tanpa ketulusan adalah sia-sia. Memberikan cinta pada seseorang bukanlah hal yang mudah. Pada hakikatnya, kita harus menjaga kebahagiaan orang yang kita cintai. Percuma jika ada kata cinta, namun pada dasarnya tidak bahagia. Itu sama saja membohongi diri sendiri. Cinta yang murni, suci, tidak akan egois dan memaksakan kehendak masing-masing. Bahkan, kadang kala, bila harus melepasnya sekalipun, demi kebaikan dan masa depannya, kita harus rela!" tuturku pelan.
"Apa cinta tak harus memiliki?" Nessa bertanya seraya menatapku.
Aku kembali memandang jauh ke langit. "Tidak! Cinta harus memiliki. Cukup bodoh, bila mencintai seseorang tanpa harus memiliki hatinya."
"Jadi, kita harus memiliki orangnya atau hatinya?" Nessa bertanya lagi.
__ADS_1
Aku menghela napas dalam. "Jika boleh memilih, lebih baik memiliki keduanya, orangnya juga hatinya. Karena mencintai seseorang tanpa memiliki hatinya itu sangat menyiksa. Itulah mengapa, dulu aku pernah memutuskan untuk melepaskan seseorang yang sangat kuinginkan. Aku merelakannya. Meski sulit, aku berusaha ikhlas. Lagi pula, percuma saling mencintai, tapi akan ada yang terluka."
"Siapa yang akan terluka?" Nessa memegang pundakku. Menghadapkan wajahku padanya.
"Ah, aku ... aku ... aku berbicara terlalu banyak, ya?" ujarku gugup.
"Imania, apa kau belum bisa melupakan masa lalumu?" Tiba-tiba pertanyaan Nessa membuatku kaku.
"Ma-masa laluku?"
"Apa kamu masih menginginkannya?"
Aku berusaha memalingkan muka dari Nessa, tapi dia tetap memaksaku untuk bertatap muka dengannya.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Nessa dengan mata berkaca-kaca.
"Nessa!"
"Apa kamu ingin memilikinya? Apa kamu inginkan dia? Apa kamu masih ingin merebutnya dariku!" cecar Nessa dengan emosi.
"Nessa," selaku.
__ADS_1
"Diam!" Nessa mengacungkan telunjuknya yang lentik di depan wajahku. "Kamu pikir aku tidak tahu?"
Aku hanya bisa menunduk. Menyembunyikan rasa takut akan tatapannya. Ada apa dengan Nessa. Mengapa dia sepertinya marah?
"Dimas dan kamu, adalah ... mantan--"
Tiba-tiba Nessa memegangi dadanya. Dia terjatuh ke lantai. Aku yang masih terpaku dengan rasa takut pun langsung panik. Aku berteriak meminta tolong. Nessa tak sadarkan diri. Kuletakkan kepalanya di pangkuanku.
"Ness, sadarlah! Kumohon ...."
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Hai, Readers Tersayang .... Author kembali lagi, nih! Menurut kalian, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Nessa akan membenci Imania?
Dari sini, perjalanan dan perjuangan cinta dokter tamvan akan dimulai.
Selanjutnya akan lebih seru. Ini adalah titik awal berbagai konflik akan terjadi. So, stay on, Say .... 😘
__ADS_1