
Hari ini, sesuai janjinya. Mas Bastian akan mengajak kami pergi jalan-jalan. Aku dan Arka pun segera bersiap-siap. Aku memandikan Arka terlebih dahulu. Usai memakaikan baju dan menyisir rambut Arka, kini giliranku yang mandi. Kemudian berdandan, memoles wajah dengan make up tipis-tipis. Setelah siap, kami pun berangkat.
"Kita akan ke mana, Pa?" tanyaku di dalam mobil.
"Kita akan ke mall dulu, ya? Belilah beberapa pakaian baru untuk Arka dan untuk dirimu sendiri. Setelah itu kita akan pergi berenang."
"Berenang? Hore!" Arka menyahut riang.
Setelah berkendara sekitar 15 menit, kami pun sampai di mall. Kami masuk ke dalam mall yang cukup besar dan terkenal di kota ini. Di dalam mall, ada tempat bermain untuk anak-anak. Mas Bastian mengajak Arka untuk bermain di playground. Arka pun sangat senang. Ia menaiki odong-odong, mandi bola, naik mobil-mobilan, dll.
Aku memperhatikan keakraban ayah dan anak itu. Mereka tampak begitu manis dalam kebersamaan. Mana mungkin aku tega, memaksakan ego sendiri. Meski sesungguhnya, aku masih meragukannya. Namun, masih berusaha kukubur dalam-dalam rasa sakit yang ada. Sementara ini, aku masih bersikeras melupakan kekecewaan.
***
Setelah cukup puas bermain, kami melanjutkan untuk berbelanja. Aku pun memilih beberapa helai pakaian anak-anak untuk Arka. Kemudian mencari beberapa kaos dan kemeja untuk mas Bastian. Dan terakhir, aku memilih beberapa helai baju dan kerudung pashmina berbagai corak untukku sendiri.
"Sayang?" Mas Bastian menghampiriku yang telah selesai memilih pakaian.
"Iya, Pa?"
"Nanti kita akan pergi ke kolam renang. Jadi, belilah satu pakaian renang untuk kau pakai nanti."
"Pakaian renang?" Aku terkejut. Mana mungkin aku memakai pakaian seksi seperti itu?
"Iya, kenapa?"
"Aku tidak mungkin memakai pakaian seksi, kan?"
Mas Bastian tertawa mendengar pertanyaanku. "Kan ada pakaian renang khusus muslimah."
"Oh, iya. Baiklah."
Aku pun mencari satu set pakaian renang lengkap beserta jilbab renangnya. Setelah itu, kami langsung membayar belanjaan ke kasir. Lalu kembali ke dalam mobil, dan melesat menuju water park.
"Papa, Arka mau makan," rengek Arka tiba-tiba.
"Baiklah, ayo kita makan dulu," timpal mas Bastian.
"Hore!" sahut Arka gembira.
Mas Bastian mengemudikan mobil menuju sebuah tempat makan. Tak lama, mobil pun berhenti di depan sebuah restoran yang kukenal. Aku pernah ke sini sebelumnya, bersama Nessa.
"Kita makan di sini saja," ucap mas Bastian setelah memarkir mobilnya. Kami pun segera turun, dan masuk ke dalam resto tersebut. Setelah mendapatkan tempat duduk, kami pun memesan beberapa menu appetizer, main course, dan dessert.
"Baik, kami segera menghidangkan pesanan Anda," ucap waitress tersebut. Kemudian berlalu meninggalkan meja kami.
Sembari menunggu pesanan, seseorang datang menghampiri kami.
__ADS_1
"Hai, Imania," sapa pemilik restoran tersebut.
"Hai, Rud," balasku seraya mengulum senyum.
"Apa kabar?"
"Baik. Kamu apa kabar?" balasku ramah.
"Ya, beginilah. Masih single, he-he?"
"Oh ya, perkenalkan, ini suamiku," ucapku.
Mas Bastian pun segera mengulurkan tangan. "Muhammad Bastian."
"Rudi Gianto."
"Dia pemilik restoran ini, Pa?" Aku memberi tahu.
"Oh, senang mengenalmu Pak Rudi," ucap mas Bastian.
"Jangan panggil 'pak'. Rudi saja, he-he," ucapnya sembari tersenyum.
Kami pun berbincang-bincang sejenak, sembari menunggu pesanan datang. Arka juga sangat senang berjumpa dengan Rudi lagi. Keramahan Rudi membuatku terkesan. Terlebih lagi, dia juga sangat menyukai anak-anak.
Selang beberapa menit, pesanan kami pun datang.
"Arka? Kamu suka es cream?" tanya Rudi.
"Suka," jawab Arka polos.
Rudi pun meminta kepada seorang waitress untuk membawakan beberapa menu dessert untuk Arka.
"Tidak usah repot-repot, Rud?" ucapku merasa rikuh.
"Santai saja, Imania," balasnya sembari tersenyum.
Waitress tersebut datang kembali, membawakan beberapa menu dessert untuk Arka. Arka pun sangat senang dan antusias menikmatinya.
"Ya, sudah. Aku permisi dulu. Semoga tidak bosan berkunjung ke mari."
"Makanannya enak-enak. Tidak mungkin kami bosan. Lagi pula, kamu melayani pelanggan dengan sangat baik," ucapku pada Rudi.
"Iya. Semua makanan di sini enak. Tempatnya juga sangat nyaman." Mas Bastian menambahi.
"Terima kasih atas pujiannya, he-he," balas Rudi.
Rudi beranjak meninggalkan kami. Aku, mas Bastian, dan Arka pun kembali menikmati beberapa menu makanan yang tersaji.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mas Bastian segera membayar semua menu yang kami pesan. Seorang kasir pun memberikan sehelai kertas bon padanya. Betapa terkejutnya, ketika di kertas tersebut hanya tertera kalimat, 'GRATIS! ANGGAPLAH INI SEBAGAI TANDA PERSAHABATAN!'
Mas Bastian pun segera mengatakan kepada kasir tersebut, agar menyampaikan rasa terima kasih banyak kepada pemilik restoran tersebut. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju water park.
"Sayang? Apa Rudi itu temanmu?" tanya mas Bastian yang sedang mengemudi.
"Iya."
"Kapan kalian saling kenal?"
"Belum terlalu lama. Nessa pernah mengajakku ke restoran Rudi. Jadi, kami pun berkenalan."
"Dia sangat baik," puji mas Bastian.
"Iya."
"Dia juga sangat menyukai Arka," kata mas Bastian lagi.
"Iya," jawabku lagi.
"Dia masih sangat muda, ya?"
"Iya."
"Jangan-jangan ... Rudi juga menyukaimu!"
Ucapan mas Bastian sontak mengejutkanku.
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Hei, Readers Tersayang? Author datang lagi, nih?
Eh, kayaknya si Bastian cemburu, loh sama si Rudi? Jangan-jangan ... Rudi suka sama Imania. Atau ini hanya sebatas tanda persahabatan. Entahlah!
Yang jelas, Kalian pasti susah menebaknya!
Author sengaja menciptakan sebuah novel yang ANTI MAINSTREAM! Pokoknya beda dari yang lain. Dan hanya ada di novel ini.
Wah, mantap kan?
Nah, buat kalian yang sedang ikut GIVE AWAY untuk VOTING TERBANYAK. Buruan!
Pengumuman tanggal 25 Maret 2020 ya?
Thank you .... 😘
__ADS_1