
"Tidak usah, Fania. Aku bisa sendiri. Kecuali ...."
"Kecuali apa?" tanya Fania sembari memandangi Dimas.
"Kecuali jika Nia yang menyuapiku," jawab Dimas.
Fania pun menatapku sesaat. Aku merasa malu untuk menyuapinya di mata umum. Lagi pula, restoran sedang ramai.
"Nia, kemarilah! Suapi aku, please ...."
Aku menatap sekeliling sudut ruangan yang luas ini. Sungguh ... aku malu untuk melakukannya. Tapi ... kasihan juga bila Dimas sampai kesulitan untuk makan.
"Nia, suapi aku, please ...," pinta Dimas lagi seraya memasang mimik muka memelas.
Fania berdiri, kemudian beranjak menghampiriku. "Suapi Dimas, Imania." Fania menyentuh pundakku. Ia turut memintaku untuk menyuapi Dimas.
"Baiklah," jawabku seraya berdiri. Aku pun beranjak ke tempat duduk yang sebelumnya diduduki oleh Fania. Dan Fania berpindah untuk duduk di kursiku.
Dimas memandangku seraya tersenyum. "Tanganku sakit! Bisa kau suapi aku, Sayang. Atau aku yang menyuapimu, tapi melalui ini, ya?" ucap Dimas seraya menunjuk bibirnya.
"Dimas, jangan begitu!" ucapku seraya tersipu.
Aku pun mengambil sendok dan pisau. Kuisi sendok tersebut dengan menu main course yaitu 'Sirloin Steak'. Kudekatkan sendok tersebut ke mulutnya. Dimas pun sudah membuka mulut, siap untuk menerima suapan dariku. Dan saat aku akan memasukannya ke dalam mulutnya, tiba-tiba Rudi datang.
"Hai, Imania? Maaf aku kurang cepat untuk menyambut kalian!"
Aku pun tidak jadi menyuapi Dimas. Dan Dimas tampak kesal melihat kedatangan Rudi.
"Dimas, tanganmu kenapa?" tanya Rudi.
"Bukan urusanmu!"
Rudi pun tertawa. "Sejak kapan kau menjadi judes begini?"
"Sejak melihatmu!"
Rudi pun beranjak menghampiriku. "Sini, biar aku yang menyuapinya," tawar Rudi padaku.
"Aku tidak mau! Aku masih normal, Rud!" tolak Dimas.
"Ya, aku tahu. Siapa bilang aku menyukaimu? Aku hanya ingin membantu. Apa boleh, Imania?"
__ADS_1
Aku pun berdiri. "Sangat boleh, silakan!"
Dimas menatapku dengan kesal. Aku hanya membalasnya dengan mengulum senyum. Aku tahu mereka harus sering-sering berdekatan, agar tidak selalu bersinis-sinisan.
Aku mengambil duduk di sebelah Arka. Dan Rudi menggantikanku duduk di samping Dimas. Rudi pun mulai memotong daging sirloin tersebut. Kemudian mengisinya ke dalam sendok.
"Ayo, buka mulutmu!" perintah Rudi pada Dimas.
"Tidak!"
Aku dan Fania pun tertawa melihat tingkah mereka berdua. Hingga setelah Rudi memaksa, Dimas pun membuka mulutnya.
"Rasanya menjadi tidak enak, jika kau yang menyuapiku!"
"Tidak usah sungkan. Ayo buka mulutmu lagi."
"Tidak!"
"Buka!"
"Tidak!"
"Oh, ayolah, Honey?"
Aku, Fania, dan Arka, melanjutkan makan sembari memperhatikan kelucuan mereka. Pada akhirnya, Dimas lebih memilih makan dengan tangan kirinya.
Saat kami asyik menyantap menu-menu yang tersaji di atas meja. Rudi tiba-tiba menanyakan padaku perihal pekerjaan yang ia tawarkan tempo hari.
"Imania, apa kau sudah siap bekerja di sini?"
Aku menatap Dimas sesaat, yang juga tengah menatapku penuh selidik.
"Ah, maaf sebelumnya, Rud? A-aku—"
"Dia akan bekerja di perusahaan ayahku!" Dimas tiba-tiba menjawabnya.
"Begitukah?" Rudi tampak kecewa.
"Maafkan aku, ya, Rud. Bukannya menolak, tapi kantor menuju bank lebih dekat dengan rumahku."
"Oh, baiklah. Tidak apa-apa."
__ADS_1
Aku pun mengulum senyum kepada Rudi.
"Imania, kenapa kau belum menghubungiku? Apa kau juga belum menyimpan nomorku?" tanya Rudi
"Oh, iya, itu ... nanti ku-save," jawabku seraya memandang ke arah Dimas yang terus mengamatiku.
"Rudi!" panggil Fania.
"Hm ...."
"Kalau Imania tidak mau menyimpan nomormu. Biar aku saja, sini!" tukas Fania seraya mengambil handphone-nya.
"Tidak usah!" balas Rudi cuek.
"Haish! Pelit sekali!" umpat Fania kesal, kemudian meletakkan handphone-nya kembali ke tasnya.
Setelah selesai makan, kami pun pulang. Fania yang membawa mobilnya. Dan sesampainya di depan rumah orang tuaku, kami pun turun.
"Dimas, apa kau bisa menyetir mobil sendiri?" tanya Fania dari luar kaca mobil.
"It's okay!" jawab Dimas sembari memposisikan duduknya di depan setir.
"Hati-hati ...!" seruku.
Dimas mengeluarkan kepalanya dari kaca mobilnya, memandangku. "Apa?"
"Hati-hati ...!" seruku lagi.
"Kemarilah, aku tidak dengar!"
Aku pun mendekat, persis di samping pintu mobilnya.
"Apa?" tanyanya lagi.
Aku pasti akan dikerjainya lagi. Aku pun langsung membalikkan badan, tetapi dia langsung meraih leherku. Dan Dimas mencium pipiku di depan mata Fania.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Readers Keceh ...!
__ADS_1
Pukul 19.00 WIB, Author Keceh akan kembali lagi, ya?
Thank You ...!