BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Fania Belajar Memasak


__ADS_3

"Dimas, aku mau mengejar Fania. Nanti kuceritakan." Aku pun turun, sedangkan Dimas mengekor di belakangku.


Aku sampai di teras rumah. Rudi sedang berbicara dengan Fania di situ. Kuhentikan langkah sedikit jauh untuk membiarkan mereka bicara terlebih dahulu.


"Fania, tunggu!" Rudi menahan lengan Fania. "Kau harus mendengar penjelasan dariku.”


"Apa lagi, Rud? Jelas-jelas kau tidak mencintaiku."


"Fania, baiklah, aku yang salah sudah berbohong tentang perasaanku yang sebenarnya padamu. Tapi bukan berarti aku tidak bisa menyukaimu. Aku ... aku suka padamu, Fania."


"Bohong!"


"Fania."


"Kita putus saja, Rud."


Kami semua tertegun mendengar pernyataan dari Fania. Perlahan Rudi melepaskan tangan Fania. Untuk sejenak, mereka saling diam. Kemudian Fania pun pergi.


Aku menghampiri Rudi yang bergeming menatap kepergian Fania. "Rud."


"Imania, aku pamit pulang." Rudi pun beranjak menuju mobilnya dengan langkah lesu.


***


Malamnya, aku tengah duduk di depan cermin rias, sembari memikirkan kejadian tadi siang. Aku sudah mengirimi Fania pesan, tetapi belum terbaca. Apakah Fania marah padaku? Baru saja Fania dan Rudi jadian, mereka langsung putus. Sedih ... aku sedih sekali.


Saat tengah mengamati wajahku di cermin, tiba-tiba aku teringat lingerie yang dibelikan Dimas untukku. Aku sudah mencucinya dan meletakkannya di keranjang pakaian. Aku pun beranjak mengambilnya. Dengan perasaan ragu, aku memakainya.


Kutatap diriku di cermin. Oh, ini seksi sekali. Aku sangat malu melihat tubuhku sendiri. Ini pertama kali aku memakai pakaian seseksi ini. Karena merasa tidak pantas, aku ingin melepaskan lingerie warna merah ini dan memakai kembali pakaianku. Namun, saat aku baru akan melepaskan lingerie dari tubuhku, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dimas masuk dan langsung mendapatiku.


Untuk beberapa saat, Dimas menatapku tak berkedip. Sedangkan aku tertunduk malu sembari menutupi bagian dadaku. Ia berjalan menghampiriku sembari tersenyum.


"Tidak usah malu. Kita, kan, sudah halal. Di depan orang lain Kau harus menjaga dan menutup aurat, tetapi saat berduaan denganku, kau tidak perlu menutupi tubuhmu itu malah lebih bagus." Dimas mengedipkan sebelah matanya, lalu menarikku ke ranjang. Kami pun berbaring.


"Dimas, untuk apa aku memakai lingerie? Ini sama saja telanjang, bukan?"


"Ini namanya seni berpenampilan di depan suami, Sayang. Kau terlihat sangat menggiurkan seperti ini." Dimas membelai wajahku.


Dimas mendudukkan tubuhnya, lalu melepaskan bajunya. Dag-dig-dug jantungku berdetak, mengikuti irama gugup dalam kalbu. Padahal ini sudah biasa kami lakukan setiap malam, tapi ... entah mengapa detak jantungku selalu tak beraturan begini..


Dimas berbaring dan mendekap tubuhku ke dalam pelukannya. "Ternyata begini rasanya memiliki istri. Tak berbusana pun tidurku terasa hangat. Malah semakin hangat kalau kulit kita saling bersentuhan."


Drrrrt! Drrrrt!


Handphone milik Dimas bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk. Dimas meraih handphone tersebut dari nakas.


"Dari Mbak Nonita," kata Dimas lalu mengangkat teleponnya.


"Halo, Mbak."


Dimas me-loudspeaker handphone-nya.


"Halo, Dimas. Kami baru pulang tadi pagi dari Bali."


"Wah, betah sekali honeymoon-nya, Mbak?"


"Begini, Dimas. Mbak mau mengatakan sesuatu padamu. Tentang kejadian-kejadian aneh di resort."


"Iya, Mbak, kenapa?"


"Dimas, sepertinya ... kamar yang ditempati mbak dan mas Surya itu ....'


Mbak Nonita menghentikan perkataannya. Membuat kami penasaran.


"Ada apa dengan kamar kalian, Mbak?"


"Kamarnya ... angker."


Sontak bulu kudukku merinding. Aku mendekatkan diri kepada Dimas. Dimas mengerti ketakutanku. Ia meraih tubuhku ke dalam pelukannya lagi.


Akhirnya mbak Nonita menceritakan kejadian-kejadian aneh ketika berada di sana. Seperti, suara-suara aneh yang terdengar, kran kamar mandi yang hidup sendiri, bayangan hitam, dll. Oh, pantas saja waktu itu, kamar mbak Nonita yang kedap suara tiba-tiba saja seperti tidak kedap. Ternyata ... memang ada sesuatu yang aneh terhadap kamar yang ditempati mereka.


"Aku akan mengurusnya segera."


"Ya, sudah, Dim. Selamat malam."


"Selamat malam juga, Mbak."


Telepon pun berakhir. Dimas meletakkan kembali handphone-nya ke nakas. Kupererat pelukan, sehingga Dimas semakin menatapku.


"Kau takut?"


Aku menggeleng pelan.


Dimas mengusap lenganku. "Kau merinding, ya?"


"Hm ...."


"Tidak apa-apa. Ada aku di sisimu. Hal semacam itu, biasa terjadi pada sebuah bangunan. Di rumah sakit tempatku bekerja juga ada. Asal tidak mengganggu, tidak apa-apa, kok? Aku akan mengirim seorang ustaz ke sana, besok."


"Ya, lebih cepat lebih baik."


Dimas menyibakkan rambutku yang tergerai. "Kau semakin cantik saja."


"Aku malu memakai lingerie ini."


"Kau sangat seksi, Nia."


Saat Dimas akan mendekatkan bibirnya, aku menahannya. "Dimas, boleh kutanya sesuatu?"


"Katakanlah."


"Sebenarnya ... apa saja pekerjaanmu, kalau boleh tahu?"


"Hm ...." Dimas melebarkan kedua matanya.


"Maksudku, selain sebagai dokter spesialis."


"Bisnis."


"Apa aku boleh tahu segalanya?"


"Tentu. Kau istriku, kenapa tidak?"


Sembari memelukku akhirnya Dimas bercerita. Dimas selain sebagai dokter, juga adalah seorang pebisnis. Dia membangun sebuah resort di Bali, juga sekarang katanya sedang membangun sebuah mal. Dia juga punya apartemen di Jakarta. Oh, pantas saja, dia bisa hidup begitu royal.


"Pantas. Hidupmu tampak begitu mewah."


"Dulu, ayahku ingin aku mengurus perusahaan. Tapi aku tidak tertarik. Jadi, perusahaan separuh di-handle oleh mas Surya, dan separuhnya lagi di-handle oleh ayah."


"Apa alasanmu menjadi dokter, jika kau sendiri suka berbisnis? Apa hanya karena ingin menepati janjimu seperti dalam cerita Nessa?"


Dimas mencubit hidungku gemas dan berkata, "Tidak juga. Tapi tidak dipungkiri itu adalah salah satu alasannya. Apa kau marah?"


"Untuk apa?"


"Tidak cemburu?"


"Awalnya iya, tapi sekarang tidak."


Dimas tersenyum, lalu bercerita. (Flash Back)


Saat ia berusia tujuh tahun, kakeknya masuk rumah sakit. Dan ia bertemu seorang ibu yang tengah menangis di koridor rumah sakit. Ibu itu menggendong bayinya yang tengah sakit keras.


Dimas kecil berlari menghampiri ibu tersebut. "Ibu kenapa?"


"Anakku sakit keras, Dek. Kami diusir dari rumah sakit. Itu karena ibu tidak bisa membayar biayanya. Ibu baru pindah ke kota ini dan tidak punya kartu BPJS."


"Suami Ibu di mana?" tanya Dimas kecil.


"Dia sedang mencari pinjaman, Dek."


Dimas melihat bayi kecil itu terus menangis. Dia merasa sangat iba. Kemudian Dimas berlari menuju Ayahnya—pak Wibowo. Dimas memohon agar ayahnya mau membantu pengobatan bayi tersebut.


Namun, sayang, saat Dimas dan ayahnya baru selesai membayar biaya tersebut. Ibu itu tiba-tiba menjerit histeris. Segera para suster berlari menghampiri. Begitupun Dimas dan pak Wibowo.


"Apa yang terjadi pada bayi itu?" tanyaku yang masih sedia mendengar cerita dari Dimas.


"Bayi itu meninggal. Dan kau tahu kenapa? Ternyata bayi tersebut mengidap penyakit jantung bawaan." Dimas mengusap kedua matanya yang basah.


Aku turut bersedih mendengar kisah memilukan tersebut.


"Itulah alasan lain, mengapa aku ingin menjadi dokter."

__ADS_1


"Kasihan sekali," ucapku sembari mengusap air mataku.


"Beberapa bulan lagi, aku akan membangun rumah sakit sendiri. Tepatnya setelah pembangunan mal selesai. Aku ingin benar-benar membantu orang-orang untuk sembuh. Cukup kejadian masa lalu itu sebagai pelajaran berharga. Bayangkan betapa hancur perasaan ibu itu. Seandainya bayi itu masih dalam penanganan dokter, mungkin, bayi itu masih hidup sampai sekarang. Bayi itu meninggal saat keadaan terusir dari rumah sakit. Itu sangat menyedihkan."


"Aku semakin bangga memilikimu, Sayang." Kupeluk erat tubuhnya.


"Sayang, meski hidup kita tercukupi, kuharap kita bisa selalu ingat untuk membantu orang lain yang kurang mampu. Ingatkan aku untuk bersedekah, ya, Sayang ...." Dimas mengusap puncak kepalaku lembut.


"Itu pasti. Kita saling mengingatkan, Sayang."


"Aku juga akan selalu memberikan fasilitas dan kewajibanku padamu dengan baik, Nia." Dimas mengecup keningku.


Aku mendongak, menatapnya. "Mendapatkan suami tampan, dermawan, dan setia sepertimu, sudah cukup bagiku, Di. Mendapatkan cintamu yang luar biasa itu sudah sesuatu yang sangat berharga dan indah dalam hidupku." Kukecup bibirnya mesra. "Perlakukan aku dengan cara-cara sederhana saja, sudah membuatku senang. Tidak perlu bermewah-mewah."


Dimas tersenyum dan berkata, "Sayangnya, aku tidak bisa memperlakukan wanitaku dengan cara seperti itu. Bagiku ... memilikimu adalah hal paling indah dan berharga. Aku akan membahagiakanmu dengan caraku. Biarlah orang lain memperlakukan wanita dengan cara sederhana. Aku tetap akan memberikan segala hal mewah dan indah semampuku. Karena kau istriku. Kau berhak atas segala yang kumiliki. Dan karena aku mencintaimu, Nia."


"Aku juga, sangat mencintaimu ...."


"Yang penting, kita tidak lupa untuk?"


"Bersedekah," jawabku.


"Aku menyayangimu."


"Aku juga, sangat menyayangimu ...."


Dengan tatapan penuh kelembutan, ia mendekatkan bibirnya, meraih bibirku dengan lembut. Pelan-pelan aku mengimbangi setiap gerakan bibir dan lidahnya. Sehingga terjadilah peraduan. Dimas menyentuh setiap inci kulitku, membuat tubuhku terasa semakin bergejolak. Setelah melayangkan ciuman di bibir, ia turun ke leher. Kecupan-kecupan manis ia daratkan di situ, lalu turun ke dada, dengan kedua tangan meremas sesuatu. Gigitan-gigitan kecil meletup eksotis membuatku berdesah syahdu.


Usai melakukan pemanasan beberapa menit, ia melepaskan lingerie dari tubuhku. Malam ini, separuh waktu kami habiskan untuk bercinta dalam nyanyian-nyanyian syahwat. Deru napas yang saling memburu, beriringan dengan desah melodi kalbu. Semua bersatu indah dalam keheningan harmoni malam, kisah anak Adam dan Hawa yang tengah merenda gairah asmara.


***


Pagi hari.


Detak-detik menitik, suara jam beker lambat laun terdengar di telinga, seakan tengah menggunggah penikmat tidur untuk segera membuka kedua katup netra. Diiringi nyanyian merdu sang jago yang mendawai memecah kesunyian.


Kubuka kedua kelopak mata. Mengucek sebentar, menghilangkan rasa sebal saat baru bangun dari lelap. Kutatap sesaat wajah lelaki yang terjaga di sisiku. Dia masih nyenyak. Kualihkan pandang ke arah jam beker yang terus berdetik menunjukkan pukul 04.30 WIB.


Kusingkirkan selimut yang menutupi tubuh polosku. Sebuah kecupan lembut kulayangkan ke bibir suamiku. Kemudian aku bangun untuk membersihkan diri. Kuambil handuk kimono dan menuju kamar mandi.


Hilir dingin angin, sejuk menyeruak membelai kulit. Membuat sensasi kesegaran pada diri saat bulir-bulir air shower yang hangat mengguyur tubuh. Ah, segar ....


***


Pukul 07.00 WIB.


Aku tengah memasak bersama bi Sur—partner masakku. Sesekali kutatap layar handphone, yang kuletakkan di atas meja. Menunggu balasan pesan dari seseorang.


"Ah!" Jariku teriris saat tengah mengiris bawang.


"Hati-hati, Mbak," ucap bi Surti panik.


"Tidak apa-apa, kok, Bi." Kuusap darah segar yang mencuat dari kulit yang tergores pisau. Kemudian kucuci dan kubalut dengan plester.


"Biar Bibi saja yang memasak, Mbak."


Aku pun duduk sembari menemani bi Surti memasak. Kuraih handphone-ku kembali. Tetap saja, Fania belum membuka pesanku. Apa dia marah sekali padaku? Apa dia membenciku? Padahal, jelas-jelas ini salah paham.


"Mbak lagi memikirkan sesuatu, ya, Mbak."


"Iya, Bi."


"Jika berkenan untuk bercerita, bibi siap untuk menjadi pendengar setia, kok, Mbak."


Aku pun menceritakan tentang kejadian kemarin kepada bi Surti.


Sembari memasak, bi Surti berkata, "Wajar kalau neng Fanianya marah. Tapi bibi yakin, neng Fania marahnya sama mas Rudi, bukan sama Mbak Imania."


"Tapi kenapa dia tidak membalas pesanku, ya, Bi? Mungkinkah dia juga marah padaku, ya, Bi?"


"Tunggulah sebentar lagi. Neng Fania mungkin lagi butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Kalian itu, kan, sudah bersahabat baik. Tidak mungkin, neng Fania membesar-besarkan masalah salah paham seperti itu. Titik kesalahannya, kan, ada sama mas Rudi ya yang terkesan PHP-in neng Fania. Bukan sama Mbak Imania."


"Iya juga, sih, Bi."


***


Pukul 09.00 WIB.


"Sayang, mau pergi jalan-jalan, enggak?" Dimas menghampiriku dan duduk di sampingku.


"Aku lagi enggak mood, Sayang."


"Masih memikirkan Fania, ya?”


"Hm ...."


Seperti biasa, Dimas meletakkan kepalanya di pangkuanku.


"Seminggu lagi aku sudah mulai berangkat bekerja."


"Apa kau bosan di rumah?"


"Tidak juga. Kan, ada kamu. Jadi tidak bosan."


"Jujur saja. Pasti bosan, ya?"


"Enggak." Lagi-lagi Dimas mencubit hidungku.


"Sebenarnya, aku juga bosan. Aku ingin ikut membersihkan rumah, membantu bi Mur."


"Jangan. Tidak usah. Nanti kamu kecapekan."


Ting-tung!


Terdengar suara bel pintu.


"Siapa itu, ya, Sayang?" tanyaku.


"Kejutan."


"Kejutan apa lagi? Bukan lingerie lagi, kan?"


"Ha-ha, bukan. Aku memesan sesuatu untukmu. Kau akan suka."


"Makanan?"


Dimas menggeleng. "Lihat saja."


Aku dan Dimas pun beranjak menuruni tangga, menuju pintu. Bi Mur yang tengah membuka pintu tersebut. Betapa terkejutnya melihat siapa yang datang. Seseorang berdiri di depan pintu sembari menenteng satu keranjang penuh berisi sayuran. Aku langsung menghampirinya.


"Fania."


Sesungging senyum ia lemparkan padaku. Sontak aku langsung memeluknya.


"Kupikir kau masih marah padaku."


"Untuk apa?"


"Soal Rudi, kemarin."


"Ha-ha, masih banyak laki-laki di luar sana. Tetapi sahabat sepertimu, hanya satu."


"Kau membuatku terharu."


"Ayo kita memasak!" Fania beranjak masuk mendahuluiku.


"Fania," panggilku. "Jadi, kau tidak benar-benar putus dengan Rudi, kan?"


Fania menghentikan langkahnya dan menolehku. "Aku ingin memasak bukan karena Rudi. Tapi untuk diriku sendiri. Aku ingin bisa memasak. Agar siapapun yang menjadi pendamping hidupku nanti, bangga memiliki istri yang pintar memasak sepertiku."


Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Ada kesedihan di balik kalimat itu. Secara tidak langsung Fania sudah memberitahu bahwa mereka sudah benar-benar putus. Walaupun ada rasa bahagia melihat semangatnya untuk bisa memasak.


Fania kembali melangkah menuju dapur. Aku menghampiri Dimas yang berdiri di ujung bawah tangga, yang masih memandang Fania dengan heran.


"Apa ... ini kejutannya?" tanyaku.


"Bukan. Tapi kurasa kau cukup senang mendapati sahabatmu datang."


"That's right."


Aku pun berjalan menuju dapur. Akhirnya, aku dan Fania sibuk memasak beraneka macam masakan. Fania berbelanja sendiri di pasar. Dan meskipun Fania suka bercanda saat memasak, tapi kuakui dia sangat serius untuk bisa memasak. Aku jadi merasa iba terhadap hubungannya dengan Rudi. Aku yakin, Fania masih sangat mencintai Rudi. Dia hanya kecewa saat mengatakan 'putus' kemarin. Semoga saja mereka bisa bersatu kembali, dan Rudi akan benar-benar jatuh cinta pada Fania.


"Imania, kenapa jarimu?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Hanya tergores sedikit."


"Itu, Neng. Mbak Imania kepikiran Neng Fania terus, jadi tidak bisa konsentrasi memasak," sahut bi Surti yang tengah mencuci piring.


"Ih, so sweet ...." Fania kembali memelukku. "Sini, biar kutiup. Masih sakit?"


"Enggak."


Kami pun memasak dengan gembira.


***


Selang tiga jam memasak, kami pun makan siang bersama, menikmati hidangan yang tersaji di atas meja, hasil olahan tangan Fania. Aku hanya mendampinginya dan memberi instruksi selama memasak.


"Bagaimana rasanya?" tanya Fania.


"Enak," jawabku.


"Serius?"


"Kenapa tidak mencobanya sendiri?" kata Dimas.


"Aku takut rasanya tidak enak."


"Tidak apa-apa. Namanya juga baru belajar memasak. Wajar kalau masih ada yang kurang," ucapku.


"Kalau sopnya menurutmu bagaimana rasanya ini?" tanya Fania sembari menuangkan sop tersebut ke piring.


"Masih kurang," kataku.


"Kurang asin, kurang gula, atau—"


"Kurang banyak, Fan," jawabku sembari tersenyum.


Fania menatapku tidak percaya. "Kau serius? Ini enak?"


"Aku tidak bilang ini enak."


"Tapi tadi kau bilang ini kurang banyak. Apa secara tidak langsung kau memujiku?"


"Benar. Aku memujimu. Ini enak, Fan," ucapku dengan jujur, karena rasanya memang enak, asinnya juga pas.


Fania pun mencicipinya. "Wah, iya, benar. Ini enak. Hore! Aku bisa memasak, hore!" ujarnya sembari melonjak girang.


"Jangan terlalu husnudzon. Coba dulu ayam kecapnya," kata Dimas.


"Ada apa dengan ayam kecapnya?" tanya Fania dengan wajah was-was.


"Tidak gosong, kan?" tanyaku karena juga belum mencicipinya.


"Tidak mungkin gosong. Aku memasaknya dengan sangat baik," ujar Fania yakin. "Hei, Adik durhaka! Apa yang kurang dari ayam kecapku?"


"Kurang banyak, ha-ha," ucap Dimas sembari tertawa.


"Serius? Berarti itu juga enak?" Kedua mata Fania melebar.


"Aku juga tidak bilang itu enak," kata Dimas.


"Tetapi secara tidak langsung kau memujiku, bukan?"


"Aku juga tidak memujimu," jawab Dimas sembari tertawa.


Fania menghela napas kesal, lalu mengambil sepotong ayam kecap tersebut dan menggigitnya. Fania berhenti saat giginya tepat akan mengunyahnya. Ia bergeming, membuatku penasaran.


"Bagaimana rasanya? Enakkah?" tanyaku.


Fania meraih selembar tissue, lalu melepehnya. Wajahnya tampak mengernyit.


"Ada apa?" tanyaku lagi.


Dimas tertawa dan berkata, "Itu ayam laut, bukan ayam kecap."


"Maksudnya?" tanyaku.


"Nah, iya, itu ayam laut. Asin sekali, ha-ha."


"Kau bilang itu kurang banyak. Kupikir itu mengiaskan pujian. Ternyata sindiran. Menyebalkan!" ucap Fania kesal.


(Gagal maning ... gagal maning ... Fan. Ha-ha)


***


"Sayang, gerah, nih. Mandi, yuk!" ajak Dimas padaku yang tengah duduk di balkon bersama Fania.


Fania melenguh kesal. "Tidak usah memanasiku seperti itu."


"Siapa yang memanasi? Memang kami selalu mandi berdua, kok?"


"Tidak, Fan. Jangan percaya," sergahku.


"Aku juga mau mandi," ucap Fania. "Tapi aku tidak punya pakaian ganti."


"Aku ada. Pakai punyaku saja. Banyak baju baru yang belum kupakai."


"Wah, beneran?"


"Hm ... ayo kita mandi berdua, Fan," ajakku yang membuat ekspresi Dimas berubah cemberut.


Aku dan Fania pun beranjak menuju kamar.


***


Usai mandi, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Sepertinya ada tamu. Buru-buru kusisir rambut dan memakai hijab.


"Fan, aku keluar dulu, ya?" ucapku pada Fania yang tengah memakai pakaian.


Aku pun keluar untuk melihat siapa yang datang. Mungkin kejutan yang Dimas bilang. Ya, mungkin saja. Namun, saat aku akan turun dari tangga ternyata yang datang adalah Rudi. Bi Mur yang mempersilakannya masuk.


"Fania di sini?" tanya Rudi yang berada di ujung bawah tangga.


"Iya, Rud."


Rudi berjalan naik. "Aku harus bicara dengannya."


"Dia ... ada di kamarku."


Aku pun membawa Rudi menuju Fania. Dan saat kami sampai di depan pintu kamar, bersamaan dengan itu Fania keluar dengan senyum mengembang.


"Imania, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat—" Fania menghentikan perkataannya. Mimik mukanya berubah ketika melihat seseorang yang datang.


"Fania ...." Rudi menatap Fania tak berkedip. "Kau ... cantik sekali."


Wajah Fania bersemu merah dipuji Rudi seperti itu.


"MasyaAllah, Fania. Kau terlihat sangat cantik dan salehah," pujiku.


"Eghem! Kakak pencopet, itu kau?"


Dimas yang dari tadi duduk di sofa pun ikut menghampiri. Dia juga tidak percaya melihat perubahan penampilan Fania yang sangat berbeda drastis. Fania tampak begitu cantik dengan balutan busana muslimah yang modis. Pashmina yang ia kenakan juga sangat cocok di wajahnya. Tidak menyangka, Fania bisa secantik ini bila berhijab.


Aku mundur beberapa langkah dan menarik Dimas menuju sofa. Aku ingin membiarkan Rudi terpesona melihat tampilan Fania saat ini. Biar saja Rudi merasakan jatuh cinta kepada Fania. Mungkin dari sini, hubungan mereka akan membaik.


Aku duduk di sofa, tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Jadi, kami masih bisa mendengar jelas percakapan mereka.


"Fania, kau sangat cantik," puji Rudi tak lepas dari tatapan kagumnya melihat Fania.


"Terima kasih ...," balas Fania sembari tertunduk malu.


Rudi sampai tidak bisa berkata-kata. Jadi, dia mengajak Fania menuju balkon. Aku kembali mendengarkan perbincangan mereka.


"Sayang, mandi dulu, sana!" perintahku.


"Sebentar lagi."


"Keburu malam."


"Baiklah, Sayang."


Dimas pun beranjak menuju kamar untuk mandi. Sedangkan aku pura-pura membaca majalah, padahal aslinya aku penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Fania dan Rudi.


Hayo? Pasti Readers Keceh juga penasaran, ya? Sabar ... nanti dilanjutkan, kok. Sampai jumpa di episode selanjutnya, ya? Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, and SHARE NOVEL INI, YA? THANK YOU ...!


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2