
Ia menarik bibirnya, setelah mengecup bibirku tanpa izin. Segera kuayunkan sebuah tamparan keras ke wajahnya. Namun, ia sigap mencekal tanganku. Aku menatapnya penuh emosi.
"Kamu benar-benar lelaki kurang ajar!"
"Bahkan, aku ingin melanjutkan permainan ini."
"Lepaskan!" Aku berontak, melepaskan genggaman tangannya.
"Aku akan memelukmu di sini jika kau terus memberontak!"
"Heh, apakah ini sebuah ancaman?"
"Iya!"
Dia menarikku, membawaku ke dalam book store. Aku menurut saja. Apa gunanya memberontak, yang hanya akan membuatnya lebih nekad.
"Lepaskan aku, Di! Malu dilihat orang!"
Dia pun melepaskan genggaman tangannya. Aku sedikit lega. Kulangkahkan kaki menuju rak buku. Mata ini mulai mencari-cari sesuatu yang menarik untuk dibaca. Meski tidak ada niat untuk membeli sebelumnya. Daripada aku bingung harus melakukan apa. Menunggu mas Bastian juga sangat membosankan. Aku menoleh ke arah lelaki kurang ajar itu. Mata elang itu terus mengawasiku. Dia benar-benar sudah gila!
Ada sebuah buku yang menarik pandangan. Segera kuraih buku tersebut, menjinjitkan kaki. Oh ... sedikit lagi, Ima! Huh! Tidak sampai. Aku menoleh ke belakang. Tampak si dokter elang itu sedang sibuk dengan sebuah buku di tangannya. Lantas, apa yang kuharapkan? Memintanya mengambilkan, tidak! Lebih baik jangan!
Aku kembali menjinjit. Hampir. Dan ....
Seseorang berdiri tepat di belakangku. Tangannya meraih buku tersebut. Tubuhnya menempel ke tubuhku. Sontak kudorong tubuhnya. Berani sekali dia terus mencari-cari kesempatan.
Bukk!
"Eh, maaf!" Betapa terkejutnya diriku. Aku salah sangka.
"Ah, tak apa," katanya seraya bangkit dari lantai.
"A-aku ... tak tahu kalau itu adalah kau. Maaf ...."
"Tenanglah. Santai saja, Imania." Seraya menyunggingkan senyuman.
"Rudi!" Dokter elang itu menghampiri kami.
"Dimas, kau di sini?"
"Aku sedang ingin jalan-jalan. Kebetulan lewat sini."
"Sendiri? Di mana Nessa?"
"Dia sedang, ada klien." Dimas lagi-lagi berbohong.
__ADS_1
"Imania, kita bertemu lagi," kata Rudi.
"Kalian sudah saling kenal?"
"Nessa pernah mengajaknya ke restoku."
Dimas menatapku sesaat. "Oh ...."
"Di, Imania itu cantik, ya. Sayang ... sudah bersuami." Rudi menyodorkan sebuah novel yang sedari tadi ia genggam. "Ini. Tadi kamu menginginkan buku ini, kan?
"Terima kasih," ucapku seraya mengambil novel itu.
"Kamu sendirian, Ima?" tanya Rudi.
"A-aku--"
"Jika boleh, aku ingin mengantarmu pulang," tawar Rudi padaku.
"Dia akan pergi bersamaku. Ayo Nia!" Dimas menarik pergelangan tanganku.
Aku ditariknya menuju kasir. Menunjukkan buku yang kubawa. Lalu bergegas ia membayarnya. Tanpa menghiraukan pandangan Rudi terhadap kami. Aku berontak.
"Enggak enak dilihat orang, Di!"
"Hati-hatilah, Imania!" Seraya melambaikan tangan ke arahku.
***
Dimas membawaku menyeberangi jalan yang tadi. Lenganku masih digandengnya erat sekali. Kami pun kembali ke tempat di mana mas Bastian dan Nessa sedang sibuk memilih mobil. Tapi, tak kutemui mereka di sana.
"Lepas!" Dia pun melepas pergelangan tanganku.
"Tunggu di sini!"
Dia berjalan menuju mobilnya. Lalu naik dan membawa mobil tersebut menghampiriku. "Naiklah!"
"Aku hanya akan pulang bersama Mas Bastian!"
Dia pun turun. Sedangkan aku menghubungi ponsel mas Bastian. Lama sekali, mas Bastian tak menjawab telepon. Hingga setelah beberapa menit, mas Bastian menjawab teleponku. Berharap mas Bastian mau membawaku pergi secepatnya dari tempat ini. Namun, sayang ....
"Aku masih bersama Nessa. Kamu pulang dulu, ya. Bisa naik ojol atau taksi online, kan?" Suara di seberang sana.
"Hm, baiklah," jawabku tak bersemangat.
Kulihat wajah dokter elang itu tersenyum menyeringai. "Sudah kubilang. Ikutlah denganku, kau pasti aman."
__ADS_1
"Heh, permainan macam apa ini! Aku bisa pulang sendiri!"
Tapi dia mencekal tanganku. Dibukanya pintu mobil, kemudian memaksaku untuk naik. Beberapa orang di sekitar dealer memerhatikan kami. Aku tidak ingin lagi dipermalukan olehnya. Terpaksa, aku menurut saja. Apa boleh buat.
Lalu ia masuk ke mobil, dan menghidupkan mesin. Hari ini sungguh sial. Seharusnya aku tahu bahwa ini akal-akalannya saja. Menawarkan suamiku untuk membeli mobil, mengajak Nessa, dan aku dijebaknya lagi.
Tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya padaku. Aku menahan napas. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. "Apa yang kau lakukan!"
Dia mendekatkan wajah padaku. Dekat. Lebih dekat. Mataku was-was melihat wajah tampannya. Embusan napasnya terasa hangat membelai wajahku. Ia menunduk. Tangannya meraih sesuatu di samping tubuhku. "Hanya ... agar kau aman berada di dekatku." Dipasangkannya sabuk pengaman itu. Lalu menarik tubuhnya menjauh, kembali ke tempat duduknya. Dilajukannya mobil dengan segurat senyum di wajahnya.
Oh, apa yang kupikirkan. Aku mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan.
"Aku mau pulang!"
Dia tak menjawab. Malah menghidupkan musik. Kumatikan musik tersebut. Biasanya ia menghidupkannya kembali. Tetapi sekarang tidak. Dia membiarkan tape itu dalam keadaan off. Musik itu adalah kesayanganku, dulu. 'Rivers flow ini you', bagaimana cara melupakannya, segala kenangan indah bersamanya. Padahal jelas-jelas ini salah. Jalan kita berbeda.
"Kenapa? Kau masih mengingat-ingat masa lalu kita?"
"Apa kau gila?"
"Jika tidak, untuk apa berlari?"
"Siapa yang berlari?"
"Kau!" Dia menoleh padaku.
"Untuk apa aku lari dari seorang pecundang sepertimu?"
Dia tertawa mendengar jawabanku. "Pecundang? Ya, kau benar. Aku memang pecundang."
"Tapi kau juga pecundang," lanjutnya. "Menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak kau cintai. Apa namanya kalau bukan pecundang?"
"Aku sangat mencintai suamiku! Kami saling mencintai! Dengar! Takkan kubiarkan kau merusak kehidupanku dan ketenanganku sekarang. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Tidak ada perasaan apa pun lagi. Jadi, aku peringatkan padamu, untuk segera menjauh dari kehidupan kami!"
"Apa barusan kau menyakiti hatiku?" Seraya memegangi dadanya, seolah merengkuh sesuatu dari dalam sana dengan tangan kirinya.
Aku baru menyadari bahwa jalan yang kami lalui bukanlah ke arah rumahku. "Di! Berhenti! Kau mau membawaku ke mana? Hentikan!"
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat yang indah. Kau akan menyukainya. Diam dan tenanglah!"
"Di! Hentikan! Kau akan bawa aku ke mana?"
"Hotel."
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1