BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Cemburu


__ADS_3

Seminggu di Bali. Kami sudah cukup puas merasai honeymoon. Saatnya kami pulang. Dan pagi ini, aku sedang bersiap-siap, sedangkan Dimas izin pergi ke kamar sebelah—kamar mas Surya dan mbak Nonita. Namun, sudah setengah jam ia pergi dan belum kembali. (Baru setengah jam ya awwoh Imania)


"Kenapa Dimas lama sekali," gumamku.


Karena tidak sabar menunggu, akhirnya aku keluar untuk menyusulnya, aku pun menuju kamar mbak Nonita. Saat tengah berjalan menuju pintu kamar tersebut, tiba-tiba aku berpapasan dengan seorang lelaki yang berjalan tergesa-gesa hingga menyenggolku.


"Eh, sorry," ucap lelaki tersebut.


Aku terhuyung ke pintu, sehingga tanpa sengaja tubuhku mendorong pintu kamar mbak Nonita hingga terbuka. Saat aku hampir jatuh, lelaki itu menarik lenganku. Aku pun masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Cepat-cepat aku menjauh dari tubuhnya.


"Ah, Mas Surya ... oh ...."


Kami menoleh bersamaan dengan terkejut ketika mendengar racauan mbak Nonita. Tanpa sengaja aku menyaksikan mbak Nonita dan mas Surya yang sedang melakukan hubungan intim.


"Hei, kalian! Kurang ajar sekali masuk kamar orang tanpa izin!" omel mbak Nonita yang sedang naik kuda-kudaan.


Buru-buru kututupi wajah menggunakan telapak tangan. Aku pun segera keluar dari kamar mbak Nonita. Dan menutup pintu.


"Maaf, Mbak. Aku tidak sengaja!" seruku dari balik pintu.


Saat aku berbalik, lelaki itu tengah menatapku. Untuk sejenak aku mengamatinya. Loh, bukankah dia orang yang memukul Dimas di pantai waktu itu?


"Kau," ucapku.


"Apa kita pernah bertemu?" tanyanya.


"Kau, kan, pacarnya Ratna, ya?"


"Kau temannya Ratna?" Lelaki itu balik bertanya sembari mengangkat kedua alisnya.


"Bukan. Aku istri dari orang yang kau pukul di pantai waktu itu," jelasku.


Kedua mata lelaki itu membulat, lalu menciut. "Oh ...." Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sesaat dia memandangiku. "Yendra Gunawan," ucapnya seraya mengulurkan tangan.


"Imania Saraswati." Aku menjabat tangannya dan buru-buru melepaskannya.


"Maaf karena hampir membuatmu terjatuh."


"Ah, tidak apa-apa."


"Aku buru-buru sekali. Kami mau ke airport untuk pulang."


"Aku juga mau pulang."


"Apa kalian sedang honeymoon di sini?"


"Iya," jawabku malu.


"Tidak usah malu. Justru itu bagus. Aku malah belum menikahi Ratna, tapi sudah honeymoon, ha-ha."


Kini giliranku yang membulatkan kedua mata.


"Ha-ha, kau terkejut, ya? Tapi kami akan segera menikah."


"Oh, syukurlah." Ikut lega mendengarnya.


"Eh, tadi itu siapa?" Yendra menunjuk ke arah pintu kamar mbak Nonita.


"Oh, mereka kakak iparku."


"Ceroboh sekali! Kenapa tidak dikunci?"


"Tidak tahu. Eh, bukankah kau buru-buru?" Aku mengingatkannya agar tidak ketinggalan pesawat.


"Oh, iya, thanks sudah mengingatkan, ya. Bye ... Imania."

__ADS_1


"Bye, Yendra."


Yendra pun segera berlari dengan tergesa-gesa. Lelaki itu baik dan ramah. Selain itu dia juga lumayan tampan dan keren. Kenapa Ratna sampai menggoda laki-laki lain?


Eh, by the way, waktu itu suara racauan mbak Nonita terdengar sampai ke kamarku, tetapi kenapa beberapa malam ini tidak kedengaran? Itu berarti kamar yang ditempati mbak Nonita memang kedap suara. Lalu kenapa waktu itu tidak? Ini aneh.


Ah, daripada memikirkan hal itu, lebih baik aku mencari Dimas. Aku menuju lobby untuk mencari suamiku. Benar saja, dia ada di sana dan ... sedang berbicara dengan seorang wanita. Mataku terkejut melihat wanita itu adalah Ratna.


"Boleh minta nomor HP-nya?" tanya Ratna kepada Dimas.


"Em ... sepertinya tidak."


"Kenapa? Aku hanya ingin berteman denganmu."


"Aku memiliki wanita yang sangat kucintai. Aku menjaga perasaan wanitaku. Dan aku tidak ingin dia cemburu gara-gara wanita lain."


Betapa bahagianya mendengar penolakan Dimas kepada wanita itu. Ada perasaan manis sekali di dadaku. Dimas benar-benar suami terbaik. Aku benar-benar tidak perlu meragukan cintanya.


"Tapi ... aku hanya ingin berteman. Apa tidak boleh? Hanya untuk menambah tali silaturahmi," rengek wanita itu dengan genitnya. "Please ...." Wanita itu memohon.


Dalam hati aku berharap agar Dimas tetap menolaknya memberikan nomor HP-nya. Jangan, Dimas, jangan!


"Hm ... baiklah. Kemarikan handphone-mu."


Betapa terkejutnya mendengar itu. Bagaimana bisa Dimas memberikan nomornya? Hanya dengan merengek seperti itu dia langsung luluh? Menyebalkan!


Sembari Dimas mengetikkan nomornya di handphone Ratna, aku langsung menghampiri. "Eghem!"


Dimas menoleh. "Eh, Sayang." Dengan santainya Dimas hanya tersenyum padaku.


Dimas menyerahkan kembali handphone milik Ratna. Sedangkan Ratna tersenyum sinis padaku sembari memainkan alisnya untuk meledekku.


Bersamaan dengan itu, Yendra memanggilnya, "Nana! Kau sedang apa? Kenapa lama sekali?" Yendra langsung mengalihkan pandangan ke arah Dimas. "Kau lagi!" Yendra pun berjalan menghampiri kami.


"Ah, i-iya Sayang. Sudah, ayo kita pergi." Ratna yang tampak gugup langsung menarik lengan Yendra. Mereka pun keluar dari resort.


"Sayang ...." Dimas menyentuh pipiku.


Dengan mimik cemberut kusingkirkan tangannya.


"Kau marah?"


"Menurutmu?"


Dimas tertawa melihat ekspresi wajahku. Menyebalkan. Mengapa dia malah tertawa begitu? Dan juga, mengapa dia tidak meminta maaf padaku karena sudah membuatku cemburu?


"Ayo kita pulang," ajaknya.


Aku tidak menjawab, hanya menunjukkan ekspresi wajah kesal. Dan Dimas hanya tersenyum geli memperhatikanku. Sungguh tidak lucu! Mengapa dia begitu bahagia membuatku cemburu? Awas saja kalau sampai Dimas berani macam-macam di belakangku!


Aku dan Dimas pun pulang. Sedangkan mbak Nonita dan mas Surya masih berada di resort. Entah betapa romantisnya mereka. Bahkan, mereka sampai lupa untuk mengunci pintu kamar saking semangatnya bercinta. Padahal ini pagi hari. Sungguh, mereka bak pengantin baru saja.


***


Setelah turun dari pesawat, kami naik mobil untuk menuju ke rumah Dimas. Kemudian kami sampai di sebuah rumah megah sekali. Aku hampir tak mengenali rumah ini. Bukankah ini rumah Dimas yang waktu itu aku pernah singgahi bersama Arka? Ya, benar. Ini tempat yang sama. Hanya ... terlihat lebih mewah dan luas. Dimas pasti sudah merenovasinya.


Kami pun turun dari mobil. Di sepanjang perjalanan, aku hanya diam, meskipun berkali-kali Dimas menggoda dan mengajak ngobrol. Aku masih marah karena dia memberikan nomornya kepada Ratna.


"Sayang ... ini rumah kita."


Dengan wajah cemberut, aku pun masuk setelah seorang laki-laki berbadan kerempeng membukakan gerbang.


"Wah, welcome bek ondehome, Mas Dimas and Mbak pery and pery biyutipul." (Jadi, lelaki tua tersebut sok-sokan pakai bahasa Inggris gitu, pelafalan kalimatnya juga kacau, ha-ha)


"Terima kasih, Pak Parmin," balas Dimas sembari nyengir karena tingkah orang tersebut.

__ADS_1


Aku memandang lelaki tua nan kerempeng itu.


"Akhirnya, Mas Dimas menikah juga. Lah, sayanya kapan?" katanya dengan mimik sedih.


"Memangnya Bapak belum menikah?" tanyaku heran. Padahal dia sudah tua, loh. Usianya pasti sekitar 45-an. Postur tubuhnya tinggi dan kurus.


"Belum Mbak Cantik. Mana ada yang mau sama saya?"


"Mungkin belum ketemu jodohnya saja, Pak," ucapku lalu beranjak kembali.


"Pak Parmin, tolong bawa kopernya masuk."


"Siap, Mas Dimas! Empat lima!" katanya seraya bersikap hormat ala seorang pramuka.


Dimas menahan lenganku. "Tunggu! Apa kau akan terus diam padaku?"


Dimas menggenggam jemariku, membawaku menuju pintu rumah. Dua orang wanita menyambut kami di depan pintu.


"Selamat datang, Mas, Mba," sambut mereka serentak.


"Terima kasih ...," ucapku.


Mereka pun mengenalkan diri padaku. Wanita yang berusia 40 tahun, namanya Surti. Dia asisten rumah tangga di sini. Sedangkan yang satunya bernama Murti, usianya 35 tahun. Dia juga asisten rumah tangga di sini. Nama mereka sangat mirip.


"Bagaimana honeymoon kalian? Apa itu menyenangkan?" tanya bi Surti.


"Sangat menyenangkan," jawab Dimas.


"Apa kalian ingin makan sesuatu? Biar kami siapkan," tawar bi Murti.


"Kami ingin istirahat dulu," jawab Dimas.


Aku dan Dimas pun masuk. Rumah ini sangat banyak perubahan. Selain lebih luas, rumah ini juga lebih tampak megah. Kami naik ke lantai atas. Sesampainya di kamar atas. Aku langsung berbaring di kasur. Pak Parmin yang mengekor di belakang kami pun masuk dan meletakkan koper kami. Setelah itu, dia langsung keluar.


"Pak Parmin!" panggil Dimas.


"Ya, Mas."


"Kudoakan ... Pak Parmin segera mendapatkan gebetan baru," ucap Dimas seraya tertawa.


"Wah, pasti kode, nih. Akan ada pacar online baru lagi. Asyik!" ujar Parmin senang.


"Cek handphone-mu, Parmin. Siapa tahu sudah masuk."


Parmin pun mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia tampak mengecek sesuatu. "Wah, iya, Mas. Ini ada nomor baru lagi. Yang ini juga cantik. Mana foto profilnya seksi banget lagi! Cuma pakai daleman." Lelaki kerempeng berkulit gelap itu tampak kegirangan, lalu menunjukkan gambar wanita di handphone-nya ke depan wajah Dimas.


"Ha-ha, itu bukan daleman, Parmin. Itu namanya bikini," ucap Dimas sembari tertawa.


"Loh, kayak itu, ya, yang di rumahnya Spongebob?" (Mungkin yang dimaksud Parmin adalah bikini bottom)


"Ha-ha, iya, betul."


"Wah, saya akan membalas chat-nya dulu, ya, Mas Dimas. Tengkyu pery mat. Permisi ...."


Parmin pun keluar dengan langkah semangat. Lelaki kerempeng itu sangat menggelikan. Bagaimana Dimas bisa mendapatkan orang seperti itu? Ha-ha, lumayan untuk menenangkan mood-ku. Eh, tadi itu, siapa wanita yang mereka bahas, ya?


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Hola, Readers Keceh Tersayang ...!


Author Keceh mengucapkan, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H. MINAL AIDZIN WAL FAIZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


- Kak Thamie -

__ADS_1


__ADS_2