BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Perjanjian Rahasia Itu Terungkap


__ADS_3

Seorang wanita yang kuperkirakan usianya tak lagi muda, tapi masih tetap cantik. Wanita tersebut menghampiri Nessa. Wanita yang mengenakan dress merah maroon itu tersenyum, lalu memeluk Nessa. Semua tamu yang hadir, masih terpaku melihat kedatangannya.


Nessa tampak berkaca-kaca. Ia membalas pelukan wanita tersebut dengan erat. Seolah menunjukkan perasaannya yang sangat bahagia bercampur haru.


"Dia Ibu kandung Nessa," bisik mas Bastian lirih di telingaku. Seakan memahami rasa penasaran pada diriku yang terus memandangi mereka.


"Happy birthday, Sayang!"


"Thanks, Ma."


Wanita itu mengambil sesuatu di dalam tas merahnya yang tampak glamour. Sebuah kotak perhiasan ia keluarkan.


"Ini untukmu," ucap wanita tersebut seraya tersenyum. Wanita tersebut mengeluarkan kalung berlian yang sangat indah dari dalam kotak tersebut.


"Seharusnya, kau tak perlu melakukan ini, Ma. Cukuplah kau datang, aku sudah sangat bahagia," ucap Nessa berkaca-kaca.


Wanita itu memakaikan kalung tersebut ke leher Nessa. Sedangkan di sebelah Dimas, kulihat ayah Nessa tampak datar, tanpa ekspresi. Entah apa yang terjadi di antara mereka.


"I love you, Mom."


"I love you too, My Princess."


Mereka berpelukan. Sesekali wanita berperawakan gemuk tersebut, mencium kening dan pipi Nessa. Seakan sedang melepas rindu. Sungguh, pemandangan yang mengharukan. Diiringi riuh tepuk tangan para tamu.


***


Setelah pesta selesai. Tamu satu per satu mulai meninggalkan rumah Nessa. Dimas tampak begitu dingin padaku. Dia seperti tak menghiraukan keberadaanku. Mungkin dia benar-benar sudah mulai melupakan diriku. Baguslah.


Kami pun pamit untuk pulang. Dan saat aku hendak menaiki mobil. Aku menoleh ke arah Nessa dan Dimas, yang masih berdiri menunggu kami beranjak dari tempat ini. Tiba-tiba tatapan kami bertemu, Dimas segera masuk ke dalam rumah, setelah itu. Sedangkan Nessa yang masih berdiri di tempat, melambaikan tangan padaku.


"Hati-hati, ya!" serunya.


Aku membalas dengan anggukan disertai senyuman.


Mas Bastian segera melajukan mobil. Di perjalanan aku mencoba untuk meredakan rasa penasaran terhadap wanita yang kata mas Bastian adalah ibunya Nessa.


"Mas, boleh kutanya sesuatu?"


"Hm ...."


"Nessa ... ada apa antara Nessa, ibu, dan ayahnya?"


Mas Bastian menatapku sesaat. Kemudian kembali menatap ke depan. "Ada apa memangnya?"


"Aku yang tanya, ada apa?"


Mas Bastian tertawa. "Untuk apa penasaran dengan kehidupan orang lain?"


"Apa pertanyaanku tidak wajar?"


Mas Bastian tersenyum menatapku. "Setahuku, ibunya sudah sejak lama tidak tinggal bersama Nessa."


"Apa maksudnya, tidak tinggal bersama?"


"Tak tahu banyak, sih."


"Ayah dan ibunya bercerai kah?"


"Tidak juga."


"Lalu kenapa mereka tak tinggal serumah saja?"


"Aku tidak tahu."


Aku menghela napas panjang. Kupikir mas Bastian tahu tentang Nessa. Ternyata tidak.


"Apa kau sangat penasaran?"


"Tidak juga."


Kami pun sampai di rumah mertuaku. Menjemput Arka untuk pulang.


***


Keesokan harinya, seperti biasa aku menyajikan sarapan untuk mas Bastian dan Arka. Kemudian mas Bastian berangkat bekerja usai sarapan.

__ADS_1


Ting!


Sebuah pesan masuk dari sahabatku, Dewi. Dia mengajakku bertemu di taman. Aku pun menyetujuinya. Kebetulan pekerjaan rumah sudah selesai. Jadi, aku memutuskan untuk pergi bersama Arka untuk bertemu Dewi.


Sesampainya di taman, dari kejauhan terlihat Dewi sudah duduk di bangku taman, dekat ayunan. Kami pun menghampirinya.


"Sudah lama menunggu?"


"Baru sekitar lima belas menit-an," jawab Dewi.


"Aku membuat kue untukmu, Sayang." Dewi menyodorkan sebuah kotak berisi kue tart pada Arka.


"Ini bukan ulang tahun Arka. Seharusnya tidak usah repot-repot."


"Tidak harus menunggu ulang tahun kan? Aku hanya ingin membuatkan kue untuk putramu yang tampan ini," kata Dewi gemas. Maklum, Dewi belum dikaruniai keturunan sampai sekarang.


"Ayo, bilang apa sama Tante Dewi?" ucapku seraya menerima kotak berisi kue tart tersebut.


"Terima kasih, Tante?" ucap Arka.


Kami pun berbincang-bincang sekadar mengenang masa kecil, hingga mendengarkan curhatan Dewi tentang keinginannya untuk segera hamil. Aku mengerti perasaan Dewi yang sangat menginginkan kehadiran sang buah hati. Karena di antara teman-teman kami, hanya dia yang belum dikaruniai keturunan.


"Jangan patah asa. Aku yakin, ini hanya soal waktu saja. Jika saatnya tiba, nanti kamu pasti hamil. Tetaplah berdoa memohon pada Tuhan. Selalu semangat!" hiburku.


Dewi tersenyum dan memelukku. "Makasih, Say." Kemudian melepas pelukannya. Dewi meraih telapak tanganku, dan menatapku serius. "Ima, aku ingin bicara sesuatu!"


"Katakan saja, Wi."


"Kamu ingat waktu aku ingin mengatakan sesuatu padamu?"


Aku mencoba mengingat sesaat, lalu menggeleng.


"Saat sebelum Arka jatuh di sini?"


Sesaat aku menengok Arka, yang sedang duduk di sebelahku seraya asyik memakan kue tart buatan Dewi. Aku kembali menatap Dewi. "Ya, aku ingat!"


"Ingat apa?"


"Ingat saat Arka jatuh sore itu di sini," jawabku.


"Sebelum Arka jatuh, aku pernah mengatakan sesuatu padamu, kan?"


"Ya, aku ingat!"


Dewi menajamkan pandanganya dan berkata, "Saat itu aku mengatakan padamu, tentang kejadian salah paham antara kamu dan mas Rangga, kan?"


"Iya," jawabku.


"Lalu?" Dewi mengangkat kedua alisnya.


"Lalu kau bilang tentang sebuah perjanjian rahasia tentang mas Bastian dan mas Rangga."


Dewi mengubah wajahnya menjadi murung. Dia menunduk. Kemudian mengangkat wajahnya kembali. "Aku ingin mengatakan ini sejak lama, tapi ...."


"Wi, ada apa denganmu? Katakanlah!"


"Ini bukan tentangku, tapi tentang kamu dan suamimu!"


Aku menatapnya tidak mengerti.


"Apakah kamu mau berjanji padaku?"


Aku mengangguk.


"Berjanjilah untuk tetap kuat, setelah kamu mengetahui tentang ini!"


Aku hanya menajamkan pandangan, menatapnya serius. "Oke!"


"Berjanjilah untuk tetap tabah!" Dewi mengeratkan genggamannya.


Aku mengangguk, seraya berkata, "Ya, aku janji!"


Dewi menghela napas dalam, lalu berkata, "Awalnya aku berpikir untuk terus menutupinya darimu. Namun, aku tak bisa membiarkan sahabatku sendiri terus dilukai. Jadi, aku memutuskan untuk mengatakan ini padamu." Ia berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan perkataannya. "Ima, saat itu ...."


Dewi bercerita tentang kejadian waktu itu. Saat Dewi melabrakku karena salah paham. Sepulang Dewi dari rumahku, Dewi mendapati mas Bastian dan Rangga sedang duduk berdua. Seolah tidak ada apa-apa. Kepanikan Dewi langsung berubah menjadi rasa penasaran.

__ADS_1


Keesokan harinya, Dewi secara diam-diam memeriksa handphone suaminya--Rangga--. Kemudian menemukan sebuah chat berisi obrolan antara mas Bastian dan mas Rangga.


[Jika kau mengganggu istriku lagi, aku tak segan-segan menghabisimu!] ancam Bastian.


[Silakan saja. Memangnya kau peduli dengan Imania?] balas Rangga.


[Dia istriku! Tentu saja aku mempedulikannya!]


[Bukankah sudah ada yang baru? Bagaimana dengan gadis di kafe yang kau peluk itu?]


[Itu bukan urusanmu!]


[Kau sama saja denganku. Sama-sama playboy! Bedanya, kau munafik, aku tidak!]


[Dia bukan siapa-siapa! Dia hanya teman biasa!]


[Teman biasa, kok sering keluar malam bersama?]


[Apa kau penguntit!]


[Bahkan aku punya fotomu saat sedang berdua bermesraan dengannya.]


[Sial! Aku akan segera menghabisimu!]


[Bahkan sebelum kau menghabisiku, istrimu akan lebih dulu menghabisimu!]


[Katakan saja, apa maumu!]


[Aku ingin Imania, istrimu.]


[Kau gila! Jangan sentuh istriku!]


[Dia sangat manis, menarik. Aku ingin mencicipinya.]


[Cih! Dia milikku. Jangan berani mengganggunya!]


[Wow, kau punya dua wanita kalau begitu? Atau ada kah yang lain, selain mereka?]


[Aku tak seburuk dirimu! Katakan, apa yang bisa membuatmu bungkam!]


[Ini sogokan?]


[Katakan saja, atau kau kuhabisi sekarang agar diam!]


[Wow, kau bisa kejam juga, ya?]


[Katakan apa yang harus kulakukan untukmu!]


[Cukup menarik. Baik, bantu aku mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, aku akan menutup mulutku rapat-rapat tentang itu!]


[Ok, deal!]


[Deal!]


Aku membaca screenshot chat yang ada di handphone Dewi. Mataku perih menahan air yang terus memaksa untuk keluar. Hatiku terasa sakit sekali. Seperti ada yang mencabik-cabik. Perlahan dadaku terasa sesak, dan semakin sakit. Hampir saja aku menjatuhkan handphone Dewi, jika saja Dewi tidak langsung mengambilnya. Tubuhku terasa lemas, seakan rusuk-rusukku ikut runtuh bersama kepercayaanku.


Mataku tak tahan untuk tidak menangis. Aku meraih tubuh Arka yang masih duduk menyantap kuenya. Kupeluk Arka erat. Arka hanya diam menatapku bingung.


"Mama jangan menangis?" ucap Arka polos dengan mulut yang belepotan krim.


"Mama jangan menangis?" Tiba-tiba Arka ikut terisak. Segera kuhapus bulir bening yang masih terus menetes membasahi wajahku.


"Tak apa-apa, Sayang. Mama tidak menangis."


Segera kutenangkan diri. Beberapa kali kuhela napas dalam-dalam. Berharap agar air yang memaksa untuk tumpah ini dapat tertahankan. Jangan sampai Arka melihat kesedihanku. Jangan menangis di depannya. Aku bisa saja menahan air mata. Namun, sangat sulit menahan sakitnya. Hati ini bak diremas-remas. Sakit sekali.


Tak habis pikir. Lelaki yang lembut, penuh perhatian, lelaki yang tak banyak bicara, lelaki yang tampak kalem, bisa melakukan hal ini padaku. Tak disangka, lelaki yang baik, sabar, dan penuh kasih sayang, bisa mengkhianatiku. Awalnya, aku berusaha untuk tidak mempercayai screenshot itu. Akan tetapi, mengingat kejadian saat handphone mas Bastian tak sengaja tertinggal, hatiku mulai ragu, apa ada hubungannya dengan ini?


Ya, Tuhan. Lelaki yang sangat kupercaya. Mengapa tega mengkhianatiku? Apa kurangnya diri ini, sehingga suamiku harus bermain dengan wanita lain. Apa aku yang terlalu bodoh. Terlalu polos, sehingga tak pernah sedikitpun menaruh curiga padanya.


Dewi terus mengusap-usap pundakku. Memelukku dan terus menenangkanku.


"Aku sering merasakannya, sehingga aku dapat mengerti perasaanmu. Maaf ... apa aku harus menyesal karena telah membuatmu bersedih?"


"Tidak! Justru aku sangat berterima kasih padamu. Mas Bastian lah yang harus menyesal karena telah menyakiti perasaanku!"

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --



__ADS_2