BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Jejak Asmara


__ADS_3

Dimas pun mengantarku pulang. Aku segera turun dari mobilnya.


"Tunggu!"


Aku berhenti, menolehnya.


"Tidak bilang terima kasih padaku?" katanya dari dalam mobil.


Aku mengabaikannya, mempercepat langkah memasuki rumah. Kuambil kunci dari dalam tas untuk membuka pintu. Dengan cepat aku masuk ke kamar untuk mandi.


Di dalam kamar mandi, segera kubersihkan tubuh. Kubasuh wajah, menghapus setiap ciuman yang pernah ia tinggalkan. Aku menatap cermin. Kubasuh lagi, berulang-ulang wajah, lalu tubuh. Berharap ingatanku kembali normal. Menetralisir bayangan wajah dan sentuhan si dokter elang itu.


Entah apa kabar mas Bastian dan Nessa. Sampai sekarang, suamiku belum pulang. Ah, mungkin sebentar lagi. Hujan masih rintik-rintik membasahi bumi. Membawa ingatanku kembali pada kejadian tadi. Aku sedikit memikirkan perihal si dokter elang itu. Mengapa dia segila itu? Mungkinkah ia sedang berusaha mempermainkan aku? Atau sebesar itukah cintanya terhadapku. Lagi pula, Nessa sangat cantik, masih gadis pula. Apa dia tidak tertarik padanya? Atau ... jangan-jangan mereka berdua sudah pernah melakukan hubungan yang lebih intim? Sehingga dokter elang itu pun bosan? Lalu dia mencoba menggangguku, untuk mencicipi wanita yang lain. Oh, Imania! Mengapa aku jadi memikirkannya? Itu sama sekali bukan urusanku! Akan tetapi, jangan sampai aku terjatuh ke perangkap si dokter elang itu. Tidak boleh!


Kuguyur tubuh dengan air shower yang hangat. Akan kuhapus segala kejadian tadi, agar jiwa ini kembali tenang. Usai membersihkan diri, kubalutkan handuk ke tubuh. Melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi.


Aku terbelalak melihat seseorang yang sudah berada di dalam kamar. Menyelubungi tubuhnya dengan selimut di atas kasur.


"Mas?" panggilku lembut.


Tak ada sahutan darinya. Aku melangkah mendekat ke samping ranjang.


"Mas, kapan kau pulang?" tanyaku lagi.


Tak ada sahutan.


"Mas, kau baik-baik saja kah?"


Tak ada sahutan lagi. Dadaku berdebar. Ada sesuatu yang kukhawatirkan di benak. Perlahan tanganku meraih selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Kusingkap hati-hati. Dan ....


Seseorang menarik tubuhku yang hanya berbalut handuk ke ranjang. Kekhawatiranku benar.


"Kau!" seruku kaget.


"Kenapa? Kau kira siapa?" Dia memainkan kedua alisnya.


Aku berontak, dan dia menahan tubuhku. Kini, posisinya berada di atas tubuhku.


"Untuk pertama kali aku melihatmu berpenampilan seksi, Nia."


"Tolong?"


Dia membungkam mulutku dengan tangannya.


"Emph!"


"Jika kau teriak, tetangga akan datang!"


Benar. Jika aku teriak maka tetangga akan mendatangi rumahku. Maka akan terjadi penggerebekan tentang perselingkuhan. Oh, tidak! Aku sudah kapok dengan peristiwa tempo dulu. Tak mau disebut pelakor lagi.


"Tenanglah." Dia melepaskan tangannya dari mulutku.


"Di! Jangan melewati batas! Kau gila!"

__ADS_1


"Aku memang tertarik untuk bisa melewati batas. Bukankah sudah kubilang?"


"Mesum!" ucapku kesal.


"Kau cantik sekali. Lebih mempesona saat basah-basah begini. Wangi." Seraya mengendus tubuhku.


"Kau sangat keterlaluan!"


"Di sinikah Bastian melecehkanmu?"


"Dia suamiku. Kami bebas melakukan apa pun!"


"Barusan, perkataanmu menyakitiku."


"Lepaskan aku!" ucapku seraya berontak. Tubuhku dihimpitnya.


"Ternyata, kalau sedang seperti ini. Kau sangat seksi. Bastian tentu sangat beruntung," ucapnya seraya mengelus lembut pipiku.


"Di, jangan melakukan tindakan bodoh. Ini dosa! Jangan membuatku membencimu!"


Dia mendekatkan wajahnya. "Jangan. Jangan membenciku, Nia."


"Sebentar lagi mas Bastian pulang. Kau ingin segera menghancurkan hidupku kah?"


"Tentu saja, tidak! Justru aku ingin membahagiakanmu," ucapnya seraya mengecup keningku.


Aku membuang muka. "Kau kurang ajar! Lepaskan aku!"


"Aku akan melepasmu. Asal kau janji satu hal."


"Kau membuatku semakin bernafsu. Tapi ... aku tak akan memaksamu melakukan hal itu. Sebelum kamu juga menyetujuinya. Kecuali jika kau mengkhianatiku."


"Berkhianat? Kau gila, ya! Kita tak ada hubungan apa pun! Untuk apa ada kata 'berkhianat' di antara kita?"


"Tentu saja ada. Mulai sekarang, kau adalah wanitaku!"


"Kau menginginkan perselingkuhan? Jangan harap! Cepat lepaskan!"


Aku terus berusaha melepaskan diri darinya.. Namun, ia mencekal pergelangan tanganku. Bibir itu kembali menempel. Apa aku seperti budak untuknya? Aku tak dapat menerima ini. Tapi aku tak mampu melawan perlakuannya.


Dilepaskannya kecupan lembut itu dari bibirku. "Aku sudah bilang. Berjanjilah padaku, maka aku akan melepaskanmu!" Seraya menatapku tajam.


Tak ada pilihan lain. Lebih baik kuiyakan. Lagi pula, aku dapat melanggarnya nanti. "Baiklah, katakan, apa yang perlu kujanjikan!"


"Berjanjilah! Jangan melakukan hubungan intim dengan Bastian!"


Aku terkekeh. "Kau pikir, kau siapa? Dasar Dokter aneh!"


"Jangan memaksaku melakukan hal lebih padamu!" katanya dengan tatapan semakin tajam.


Aku menghela napas dalam. "Ya."


"Ya, apa?"

__ADS_1


"Iya."


Dia pun melepaskanku. Kurasa dokter ini tidak cukup pintar. Hanya dengan kata 'iya', dokter elang ini percaya. Syukurlah. Dia pun duduk di ranjang. Aku segera bangkit, tapi tiba-tiba dia meraih leherku. Sesuatu yang lembut perlahan menyentuh leher. Membuat jejak-jejak sejarah di sana. Menyesap hingga meninggalkan tanda.


"Hei! Mesum! Lepas!" Kudorong tubuhnya menjauh. "Pergi!" Kali ini aku sudah benar-benar marah. Tiada toleransi lagi.


Dia berdiri dan melangkah pergi. Aku yang masih terduduk di ranjang, menatapnya penuh emosi. Dia berhenti tepat di depan pintu. Membalikkan badan, seraya tersenyum lebar. "Kurasa, sekarang aku akan percaya. Tidak tahu besok. Jagalah jejak asmaraku itu, ya? Jangan sampai Bastian tahu!" ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya, kemudian berlalu.


Ya, Tuhan. Untung saja mas Bastian belum pulang. Eh, apa yang dia maksud tentang 'jejak asmara' tadi. Aku tak mengerti. Biarlah! Apa gunanya mempedulikan perkataannya.


Suara mobil itu terdengar berlalu meninggalkan halaman rumah. Aku beranjak dari ranjang. Melepas handuk yang masih melilit tubuh, lalu segera memakai pakaian. Usai memakai gamis warna krem, aku duduk di depan meja rias seraya menyisir rambut yang masih basah.


Mataku terbelalak melihat noda merah di leher. Apa ... apa ini yang dia maksud dengan 'jejak asmara' itu? Oh ... tiba-tiba kepalaku pusing. Kuusap noda merah itu, berusaha menghilangkannya. Aku mengambil minyak zaitun, untuk dioleskan ke leher. Perlahan kugosok-gosok untuk menghapusnya. Tidak hilang.


Otakku berpikir keras untuk menghilangkannya. Segera kuraih lotion. Kububuhi leher ini lebih banyak lagi. Tetapi tetap tak hilang. Ya, Tuhan ... dokter elang itu benar-benar licik! Bagaimana jika mas Bastian tahu? Dia membuatku pusing. Kepalaku terasa semakin pening.


"Sayang?"


Suara mas Bastian memanggilku. Dia sudah pulang. Segera tanganku meraih jilbab warna putih yang tergantung di lemari. Aku bergegas menemui mas Bastian.


Suamiku sudah duduk di sofa.


"Kau tidak kehujanan?" tanyaku melihat pakaiannya tidak basah.


Dia menggeleng. "Apa kau kehujanan?"


"Ah, a-aku ... aku ... tidak--"


"Duduklah, aku ingin bicara." Dia menepuk sofa, memintaku duduk di sebelahnya.


Aku pun melangkah perlahan, lalu mendudukkan tubuh.


"Sayang ... aku ingin bertanya padamu. Jawab jujur!" Mas Bastian menatapku serius.


Ada apa ini? "I-iya, ada apa?"


"Tadi Dimas ke sini?" tanyanya.


Glek! Aku menelan saliva. Bagaimana bisa mas Bastian tahu? Oh ... Tuhan. Jangan-jangan dia tahu tentang apa yang terjadi tadi. Kepalaku semakin pusing. Keringat dingin mengucur deras di tubuhku.


"Sayang ... jawab jujur apa Dimas--"


"Mas!" Aku memotong perkataannya. "Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. A-aku ...."


"Sayang!" Dia menatap semakin tajam.


"Mas?" Aku menunduk penuh kekhawatiran. Apa mas Bastian mengetahui tentang kami. Kurasa tubuh ini semakin lemas. Aku mau pingsan.


"Dimas dari sini kan?"


Aku tak mampu lagi menjawab. Bulir-bulir bening di mata ini serasa mau tumpah. Wajahku memanas.


"Aku tak pernah mendidikmu menjadi wanita yang tak beretika! Dimas itu sahabatku!"

__ADS_1


Telingaku mulai ikut memanas. Tak kuasa lagi mendengar kalimat-kalimat yang akan keluar dari mulut suamiku. Aku sangat takut. Suamiku terdengar marah.


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2