
Masih tercerna di dalam otak, perbincangan bersama Nessa. Wanita itu sangat mencintainya. Dan pria itu, ternyata masih berharap lebih padaku. Bukankah itu berarti, selama ini Dimas masih menungguku? Bukan itu yang membuatku terkesan, tetapi ... kesetiaannya. Bahkan sempat terpikir olehku, tentang dia yang sudah mengkhianatiku. Kalau begitu ... berarti aku yang sudah salah menilainya.
"Sayang, sudah?" Mas Bastian tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"I-iya, sudah."
Segera kututup kembali koper yang telah berisi penuh pakaian. Ya, hari ini kami akan pulang. Kami keluar dari villa. Di depan, sudah terlihat ada Nessa dan Dimas.
"Aku bisa saja meminta ayah, agar mengizinkanmu cuti beberapa hari lagi," tawar Dimas pada mas Bastian.
"Tidak perlu. Aku juga tidak terlalu suka berada lama di sini. Aku rindu ... anakku," balas mas Bastian.
Kami pun berangkat menuju kota tempat kami tinggal. Jam satu siang kami berkendara dari puncak. Mas Bastian meminta Dimas untuk membawa mobil. Sedangkan dia duduk di jok depan, di samping Dimas. Aku dan Nessa duduk berdampingan di belakang.
Kami berniat untuk membeli oleh-oleh di sebuah toko yang menjual oleh-oleh khas Bogor. Kami pun berhenti, untuk membeli bermacam-macam jajanan--produk olahan Bogor--.
***
Setelah ditempuh selama kurang lebih lima jam, kami sampai di rumah. Kami pun turun dari mobil.
"Kau tidak ingin mampir dulu?" tawar mas Bastian sopan.
"Tidak usah, terima kasih." Nessa yang menanggapi.
Dimas pun masuk ke mobilnya, yang masih terparkir di halaman rumahku. Kemudian menyalakan mesin.
"Hati-hati di jalan, Ness," ucapku pada Nessa yang tengah beranjak menuju mobil Dimas.
"Lain kali, kita akan pergi bersama lagi. Itu menyenangkan." Dimas berkata dari dalam mobilnya.
"Justru aku sedang berpikir, untuk tidak mengizinkanmu ikut lain kali," balas mas Bastian.
Dimas tertawa lebar. Lalu melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumahku. Aku dan mas Bastian pun masuk ke dalam rumah.
Langit mulai menggelap. Niatnya, kami akan menjemput Arka, usai mandi. Dan membagikan oleh-oleh yang kami bawa dari kota Bogor.
Kami pun mandi dan bersiap-siap untuk menjemput Arka. Setelah itu kami langsung berangkat menuju rumah mertuaku. Sesampainya di sana, Arka langsung memelukku erat. Seakan ingin menyatakan kerinduannya selama tiga hari tak bersamaku. Aku pun sama, sangat merindukannya. Tak lama kami pun berpamit untuk pulang. Sebab, tubuh kami masih sangat lelah, akibat perjalanan jauh.
__ADS_1
***
Pagi, seperti biasa, usai sarapan, mas Bastian berangkat untuk bekerja. Ia menenteng satu kardus berisi penuh oleh-oleh. Katanya, ia akan membagikan kepada teman-teman di kantornya.
Aku pun kembali mengerjakan pekerjaan rumah. Arka sudah bisa bermain sendiri, jadi aku sudah tidak terlalu kerepotan membagi waktu. Saat aku sedang membersihkan rumah, Arka secara mandiri bermain mobil-mobilan yang dibeli mas Bastian dari Bogor.
Tok! Tok! Tok!
Itu pasti Dewi. Dia mengatakan ingin berkunjung ke rumahku tadi via WhatsApp. Aku pun membuka pintu.
"Assalamualaikum?" ucapnya sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam?" balasku.
Aku pun mempersilakannya masuk. Aku memintanya untuk duduk di ruang keluarga saja sambil menonton televisi. Kemudian aku melangkah ke dapur, menyeduh dua cangkir teh. Lalu membawanya ke ruang keluarga.
"Ini oleh-oleh khas kota Bogor," ucapku seraya meletakkan dua gelas cangkir teh dan menyuguhkan oleh-oleh dari Bogor, yaitu Roti Unyil Venus, dan Bolu Lapis Sangkuriang.
"Wah, kelihatannya enak, nih," gumam Dewi yang langsung tertuju pada dua piring di atas meja, yang berisikan kue.
"Cobain donk!" ucapku seraya tersenyum.
Arka menggeleng. Jika sedang asyik begitu, Arka memang tidak akan mau dibujuk. Wajar, anak-anak memang suka begitu. Akhirnya kami pun berbincang-bincang. Dewi menanyakan tentang honeymoon-ku di puncak. Aku pun menceritakan tanpa membahas kegagalan kami. Aku hanya mengatakan, bahwa kami cukup puas dan senang.
Kemudian Dewi menanyakan perihal hubunganku dengan mas Bastian. Aku menjawab bahwa kami baik-baik saja. Lagi pula, aku masih sangat mempercayainya. Dan sudah melupakan perihal screenshot itu.
"Syukurlah kalau begitu. Aku turut senang," ucapnya seraya tersenyum.
Usai ngobrol, Dewi pun mengatakan untuk mengajakku berbelanja nanti sore ke minimarket yang tak jauh dari sini. Aku pun menyetujuinya. Pukul 11.00 Dewi pamit untuk pulang. Dia bilang akan menemuiku nanti sore.
***
Dan benar saja, Dewi datang ke rumahku tepat pukul tiga sore. Kami akan berbelanja kebutuhan sehari-hari ke minimarket. Aku pun mengirim pesan kepada mas Bastian. Meminta izin untuk pergi bersama Dewi. Akan tetapi pesan tersebut masih tampak centang satu. Itu berarti mas Bastian belum membacanya. Aku pun segera membuat panggilan telepon untuknya, tetapi sama.
"Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan! Cobalah beberapa saat lagi!" Begitu suara di seberang telepon.
"Sudahlah, ayo kita berangkat. Nanti keburu malam," ucap Dewi.
__ADS_1
"Baiklah," jawabku.
Aku pun mengeluarkan motor matic hitam--yang dulu dipakai mas Bastian-- dari dalam garasi. Aku sudah pernah naik motor, jadi jangan heran bahwa aku bisa mengendarainya, ya? (he-he?)
Arka kuantar ke rumah ibu mertua. Bukan karena merepotkan bila diajak berbelanja. Akan tetapi, kali ini aku berkendara sendiri. Jadi, aku mencari aman saja--takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan-- apalagi aku sudah lama tidak membawa motor sendiri.
Setelah menempuh jarak sekitar sepuluh menit, kami pun sampai di minimarket. Aku dan Dewi--yang membonceng-- pun turun dari motor. Kami masuk untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. Dewi berjalan lebih awal di depanku. Dan saat tanganku hendak menyentuh gagang pintu minimarket, tiba-tiba aku tersadar. Seperti ada sebuah mobil hitam yang kukenali, yang terparkir di depan minimarket.
Sedikit terkejut, aku pun bergegas masuk. Mataku menerawang sekeliling. Mencari sosok pria yang kukenali. Karena tidak menemukan sosok tersebut. Aku pun asyik berbelanja. Beberapa minyak goreng kemasan sudah masuk ke dalam keranjang belanjaan. Detergen, sabun mandi, sabun cuci piring, shampoo, gula, teh, kopi, dll, pun sudah berhasil masuk ke dalam keranjang.
Aku kembali mencari sosok pria pemilik mobil hitam tersebut. Dan saat mata ini terpusat pada tempat kasir, sesosok pria yang kucari tampak berdiri di sana. Aku langsung menghampirinya.
"Mas Bastian!"
Pria tersebut seperti kaget saat aku memanggilnya. Ia menoleh, dan kedua mata itu melebar. "Ka-kamu, kamu ngapain di sini?" tanyanya gugup.
"Aku berbelanja, lah. Kamu--" Belum sempat aku bertanya. Wanita yang bertugas sebagai kasir itu, tiba-tiba memanggil mas Bastian.
"Pak! Total belanjaannya Rp. 1.250.000,00."
"Kamu sedang berbelanja?" tanyaku masih heran sambil memperhatikan satu keresek besar berisi barang belanjaan di hadapannya.
"Ini ... ini ... ya, aku sedang berbelanja kebutuhan untuk kita! Maksudku untuk keperluan kita!" katanya dengan suara yang terdengar gemetar.
Aku sedang berpikir, baru kali ini mas Bastian inisiatif melakukan hal semacam ini. Aneh sekali. Aku masih menatapnya bingung. Mas Bastian pun memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada kasir tersebut.
"Ima! Tadi ada wanita yang aneh sekali!" Tiba-tiba Dewi muncul menghampiri kami yang masih berdiri di depan kasir. Ia pun meletakkan keranjang belanjaan di meja. Lalu melanjutkan bicara. "Tadi itu, ada wanita yang sedang memilih belanjaan di dekatku. Eh, tiba-tiba saja enggak jadi. Dia meletakkan beberapa sarden dan mi instan sembarangan. Hingga berhamburan di lantai. Terus dia nyelonong keluar, seperti tergesa-gesa gitu? Dasar aneh!" ucapya seraya mencibir.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Ciyee? Yang lagi baca sambil gemes, gemessss deh! Thor! Ungkap aja langsung napa! Eits! Sabar-sabar ... tak semudah itu Ferguso! Pelan-pelan biar enak. Ettdah! Apaan tuh!
Jadi intinya, Author akan menulis kisah ini agar dikemas semakin menarik. Yang sabar ya? Lihat terus, pantengin terus episode selanjutnya ya?
Eh, Author ingetin! Jangan lupa untuk FOLLOW, LIKE, COMENT, VOTE, sebanyak-banyaknya. Semangatin Author donk? Biar UP-nya lebih banyak lagi.
__ADS_1
Salam Sayang dari Author terKeceh? đź’–