BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Handphone Suamiku Tertinggal


__ADS_3

"Aku bertemu Dimas tadi di gang. Dia bilang ...."


Wajah ini tak mampu menatap mas Bastian. Keringat dingin semakin membanjiri tubuhku. Apa yang akan terjadi pada nasib diriku.


"Dia bilang, kau tak mengizinkannya masuk? Benarkah itu?"


Aku tersentak mendengar penuturannya. Mataku melebar menatap wajah mas Bastian.


"Sayang, Dimas itu sahabatku. Dia mencari ku tadi. Dia ingin bicara denganku tentang keputusan mobil mana yang akan kupilih. Dia begitu peduli pada kita. Mengapa kau tak mengerti? Apa kau sangat membencinya?"


Aku menatapnya bingung. "Mas, aku--"


"Sayang ... aku tidak marah padamu. Maafkan, Mas, yang tiba-tiba marah-marah, ya?" ucap mas Bastian seraya memelukku.


Entah apa yang terjadi, suhu tubuhku mulai normal. Tetapi rasa pusing di kepala semakin mendera. Hampir saja aku dibuatnya pingsan. Kurasa aku sudah terlalu panik.


"Dimas itu sahabatku. Bisakah, kau sedikit ramah padanya? Dia sudah banyak membantu kita. Hargai dia sedikit saja. Aku tak tahu mengapa kau tak menyukainya. Lain kali kalau dia datang, suruhlah Dimas menunggu di teras," tuturnya seraya mengelus kepalaku.


"Maafkan aku, Mas," ucapku di dalam bahunya. Berusaha meredakan rasa gugup yang sedari tadi mendera.


Aku menghela napas lega. Tuhan masih melindungiku. Walau entah sampai kapan. Sudah saatnya aku harus bersikap tegas terhadap si dokter elang itu.


"Mas?" Aku mendongak menatap matanya. "Apa yang dokter itu katakan tentangku?"


Dia tersenyum. "Dia bilang, tadi, dia mengetuk pintu. Lalu kau datang dan membukakan pintu. Tapi ketika kau melihat ada Dimas di depan pintu, kau langsung menutup pintunya kasar."


Entah mengapa tiba-tiba aku tertawa. Dokter itu bisa membual juga ternyata.


"Apa yang lucu?" tanya mas Bastian seraya mencium keningku.


"Tidak. Dokter itu ... haruskah dia memprovokasimu?"


"Untuk apa?"


"Ya, agar kau mendidikku."


Mas Bastian terkekeh mendengar perkataanku. "Tidak hanya itu. Dimas juga mengatakan, bahwa kau tidak menyukainya. Bahkan kau sangat membencinya."


Aku kembali tertawa geli. "Itu benar!"


"Lain kali, kau harus sedikit ramah padanya, ya?" kata mas Bastian polos. Tanpa menaruh curiga.


Entah bagaimana dokter mesum itu membohongi mas Bastian. Tetapi sejujurnya, kuakui dokter mesum itu cerdik. Meski menjengkelkan. Eh, kenapa aku memikirkannya? Aduhai, Imania ... racun apa yang merasukimu!


Aku hanya tersenyum menatap wajah mas Bastian. Dia benar-benar mempercayaiku. Dan mempercayai dokter elang mesum itu. Kasihan suamiku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri dengan baik, mas?


***


Malam semakin larut. Arka tidur di rumah neneknya. Jadi, malam ini kami hanya tidur berdua. Hawa dingin merasuk tubuh. Aku beranjak, mengambil selimut dari lemari. Karena selimut yang satunya sudah kupakaikan pada mas Bastian. Biasanya kami hanya memakai satu selimut berdua. Tetapi, hujan yang terus mengguyur bumi, membuat tubuh semakin menggigil. Aku pun kembali tidur. Kuselimuti tubuhku, hangat.


"Sayang, belum tidur?" tanya mas Bastian di sela kantuknya, menyadari diriku yang belum terlelap.


"Iya, ini mau tidur, Mas."


Mas Bastian tiba-tiba merengkuh tubuhku, ke dalam pelukannya. "Malam yang dingin."


Aku membalasnya, memeluk mas Bastian erat.


Mas Bastian meraih wajahku. Kemudian mengecup perlahan bibir ini. Perlahan ia menarik kerudungku, melepaskannya. Mas Bastian masih mengecup bibirku lembut. Saat ia akan menurunkan kecupannya, sontak aku teringat jejak merah di leher.

__ADS_1


"Mas!" Aku mencoba menghentikan mas Bastian.


"Aku kangen sekali, Sayang." Mas Bastian mencoba melanjutkannya.


"Mas, kepalaku sakit!"


Mas Bastian tak mempedulikan perkataanku. Sehingga aku terpaksa menghentikannya, dengan membenamkan wajah ke dadanya. "Mas, aku pusing, kepalaku sakit!"


Mas Bastian akhirnya berhenti. Ia mengangkat wajahku. "Baiklah, tidurlah." Kemudian mengecup keningku.


Maafkan aku Mas? Terpaksa aku berbohong. Ini demi kebaikan kita. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jika mas Bastian mengetahui jejak merah di leherku. Dokter itu selalu membuat masalah. Sehingga berkali-kali aku mengecewakan mas Bastian. Membuat malam yang akan berakhir indah, harus terlewatkan tanpa gairah.


Mas Bastian melanjutkan tidurnya. Sesaat kupandangi wajahnya yang tampan. Jika dibandingkan dengan Dimas, mas Bastian lebih lembut, memiliki senyum yang manis. Mas Bastian juga tidak kasar, tidak suka memaksa.


Beda dengan Dimas. Dia kasar, suka memaksa, dan keras kepala. Walau tak dipungkiri, Dimas memiliki wajah yang tampan, cool, dan karismatik. Tapi tetap saja, dia adalah dokter mesum!


Aku terperanjat. Mengapa aku jadi membandingkan! Oh ... tidak! Aku semakin gila dibuatnya. "Selamat tidur, Suamiku." Kukecup bibir itu lembut.


***


Seperti biasa. Paginya aku menyiapkan sarapan. Mas Bastian selalu menyempatkan diri untuk sarapan pagi. Kami pun makan berdua, karena Arka juga belum diantarkan pulang.


"Sayang?"


"Ya, Mas."


"Kepalamu masih sakit?"


Aku menghentikan suapan nasi ke dalam mulutku. "Ah, sudah agak mendingan."


"Syukurlah."


Mas Bastian mengambil segelas air, lalu meneguknya. "Dimas nanti ke sini untuk menjemputku. Aku akan memintanya untuk memeriksamu."


"Uhuk!" Aku tersedak. Napasku kembang kempis.


"Kamu enggak apa-apa?" Mas Bastian beranjak dari kursi makan, lalu menyodorkan segelas air putih padaku. "Minumlah!"


Aku meminum air tersebut. Perlahan kuatur napas. "Uhuk! Uhuk!" Seperti ada yang mengganjal di dalam kerongkongan. Atau di dalam rongga dadaku. Aku terus terbatuk-batuk.


Suara mobil terparkir di halaman rumah. Sudah pasti itu si dokter elang.


"Uhuk!"


"Sayang, Dimas sepertinya datang. Biar dia memeriksamu, ya?"


"Jangan! Tidak usah! Aku tidak apa-apa!"


Mas Bastian melangkah ke luar, menemui dokter elang itu.


"Mas!" seruku menghentikan langkahnya. Tetapi mas Bastian mengabaikan panggilanku.


Aku beranjak menuju kamar. Mengunci rapat-rapat pintu kamar. Entah apa yang ada dikepalaku. Rasa takut untuk bertatap muka dan bertemu dengannya. Hanya itu dipikiranku.


Krek! Suara gagang pintu kamarku tersentuh orang.


"Uhuk! Siapa?" tanyaku yang sedang duduk di ranjang.


"Ini aku, Sayang?" Suara mas Bastian.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?"


"Kenapa dikunci? Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Aku tidak apa-apa, Mas? Uhuk!" Aku berusaha menahan sesak yang mengganggu napasku.


"Bagaimana, Bas? Istrimu tidak mau diperiksa?" Suara familiar seseorang.


Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Tak ingin rasanya bertatap muka dengannya. Suamiku benar-benar polos, menganggap Dimas sahabat terbaik. Bodoh sekali.


"Sayang? Buka pintunya!" perintah mas Bastian.


"Aku tidak apa-apa, Mas? Tenanglah. Uhuk!" Oh Tuhan ... dadaku sedikit sakit.


"Sudahlah, Bas. Mungkin dia memang tidak apa-apa."


"Tapi semalam, istriku tiba-tiba sakit kepala, Di."


Aku mendengar jelas perbincangan mereka di balik pintu.


"Istrimu sakit kepala?" Suara dokter elang mesum itu. "Apa dia kehujanan kemarin?"


"Sayang, apa kamu kehujanan kemarin?" tanya mas Bastian.


Sejenak aku berpikir. Harus kujawab iya atau tidak. "Ah, aku ... tidak, Mas," jawabku.


"Tapi semalam dia sakit kepala."


Terdengar tawa kecil dokter elang itu. "Mungkin istrimu hanya kelelahan, ha-ha!"


Wajahku memerah, menahan amarah, antara kesal dan marah. Entah bagaimana reaksi dokter elang itu. Pasti ada rasa kemenangan di hatinya. Telah berhasil mengganggu malam indah kami.


"Sudahlah. Dia mungkin tidak apa-apa." Suara dokter itu lagi.


"Aku berangkat ya, Sayang?"


"Uhuk! Iya, Mas. Hati-hati."


"Istrimu lucu, ya?"


"Begitulah. Dia memang pemalu, Di."


Suara mereka perlahan lenyap. Suara mobil hitam itu pun terdengar berlalu dari halaman rumah.


Terdengar dering handphone mas Bastian. Aku segera tersadar akan sesuatu. Pasti handphone mas Bastian ketinggalan. Ya, ampun! Aku segera keluar dari kamar. Mencari sumber suara tersebut.


Suara berasal dari meja makan. Dan ... benar. Handphone mas Bastian tergeletak di atas meja makan.


Segera kuraih handphone tersebut. "Yah, dimatikan!" gumamku.


Deringnya berhenti. Kutatap layar handphone tersebut. Tertera sebuah nama di layar handphone tersebut. 'Abel' nama peneleponnya. Pagi-pagi begini, sudah ada telepon masuk dari seseorang yang dari namanya pasti itu wanita. Ada rasa aneh menyelinap di benakku. Apa itu teman kantor mas Bastian?


Aku merasa penasaran. Karena belum pernah sekali pun memeriksa handphone milik mas Bastian. Aku selalu mempercayainya. Lagi pula, selama ini, tak ada hal-hal aneh dan mencurigakan dengan tingkah mas Bastian. Aku juga tak ingin berprasangka buruk terhadapnya. Aku selalu yakin bahwa mas Bastian tipe lelaki yang setia. Jadi, untuk apa aku curiga. Lagi pula, kami sudah berjanji untuk saling percaya.


Kuurungkan niat penasaranku. Aku berniat mengunjungi kantornya, untuk memberikan handphone tersebut. Karena itu pasti penting. Tanpa pikir panjang, kuambil tas dan bergegas mengunci pintu, untuk mengantarkan handphone tersebut.


Saat kaki hendak meninggalkan teras, tiba-tiba handphone tersebut berdering lagi. Hati ini dilema antara mengangkat panggilan dari nomor bernamakan 'Abel' tersebut, atau jangan. Aku khawatir itu tidak sopan. Lagi pula, tanpa izin dari mas Bastian, bukankah itu tidak baik? Beberapa menit kemudian panggilan itu berhenti. Namun, selang beberapa saat berdering lagi.


Aku menghela napas. Lebih baik kuangkat saja. Kudekatkan telunjukku untuk menekan tombol 'jawab'.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2