
Dokter itupun terkejut dan langsung menaikkan pandangannya padaku.
"Kau!"
"Ya, ini aku!"
"Kau mau melabrakku?" ulangnya.
"Iya!"
"Apa salahku?"
"Tidak usah pura-pura tidak tahu! Aku tahu kaulah pelakunya!"
Dokter itu pun berdiri menghampiriku. "Apa kita perlu makan siang bersama? Kita bisa, kan, bicara baik-baik?"
"Sudahlah, tak perlu basa-basi! Apa kau yang menghajar suamiku?"
"Suamimu dihajar orang? Siapa ... siapa yang sudah berani menghajarnya?" Dia bertingkah konyol seolah-olah aku tidak tahu.
"Dia dihajar oleh seorang dokter yang tidak waras!"
"Ya, Tuhan! Bagaimana keadaan Bastian sekarang?" Dimas berakting, pura-pura tidak tahu.
"Sudahlah, jangan pengecut! Akui saja, apa kau yang sudah tega menghajarnya?"
Dokter itu tertawa. Ia mendekatkan wajahnya padaku seraya berkata, "Ya, aku yang sudah menghajarnya!"
__ADS_1
Aku terperangah mendengarnya. "Kenapa? Apa salahnya padamu? Kurangkah kebaikan suamiku terhadapmu? Coba katakan!" Aku sedikit meninggikan nada bicaraku.
Dimas diam saja, dia mendekat ... mendekat.
"Cukup! Cukup! Jangan maju lagi! Aku sangat membencimu!" Aku mundur beberapa langkah darinya. Air mata mulai mengaliri pipiku. Rasa kecewa, sedih, benci, semua menjadi satu.
Dimas pun hanya diam, mendengarkan kemarahanku. Dia mendekat lagi.
"Stop! Jangan melangkah lagi!" kataku seraya menghadapkan telapak tanganku ke depan. "Hanya karena aku tidak bisa menerimamu. hanya karena aku tak mau kembali padamu. Dan hanya karena aku tidak bisa menceraikan suamiku. Lantas kau menghajarnya? Aku menatapnya dengan wajah yang basah.
Lagi-lagi Dimas tetap diam. Dia hanya berdiri, tetap mendengarkan amarahku.
"Ini peringatan terakhir untukmu! Jangan pernah dekati kami lagi! Jangan pernah hubungi kami lagi! Kau tahu, kau hanyalah benalu di dalam rumah tangga kami! Aku sudah muak denganmu! Jadi, jangan temui aku lagi!" ucapku dengan berderai air mata.
Hatiku sakit sekali untuk mengatakan itu semua. Dulu, dia begitu manis. Selalu menjaga sikapnya. Ia selalu memberikan kesan terindah dalam hidupku. Tetapi sekarang, Dimas sangat jauh berbeda. Dia kejam! Keras kepala! Aku sangat membencinya!
Suasana menjadi hening. Dimas sepertinya tak bisa berkata-kata. Ia tak memberikan sanggahan atau jawaban sedikitpun.
Dan saat tangan ini menyentuh gagang pintu, tiba-tiba dia pun berkata, "Seumur hidupku, aku tidak pernah membenci seseorang tanpa adanya alasan. Aku juga tidak pernah menyukai atau bahkan mencintai seseorang tanpa adanya alasan."
Aku menghela napas panjang, masih mendengarkannya. Tanganku pun turun perlahan dari knop pintu. Namun, sama sekali tak mengubah posisi tubuhku, yang masih berdiri membelakanginya.
"Termasuk menghajar orang. Ada alasan mengapa aku menghajar Bastian. Dan aku tidak bisa mengatakannya sekarang padamu. Aku ingin kau mengetahuinya sendiri. Sayangnya, kau terlalu polos. Tidak bisa melihat suatu keburukanpun. Bahkan keburukan--"
Dia menghentikan perkataannya. "Aku hanya mau bilang. Bastian tidak pantas untukmu. Dia bukan laki-laki yang baik. Dia hanya ... seorang pecundang!"
Kubalikkan tubuh, menghadapnya. "Kau yang pecundang! Sudah, jangan muncul di hadapanku lagi! Pergilah menjauh dari hidupku! Aku ... aku sangat membencimu!"
__ADS_1
Akupun kembali berbalik. Air mata terus meluncur deras membanjiri seluruh tubuhku.
"Asal kau tahu, Nia. Aku melakukan semua ini untukmu. Termasuk menghajar Bastian." Nada bicaranya terdengar bergetar. "Pergilah! Jika kau memang yakin terhadap suamimu itu, pergilah! Lagi pula kau tidak pernah mendengarkanku."
"Namun, jika kau mau kembali padaku nantinya. Aku masih setia menunggumu. Sekarang pergilah! Jika itu maumu!" lanjutnya.
Setelah cukup ia bicara, akupun keluar dari ruangan tersebut. Betapa terkejutnya ketika pintu itu terbuka. Ada beberapa orang suster yang sedang menguping pembicaraan kami di depan pintu.
"Siapa kau! Beraninya marah-marah terhadap Dokter Tampan kami!" omel salah seorang suster.
"Oh, jadi kau ke sini, hanya untuk marah-marah?" Suster genit yang tadi pun ikut mengomel. "Aku tidak tahu kau siapa! Tetapi kuperingatkan, jangan pernah muncul di depan kami lagi! Atau kau akan habis oleh kami!"
Suster yang satunya menarik pashmina-ku. "Dengar! Jaga nada bicaramu itu terhadap Dokter Tampan kami! Dasar perempuan murahan!"
Plak! Kutampar wajah suster tersebut. Semua yang menyaksikan sepertinya terkejut. Suster itu pun tampak sangat marah. Ia lalu mendorongku hingga terpental ke pintu.
Buk! Saat aku terpental, pintu itu tiba-tiba terbuka. Dan seseorang menangkap tubuhku yang hampir terjatuh ke lantai. Cepat-cepat aku melepaskan diri darinya.
"Dengar! Jangan ada yang menyentuhnya! Jangan ada yang bersikap kasar padanya! Atau kalian akan tahu akibatnya!" ancam Dimas kepada suster-suster itu, yang kupikir adalah fans-nya.
Aku pun segera berlari. Meninggalkan rumah sakit ini. Meninggalkan segala tentang dokter elang itu. Saat tiba di parkiran. Aku mengambil motorku. Entah mengapa, hatiku rasanya nyeri sekali. Setengah hati ini tak mampu memarahi dokter itu. Itulah sebabnya, setiap melayangkan amarahku tadi, secara refleks hati ini merasa sesak.
Aku men-starter motor, lalu bergegas untuk pulang. Air mata terus menerus meluncur dari mataku. Di tengah perjalanan, dengan perasaan tak keruan, tiba-tiba ada air yang lain turun membasahi tubuhku. Hujan. Seolah dunia pun mengerti kesedihanku. Hujan ikut turun menghapus air mataku. Aku lupa membawa mantel. Jadi, kubiarkan tubuh ini basah kuyup.
"Imania!"
Aku menoleh sosok yang memanggilku. Seorang lelaki yang kukenali. Ia mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil. Lelaki itu menatapku heran. Akupun menghentikan laju motorku. Sekitar dua meter di depan motorku, mobil tersebut pun berhenti. Laki-laki itu keluar dari mobil, membuka payungnya, lalu berjalan ke arahku.
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --
Karena ngetik banyak sekali, jadi Author mohon maaf, bila tulisannya kurang rapi. Tapi nanti pasti akan Author rapikan.