
Aku mendengarkan setiap kisah yang terlontar dari mbah Mar perihal Fania dan ibunya. Sedih ... aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya masa-masa ibu Fania mengandungnya. Dan masa kecil Fania, sejak kecil Fania memang sudah menderita.
"Sudah cukup ceritanya, ya?"
"Mbah, kau bilang, ibunya Fania menyembunyikan identitasnya. Apa dia sangat menutup rapat-rapat dirinya dari orang lain?" tanya sekertaris Ve sembari terisak.
Mbah Mar tersenyum, ia melanjutkan bercerita. "Rintik selalu menutup dirinya dari pertanyaan orang-orang. Dia bilang, dia terlalu sakit untuk mengingat-ingat sesuatu yang telah membuat dirinya hancur. Dia benar-benar penuh misteri. Itulah sebabnya, aku penasaran."
"Saat itu ... Rintik sedang hamil tua. Dia kelelahan sepulang dari sawah. Aku memintanya beristirahat sejenak di rumahku. Tentu saja, dia menolak. Tapi kemudian Rintik hampir saja jatuh, dan aku membawanya masuk. Di situlah dia mau bercerita tentang kisahnya. Tapi dia tidak menyebut nama laki-laki yang menghamilinya. Yang mbah dengar, mereka saling mencintai. Itulah sebabnya, mereka sampai melakukan kesalahan, yaitu menuai bibit Fania."
"Dia pasti sangat menderita," ujar sekertaris Ve seraya mengusap wajahnya yang basah.
"Meski demikian, Rintik sangat menjaga bayi dalam kandungannya. Dia membenci lelaki yang menghamilinya. Namun, dia tidak membenci bayinya," lanjut mbah Mar. "Oh, iya, dia juga pernah sekali bercerita padaku bahwa dia masih punya saudara perempuan. Dia satu-satunya keluarga yang masih ada. Jika dia masih hidup, berarti, dia adalah satu-satunya keluarga Fania dari ibu."
"Kak Ve? Kau tidak apa-apa?" Aku segera menenangkan sekertaris Ve yang terus memegangi kepalanya.
"Aku tidak apa-apa," jawab sekertaris Ve, seraya mengusap kembali wajahnya yang basah.
"Kak Ve? Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Fania?"
Sekertaris Ve terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Aku ... aku ... aku ...."
Aku sedari tadi memperhatikan sekertaris Ve. Dia begitu hanyut dalam cerita mbah Mar. Dia begitu sedih mendengar ceritanya. Pasti ada hubungannya antara sekertaris Ve dengan Fania, atau ibunya Fania.
"Kak Ve, kenapa kau tidak menjawab?"
"Ibunya Fania, dia ... dia ... dia temanku."
Oh, pantas saja sekertaris Ve begitu penasaran ketika melihat wajah Fania. Mungkin banyak kemiripan antara Fania dan ibunya.
"Sudah cukup, ya, ceritanya," ujar mbah Mar diiringi tawanya yang khas.
"Terima kasih banyak atas informasinya, Mbah," ucapku seraya mengulum senyum.
"Iya, sama-sama. Aku sangat iba dengan kisah ibu dan anak tersebut."
"Mbah, di mana makam almarhumah Rintik?" tanya sekertaris Ve.
"Ayo, biar kutunjukkan!"
Mbah Mar berdiri dan beranjak dari kursi. Kami pun segera mengikutinya. Ketika aku bangkit dari duduk, tiba-tiba saja tubuhku lemas sekali. Aku hampir saja terjatuh.
"Imania, kau tidak apa-apa?" tanya sekertaris Ve.
"Aku tidak apa-apa, Kak Ve?"
Kami pun kembali berjalan keluar dari rumah mbah Mar. Saat kakiku baru melewati teras, tiba-tiba badanku kembali menggigil. Kepalaku berdenyut-denyut, sakit sekali. Pandanganku tiba-tiba saja memudar, gelap ... gelap ....
"Imania! Kau kenapa?"
Hanya suara itu yang terakhir kudengar.
***
Perlahan terbuka kelopak mataku. Samar-samar aku melihat sebuah ruangan. Kutolehkan kepalaku ke samping. Sudah berdiri seseorang di samping tempatku berbaring. Pandanganku perlahan jelas. Sosok itu tengah menatapku seraya tersenyum.
"Aku di mana? Bagaimana bisa aku si sini? Di mana sekertaris Ve?"
__ADS_1
"Kau baru saja sadar. Pertanyaanmu itu seperti wartawan saja," ucapnya seraya tersenyum.
Dia pun mendekat, duduk di kursi sebelah ranjang. "Kau pingsan. Sekertaris Ve mengantarmu ke sini."
"Di mana dia sekarang?"
"Dia sedang mengurus sahabatmu. Dia berpesan, agar kau tidak usah khawatir."
"Dia sedang mengunjungi Fania?" Sontak aku mendudukkan tubuh.
Dimas meraih tanganku. "Kau begitu mengkhawatirkannya, sehingga kau lupa, untuk mengkhawatirkan dirimu sendiri."
"Di, aku ingin bertemu Fania, sekarang!"
"Tidak boleh! Kau harus fit terlebih dahulu. Baru boleh ke sana."
Benar juga. Kepalaku masih terasa sakit dan pening. Aku bisa pingsan lagi bila memaksakan diri.
Dimas meraih sesuatu dari meja samping ranjang. Ia mengambil makanan untukku dan memintaku untuk makan.
"Ayo, buka mulutmu!" perintahnya seraya mendekatkan sendok yang berisi nasi dan sayur sop itu ke mulutku.
"Biar aku makan sendiri," tolakku seraya meraih sendok dari tangannya.
"Tidak boleh!" Dimas memutar sendoknya.
"Ayolah, Di, kemarikan sendoknya. Aku lapar sekali."
Dimas tertawa kecil. "Makanya, ayo, cepat buka mulutmu!"
Dimas terus saja membujukku. Akhirnya, aku pun mau disuapi. Aku sudah tidak sabar untuk fit, dan menemui Fania. Dimas menyuapiku sembari terus tersenyum mengamatiku makan.
"Apa ada yang lucu?" tanyaku heran.
"Aku suka melihatmu makan selahap ini," katanya.
Aku merasa malu. Apa aku begitu lahapnya? Akan tetapi, aku sangat lapar. Sejak kemarin aku belum makan.
"Nia, sebenarnya, aku yang akan mengurus kasus Fania. Aku sudah menghubungi Hotman Paris semalam. Dan Hotman pun siap membantu mengurus kasus Fania. Namun, sekertaris Ve, dia tadi memintaku agar tidak usah cemas. Dia bilang, dia saja yang mengurusnya. Itu aneh! Dia peduli sekali terhadap sahabatmu itu."
"Itu tidak aneh. Sekertaris Ve ternyata sahabatnya almarhumah ibunya Fania."
"Benarkah?" Dimas tampak terkejut.
Aku mengangguk.
"Kita akan menemui Fania, tapi setelah kondisimu fit, ya?"
Aku mengangguk lagi sembari tersenyum. "Di, bagaimana keadaan Reza?"
"Reza sudah sadar. Kini dia sudah dipindahkan ke ruang rawatnya."
"Oh, syukurlah," ucapku.
"Bahkan, aku berharap agar dia mati saja."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Dia adalah lelaki yang sangat kejam. Setelah diinterogasi oleh polisi dan hasil olah TKP, ternyata Rezalah yang berusaha menikam Fania dengan pisau. Kau bisa bayangkan, seandainya Fania yang kena tikam pisau tersebut. Apa yang terjadi pada Fania? Aku sendiri tidak yakin Fania masih hidup saat ini," terang Dimas sembari menyuapiku.
Aku berhenti mengunyah. "Jadi ... jadi ... jadi Fania melakukan itu untuk melindungi dirinya?"
Seketika tubuhku terasa semakin lemas. Aku sudah salah menyimpulkan. Fania pasti sangat sedih melihat diriku yang menjauhinya waktu itu. Aku pun kembali terisak, menyesali sikapku.
"Hei, cengeng! Tidak usah menangis. Kasusnya pasti cepat selesai. Sekertaris Ve sudah menyewa pengacara. Dia juga yang membiayai segala urusan tersebut. Jadi, percayalah! Fania tidak akan lama mendekam di penjara," tutur Dimas seraya mengusap air yang meluncur ke pipiku.
Aku melanjutkan makanan yang masih berada dalam mulutku. Setelah habis menelannya seraya terisak. Aku pun meminta agar Dimas mengantarku terlebih dahulu ke kamar rawat Reza. Tetapi Dimas melarangku.
"Aku hanya ingin bicara dengannya. Mengapa dia tega sekali menyakiti Fania," ucapku seraya terisak.
"Tenanglah, Reza juga akan dipenjara, kok. Ternyata, Reza adalah buronan polisi. Dia adalah salah satu komplotan bandar narkoba. Bahkan, dia diduga memiliki banyak kasus pembunuhan, penipuan, dan kasus kriminal lainnya. Jadi, akan sulit bagi Reza untuk keluar dari penjara nantinya."
Dimas meletakkan piring di atas meja. Kemudian mengambil tissue untuk mengusap tangannya. Dan mengambil satu tissue lagi untuk mengelap pipiku yang basah.
"Jangan menangis lagi," ucapnya seraya mengelap pipiku lembut. Ia pun mendekatkan wajahnya.
"Di, jangan melakukan itu. Aku ...."
Dimas mengabaikan perkataanku. Dia meraih leherku dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih mengusap lembut wajahku dengan tissue. Perlahan-lahan sesuatu yang lembut itu menempel. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ....
Krek! Pintu terbuka. Kami sama-sama terkejut. Dimas segera melepaskan bibirnya dari bibirku. Sedangkan seorang wanita cantik ber-jas putih khas dokter, sudah berdiri menatap kami dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Dimas pun menoleh ke arahnya. "Nessa."
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh ...!
Author mau umumin. Untuk GIVE AWAY VOTING dimulai dari sekarang!
Oh, ya? Rencananya Author Keceh mau kasih hadiah kaos untuk beberapa orang Readers Keceh.
Author mau bikin kaos khusus untuk fans Setia Author Keceh. Hanya saja, gara-gara COVID-19 ini. Author Khawatir tidak bisa keluar rumah. Jadi, Author belum bisa memastikan tentang hadiahnya.
Jika terkabul, insyaAllah Author akan buat kaos khusus. Berhubung saya masih LOCK DOWN, jadi, jika tidak sempat bikin kaos, Author akan menggantinya dengan pulsa lagi.
Apalah daya, sekarang susah bepergian. Apalagi untuk mengurus pengiriman, itu sulit.
Doakan saja, agar keinginan Author Keceh membuat kaos khusus Fans Setia ini terkabul.
Jika tidak, kemungkinan di novel selanjutnya. Semoga CORONA segera pergi dari dunia ini. Dan kita bisa segera mengucapkan, GOOD BYE CORONA! DON'T COME ANYMORE!
Ingat! GIVE AWAY untuk beberapa orang ya?
Yuk! Vote sebanyak-banyaknya! Jangan lupa LIKE, WAJIB FOLLOW, WAJIB MASUK GRUP!
Kenapa wajib masuk grup?
Karena Author Keceh akan membuat grup WhatsApp setelah terkumpul anggota, ya?
Oh, ya, bagi yang penasaran CAST PIGURAN FANIA LARASATI, ada di episode 45 ya?
THANK YOU! 😘
__ADS_1