
Dimas membawaku jalan-jalan dengan mobilnya. Ia membuka atap mobilnya, sehingga udarapun terasa begitu segar. Ini pertama kalinya aku naik mobil sport yang sangat mewah.
Dimas menghentikan mobilnya di pinggir danau. Kami pun turun, dan duduk di pinggir danau tersebut. Pemandangannya hijau dan angin sejuk membelai tubuh kami. Kami duduk bersebelahan, menikmati suasana danau yang menyegarkan. Mataku menyapu pandang. Tak ada seorang pun di sini, kecuali kami.
"Nia."
"Hm ...."
"Mulai sekarang, kita akan berjuang untuk menggapai masa depan kita bersama. Mungkin, ini tidak akan mudah. Tetapi ... kita akan melewatinya bersama," kata Dimas seraya menatapku.
"Apa kau sudah mengatakan ini pada Nessa?"
"Belum. Tapi aku akan mengatakannya. Kau tenang saja."
Wajahku berubah sedih. Dan Dimas menyadari hal itu.
"Nia, kita pasti bisa!" ucapnya seraya menggenggam tanganku.
Aku hanya tersenyum samar. Aku menyadari, ini takkan mudah. Dan pada akhirnya, aku harus berjuang lagi. Banyak hal yang akan kulewati bersamanya. Dan akan ada banyak sekali rintangan tentunya. Meskipun sekarang aku sudah berpisah dengan mas Bastian, tetapi statusku sekarang adalah sebagai janda. Aku khawatir, orang tua Dimas tidak bisa menerimaku.
"Nia," panggil Dimas lirih.
"Ya."
Dia menghadapkan tubuhku padanya. Hatiku sudah menangkap sinyal-sinyal tentang apa yang akan terjadi. Ia mendekatkan wajahnya. Matanya membidik bibirku. Dan mataku pun telah membidik bibir lelaki tampan di hadapanku.
"Aku mencintaimu ...."
"Aku juga mencintaimu ...," balasku.
Tangan kekar itu meraih leherku. Mata kami saling membidik. Pelan-pelan ia turunkan wajahnya. Turun ... mendekat ... hingga benda lembut itu pun bersatu padu dengan kecupan-kecupan yang sangat lembut pula. Aku membalas dan mengimbangi setiap gerakan bibirnya.
Getaran-getaran hangat berpadu dengan embusan angin, serta embusan napas dua insan yang sedang merajut asmara. Oh ... aku sangat mencintainya.
Andai kau tahu ... aku ingin menuliskan kisah-kisah ini. Aku ingin mengingat jejak-jejak langkah kita, satu per satu. Andai kau tahu ... aku tidak bisa terlepas dari kelembutan ini. Yang terus membelaiku, menaklukkan hatiku. Aku ingin sisa hidupku terkenang oleh masa-masa indah. Biarlah diriku jatuh, asal di hatimu. Dan biarkan cinta ini menguning, bersama rambut yang memutih. Asal jangan melayu, aku takut semuanya berubah. Itu karena, aku terlalu mencintaimu. Semoga cinta ini, membawa cinta pada-Nya jua.
Usai dari danau, Dimas mengajakku untuk makan bersama di sebuah restoran. Aku pun menyetujuinya. Dan restoran yang Dimas tuju adalah di Giant Restauran. Kami pun segera turun, dan mengambil tempat duduk.
Dimas memesan beberapa appetizer, main course, dan dessert. Kebetulan kami sudah sangat lapar. Dan setelah menunggu cukup lama, tiga orang waitress pun datang menyajikan pesanan kami. Aku terkejut dengan makanan-makanan yang hampir memenuhi meja ini.
"Di! Ini banyak sekali!"
"Aku sengaja memesan banyak. Agar kau bisa memilih apapun yang kau suka."
"Tapi ... ini tidak akan habis?"
Dimas tertawa mendengar ucapanku. "Tidak habis, ya, tidak apa-apa."
Aku teringat akan seseorang. Aku pun segera mengambil handphone. Lalu menghubungi sebuah nomor.
"Halo!" Suara di seberang sana.
"Bisa ke sini sekarang?"
"Ke mana?"
"Aku share location, ya?"
"Apa ini penting?"
"Ya. Sangat penting!" jawabku, kemudian menutup sambungan telepon.
Dimas menatapku bingung. "Siapa?"
"Temanku."
"Jangan bilang Alien Pencopet itu!"
Aku tertawa mendengar sebutan itu. "Kau sangat keterlaluan!"
"Kenapa harus mengajaknya ke sini?"
"Makanan ini banyak sekali, Di. Aku jadi ingat Fania. Dia paling suka kalau diajak makan."
Dimas tersenyum padaku. "Fania sangat beruntung memiliki teman sepertimu!"
Aku kembali menatap menu-menu makanan itu satu per satu. Tapi aku bingung harus makan yang mana dulu. Semuanya kelihatan enak.
"Imania!" Seseorang menghampiri kami. Lalu duduk di sebelahku.
"Hai, Rud. Apa kabar?" sapaku.
__ADS_1
"Sangat baik hari ini. Tapi masih jomlo! Ha-ha ...!"
Aku pun tersenyum kepadanya.
"Bagaimana kabarmu?" Rudi balik bertanya.
"Seperti yang kau lihat. Kabar baik," jawabku.
"Ngomong-ngomong, kau mau mencoba menu yang mana dulu?"
"Aku bingung, Rud. Semuanya terlihat enak," jawabku.
"Boleh aku yang memilihkan?"
"Oh, iya. Boleh-boleh!" jawabku semangat.
"Kurasa ... kau akan suka ini!" Rudi mengambil satu piring, lalu meletakkannya di hadapanku.
"Ini bukannya ikan?" tanyaku mencoba menebak.
"Itu adalah Ginning Snapper With Sun Dried Tomatoes!" katanya. "Coba saja! Nanti kau bisa mengenalinya dengan lidahmu, ini apa!"
Aku pun tersenyum pada Rudi, lalu mengambil pisau makan dan garpu. Aku memotongnya, lalu memasukan makanan itu ke mulut.
"Hm ... ini enak!"
"Aku senang kau menyukainya."
"Apa ini ikan kakap?"
"Wah, lidahmu sangat peka rupanya. Kau tentu sangat pandai memasak!" puji Rudi seraya tersenyum.
"Tidak juga," jawabku. "Ini sangat lembut, Rud. Dagingnya tanpa tulang sedikitpun. Dan sausnya pun sangat enak!"
"Eghem!" Dimas berdehem. Dan itu membuatku tersadar, karena aku dan Rudi asyik mengobrol, dan hampir saja mengabaikan keberadaannya.
"Oh, aku lupa untuk menyapamu, Brother! Apa kabarmu?" sapa Rudi.
"Tidak baik, sejak ada kau!"
Rudi tertawa, kemudian bertanya kembali, "Apa Nessa tidak ikut?"
Aku hampir saja tersedak. Untung saja aku belum menelan suapan selanjutnya.
"Kalian baik-baik saja, kan?"
Dimas tidak menjawab. Dia malah mengambil satu menu main course, kemudian menyantapnya.
"Imania, kau harus coba lagi, yang ini!" Rudi mengambil satu piring menu lagi, lalu meletakkannya di hadapanku.
"Ini lobster?" tanyaku.
Rudi pun menjelaskan menu main course tersebut. Dan aku kembali mencobanya. Lidahku seakan dimanjakan oleh menu-menu di restoran Rudi ini. Semuanya lezat.
"Apa kau suka?" tanya Rudi lagi, seraya terus memperhatikanku makan.
"Ya, ini sangat enak!"
"Eghem!"
Aku memandang wajah Dimas. Dia terlihat sangat kesal.
"Imania? Apa benar kau sudah bercerai?" tanya Rudi tiba-tiba.
"Dari mana kau tahu?" tanyaku heran.
"Tadi, Hotman Paris mampir ke sini. Dia bilang baru saja menyelesaikan urusan sidang perceraianmu."
Aku hanya bisa mengulas senyum samar pada Rudi. Sebenarnya aku malu. Hari ini aku baru saja bercerai. Dan aku berduaan dengan Dimas. Jika dipikir, ini bukan sesuatu yang benar. Apa yang Rudi pikirkan tentangku? Oh ... mendadak kepalaku pusing.
"Hei! Imania!" seru seseorang yang baru saja datang. Ia melambaikan tangannya ke arahku.
Aku pun segera memanggilnya. "Hei! Kemarilah!"
Ia pun menghampiri kami. Aku langsung memperkenalkannya pada Rudi. Mereka pun saling menjabat tangan.
"Aku Fania Larasati."
"Rudi Gianto."
Fania tampak memperhatikan Rudi dengan seksama. Rudi ingin melepaskan tangan Fania, tetapi Fania masih terpaku seraya menggenggam tangan Rudi. Aku memperhatikan Fania yang sepertinya tertarik pada Rudi.
__ADS_1
"Fania!" panggil Rudi.
"Iya?" jawabnya yang masih terpaku menatap Rudi.
"Aku mau duduk," kata Rudi.
"Iya. Duduk saja," kata Fania tak berkedip.
"Tanganku ...."
"Apa?"
"Kau belum melepaskan tanganku."
"Oh ...." Fania mengangguk pelan. "Apa?! Tanganmu?"' Fania pun segera menyadari bahwa ia masih menggenggam tangan Rudi. Fania malu sekali. Kulihat pipinya memerah.
Aku hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala melihatnya. Lalu Fania duduk di kursi sebelah Dimas. Dan Rudi kembali duduk di kursi sebelahku.
"Hei, Alien Pencopet! Mana uangnya?" tanya Dimas langsung seraya menjulurkan tangannya kepada Fania.
"Ya, Tuhan ... apa kau setega itu padaku? Aku tidak punya uang!"
"Bagaimana kau bisa punya uang? Kau sama sekali tidak mandiri!"
"Hei! Kau ini siapa? Tidak usah mengatur hidupku. Aku bisa hidup sendiri!" ujar Fania kesal.
"Kau tidak bisa hidup sendiri. Buktinya, kau masih bergantung pada pacarmu!"
"Ah, aku capek bicara denganmu! Aku sudah tidak sabar ingin makan!"
Aku memperhatikan mereka. Dimas dan Fania ibarat Tom and Jerry. Selalu saja ribut. Dan kami pun akhirnya menyantap makanan bersama-sama. Rudi pun meminta pelayan untuk menyajikan beberapa menu makanan lagi untuk kami. Padahal menurutku, ini sudah terlalu banyak.
Kulihat Rudi mengamati Fania dengan sangat heran. Mungkin, ia baru kali ini mendapati seorang wanita yang cara makannya unik sekali. Fania makan tanpa menggunakan sendok dan garpu. Rudi pun nyengir sendiri melihat kelakuan Fania.
"Hei! Kau ini rakus atau tidak makan sebulan?" Dimas bertanya seraya tertawa.
"Diam kau!"
"Apa kau tidak bisa makan pakai garpu?" tanya Rudi.
"Bisa! Aku hanya ingin cepat-cepat menghabiskan makanan ini!" kata Fania tanpa basa-basi.
Fania sudah menghabiskan tiga piring menu main course, dan tiga dessert. Aku tidak tahu perutnya terbuat dari apa. Untuk ukuran wanita, Fania memang terlihat rakus.
Fania tiba-tiba bersendawa keras. Aku pun kembali terkejut. Bukan hanya aku, bahkan Rudi dan Dimas pun ikut terkejut.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Fania.
Rudi terlihat sangat illfill melihat ada wanita seperti Fania.
"Fania."
"Hm ...."
"Kau terlihat feminim. Tapi sangat rakus!" celoteh Dimas.
"Apa barusan aku mendengar kau memujiku?" tanya Fania sembari menatap Dimas.
"Ya, aku sangat kagum dengan cara makanmu. Kau keren sekali! Apa badanmu tidak pernah menggendut?" ledek Dimas.
"Apa barusan kau memujiku lagi?"
"Ah, wanita ini! Tingkahnya memalukan sekali! Sebenarnya, kau datang dari planet apa, sih!" gerutu Dimas.
"Pluto," jawab Fania sesukanya.
"Hei, pluto bukanlah planet!"
"Ya, benar. Aku memang terlahir dari planet yang tersisihkan!"
"Pantas!" Dimas manggut-manggut.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Hai, Readers Tersayang ...!
Author Keceh kembali lagi! Akan ada banyak cerita cinta selanjutnya. So, stay on terus, ya? Tungguin, setengah jam kemudian, Author Keceh bakalan balik lagi. Tunggu episode selanjutnya, ya?
Oh, ya? Buat yang memenangkan GIVE AWAY. Segera masuk grup chat, ya? Ditunggu!
__ADS_1
Jangan lupa FOLLOW, LIKE, COMENT, VOTE, KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA!
Thank You ...!