
Aku tengah duduk di sofa, bersama ayah dan ibu. Sudah pukul delapan malam, Fania belum juga pulang.
"Nak, bagaimana hubunganmu dengan Dimas?" tanya ibu.
"Lusa, mereka mau melamar Imania, Bu? Mereka akan ke sini."
"Wah, benarkah? Kalau begitu, ibu besok akan belanja yang banyak."
Sembari berbincang-bincang, aku asyik bermain handphone. Aku dan Dimas sedang berkirim pesan.
[Di, apa aku perlu bekerja lagi? Aku bosan di rumah.]
[Sebenarnya tidak perlu. Tapi kalau kau ingin, aku tidak akan memaksa.]
[Jadi ... besok aku akan berangkat ke kantor. Setelah menikah, kau boleh melarangku.]
[Iya, Sayang.]
[Apa kau sedang sibuk?]
[Sebentar lagi aku pulang. Masih ada pasien yang perlu kuurus.]
[Semangat, ya?]
[Iya, suporter hatiku ....]
[Bye ....]
[Bye, Sayang. Emmuach.]
"Ima, apa kau sudah menyiapkan baju untuk lusa?"
"Emmuach."
"Ima? Kok, emmuach?"
"Eh, maaf ... Ibu tadi bertanya apa padaku?"
Aku sedang membalas chat dari Dimas malah salah sasaran membalas pertanyaan ibu.
"Serius amat, Ima. Pasti sedang chating-an sama Dimas," tebak ibu.
"He-he."
"Tadi Ibumu bertanya, kamu sudah punya baju yang akan dipakai lusa apa belum?" ulang ayah.
"Oh, itu. Sudah, kok. Aku masih punya banyak pakaian. Ayah dan Ibu tenang saja."
Mobil Rudi terdengar berhenti di depan rumah. Lalu terdengar suara ketukan pintu. Aku beranjak membukakan pintu.
"Selamat malam, Imania," sapa Rudi.
"Selamat malam juga, Rud. Kalian pasti habis bersenang-senang. Silakan masuk, Rud."
Rudi dan Fania pun masuk. Mereka menyalami kedua orang tuaku terlebih dahulu. Baru kemudian duduk.
"Hari ini sangat melelahkan," keluh Rudi yang baru saja duduk.
__ADS_1
"Apa ... Fania membuat ulah?" tanyaku.
"Ya, begitulah. Dia yang mengajak untuk menonton film di bioskop. Kupikir awalnya ragu. Ternyata ... memang tidak bisa dipercaya," ucap Rudi.
"Memangnya apa yang Fania lakukan?"
"Dia bilang ingin menonton film komedi, dan kau tahu, sepanjang film itu diputar, Fania terus tertawa memekakkan telinga. Bahkan penonton yang duduk di dekat kami pun merasa terganggu dengan tawanya. Bahkan, kulitku menjadi sasaran cubitan-cubitannya saking gemasnya," papar Rudi dengan ekspresi lesu.
Aku tertawa mendengar penuturan Rudi.
"Mereka saja yang lebay. Namanya juga film komedi, kan, memang sengaja untuk membuat orang tertawa," ujar Fania.
"Kau yang terlalu lebay. Tawamu itu berlebihan," cibir Rudi pada Fania.
"Terus, kalian menghabiskan waktu berdua untuk menonton film?" tanyaku penasaran.
"Ya, terpaksa," jawab Rudi kesal.
"Ima, buatkan kopi untuk Nak Rudi," perintah ibu.
Oh, iya, aku lupa. Saking asyiknya ngepoin hubungan mereka yang menggelitik rasa penasaran. Saat aku hendak beranjak, tiba-tiba Fania mencegahku.
"Aku saja yang membuatkan kopi," ucap Fania lalu beranjak menuju dapur.
Tidak lama Fania kembali dengan secangkir kopi. Ia meletakkannya di atas meja. "Silakan diminum," ucap Fania.
"Apa kau bisa membuat kopi?" tanya Rudi ragu.
"Bisa, donk. Ini hasilnya."
Rudi meraih cangkir dari meja, lalu meniupnya agar tidak terlalu panas. Saat ia mulai menyesapnya, tiba-tiba Rudi menyemburkan kopi tersebut.
Rudi mendongak, menatap Fania dengan wajah kesal. "Fan, bukan itu masalahnya. Ini cicipi sendiri." Rudi menyodorkan cangkir berisi kopi tersebut kepada Fania.
Fania menerimanya dan segera menyesapnya sedikit. "Puah! Asin. Kok bisa?"
"Kok bisa?" cibir Rudi sembuh memutar bola matanya ke arah Fania.
Semua yang menyaksikan pun tertawa, termasuk ayah dan ibuku. Setelah itu, Fania kembali ke dapur untuk diajari membuat kopi oleh ibuku. Kemudian membawa secangkir kopi yang baru untuk Rudi. Ternyata ... Fania masih belum bisa membedakan yang mana gula dan yang mana garam.
***
Keesokan harinya, aku sudah siap untuk berangkat ke kantor. Dimas menjemputku, kami pun berangkat bersama karena jalan ke kantor memang searah dengan Rumah Sakit Cahya Nugraha—tempat Dimas bekerja.
"Sebenarnya, kau tidak perlu repot-repot bekerja."
"Aku bosan di rumah."
"Setelah menikah, kau hanya boleh menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Jadi, tidak usah berkarir. Fokus saja mengurus anak-anak dan aku, ya?"
"Ya Tuhan. Kita belum apa-apa, Di. Jangan pikirkan tentang itu dulu."
Dimas tertawa lalu berkata, "Aku sudah tidak sabar ingin membuatnya."
"Membuat apa?" tanyaku.
Dimas mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku dan berbisik, "Membuat anak."
__ADS_1
Kudorong tubuhnya agar kembali duduk tegak. "Kau mesum!" ucapku jengkel.
"Nia, aku belum pernah melakukannya. Ajari aku, ya?" godanya.
"Dimas! Hentikan bercandamu! Tidak lucu!"
"Tapi pipimu merah, tuh. Apa kamu malu?"
"Jangan bahas itu lagi, Di."
"Aku sudah tidak sabar ingin merasakannya," katanya diiringi tawa.
Perkataan Dimas membuatku sedikit khawatir. Aku hanyalah seorang janda. Aku khawatir bila nanti Dimas kecewa. Ya, walaupun aku pernah melakukannya hanya beberapa kali bersama mas Bastian. Namun, tetap saja, aku khawatir, karena aku tidak lagi seorang perawan.
"Di."
"Ya, Sayang."
"Aku tidak lagi perawan. Apa ... itu tidak masalah bagimu?"
Dimas menghentikan laju mobilnya. Lalu menggenggam jemari tanganku lembut. "Nia, aku sudah bilang, aku akan menerimamu apa adanya. Kau tahu ada pepatah Jawa mengatakan, 'ora keno prawane, tak nteni randane'."
"Apa artinya?"
"Tidak mendapatkan perawanmu yang penting aku mendapatkan jandamu. Begitulah kira-kira."
Aku tersenyum bahagia mendengar jawaban darinya.
"Nia, nanti kau yang mengajariku dulu, ya?" godanya.
"Mengajari apa?"
"Ninu-ninu."
Aku langsung mencubit pinggangnya karena gemas. Dimas ada-ada saja.
"Untung kau bukan dokter kandungan," ucapku kesal.
"Kenapa memangnya? Apa kau akan cemburu jika profesiku adalah dokter kandungan?"
"Bagaimana mesum sepertimu bisa menjadi dokter?"
Dimas hanya tertawa melihatku kesal. Ia pun menyalakan mobilnya lagi dan mengantarkanku sampai ke kantor.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh?
Bagi yang belum memberikan bintang limanya. Mohon untuk memberikan bintangnya sekarang, ya?
Rate itu hanya dapat dilakukan sekali saja untuk satu novel. Jadi, kalau kalian sudah pernah RATE pada sebuah novel, maka tidak akan bisa memberikannya RATE lagi.
Oleh sebab itu, disarankan kalau mau memberikan RATE, harus hati-hati. Lebih baik membaca dulu kisahnya sampai END atau sampai benar-benar yakin.
Buat yang sudah pernah ngasih RATE LIMA untuk Author Keceh, kuucapkan terima kasih banyak.
__ADS_1
Jangan lupa VOTE NOVEL INI SEBANYAK-BANYAKNYA!
Thank you ...!