BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Kesempatan Terakhir


__ADS_3

"Imania, Istriku!" panggilnya.


Aku masih terpaku di tempat. Menahan perasaan yang mulai terasa nyeri lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana. Dulu, aku mengenalnya begitu baik. Selama ini, aku mengenali suamiku yang lembut, penuh kasih sayang. Tiada kejanggalan sebelumnya.


Mas Bastian bergerak mendekat, memeluk tubuhku. Namun, aku beranjak menghindarinya. Kulangkahkan kaki menuju sofa. Akan kudengarkan secara seksama. Tentang penjelasan rinci ulah yang diperbuatnya. Mas Bastian pun ikut duduk di sofa. Persis di sebelahku.


"Menjauhlah!"


Mas Bastian memahami kekecewaan yang masih merundung benakku. Ia pun menggeser tubuhnya, satu meter dariku.


"Sayang, izinkan aku menjelaskan perihal kekeliruanku."


Aku tetap diam. Tak bergeming.


"Aku tahu, selama ini kamu sudah menjadi istri yang sangat baik untukku. Menjadi ibu yang sangat baik untuk anakku. Kamu adalah wanita yang berhasil menjalankan tugas secara maksimal."


Kusilangkan kedua tangan ke dada. Dengan wajah menyimpan kecewa. Aku mencoba mendengarkannya secara seksama.


"Dan aku. Aku hampir saja gagal menjalankan tugasku sebagai imammu. Aku hampir saja tergoda wanita. Untungnya, kamu segera menyadarkanku."


"Siapa yang menyadarkanmu?" Akhirnya aku angkat bicara.


Ia menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya. "Seandainya kamu tidak segera mengetahui rencanaku. Tentu hal buruk itu sudah terjadi."


"Rencana apa?" Aku berbicara tanpa menatap wajahnya. Pikiranku masih kesal.


Mas Bastian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. "Baiklah, aku jujur. Aku hampir saja terjatuh ke dalam lembah dosa. Aku digoda wanita. Untungnya Tuhan segera mencegahku, melalui kamu."


"Siapa yang digoda dan menggoda?" tanyaku masih dengan muka masam.


"Dia yang menggodaku."

__ADS_1


"Dia siapa?" Kali ini aku menatap wajahnya tajam.


Mas Bastian terdiam sesaat. "Dia hanya wanita yang tidak penting lagi untuk dibahas. Aku sudah menyadari, bahwa aku salah. Aku khilaf." sesalnya.


"Dia siapa?" ulangku sewot.


Mas Bastian terdiam sesaat, lalu berkata, "Dia ... hanya ... seseorang yang sudah tidak penting lagi. Tidak perlu mengingat namanya."


"Tapi ini penting untukku! Aku harus tahu siapa namanya!"


"Sayang, ayolah ... aku sudah mengakui kesalahan. Dan aku sangat menyesal. Aku takkan mengulanginya lagi. Kumohon ... maafkan aku."


"Berikan handphone-mu!" ucapku seraya menjulurkan tangan ke arahnya.


Dia pun mengambil handphone-nya dan memberikannya padaku. Aku ingin mengecek apakah ada chat yang tersisa dengan wanita tersebut. Dan ternyata tidak ada. Mas Bastian bilang, dia memang sempat ada percakapan dengannya. Dia sudah menghapus percakapan tersebut beserta nomor kontaknya. Itu berarti dia mengakui. Dan dia juga sudah berjanji untuk tidak mengulang kesalahan itu lagi.


"Aku janji, ini terakhir aku berbuat keliru! Aku janji!"


"Aku akan menuruti semua keinginanmu, asal kau mau memaafkan diriku. Kumohon ... maafkan aku ...." Ia menggeser duduknya, mendekat. Meraih telapak tanganku. Menggenggamnya erat.


Aku masih diam. Aku tidak tahu apakah mas Bastian ini jujur atau tidak. Tetapi ekspresi wajahnya tampak serius. Kurasa ia benar-benar sudah menyesali kekeliruannya.


"Mas, apa yang kurang dariku?"


"Tidak ada!" jawabnya cepat.


"Tidak mungkin, tidak ada!" bantahku seraya melepaskan tanganku dari genggamannya.


"Sungguh!"


"Katakan saja sejujurnya. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Aku merasa, kau menutupi sesuatu dariku."

__ADS_1


Mas Bastian kembali meraih telapak tanganku. "Tidak ada, Sayang."


Aku menatapnya tajam. "Lalu mengapa kamu sampai tergoda wanita lain? Lebih cantik? Lebih muda? Atau lebih seksi?"


"Sungguh, aku hanya ingin mencobanya saja. Aku hanya penasaran. Ini sudah jawaban paling jujur dariku. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Namun, kuharap kau mau memberiku kesempatan sekali lagi. Sekali lagi! Kumohon ...." Mas Bastian turun, bersimpuh di hadapanku. Meraih dan menggenggam erat jemariku.


Aku berpikir bagaimana untuk mempercayai pengakuannya. Aku tidak tahu apa dia bohong, atau memang jujur. Kekecewaan itu tidak mudah terobati. Bahkan, dengan kata maaf sekalipun. Namun, tiba-tiba aku teringat Arka. Mungkin, saat ini aku belum bisa mengampuninya. Akan tetapi, aku masih mencoba untuk memberi kesempatan sekali lagi untuknya. Kesempatan terakhir.


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. "Baiklah. Kuberi kesempatan sekali lagi. Jangan kecewakan aku lagi."


Mas Bastian bangkit, memelukku. "Terima kasih, Istriku Sayang. Terima kasih ...."


Bulir-bulir bening yang sedari tadi tertahan pun bobol. "Aku belum bisa memaafkanmu sepenuhnya!" ucapku di dalam pelukannya.


"Kau sudah memberiku kesempatan. Itu sudah cukup! Maaf ... kuharap kau segera memaafkanku sepenuhnya."


Aku semakin terisak. Sekuat hati berusaha tabah. Biar kuberi kesempatan terakhir. Demi Arka!


Dalam suasana seperti ini, Arka tiba-tiba berjalan ke arah kami. Kami pun segera melepaskan pelukan.


"Jagoan Papa sudah bangun rupanya. Pintar sekali? Lihat, Ma! Arka benar-benar mandiri. Sudah bisa bangun tidur tanpa menangis," ucapnya bangga, lalu menggendongnya.


Kami bertiga pun berpelukan. Bagaimana mungkin, aku tega merusak kebahagiaan Arka. Dan bagaimana mungkin mas Bastian tega merusak kebahagiaan kami berdua. Biar kuberi kesempatan, sekali lagi. Jika sampai mengingkarinya kembali ... aku mungkin akan menyerah.


"Hari ini aku akan mengambil cuti. Kita akan pergi bersenang-senang!" ujarnya bersemangat.


"Horee? Kita jalan-jalan!" ucap Arka gembira.


-- BERSAMBUNG --


__ADS_1


__ADS_2