BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Ayahku Bijaksana Dan Luar Biasa


__ADS_3

"Ayah!" Aku pun segera mendekat.


"Tenanglah! Biarkan dia rileks terlebih dahulu!" Dimas memperingatkan.


Kami pun memandang ayah dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ... kami sangat bahagia. Ayah pun menatap kami satu per satu.


"Akhirnya, Kau mendengar doaku Ya Rabb!" Ibu berucap syukur.


"Imania ...." Ayah memanggilku lirih.


"Ya, Ayah ...."


"Kemarilah. Mendekatlah padaku!" pinta ayah.


Aku pun mendekat di samping tubuhnya. Sedangkan ibu juga berdiri di sebelahku.


"Tentang hubungan kalian--"


"Ayah!" Mas Bastian buru-buru mendekat. "Ayah tenanglah! Jangan bahas itu. Yang terpenting sekarang adalah, Ayah harus kembali sehat!"


"Tidak apa-apa! Aku sudah memikirkan tentang kalian."


"Ayah, kami sudah memutuskan. Untuk tidak jadi bercerai!" ucap mas Bastian mantap kemudian merangkulku.


Ibu tampak sangat terkejut dengan jawaban mas Bastian. "Benarkah itu, Ima?" tanya ibu seraya memandangku penuh harap.


Aku terdiam sesaat. Tiba-tiba ada yang menyentuh jemariku. Menggenggam tanganku dari belakang. Tangan milik dokter elang itu. Seolah ia ingin memintaku untuk tetap pada keputusanku sebelumnya. Namun, perlahan aku melepaskannya. Maafkan aku, Dimas ....


"Ya, Ayah. Kami tidak akan berpisah. Kami akan terus bersama!" jawabku berusaha terlihat mantap.


"Ima ... apa kau bersungguh-sungguh?"


"Ya, Ayah. Aku bersungguh-sungguh!"


"Ayah, jangan khawatir. Kami sudah mengambil keputusan paling tepat!" Mas Bastian menambahi.


Dimas pasti sangat kecewa. Aku menoleh dirinya yang masih berdiri terpaku di belakangku. Maafkan aku, Dimas.


"Ima ... Ibu sangat bahagia mendengarnya!" ucap ibu terharu.

__ADS_1


"Ima ... kau jangan bodoh!" ucap ayah.


Sontak kami tertegun melihat ekspresi ayah. Dia sama sekali tidak terlihat senang mendengar keputusan kami. Padahal kami pikir, berita ini akan membuatnya senang.


"Ayah ... kita sudah--"


"Diamlah!" Ayah menyela perkataan mas Bastian. "Aku sedang berbicara dengan Ima!"


"Ima ... jangan terlalu polos. Jika kau terus seperti ini, selamanya kau akan dibodohi laki-laki!" kata ayah dengan nada bergetar.


"Jangan khawatirkan hubungan mereka lagi. Kau harus banyak-banyak istirahat," ibu memperingatkan.


Ayah mengambil napas dalam. "Aku sudah banyak istirahat. Bukankah kalian lihat? Aku baru saja bangun tidur."


"Ima ... jika saja aku tak menyayangimu, aku akan memaksamu untuk tetap tinggal bersama Bastian. Tetapi ... kau sudah kuanggap seperti putriku sendiri. Aku tidak bisa membiarkanmu menderita," tambah ayah.


"Apa maksudmu? Mereka akan tetap bersama!" tutur ibu.


"Bu, kita tidak boleh egois. Bukankah, kau sudah menganggap Ima sebagai putrimu sendiri? Jika iya, maka kau harus bisa memposisikan Ima sebagai putri kandungmu." Ayah mencoba bangun. Aku pun membantunya untuk duduk.


"Bu, coba renungkan. Seandainya Ima adalah putri kandungmu, lalu ia disakiti seperti itu oleh laki-laki, apa kau akan tetap memintanya untuk bertahan?"


"Ayah ... kenapa kau berkata seperti itu? Kami ... kami sudah sepakat untuk bertahan!" papar mas Bastian.


"Tapi ... kami bahagia, Ayah! Kami akan memulainya dari awal lagi!" bantah mas Bastian.


Aku menangkap pernyataan membingungkan dari mas Bastian. Dia seperti serius mengatakan ini semua. Mas Bastian benar-benar membuatku semakin pusing. Aku tidak mengerti dengan perubahan jalan pikirannya.


"Tapi jika Ima terus bersamamu, ia tidak akan bahagia!" ujar ayah dengan nada sedikit meninggi.


"Pak, tolong kontrol emosimu!" perintah Dimas. "Lebih baik, kalian semua keluar dulu. Biarkan Beliau istirahat."


"Tidak, Dokter! Aku sudah tidak sabar untuk mengatakan hal ini. Jadi, biarkan aku mengatakan sesuatu yang sempat tertunda!"


"Ayah ...," panggilku lirih.


"Bastian, Putraku! Segera ceraikan Ima!"


Semua yang mendengar pun terkejut. Ini benar-benar di luar dugaan. Rencana kami untuk menunda perceraian adalah demi dirinya. Tapi ayah malah memerintahkan kami agar segera bercerai.

__ADS_1


"Ayah, kenapa kau berkata seperti itu?" Mas Bastian bertanya lagi dengan heran.


"Karena kau tidak pantas bersanding dengan wanita seperti Ima! Ima wanita yang memiliki semua yang diidamkan oleh laki-laki. Dia baik, tulus, beretika, perhatian, dan penuh cinta. Di lain sisi dia juga cantik. Ima bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripadamu!"


Kami semua pun terdiam. Aku sendiri masih tidak menyangka atas pernyataan ayah.


"Jika saja kau bukan Putraku. Mungkin, aku sudah membunuhmu! Aku tidak akan rela anak perempuanku dikhianati seperti itu! Aku takkan rela ia jatuh pada orang yang salah. Dia masih bisa meneruskan masa depannya. Dan itu, bukan bersamamu!" lanjut ayah.


"Tapi, Ayah ...." Mas Bastian menggenggam tangan ayah. Namun, ayah mengempas nya.


"Kau! Cepat urus perceraian kalian! Setelah itu, pergilah bersama wanita simpananmu itu! Kau lelaki bodoh! Sungguh ... aku masih tidak menyangka kau terlahir dari benihku."


Wajah ayah terlihat sendu. Aku pun segera memeluknya. "Aku menyayangimu, Ayah ...."


Sedangkan mas Bastian terlihat kesal. Ia pun keluar dari ruangan ini.


"Tunggu!" seru ayah pada mas Bastian.


Mas Bastian pun berhenti, tanpa menoleh ke arah kami.


"Ayah harap, kau tidak akan menyesal menikah dengan wanita simpananmu itu!"


Mas Bastian pun melanjutkan langkahnya. Ia menutup pintu tersebut dengan sedikit keras. Ibu pun memeluk ayah dengan penuh haru.


"Kau tahu kenapa aku selalu jatuh cinta padamu?" tanya ibu pada ayah. "Karena kau tidak hanya tegas sebagai seorang laki-laki. Tetapi juga bijaksana!"


Dimas dan aku pun ikut terharu atas jalan pemikiran ayah. Bagiku, beliau adalah ayah yang sangat luar biasa. Itulah mengapa aku begitu menyayanginya. Dimas pun kembali meraih tanganku dari belakang. Ia menggenggam erat jemariku. Aku mencoba melepaskannya. Khawatir terlihat oleh ayah dan ibu. Tetapi Dimas malah semakin mengeratkan genggamannya.


"Hei! Kalian!" Tiba-tiba ayah melirik ke arah kami. Aku pun semakin cemas. Tapi Dimas tak jua melepaskan tanganku.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Sayang?


Bagaimana ... kalian puas?


Nah, loh! Lanjut besok, ya?

__ADS_1


Tingguin Author Keceh kembali, ya?


Thank You! đź’–


__ADS_2