
Usai makan malam, Dimas akan mengantarku pulang.
"Pakai helm dulu," perintahnya sembari menyodorkan sebuah helm padaku.
Aku menerima helm tersebut dan memakaikan ke kepala. Saat aku hendak mengaitkan helm agar tidak lepas dari kepala, tiba-tiba saja pengaitnya tidak ada.
"Kenapa?" tanya Dimas yang memperhatikanku kebingungan.
"Pengaitnya tidak ada."
Saat aku hendak melepaskan helm dari kepala untuk mencari pengait helm yang sepertinya terselip, tiba-tiba Dimas menahan tanganku.
"Biar aku saja yang cari," katanya.
Dimas menelusupkan jari telunjuknya ke sisi helm yang kupakai, meraba apakah pengaitnya terhimpit. Benar saja, ia berhasil menemukan pengaitnya dan segera mengaitkan pengunci helm tersebut.
Saat ia hendak memasangkan pengait, Dimas tiba-tiba mendekatkan wajahnya, hingga deru napas hangatnya begitu menerpa lembut wajahku. Dan saat bibir itu hampir menempel, tiba-tiba ....
"Eghem!"
Sontak saja kami kaget. Dimas segera memasangkan pengaitnya. Lalu kami menoleh bersamaan ke arah pintu. Pak Wibowo sudah berdiri di sana, memandang ke arah kami.
"Ayah, mengganggu saja," ketus Dimas dengan ekspresi kesal.
Pak Wibowo menghampiri kami. Dan berkata padaku, "Apa Fania sangat membenciku?"
"Em ... Pak. Eh, Ayah. Aku akan mencoba bicara lagi dengannya."
"Kapan aku bisa bertemu dengannya? Aku khawatir dia tidak mau bicara denganku."
"Aku akan membantu Ayah untuk memperbaiki hubungan dengan Fania."
"Imania, terima kasih sudah menjaga Fania selama ini. Berkatmu, aku bisa menemukan putriku."
"Sama-sama, Ayah."
Pak Wibowo mengalihkan pandangannya pada Dimas. "Bagaimanapun ... Fania adalah putriku. Dia adalah kakakmu dan kakaknya Surya. Kuharap ... kau bisa menerima itu."
Pak Wibowo menepuk pundak Dimas, lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Dimas segera memakai helmnya, kemudian aku naik ke atas motor.
"Peluk pinggangku!" pintanya.
Aku pun memeluk pinggangnya dan Dimas menyalakan motornya. Kami melaju dengan kencang, menikmati angin malam yang begitu dingin membelai kulit.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Dimas menyentuh lenganku yang melingkar di pinggangnya, lalu menghentikan laju motornya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku heran karena ini masih jauh dari rumahku.
Dimas menoleh padaku. "Apa kau kedinginan?"
"Tidak," jawabku sembari melepaskan pelukan.
Dimas melepaskan jaketnya dan aku segera menahannya. "Pakai saja! Aku tidak kedinginan," ucapku.
"Tapi tanganmu begitu dingin."
"Kau saja yang pakai."
"Kalau begitu, kita pakai jaket bersama-sama."
Dimas mengubah cara memakai jaketnya. Bagian belakangnya berada di depan.
"Ayo, masukkan tanganmu ke dalam jaket," suruhnya.
Aku tersenyum sembari menelusupkan tanganku ke dalam jaket, memeluknya erat. Kemudian kami kembali melaju.
"Ini hangat," katanya. "Sekarang ... kita baru bisa sejaket berdua. Esok, kita akan seselimut berdua."
Kucubit pinggangnya dari dalam jaket.
"Aww! Apa aku salah bicara? Kenapa mencubitku?"
"Membayangkan apa?"
"Dimas, bagaimana dengan Fania? Apa kau masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Fania adalah putri kandung ayahmu?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak tahu."
"Bagaimanapun, Fania adalah darah daging ayahmu. Dan ... Fania sangat menderita sedari kecil. Jika ia dilahirkan dari gen ayahmu, itu bukan kesalahan Fania. Fania tidak tahu menahu mengenai nasibnya. Kasihan dia."
Dimas tidak menjawab. Mungkin ... ia masih shock mendapati kenyataan bahwa ayahnya pernah melakukan hubungan intim dengan wanita lain, sebelum menikahi ibunya.
Ia terus melajukan motornya dengan kencang. Angin yang dingin terasa hangat bila bersamanya. Inilah takdirku, sebentar lagi ... kami akan menikah. Kami akan halal untuk melakukan apapun.
***
Dan sesampainya mengantarkanku pulang, Dimas langsung berpamit.
Kuketuk pintu rumah. Ibuku yang membukakan pintu. Aku pun masuk dan berjalan mengendap-endap karena mendengar suara tawa Fania yang lantang. Kata ibu, Fania sudah satu jam lebih bertelepon dengan seseorang. Aku curiga, itu pasti Rudi. Kudengarkan percakapan mereka dari luar daun pintu.
"Hm ... bagaimana kalau besok malam kita pergi jalan-jalan?"
Suara Fania yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon.
__ADS_1
"Janji, ya? Kita akan nonton film di bioskop." Suara Fania lagi.
"Ha-ha-ha! Iya, janji. Aku akan stabil, kok. Enggak akan naik ke pangkuanmu lagi."
"Bye, Rudi."
Oh ... jadi ... Fania sedang PDKT sama Rudi. Kubuka pintu kamar yang sontak membuat Fania terkejut.
"Eghem!" Aku berdehem.
"Kau sudah pulang?"
"Ciyeee? Ada yang lagi berbunga-bunga, nih?" godaku sembari meletakkan tas di atas meja rias.
"Imania, apa kau mendengar pembicaraanku tadi?"
"Tidak banyak. Hanya ... sepertinya aku mendengar kata 'Rudi'."
Fania langsung memasang ekspresi cemberut. "Sejak kapan kau jadi suka menguping?"
"Sejak kau mulai PDKT dengan Rudi."
Kurebahkan tubuhku di kasur, di samping Fania duduk.
Fania menghela napas kasar dan berkata, "Jujur ... sejak awal bertemu Rudi di restoran. Aku sudah jatuh cinta padanya." Fania mencurahkan isi hatinya.
"Seharusnya kau jujur padaku. Jadi, aku tidak perlu menjadikan Rudi sebagai pacarku. Pasti kau sangat cemburu padaku."
"Yang penting sekarang, kalian sudah putus," katanya diiringi tawa.
"Apa kau senang?" tanyaku.
"Apa kau menyesal karena memutuskannya?"
"Tidak. Aku dan Dimas akan menikah."
"Wah, benarkah?"
"Hm ...."
Fania merebahkahkan tubuhnya di sampingku, lalu memelukku seraya berkata, "Selamat!"
"Fania, pak Wibowo menanyakanmu tadi."
Fania langsung melepaskan pelukannya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu memiringkan tubuhnya, membelakangiku. Dia selalu saja begitu bila membahas pak Wibowo.
"Fania. Kau sudah tidak punya orang tua, selain pak Wibowo. Dia sudah sangat menyesal atas perbuatannya. Kau boleh marah padanya, tapi jangan terus menerus membencinya. Bagaimanapun ... dia adalah ayahmu. Dia sangat mengharapkanmu untuk mengakuinya. Dia yang siang malam menjagamu sewaktu koma. Dia sangat menyayangimu, Fania."
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --