BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Tentang Mantan


__ADS_3

Sementara di dalam mobil, mereka saling berbincang. Sesekali bercanda. Nessa cukup mudah menyesuaikan diri. Dia pribadi yang supel. Berbeda denganku, yang hanya diam, kecuali jika Nessa dan mas Bastian, yang mengajakku bicara.


"Hei! Bagaimana jika kita bermain game kejujuran," ajak Nessa.


"Game kejujuran?" Mas Bastian bergumam sambil mengendalikan setir mobilnya.


"Iya, jadi kita akan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan kejujuran. Bagaimana jika temanya tentang ... mantan!" usul Nessa.


"Jadi, bagaimana caranya?" Mas Bastian bertanya.


"Karena kita ada empat orang, jadi langsung saja, ya, siapa yang ditunjuk, maka dia harus mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan mantan. Sosok sang mantan, hal-hal berkaitan dengan mantan, atau apa saja, terserah! Pokoknya ini tentang mantan!" jelas Nessa.


"Baiklah, di mulai dari siapa?" Mas Bastian menyetujui.


Nessa menghitung tanggal, sekarang tanggal 14. Jadi, Nessa menghitung dari mas Bastian, lalu aku, lalu Dimas, kemudian Nessa. Berurutan membentuk zig-zag, diawali dari tempat duduk mas Bastian. Nessa pun mulai menghitung, di mana angka 14 berhenti.


"14! Aku sendiri!" katanya dengan ekspresi wajah pura-pura kesal. Bibir tipisnya dimajukan, membentuk raut wajah yang tampak imut.


"Ayo, kamu dulu!" perintah mas Bastian seraya melirik Nessa.


Nessa terdiam sesaat, lalu berkata, "Mantan." Wajahnya berubah serius.


Kami pun bersiap-siap untuk mendengarkan definisi mantan dari dalam hati Nessa yang terdalam.


Nessa menghela napas, kemudian berkata, "Aku tidak punya mantan. Jadi, aku tidak tahu, dan tidak bisa mendefinisikannya."


Sontak mas Bastian tertawa, disusul suara tawa Dimas. Aku hampir saja ikut tertawa, tapi kutahan. Dia yang membuat tema permainan ini tentang 'mantan', tapi dia sendiri tidak tahu, apa itu mantan. Sangat lucu.


"Kau benar-benar tidak punya mantan pacar?" tanya mas Bastian sambil menahan tawa.


"Aku hanya menyukai satu orang sejak kecil. Dan dia belum pernah mengatakan cinta padaku." Kini wajahnya berubah murung. Kuperhatikan dari spion tengah kabin. Dia menunduk. "Aku sangat menyukainya. Aku sangat mencintainya. Dan aku sangat menyayanginya," kata Nessa seraya mengukir senyum di wajah ayunya.

__ADS_1


Kuperhatikan ekspresi wajah Dimas seperti tidak nyaman. Apa orang yang dimaksud Nessa adalah Dimas? Akan tetapi, mana mungkin! Bukankah mereka saling mencintai? Lagi pula mereka sudah bertunangan.


"Meski demikian, aku selalu yakin. Kita akan saling mencintai. Dia akan membalas cintaku. Dia akan tahu bahwa, cintaku padanya begitu luas, seluas jagad raya. Tiada alasan untuk tidak mencintainya. Aku sudah menjaga hati untuknya selama ini. Aku menolak banyak lelaki, hanya karenanya. Aku menutup hati rapat-rapat demi dirinya. Aku ... aku sangat ingin hidup dengannya." Nessa berkata dengan segenap perasaan.


Mas Bastian ikut terdiam mendengar perkataan Nessa. Raut mukanya seperti sedang memahami satu per satu ungkapan hati Nessa. Ada apa antara Nessa dan Dimas yang sebenarnya? Apa mereka tak saling mencintai? Namun, keduanya tampak sangat serasi.


Dimas hanya diam tanpa sepatah kata pun. Sedangkan aku menangkap raut wajah kesedihan pada diri Nessa. Dia wanita yang sempurna. Siapa pun yang ia inginkan, bahkan lelaki, pasti sulit menolaknya.


"Tidak ada yang bisa menolak wanita secantik dirimu. Dan jika ada, dia adalah lelaki paling bodoh di muka bumi. Telah menyia-nyiakan ketulusan cintamu." Sontak terlontar kalimat itu dari mulutku.


"Sayangnya, dia masih mengharapkan masa lalunya." Nessa berkata lagi.


Aku terhenyak, semua terdiam. Termasuk mas Bastian. Ia menoleh Nessa dengan perasaan iba. Mungkin ia juga berpikiran sama denganku, mengenai hubungan antara Nessa dan Dimas.


"Kau wanita sempurna, Nessa. Jika ada yang menyakitimu, dia bukan hanya bodoh. Dia pasti akan mendapat karma, karena tega melukai hati seorang wanita baik dan secantik dirimu!" Mas Bastian akhirnya bicara.


Nessa dengan mata berkaca-kaca, berkata lagi, "Hei! Apa aku merusak suasana bahagia kalian semua?" Diikuti tawanya yang ringan. "Ayo! Sekarang giliran ... em? Siapa ya?"


Nessa sepertinya berusaha mencairkan suasana. Padahal aku tahu, di benaknya masih terlilit rasa sedih.


Mas Bastian terdiam sejenak. Fokus pada setirnya, sambil berkata, "Aku pernah memacari beberapa wanita," ucapnya dengan wajah bangga.


"Sejak SMP hingga SMA, hanya satu mantan terindah. Dia cantik, memiliki senyum yang menawan. Dia sangat perhatian padaku. Dia juga selalu menghiburku. Dia mantan yang paling membuatku sulit untuk move on." Mas Bastian melanjutkan.


"Apa ini tidak akan merusak suasana? Kalian, bukankah akan mengukir liburan romantis? Mengapa membahas hal semacam ini!" Dimas tiba-tiba menyela perkataan mas Bastian.


"Apa salahnya membahas masa lalu? Tujuan kita adalah masa depan. Apa salahnya mengenang sedikit saja? Ayolah, Dimas! Biarkan kita bernostalgia sejenak," kata Nessa.


"Masa depan, selamanya akan mengalahkan masa lalu! Karena kita melangkah untuk ke depan, bukan ke belakang!" lanjut Nessa dengan sedikit emosional.


"Lanjutkan saja! Ini sama sekali bukan masalah. Nessa benar! Masa depan akan selalu berhasil mengalahkan masa lalu." Aku pun bicara.

__ADS_1


"Baiklah aku lanjutkan." Mas Bastian menghela napas dalam. Wajahnya semakin serius. "Kami bertemu sejak SMA. Dia adik kelasku. Dia gadis paling imut menurutku. Dia ceria, mengalahkan kepribadianku yang pendiam. Dia sering membuatkan kue untukku. Hingga suatu hari, dia datang ke rumahku."


Mas Bastian kembali menghela napas dalam-dalam. Mimik wajahnya berubah, seakan tengah menahan kepedihan. "Tepat di hari ulang tahunku yang ke-17. Dia mengantarkan kue ulang tahun ke rumahku." Wajah mas Bastian berubah sendu. "Dia takut gelap, tapi katanya, dia lebih takut kehilanganku. Dia takut keluar malam dan takut hantu. Akan tetapi, demi memberikan kue ulang tahun itu padaku. Dia memberanikan diri untuk mengantarkannya sendiri, tepat di jam 12 malam."


"Wah, ini seru! Tentu dia sangat mencintaimu!" Nessa bergumam.


"Sayangnya, tepat di hari ulang tahunku. Kami putus!" lanjut mas Bastian.


Aku terus mendengarkannya. Dimas memasang ekspresi tidak senang mendengar cerita mas Bastian tentang mantan masa lalunya. Sedangkan Nessa, dengan antusias terus mendesak mas Bastian agar bercerita.


"Lanjutkan! Ini sangat menarik!" ujar Nessa.


"Dia meneleponku. Memintaku untuk keluar rumah. Dan saat aku akan keluar. Ayah dan ibuku lebih dulu membukakan pintu."


Mas Bastian bercerita, bahwa kedua orangtuanya tidak pernah menyukai pacarnya itu. Entah apa alasannya. Mereka selalu menentang keras hubungan mas Bastian dengan pacarnya. Namun, mas Bastian dan gadis tersebut sudah berjanji untuk selalu bersama.


"Ibuku langsung mengusir pacarku! Dia menampar pipi pacarku, di depan mataku. Ibu bahkan melempar kue tart itu, membuangnya. Pacarku menangis. Aku sendiri shock, dengan apa yang kulihat." Mata mas Bastian berkaca-kaca.


"Kasihan sekali gadis itu. Lalu, apa yang terjadi?" Nessa bertanya lagi.


"Ibuku mendampratnya habis-habisan. Lalu mengusirnya. Meminta pacarku untuk tidak datang dan tidak berhubungan lagi denganku. Aku yang berusaha keluar untuk menolongnya, dicegat oleh ayah. Aku terus berontak. Tapi ayah malah memukulku. Menyeretku masuk ke kamar. Aku tidak tahu persis apa penyebab kebencian ibu dan ayah terhadap pacarku. Kami saling mencintai. Ibu dan ayah sangat egois!"


Mendengar penuturan mas Bastian, ada sedikit sesak di dadaku. Sebegitu beratkah masa lalu suamiku. Dia tidak pernah bercerita tentang ini sebelumnya. Sejak kami menikah, kami jarang bercerita tentang masa lalu. Tak menyangka, mas Bastian menyimpan kisah sepedih ini. Siapa gadis itu? Mungkinkah mas Bastian masih mencintainya? Bahkan, setelah hidup bersamaku?


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


"Dia takut gelap, tapi katanya, dia lebih takut kehilanganku. Dia takut keluar malam dan takut hantu. Akan tetapi, demi memberikan kue ulang tahun itu padaku. Dia memberanikan diri untuk mengantarkannya sendiri, tepat di jam 12 malam."


Menurut kalian, siapa gerangan gadis masa lalu Bastian?

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya ya? Episode selanjutnya, giliran Dimas dan Imania yang menggambarkan sosok mantan terindahnya masing-masing. So, stay on!



__ADS_2