BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Berubah Pikiran


__ADS_3

"Aku memintanya untuk menjatuhkan talak tiga padaku."


Mendadak senyum di wajah tampan itu melebar. "Lalu?"


"Dia pun menjatuhkan talak tiga padaku."


Sontak dia meraih tubuhku. Memelukku sangat erat. Hingga aku merasa sulit mengambil napas.


"Hei! Lepaskan! Aku tidak bisa bernapas!"


Dia pun melepaskan tubuhku. "Nia, aku ... aku sangat bahagia malam ini. Aku sangat senang mendengarnya. Sungguh ... aku bahagia, Nia!"


Aku tersenyum melihat wajah bahagia itu.


"Nia? Kau serius? Ini ... ini serius?"


Aku menjadi tertawa melihatnya begitu senang. Kabar perceraian yang biasanya terdengar memilukan untuk sebagian orang. Justru begitu membahagiakan untuk dirinya. Ini lucu! Namun, entah mengapa aku menjadi tidak sedih lagi dengan keputusanku. Melihat binar mata dan senyum yang terlukis lebar di wajahnya, membuatku merasa ... mungkinkah masih ada kesempatan untuk kami. Kembali merajut cinta yang telah lama tertinggal.


"Di! Bagaimana denganmu?"


"Aku sangat bahagia malam ini, Nia."


"Bukan itu maksudku." Aku menatapnya dengan wajah serius. "Bagaimana dengan Nessa? Dia tunanganmu!"


"Aku akan membatalkannya!" jawabnya mantap.


"Tapi, apa itu mungkin?"


"Tidak ada yang tidak mungkin, Nia!"


"Tapi ... nanti Nessa akan membenciku."


"Nia! Dalam mencintai, kita memang harus konsisten memilih suatu keputusan. Harus siap dengan segala konsekuensinya. Pada dasarnya, cinta kita memang begitu rumit. Tidak mudah untuk mencapai sebuah keutuhan di dalam cinta. Kita pasti bisa melewatinya."


Aku mengulum senyum tipis mendengar perkataannya. Tapi, perlahan ... senyum itu memudar lagi. Mengingat seseorang yang mungkin akan menjadi penghambat selanjutnya di dalam hubungan kami.


"Bagaimana dengan ayahmu?"


Dimas berpikir sesaat, lalu mengatakan, "Aku akan membicarakan ini baik-baik dengannya."


Angin malam berembus sepoi-sepoi menerpa tubuh kami. Kusandarkan kepalaku ke bahunya. Tangan lelaki itu pun memeluk tubuh ini. Mengantarku untuk menyerap kehangatan yang selalu ia tawarkan. Perlahan ia turunkan kepalanya. Tangan yang satunya meraih daguku. Membuat wajah kita semakin dekat. Dan saat bibir itu melekat, senyap-senyap kupejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku pun membalas setiap kecupannya.


Malam yang dingin, selalu terasa hangat bila bersamanya. Mengantarkan sebuah romansa yang sulit kumengerti. Karena setiap sentuhan lembut yang ia berikan, selalu membekas tak terenyahkan di dalam hati. Aku membalas lembut belaian bibirnya. Menikmati getaran-getaran halus asmara.


Setelah beberapa menit, ia pun melepaskan bibirnya. Ia tersenyum sembari menatapku. "Kupikir kau sudah lupa caranya."


Di bawah cahaya remang-remang, wajahku tentu terlihat merona. Aku sangat tersipu malu. Bagaimana bisa aku melakukannya? Bahkan aku, mungkin terlihat sangat menikmatinya tadi.


"Mengapa malu? Kita bisa melakukannya tanpa batas nantinya. Setelah kau menjadi istriku."


Jemari Dimas mengusap bibirku yang basah. Mata kami kembali bertemu. "Aku mencintaimu," ucapnya lembut.


Setelah itu, aku pun beranjak kembali untuk menemani ayah. Sedangkan Dimas berpamit untuk pulang ke rumahnya.


***

__ADS_1


Keesokan paginya, aku tidak menjumpai mas Bastian di rumah sakit ini. Mungkinkah, perkataan ibu benar? Bahwa dia sedang bersenang-senang dengan Bella. Tapi, masa iya, mas Bastian tega bersenang-senang di saat-saat seperti ini.


Aku pun keluar dari ruang ICU. Meninggalkan ibu yang masih tertidur di sisi ayah. Aku berniat untuk membeli makanan di kantin. Aku harap, ibu mau makan. Bagaimanapun, kami harus tetap sehat agar bisa menjaga ayah. Dan saat aku melewati sebuah koridor, betapa terkejutnya, mataku mendapati seseorang yang tengah terbaring di lantai. Tanpa alas sedikitpun. Aku pun menghampirinya.


Aku berjongkok untuk membangunnya. "Mas! Mas Bastian, bangun!"


Aku mengamati bibirnya yang bergetar. "Mas!" Kegerakkan tubuhnya pelan.


Dia tetap tidak menjawabku. Dia hanya menyilangkan kedua tangan itu ke dalam dadanya. Aku pun segera menyadari sesuatu yang terjadi padanya. Kuletakkan telapak tanganku ke dahinya.


"Ya, Tuhan! Kamu sakit, Mas ...."


Aku pun segera mendudukkan dirinya. Kemudian aku berlari menuju kantin. Dengan tergesa-gesa, aku membeli satu cup teh hangat, makanan hangat, dan bubur yang hangat untuknya. Setelah membayarnya, aku langsung berlari menghampiri mas Bastian.


Mas Bastian tampak kedinginan. Wajahnya pucat, dan bibirnya terus gemetar. Aku pun duduk di sampingnya.


"Mas, minumlah ini! Kau kedinginan. Ini bisa membantumu agar merasa hangat," ucapku seraya menyodorkan teh hangat untuknya.


Mas Bastian menatapku heran. "Mengapa kau masih saja baik padaku?"


"Karena ini masih kewajibanku," jawabku.


"Kau membuatku semakin dilema."


"Dilema? Kenapa?"


"Aku sedang berpikir, untuk menunda tentang perceraian kita."


Aku terkejut mendengarnya. "Bukankah, kau dan Bella akan segera menikah? Aku tidak mungkin dipoligami, kan?"


"Bukan begitu. Ini tidak ada hubungannya dengan Bella ataupun poligami. Ayah shock dengan keputusan kita untuk bercerai. Sepertinya, lebih baik kita menundanya dulu beberapa waktu. Demi ayah!" tuturnya.


Mas Bastian pun menerima teh hangat tersebut. Ia meminumnya sambil terus menatapku. Sedangkan aku masih mencerna kata-kata mas Bastian.


"Imania ... aku sadar. Aku sudah menjatuhkan talak kepadamu. Tapi ... izinkan kita bersama lagi. Aku tidak akan menyentuhmu. Kita cukup hidup bersama. Ini ... ini hanya demi ayah! Kumohon ...."


"Mas, aku ...."


Mas Bastian meraih jemariku. "Satu hal lagi. Aku ... aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Dimas. Aku melihat, sepertinya dia ingin mempermainkanmu. Kau tahu, kan, Dimas sudah bertunangan. Jadi ... kumohon agar kau jangan tergoda olehnya."


Aku menatapnya dengan bingung. Aku tidak mengerti kenapa mas Bastian tiba-tiba berubah pikiran. Jika ini memang karena ayah, mungkin aku bisa mempertimbangkannya.


"Imania ... statusmu secara hukum, masih sah sebagai istriku. Jadi ... tolong jaga jarak dengan Dimas." Dia menatapku tajam.


"Mas ... kau makanlah dulu. Biar nanti kupertimbangkan, ya?"


"Imania ... setujui dulu. Baru aku mau makan!"


Aku menghela napas dalam. Mencoba mempertimbangkan. "Lalu, bagaimana dengan Bella?"


"Aku akan memintanya untuk mengerti keadaan ini. Dia pasti mau memahamiku. Lagi pula ini menyangkut kesehatan ayah."


"Kau tetap akan bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya, kan?"


"Aku pasti bertanggung jawab. Tapi tidak untuk sekarang. Karena ini akan membuat masalah untuk kesehatan ayah."

__ADS_1


Aneh! Mas Bastian begitu semangat saat itu, untuk menikah dengan Bella. Dan sekarang, ia berniat menunda pernikahannya, serta perceraiannya.


"Kumohon ...."


Dengan segenap pertimbangan, akhirnya aku pun menyetujuinya. "Baiklah, Mas. Kita akan bersama untuk sementara waktu. Demi ayah ...."


Mas Bastian tersenyum lebar. Senyum itu terasa berbeda. Senyum yang menggambarkan perasaan sangat bahagia.


"Sekarang aku mau makan. Tolong, suapi aku!" pintanya dengan semangat.


Aku tidak mengerti dengannya. Dia terlihat berbeda dari mas Bastian biasanya. Tatapannya, senyumnya, ada apa dengan dirinya. Dia juga menjadi sedikit manja. Aku pun menyuapinya.


***


Malamnya, kami duduk bersama di depan ruang ICU. Aku, ibu, dan mas Bastian masih terus berharap agar ayah segera siuman. Ibu sama sekali tidak bicara dengan mas Bastian. Sepertinya, ia belum bisa membuka pintu maaf untuk mas Bastian.


"Selamat malam?" Seseorang datang menyapa kami.


"Selamat malam, Dokter," balas ibu seraya berdiri.


Aku dan mas Bastian pun ikut berdiri. Dimas melirikku seraya tersenyum. Aku pun membalas senyuman itu. Tetapi tiba-tiba, mas Bastian meraih jemariku. Ia menggenggam tanganku erat sekali. Aku pun mengalihkan pandanganku dari Dimas.


"Satu hal lagi. Aku ... aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Dimas. Aku melihat, sepertinya dia ingin mempermainkanmu. Kau tahu, kan, Dimas sudah bertunangan. Jadi ... kumohon agar kau jangan tergoda olehnya."


"Imania ... statusmu secara hukum, masih sah sebagai istriku. Jadi ... tolong jaga jarak dengan Dimas."


Aku mengingat perkataan mas Bastian tadi pagi. Dimas pun terlihat tidak senang melihat ke arah kami. Maafkan aku, Dimas ... ini semua kulakukan demi ayah.


"Aku akan memeriksa kondisi Pak Ahmad," katanya kemudian masuk ke ruang ICU tersebut.


Kami pun mengikutinya masuk. Di dalam ruangan, Dimas mengecek bedside monitor yang berdiri di samping ayah. Alat tersebut merupakan pemantau detak jantung, nadi, serta tekanan darah ayah.


Ibu mendekat dan menggenggam jemari tangan ayah. "Kapan kau bangun ...," ucap ibu lirih. "Bertahanlah untukku. Kau pernah berjanji padaku, kan? Untuk tidak pergi tanpa pamit?"


Ibu pun terisak. Ia menciumi tangan ayah. Dan, sesuatu yang tak terduga pun tiba-tiba terjadi.


"Ya, Tuhan!" seru ibu terkejut. "Dokter! Jemarinya bergerak!"


Dimas pun segera memastikan. Kami semua memperhatikan pergerakan jemari tangan ayah. Iya, benar! Jarinya bergerak. Napas kami seolah tertahan, saat kelopak mata itu pun mulai terbuka perlahan. Rasa syukur tak terkira dari dalam hati kami.


"Ayah!" seru ibu.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Hei, Kalian, Readers Tersayang?


Coba tebak, kira-kira apakah mereka akan kembali? Apa yang akan mereka katakan di depan ayahnya yang baru bangun dari koma?


Yeay! Kita tunggu di episode selanjutnya, ya? Setengah jam lagi, ya? Sabar ... sabar ....


Iklan dulu, wkwk.


Pokoknya debar-debar, deh!

__ADS_1


Salam Sayang Dari Author Keceh! Semoga novel ini selalu bisa menemani hari-harimu?


Thank You! đź’–


__ADS_2