BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Hujan Di Bumi Basah Di Hati


__ADS_3

Setangkai bunga mawar putih ia tujukan padaku. Bunga mawar putih, bunga yang pertama kali ia berikan padaku dulu. Lambang kesucian cinta. Di tempat yang sama persis seperti dulu. Nostalgia itu terputar kembali. Perlahan, rasa pedih itu menyelinap kembali. Aku sama sekali tidak ingin mengingat memori yang telah usang. Yang hanya semakin membuka luka itu, menganga kembali.


Aku menatap setangkai mawar putih di tangannya. Kemudian menatap wajah lelaki di hadapanku. Seuntai senyum mengembang di wajahnya. Sejenak mata kami saling bertemu. Ada sesuatu yang kutemui di sana. Sorot mata itu mengisyaratkan sesuatu. Yang tiba-tiba merasuk ke dalam kalbu. Ada debar dan getar aneh di dada. Tersadar, kualihkan pandangan pada bunga mawar putih yang masih digenggamnya.


"Kenapa diam saja. Ini, untukmu," katanya seraya menyodorkan bunga tersebut.


"Di. Aku ... aku tidak bisa."


"Kenapa? Bukankah kamu suka mawar putih? Lambang cinta kita."


Aku membalikkan badan, melangkah menuju bangku taman. Kududukkan tubuh di bangku sepanjang tiga meter tersebut. Dimas mengikuti. Ia pun duduk di sebelahku, masih dengan bunga mawar putih di tangan.


"Di, jelas-jelas ini salah," ucapku seraya menunduk.


"Apanya yang salah?"


Aku menghela napas. Mencoba menahan sesuatu yang membuat dada ini terasa sesak. Kutengadahkan wajah, memandang bebas ke langit. "Di. Cinta itu indah. Tetapi cinta tak selalu menjadikan hidup kita indah. Kadang-kadang, cinta datang di waktu dan tempat yang salah. Bukannya keindahan yang kita dapat, justru kesedihan dan kepedihan. Cinta yang salah, tak akan berakhir indah. Hanya akan membuat bumerang dalam kehidupan. Bahkan, dapat melukis jurang yang sangat curam. Sehingga semua rasa yang pernah menjadi arti. Hanya akan menorehkan luka. Dan cinta itu lenyap sia-sia."


Dimas hanya diam, mendengarkan kata-kataku.


Aku menoleh padanya. Ingin rasanya mengatakan ini seraya menatap kedua netra elangnya. Namun, aku tak mampu. Kualihkan kembali pandangan ke arah entah. "Aku memang pernah mencintaimu. Bahkan, pernah sangat mencintaimu. Tapi itu dulu. Sebelum kamu pergi meninggalkanku. Sulit rasanya berada jauh darimu. Rasa cemburu dan curiga terus membayangi pikiranku. Sampai akhirnya, kamu benar-benar lepas dari pikiranku. Pelan-pelan ... aku belajar untuk hidup tanpamu. Dan itu bukanlah hal yang mudah. Aku kesepian. Hingga di dalam sepi aku terbiasa, tanpamu."


Kusunggingkan sebuah senyum penutup luka. Dengan mata berkaca-kaca, kulanjutkan perkataanku. "Kamu pikir, saat itu aku biasa saja? Tidak! Aku tersiksa. Aku bersikeras melepasmu. Membiarkan Pangeran Elangku terbang menggapai mimpinya. Aku sadar, aku juga harus mengejar impianku. Belum sempat aku menggapai impian itu. Aku harus ikhlas, membiarkannya hidup bersama takdirnya."


Ia meremas mawar putih tersebut, kemudian membuangnya. Kedua tangannya meraih pundakku. Menghadapkan tubuh ini padanya. Tak kuasa menatapnya, aku menunduk, perlahan bulir bening itu menetes.


"Takdir? Siapa yang tahu takdir kehidupan seseorang? Takdir itu ada di tangan kita, Nia! Dan takdirku adalah hidup bersamamu!"


Aku berusaha mengubah posisi dudukku, agar tidak menghadapnya. Tapi dia menahanku.


"Takdir kita berbeda, Di. Kita sudah ditakdirkan dengan jodoh kita masing-masing. Aku dan Bas--"


"Stt ...." Dia menempelkan telunjuknya ke bibirku. "Dimas dan Imania. Tidak ada yang lain. Pangeran Elang dan Putri Angsa!"


"Di. Boleh aku minta sesuatu darimu?"


"Apa pun. Asal jangan memintaku untuk menjauhimu. Aku tak bisa, Nia!"


Deg! Seperti membaca pikiranku. Itulah yang hendak kukatakan. "Di. Apa kamu seegois itu. Akankah kamu membawaku ke jurang dosa? Aku tidak seburuk dan sekeji itu, Di!"


"Siapa? Siapa yang akan membawamu ke jurang dosa? Aku?" Dia mengangkat kedua alis tebalnya, menatapku dalam.


"Apa kamu tidak sadar? Kamu menyakiti hati seseorang. Kamu sudah menyakiti Nessa." Kubalas tatapan itu serius.


"Kamu juga sudah menyakitiku."


Percuma bicara dengannya. Dia sama sekali tiada mengerti perasaanku. Dia membuatku semakin berkubang di dalam perasaan bersalah dan dosa. Aku berdiri. Melangkahkan kaki, beranjak menjauh, tapi dia mencekal pergelangan tanganku.

__ADS_1


"Tunggu! Aku tidak bisa menerima alasanmu. Berilah alasan yang paling tepat agar aku dapat berhenti mengusikmu!" Kemudian ia berdiri menghadapku. "Aku juga tersiksa akan perasaan ini, Nia! Tapi ... tapi aku tidak bisa berbohong, bahwa aku masih sangat mencintaimu."


Dia meletakkan kedua tangannya ke pipiku. "Tidakkah kau mengerti itu? Aku tahu ... aku tahu aku bersalah. Mencintaimu, istri dari sahabatku sendiri. Aku mengkhianati Bastian. Aku memang tega! Jahat! Tetapi aku tak mampu berpura-pura untuk tidak mencintaimu, Nia!"


"Aku ingin setia, Di! Jangan membuatku dalam masalah. Jika saja boleh meminta, aku ingin kamu pergi sejauh-jauhnya dariku. Aku sudah tenang tanpamu. Mengapa kamu datang lagi? Kamu sendiri yang pergi, lantas apa lagi harapan palsu yang mau kau tawarkan?"


Sesaat ia menunduk dalam, lalu mengangkat wajahnya kembali. Menatapku semakin dalam. "Dengar! Kembalilah padaku. Aku janji akan memperbaiki kesalahanku. Tak akan membiarkanmu sendiri lagi. Tak akan memberimu harapan palsu dan janji imitasi lagi. Aku akan membahagiakanmu. Ceraikan Bastian!"


Aku menatapnya tak mengerti. "Kau ini lucu!" Aku sedikit terkekeh. "Apa sejahat itu kau ingin menghancurkan kehidupan kami? Sungguh, suamiku telah salah menganggapmu sahabat terbaiknya."


Tangannya meremas pipiku lembut. "Tatap aku, Nia!"


Aku mencoba menghindari tatapannya.


"Tatap aku!"


Kupaksakan diri untuk menatapnya, tapi tak bisa. Sorot matanya begitu tajam mengawasi pikiranku yang sedang tak keruan.


"Katakan, bahwa kau tak mencintaiku!"


Aku terhenyak. Diam. Tak mampu menyanggupi permintaannya.


"Katakan sejujurnya, Nia! Biar aku tahu, apa yang sebenarnya kamu rasakan padaku. Benarkah, kamu sudah mengempas diriku dari hatimu?" Tangannya kembali meremas pipiku lembut. "Katakan! Tatap aku!"


"Aku tidak mencintaimu!" kataku seraya menunduk.


Perlahan kurasakan ada sesuatu yang menempel lembut di bibir. Menyentuh tiap sudut bibir ini pelan-pelan. Mengaliri hati ini dengan rasa yang hangat. Membuat getaran-getaran halus tersendiri. Aku masih terpejam. Dan aku pasrah. Aku pasrah menerima kemesraaan yang bergelora. Ini benar-benar gila! Diri ini tak bisa lepas dari pengaruh cintanya. Bahkan diam-diam aku mulai menikmatinya.


Pelan-pelan ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Kubuka kelopak mata ini. Desiran di dadaku semakin bergemuruh. Berada lama-lama di dekatnya membuatku lupa, siapa diriku. Aku adalah istri orang. Dan aku telah berdosa. Bayangan mas Bastian menyadarkanku. Aku harus segera kembali ke rumah. Berada bersama dokter elang, hanya akan membuatku hanyut ke dalam masalah.


Aku berlari menjauh, bersamaan tetes-tetes air hujan yang berlomba-lomba untuk sampai ke bumi. Suara petir mulai berdentuman. Bersama hatiku yang dirundung bimbang. Aku terus berlari. Jarak rumah yang masih terlampau jauh membuatku semakin ingin segera pulang. Langit semakin menghitam. Hujan di bumi, basah di hati. Seakan memahami perasaanku yang sedang pilu. Tak menentu.


"Nia!"


Dokter itu ikut berlari, mengekor di belakangku. Namun, aku tak menoleh. Dia hanyalah masa laluku, bukan masa depanku!


"Nia, tunggu! Kau bisa sakit kehujanan!" serunya masih mengejarku.


Kakiku mulai lelah berlari. Aku pun berhenti sejenak mengambil napas. Tubuhku sudah basah kuyup. Tapi aku harus tetap berlari. Dan saat kakiku akan melangkah lagi, tiba-tiba dia menangkap tubuhku. Dia memelukku dari belakang. Napas kami terengah-engah, bersahutan.


"Jangan lari dariku, Nia. Aku mencintaimu!" bisiknya di telingaku.


Air hujan berjatuhan di wajahku. Seakan berusaha menutupi air lain yang masih berjatuhan di pipiku.


Ia mendekap erat tubuhku yang membelakanginya. "Aku bisa merasakan. Kamu masih mencintaiku, Nia. Terima kasih ...."


"Di, lepaskan aku!" Aku mencoba berontak.

__ADS_1


"Tidak akan!"


"Pria bodoh!"


"Lebih baik bodoh, daripada jadi pecundang. Apa pun akan kulewati demi mendapatkan dirimu lagi."


"Kau menyia-nyiakan waktumu! Aku tidak bisa, Di!"


"Tapi aku bisa, Nia!"


"Kau tidak waras!"


"Benar! Lebih baik tidak waras. Daripada munafik!"


"Kau mengatakan aku munafik?"


"Aku tidak bilang begitu. Apa kau tersinggung?"


"Lepaskan!"


Dia menempelkan pipinya menyentuh pipiku. "Apa kau tak merasakan, ini hangat sekali."


"Kau gila!"


"Sudah berapa kali kau menganggapku gila?"


"Mas Bastian akan segera membunuhmu!"


"Tak apa. Asalkan aku bisa merasakan cintamu, aku rela!"


Aku terhenyak lagi. Dimas benar-benar nekad.


"Apa kau tak merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tubuhmu?"


Kurang ajar! Aku langsung berontak. Aku berhasil melepaskan dekapannya. Kubalikkan tubuhku menatapnya penuh amarah.


"Bagaimana bisa seorang mesum sepertimu menjadi dokter!"


Dia terkekeh. "Melihat tatapanmu seperti ini, membuatku semakin bernafsu."


Aku berusaha menahan amarah yang masih membuncah di dada. Ingin rasanya segera enyah darinya. Namun, Dimas memaksaku untuk kembali ke mobil. Dengan terpaksa aku pun menurut. Sampai di mobil, ia mengambil jaket, dan meletakkannya ke tubuhku.


"Pakailah! Nanti kalau kau sakit. Tak ada lagi yang bisa kugodai."


Aku mengembus napas kesal. Mengalihkan pandangan.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2