
Aku tidak mengerti skenario Tuhan. Aku hanya menjalaninya dengan ikhlas. Apapun yang Tuhan kehendaki, kuterima dengan lapang hati. Aku sadar, tak ada gunanya menyesal. Yang hanya akan membuat hidup ini terasa menyengsarakan. Hanya saja ... aku selalu dirundung bimbang. Kadang-kadang, hidup ini aneh. Aku merasa sudah menjalaninya dengan benar. Namun, tetap saja. Cobaan selalu hadir satu per satu, menghampiriku. Mungkinkah ini yang dinamakan nasib. Harus tetap sabar dan tegar, separah apapun rasa sakit yang tengah kurasakan. Tuhan ... aku tidak mengerti semua ini ....
"Ima ...."
"Nak? Kau sudah sadar?"
Suara dua orang yang begitu kuhormati. Pelan-pelan kubuka kelopak mata ini. Kepalaku masih sangat pusing. Samar-samar aku melihat satu sosok bayangan di depan mataku. Apa aku sedang bermimpi? Kukucek mataku, berharap dapat melihatnya dengan jelas. Tetap saja, ada sosok itu di depanku. Sosok tersebut mendekat, hingga sepenuhnya kusadari. Ini bukanlah mimpi.
Aku menoleh pada ayah dan ibu mertuaku. "Apa yang terjadi, Bu? Mengapa aku ada di sini?"
"Ima, semalam kau pingsan. Karena lama sekali kau tak sadarkan diri, jadi kami membawamu ke sini. Kami sangat mengkhawatirkanmu, Ima," jelas Ibu seraya menggenggam lembut tanganku.
"Di mana Arka?"
"Dia sudah kami antarkan ke rumah ibumu untuk sementara," kata ibu mertua.
Perlahan ingatanku kembali pada kejadian semalam. Kepalaku kembali terasa pusing. Oh, sakit sekali.
"Ima, tenangkan pikiranmu. Jangan pikirkan kejadian semalam dulu, ya? Kita bisa membicarakannya baik-baik nanti," kata ibu menasehati.
Aku kembali menatap dokter yang masih berdiri memperhatikanku. Terlukis raut iba di wajahnya.
"Maaf, bisa tinggalkan kami berdua? Saya ingin bicara empat mata dengan pasien," kata Dimas.
"Oh, ya, baiklah, silakan ...." Ibu pun berdiri dan beranjak meninggalkan kami berdua. Begitupun ayah yang beranjak mengekornya.
Pintu ruang opname itu pun tertutup rapat. Kududukkan tubuhku. "Jangan menatapku seperti itu!"
"Dalam keadaan seperti ini saja kau masih sangat jutek," ledeknya.
Aku tak menanggapinya. Ia berjalan mendekat, kemudian duduk di kursi samping ranjang.
"Kau tampak sangat pucat."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa."
"Sungguh ... aku sangat kasihan padamu."
"Tidak perlu! Aku tidak butuh dihiba orang lain."
Dia mendekat lagi, menatapku, dan meraih tanganku. Entah mengapa aku membiarkannya begitu saja. Aku membiarkan ia meremas lembut jemariku. Mungkin, rasa kecewa yang masih meremuk hatiku, membuatku lupa akan statusku sebagai istri orang. Lagi pula, mas Bastian sudah menyakitiku.
Krek! Gagang pintu itu tiba-tiba terbuka. Cepat-cepat kutarik tanganku darinya.
"Selamat pagi?" Seorang suster yang kemarin itu lagi-lagi muncul. Ia meletakkan makanan di meja samping ranjangku.
"Selamat pagi, Sus?" balasku.
"Kenapa kamu yang mengantar? Ini bukan tugasmu, bukan?" tanya Dimas kepada suster tersebut.
"Aku melihatmu masuk ke ruangan ini. Jadi, aku berinisiatif sendiri untuk mengantarkan sarapan untuk pasien," jawabnya sambil tersenyum genit.
"Untuk menemuimu, Tampan!" ucapnya seraya menyentuh dagu dokter elang tersebut.
"Hei! Jangan menyentuhku! Sudah, keluar sana!"
Suster tersebut pun pergi meninggalkan ruangan ini, lalu menutup pintu tersebut dengan gembira. Aku tertawa melihat tingkah lucu suster itu.
"Aku senang kau bisa tertawa."
Aku pun berhenti tertawa. "Eghem! Aku ... hanya lucu melihat tingkahnya."
"Itu baru satu. Masih banyak yang lain. Bahkan lebih parah dari suster Lia," katanya.
Oh, jadi nama suster itu 'Lia'. "Wah, senang donk? Banyak fans."
"Aku tidak se-playboy Bastian!"
__ADS_1
Mendadak mimik wajahku berubah ketika mendengar nama tersebut.
"Kenapa? Bukannya kau sangat membanggakannya? Bukankah Bastian begitu setia di matamu? Bahkan, kau bilang dia lebih baik dariku. Dia lebih lembut ... lebih perhatian ... penyayang ... tanggung jawab--"
Dia menghentikan kata-katanya. Dia menyadari bulir-bulir bening yang mulai turun dari mataku.
"Nia, maaf ... aku ... aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu."
Dimas berdiri lalu duduk di ranjang. Ia menatapku dengan iba, lalu dihapusnya satu per satu air yang terus meluncur dari mataku. Aku pun semakin terisak. Ingin rasanya aku teriak. Menumpahkan segala kerisauan hatiku. Namun, Dimas segera memelukku. Ia mendekapku dengan lembut. Untuk pertama kalinya aku tidak melawan. Aku tenang berada bersamanya. Aku tenang berada dalam pelukannya.
Dimas mengusap-usap punggungku lembut. Dengan air mata yang terus mengalir, aku terisak dalam bahunya. Bahu yang dulunya adalah milikku. Bahu yang selalu datang menghangatkan. Aku sudah sangat salah menilainya. Dimas ... Dimas ... aku tak dapat lagi menolakmu.
"Menangislah, jika itu bisa mengeluarkan segala sesak di dadamu. Meski tidak menyelesaikan masalahmu. Tetapi setidaknya, itu dapat melegakanmu. Aku di sini bersamamu. Selalu bersamamu. Aku ... aku masih setia dan bersedia menerimamu kembali, Niaku ...."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Menangis ... dan menangis. Sedih atas kenyataan yang teramat perih ini. Sekaligus terharu atas kesetiaan Dimas padaku. Sungguh ... skenario apalagi yang akan terjadi.
Dalam bahunya, kurasakan detak jantung dokter elang ini selaras denganku. Dadanya berdegup kencang, sama persis seperti yang saat ini kurasakan.
"Nia, kembalilah padaku ...," ucapnya lembut.
Krek!
Tiba-tiba pintu itu terbuka. Buru-buru kulepaskan pelukannya. Betapa terkejutnya, seorang dokter yang sangat cantik itu berdiri memandang ke arah kami.
"Nessa!" ucapku dengan wajah memerah karena takut.
-- BERSAMBUNG --
Maaf kalau penulisannya kurang rapi, ya? Bulan depan akan Author rapikan. Saat ini, Author ingin menulis sebanyak-banyaknya untuk kalian penggemar IMANIA & DOKTER TAMPAN.
Jangan bosen ya? Thank You ....
__ADS_1