BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Merindukanmu


__ADS_3

Malam yang sepi. Arka sudah tidur, begitupun Fania. Sedangkan aku, masih duduk sendiri di sofa. Kulirik waktu di handphone, menunjukkan pukul 23.00 WIB. Ini sudah sangat larut, dan aku sama sekali belum mengantuk.


Kulangkahkan kaki ini keluar menuju balkon. Sembari menggenggam handphone. Kemudian aku duduk di kursi balkon. Entah mengapa, rasanya sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Sangat berbeda dengan malam-malam biasanya. Ketika hatiku dipenuhi oleh kalimat mesra darinya. Seseorang yang selalu mengisi hati ini dengan cinta dan warna-warna indahnya.


Tiba-tiba, aku tertarik untuk membuka chat berisi pesan darinya. Ku-scroll pesan itu dari atas. Awal ketika dia mengirimiku pesan.


Flashback Episode 73, ya?


[Sedang apa, Sayang?]


Dari nomor tanpa nama. Tetapi segera ku-cek foto profil kontak tersebut. Aku senyum-senyum sendiri melihat foto itu. Sebuah foto seseorang yang sedang memasang ekspresi jelek sekali. Lidahnya menjulur ke depan, matanya melotot, dan kedua belah pipinya ditariknya menggunakan kedua tangannya.


Aku tersenyum mengingatnya kala itu.


[Aku tebak, kau sedang senyum-senyum sendiri.]


Aku pun membalasnya sambil terus tersenyum.


[Kau sangat jelek!]


[Tapi kau suka, kan?(emot mengedipkan mata)]


[Kau sedang apa?] tanyaku.


[Sedang memikirkanmu.]


Aku seperti orang gila dibuatnya saat itu. Aku tersenyum sendiri setiap membaca balasan darinya.


[Hm ....] balasku.


[Jangan hm. Nanti kukira yang balas Nissa Sabyan.]


[Apa kau tidak sibuk?]


[Aku sibuk. Bahkan, sekarang semakin sibuk.]


[Kalau begitu, jangan main handphone terus.]


[Kenapa?]


[Kau bilang sedang sibuk, kan? (emot cemberut)]


[Aku sibuk memikirkanmu. (emot love)]


[Aku mau tidur.]


[Biar aku temani, ya?]


[Jangan!]


[Baiklah, tunggu kita resmi menikah. Aku akan menemani tidurmu. Kau harus siap menjadi gulingku. Aku lelah memeluk guling yang tidak ada nyawanya. (emot nangis)]


Aku tertawa membaca balasan tersebut.

__ADS_1


[Aamiin ...,] balasku.


Mengingat itu semua, aku dibuatnya senyum-senyum sendiri. Begitulah Dimas. Walau terkadang menyebalkan, tapi dia begitu humoris dan mampu menghiburku. Meski hanya lewat pesan chat atau telepon. Dia membuatku bahagia dengan hal-hal kecil yang ia lakukan.


Aku kembali mengingat saat itu, di dalam mobil saat mengantarkanku pulang. Dimana ia mencuri nomor handphone-ku.


"Nia, boleh kupinjam handphone-mu?"


"Untuk apa?"


"Berikan padaku."


Aku pun memberikan handphone tersebut padanya. Lalu ia memanggil sebuah nomor. Kemudian handphone miliknya berdering. Dan ia pun memberikan kembali handphone-ku.


"Sudah, ini!" katanya seraya mengembalikan handphone milikku.


"Ya, sudah. Terima kasih, telah mengantarku," ucapku seraya membuka pintu mobilnya.


"Nia!"


"Ya?" Aku menoleh kembali padanya.


"Tutup pintunya sebentar!"


"Kenapa?"


"Tutup dulu, baru kuberitahu."


Aku pun menutup kembali pintu mobilnya. Lalu Dimas menekan remote kecil di tangannya. Perlahan kaca mobil itu naik, dan tertutup rapat. Aku menatapnya gugup. Ia pun segera mendekat. Jantungku kembali berdetak kencang. Aku meremas rokku sendiri.


Dia semakin mendekat ... mendekat. Hingga wajah kami berada lima sentimeter. Mata elang itu menatapku lekat-lekat. Dan secara sadar kupejamkan mata ini. Dalam terpejam aku merasakan ada sesuatu yang hangat di telinga. Deru napasnya menyentuh telingaku.


"Aku hanya ingin bilang. Jangan lupa makan, ya?" bisiknya.


Sontak kubuka mata ini. Kurasa wajahku memerah bak kepiting rebus. Aku malu sekali. Saking malunya, aku pun mendorong tubuhnya.


"Kenapa? Apa yang kau pikirkan tadi?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


Aku sangat malu. Buru-buru kuambil tasku, dan memintanya membuka pintu mobil tersebut.


"Cepat, buka pintunya, Di!"


"Kenapa buru-buru?"


"Aku lelah. Aku mau istirahat!" jawabku tanpa memandang wajahnya.


"Kau sangat lucu!"


"Di! Cepat buka!"


"Apa kau tidak ingin meneruskan yang tadi kau pikirkan?"


"Apa maksudmu! Aku tidak memikirkan apa-apa!"

__ADS_1


Namun, Dimas meraih wajahku. Dengan cepat ia kecup bibirku lembut. Detak jantungku serasa terhenti. Kemudian ia menarik bibirnya kembali. Dan setelah itu detak jantungku kembali berdetak kencang.


"Vitamin C, agar kau tidak mudah sakit," katanya.


Tidak terasa kedua mataku terpejam membayangkan itu semua. Aku selalu tersenyum mengingatnya. Terlalu banyak hal indah bersamanya. Yang tidak akan mudah kulupakan, kecuali jika aku amnesia.


Kubuka kedua mataku kembali. Terasa sesak dadaku bila merindukannya. Lelaki yang sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain. Oh, ini gila. Aku sangat merindukannya. Aku ingin dia bersamaku lagi. Tidak! Itu tidak benar. Aku harus move on! Walau kenyataannya sulit.


Kuberanjak menuju tepi balkon. Berdiri menatap langit hitam. Menghirup udara malam yang terasa begitu dingin. Kupejamkan kedua mataku kembali, membiarkan angin malam membelai seluruh tubuhku. Membalut hati ini agar terasa sejuk. Ingin kukeluarkan segenap rasa sesak yang membuncah di dadaku. Mengingat tentangnya. Tentang dirinya.


Kupejamkan dengan erat kedua kelopak mata ini. Seakan menekan tombol hapus di memori otakku. Namun, tiba-tiba ... terdengar suara mobil di depan pintu gerbang rumahku. Suara mobil itu tidak asing bagiku. Sangat familiar.


Segera kubuka kelopak mata ini, memandang ke arahnya. Dalam gelap, samar-samar mobil tersebut beranjak dari depan gerbang rumahku. Kukerjap-kerjapkan kedua mataku. Apa barusan ... adalah mobil milik Dimas. Atau ... aku berhalusinasi. Jika benar itu adalah mobilnya, lalu untuk apa dia di depan gerbang? Apa dia hanya lewat, atau karena dia juga merindukanku.


***


Pagi menyapa, menggunggah jiwa ini untuk kembali siap menjalani hari-hari. Aku bangun dan segera mempersiapkan diri untuk mandi dan melakukan aktivitas.


Aku lupa pukul berapa semalam tertidur. Seingatku, pukul 23.45 WIB aku beranjak dari balkon, kemudian membaringkan diri di kamar sembari mendengarkan lagu.


Setelah siap untuk berangkat ke kantor, aku mengambil handphone dari atas bantal.


"Ya Tuhan, handphone-ku mati," gumamku.


Aku lupa untuk mengecasnya. Kumasukkan handphone ke dalam tas. Lalu bergegas menuju kamar Fania. Membangunkannya, memintanya untuk menjaga Arka yang masih terlelap.


Setelah itu aku turun dan menunggu Rudi di teras rumah. Tidak biasanya Rudi lama sekali menjemputku. Kulirik jam di tanganku. Sudah pukul setengah delapan.


Aku masih menunggunya. Tetapi sampai pukul delapan Rudi tak kunjung datang. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Lagi pula, biasanya 15 menit juga sampai.


Di perjalanan, aku masih berpikir, kenapa Rudi tak menjemputku. Atau ... mungkin dia ada urusan penting, sehingga tak bisa mengantarku pergi ke kantor.


Kulirik jam tanganku kembali, sudah pukul 08.10 WIB. Aku sudah telat masuk kantor. Kupercepat langkah. Saat aku sedang berjalan di sisi jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil hitam yang melintas pelan melewatiku. Seorang wanita duduk di kabin sebelah kiri. Nessa. Dia melirik ke arahku sembari tersenyum. Senyuman yang tampak begitu berarti. Bahwa ia senang bisa mengambil jodohnya kembali.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Readers Keceh?


Masih banyak yang belum memberikan KECUPAN BINTANG LIMA buat Novel ini, ya?


Hm ... Author butuh banget dukungan kalian, loh?


Cuss, Author minta RATE BINTANG LIMA, boleh, ya? Bantu Author Keceh mempertahankan karya ini di Noveltoon, please ....


Oh, ya?


Mulai besok, novel ini akan UP dua kali per hari seperti biasa. Yaitu pukul ENAM PAGI plus PUKUL TUJUH MALAM.


Doakan semoga Author Keceh lancar terus ngetiknya, ya? Supaya bisa memberikan yang terbaik untuk kalian.


Selamat Berpuasa bagi yang menjalankan.

__ADS_1


THANK YOU...!


__ADS_2