BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Serangan Bullying


__ADS_3

Dimas ikut terkejut melihat truk yang melaju kencang ke arah kami. Dia segera menginjak rem. Dadaku berhenti berdetak. Napasku tertahan sesaat. Tuhan ... tolong kami! Jangan biarkan kami mati dalam keadaan naas seperti ini. Arka ... Arka. Aku teringat anakku. Kupejamkan mataku. Mobil truk itu semakin dekat.


"Allahu Akbar!" teriakku seraya memejamkan mata.


Tiba-tiba sebuah pelukan mendekap tubuhku erat.


BRAKK!!


Terdengar bunyi yang begitu keras. Dan aku masih terpejam di dalam pelukan. Apa aku sudah mati? Namun, tubuhku tidak merasa sakit.


"Nia ... kita selamat!"


Aku mendengar suara bergetar dari seseorang yang mendekapku. Perlahan kubuka kelopak mataku. Dimas pun melepaskan pelukannya. Kutatap sebuah truk sekitar tiga meter dari mobil kami. Truk tersebut menabrak sebuah pohon besar. Bentuk kepala mobil tersebut sudah tak teratur lagi.


Aku terisak. Tuhan ... engkau menjaga dan melindungi kami. Terima kasih, ya Rabb.


"Nia, kita selamat!"


Kualihkan pandangan pada Dimas yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. Diraihnya tubuhku kembali ke pelukannya.


"Aku tidak bisa memaafkan diriku, bila sampai terjadi sesuatu padamu," ucap Dimas masih dengan nada bergetar.


"Tuhan masih melindungi kita," ucapku.


"Nia, maafkan aku. Aku hampir saja membuatku celaka."


Kulepaskan pelukannya, menatapnya dengan mata yang basah. "Ini bukan salahmu. Ini juga bukan salah siapa-siapa. Jika terjadi sesuatu, itu adalah takdir. Termasuk hubungan kita," ucapku sambil menatapnya dalam.


Dimas meraih leherku, mendekatkan wajahnya untuk menempelkan sesuatu yang lembut itu pada bibirku. Tapi aku segera menahannya.


"Ayo, kita turun. Ada tugas yang lebih penting daripada mensuplai vitamin C kepada yang sehat. Turunlah. Dan cek sopir truk itu," ucapku sembari mengusap wajahku yang basah.


Kubuka pintu mobil tersebut. Lalu Dimas pun ikut keluar. Orang-orang ramai berdatangan untuk melihat kejadian tersebut.


"Sepertinya remnya blong! Untung tidak terjadi tabrakan. Aku tidak bisa membayangkan bila sampai terjadi kecelakaan beruntun." ucap salah satu sopir taksi online yang juga melintas tadi.


Beberapa orang berkerumun di sekitar mobil kami.


"Nasib baik padamu Pak Dokter," ucap salah seorang warga pada Dimas.


"Sopir truk segera banting stir dalam posisi jarak sekitar lima meter dari mobil hitam mewah itu!" seru seseorang lagi yang berkomentar.


Begitu banyak dugaan-dugaan yang keluar dari mulut-mulut sopir dan warga yang sempat melihat kejadian naas tersebut.


"Nia, kau tunggu di sini. Jangan mendekat!" ucap Dimas padaku.


Jangankan mendekat. Kakiku masih gemetaran berdiri di sini. Aku sungguh bersyukur, karena Tuhan menjaga kami dari maut. Akan tetapi, bagaimana dengan nasib sopir truk itu?


Dimas berjalan menuju kepala truk tersebut. Beberapa orang mengikuti langkah Dimas.


"Awas! Banyak pecahan kaca!" seru Dimas kepada orang-orang yang ikut penasaran terhadap nasib sopir truk tersebut.


Suara sirine mobil polisi terdengar bersahutan. Beberapa polisi pun segera mengevakuasi korban. Ada yang mengambil foto. Ada pula yang mewawancarai warga.


Tubuh sopir truk itu sedang diangkat dan dibawa ke pinggir jalan. Aku bergidik ngeri. Kutangkupkan kedua tangan ke wajahku, setelah mendapati sebuah kepala yang dipenuhi darah segar itu.


"Dokter, bagaimana korban ini? Apakah dia masih hidup?" terdengar suara seseorang yang sedang bersama Dimas. Aku tidak tahu siapa, mungkin polisi. Karena aku tidak tega melihatnya.


"Dia ... dia sudah meninggal."


Apa? Sopir itu meninggal. Ya, Tuhan ... kasihan sekali nasib sopir truk itu. Bagaimana jika Tuhan tadi mengubah nasibku dan Dimas.


Sebuah tangan menyentuh lenganku yang tengah berusaha menutupi pandanganku. Kulepaskan tanganku dari wajahku yang basah, karena bulir bening itu terus berjatuhan. Sebuah pelukan kembali mendekap tubuhku.

__ADS_1


"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, jika sampai terjadi sesuatu padamu, Nia."


"Imania!"


Suara seseorang membuat kami melepaskan pelukan.


"Kau tidak apa-apa?" Suara yang begitu kukenal.


"Mas Bastian," panggilku saat mendapatinya yang sedang berdiri beberapa meter dariku.


"Ayo, kuantar kau pulang. Kau tidak perlu pergi ke kantor hari ini," ucap Dimas seraya mengusap wajahku.


"Mas Bastian!" panggilku. "Apa kau akan berangkat ke kantor?"


"Iya, Imania."


"Aku ikut!"


Aku melangkah menuju mas Bastian. Dan Dimas tak menahanku.


"Apa kau serius?" tanya mas Bastian dengan mata melebar.


"Cepatlah! Nanti kita bisa terlambat!"


"Baik, Imania."


Dimas, jika orang-orang kantor mendapatiku bersamamu lagi. Aku akan terus menerus di-bully. Tidak kasihan kah kau padaku?


***


Sesampainya di kantor. Aku mengucapkan terima kasih pada mas Bastian. Aku pun segera masuk ke kantor melalui pintu yang berbeda dengan mas Bastian, karena ruangan kerja kami sudah berbeda.


Di dalam ruangan, aku masih duduk dan diam. Merenungi kejadian tadi. Bayangan mobil truk yang melintas dengan kecepatan tinggi itu membuatku ngeri. Kugeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Oh ... itu mengerikan.


Usai merampungkan tugas. Aku beranjak menuju ruangan pak Wibowo. Orang yang paling menakutkan di kantor ini. Kulangkahkan langkah demi langkah, hingga sampai di depan pintu ruangannya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Aku mengatur napas sesaat sebelum masuk. Kubuka pintu tersebut, melangkah menuju meja kerja lelaki menakutkan itu. Kuletakkan dokumen tersebut di atas mejanya. Saat aku akan duduk di hadapannya, tiba-tiba ia berkata dengan dingin, "Pergi!"


Aku pun beranjak dari ruangannya segera. Bahkan pak Wibowo tidak menatapku sedikitpun.


***


Jam kerja sudah berakhir. Namun, aku masih berada di dalam ruangan. Aku sengaja untuk keluar dari kantor setengah jam lagi. Agar tidak bertemu dengan karyawan lainnya yang membully-ku kemarin.


Setelah waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB, aku pun bergegas mengambil tas, dan keluar dari kantor. Sembari sesekali melirik sekeliling. Aku terus berharap, agar tidak ada orang yang melihatku. Sepertinya sepi. Aku pun keluar dari gerbang. Aku sudah mengirim pesan pada sekertaris Ve, bahwa aku akan pulang naik ojek. Jadi, aku tidak pulang bersamanya seperti biasa.


Sebenarnya aku belum sempat memesan ojek online. Jadi, aku mengambil handphone dari tas. Aku berjalan menuju sebuah kedai kopi yang letaknya berada di sebelah kantor bank. Aku berniat menunggu ojol di sana. Akan tetapi, tiba-tiba ... beberapa orang memanggilku.


"Hei, Pelakor!"


"Hei, wanita murah*n!"


"Berhenti!"


Aku pun menoleh pada suara-suara yang memanggilku itu. Betapa terkejutnya, saat melihat beberapa karyawan staff yang kemarin membully-ku sedang berjalan ke arahku dengan membawa sesuatu di tangannya.


Satu per satu dari mereka melempariku dengan telur. Seragam kerja dan tasku pun menjadi kotor karena telur-telur tersebut. Mereka terus melempariku telur, hingga tiba-tiba seseorang mendekap tubuhku. Melindungi tubuhku dari benda lengket tersebut.


"Hentikan!" serunya.

__ADS_1


Aku terisak meratapi nasibku sekarang. Kupikir mereka sudah pulang. Ternyata, mereka menungguku dan terus membully-ku.


Suara pecahan telur itu masih terdengar satu per satu. Bahkan, aku tidak melihat wajah seseorang yang mendekapku.


"Dasar Pelakor!"


"Kau pantas mendapatkan ini!"


"Ini adalah bau yang pantas di tubuhmu! Mandilah dengan telur-telur ini!"


Untuk beberapa saat, suara pecahan telur dan suara orang-orang tersebut pun berhenti. Apa mereka sudah pergi? Sedangkan seseorang masih mendekapku, melindungiku dari serangan telur-telur itu.


"Kau tidak apa-apa?"


Suara yang familiar di telingaku. Aku pun mendongak, melihat wajah seseorang yang menaungiku. Membiarkan tubuhnya dipenuhi telur-telur dari para haters yang menyerangku.


"Rudi!"


Sebuah mobil hitam muncul dan berhenti tepat di sisi jalan tempat kami berada. Seseorang turun dari mobil tersebut. Ia langsung berlari menghampiri kami. Rudi pun segera melepaskan pelukannya.


"Apa-apaan ini?!" Dimas langsung mendorong tubuh Rudi dengan kasar.


"Kau!" Dimas menatap Rudi dengan marah. Akan tetapi, ia segera menyadari bahwa telah terjadi sesuatu pada diriku.


Dimas memandangku dari atas hingga bawah. Matanya terbelalak melihat telur-telur yang memoles tubuhku. "Nia, apa yang terjadi?"


Aku tidak menjawabnya. Aku hanya mengusap wajahku yang basah.


"Si-siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya lagi. "Nia, jawablah!"


"Seharusnya kau tahu jawabannya. Karena penyebabnya ada di hadapan Imania sekarang!" seru Rudi.


Dimas mengalihkan pandangannya pada Rudi. Ia pun segera menangkap jelas tubuh Rudi yang juga dipenuhi dengan telur. Bahkan lebih lengket dari tubuhku.


"Rudi, jangan ikut campur! Dan jangan mendekati Nia!"


"Bagaimana bisa aku tidak ikut campur? Bahkan, kekasihnya sendiri tidak dapat melindunginya!" ucap Rudi sembari mengangkat satu sudut bibirnya.


"Aku bisa melindunginya! Tidak usah sok menjadi pahlawan!"


"Rudi, ayo kita pulang!" seruku.


Rudi pun beranjak. Tapi Dimas menahan lenganku.


"Kau hanya akan pulang bersamaku, Nia."


Aku berusaha melepaskan tanganku dari tangannya. Tapi Dimas mengeratkan genggamannya.


"Lepaskan dia!" Tangan Rudi ikut mencekal tangan Dimas yang menggenggamku.


Dengan emosi, Dimas melepaskan tangannya dari tanganku, dan berbalik mencekal kerah kemeja Rudi.


"Jangan memanfaatkan keadaan, Rudi!"


"Aku tidak memanfaatkan keadaan. Keadaanlah yang memintaku!" balas Rudi seraya tersenyum menyeringai.


Saat Dimas sudah mengepalkan tangannya erat, hendak melayangkan pukulan ke wajah Rudi, aku langsung menahan tangannya. "Hentikan! Kau kekanak-kanakan! Aku sedang tidak ingin bersamamu! Aku akan pulang bersama Rudi!"


Perlahan-lahan Dimas melepaskan tangannya dari leher Rudi. Wajahnya dipenuhi amarah, rahangnya tampak mengeras. Mata elang itu tiada henti menatap Rudi, seakan ingin menghabisi Rudi.


Aku dan Rudi beranjak masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Dimas yang berdiri dengan emosi menyeluruh.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2