
Aku dan Fania sama-sama terkejut atas apa yang dilakukan Dimas terhadapku.
"Jangan sakiti Mama, Om?" seru Arka dengan polosnya saat melihat Dimas meraih leherku agar mendekat dengannya.
Dimas pun segera menyadari tatapan bocah berusia hampir genap tiga tahun tersebut. Ia langsung melepaskan tangannya dari leherku.
"Arka? Kemarilah!" seru Dimas pada bocah yang masih menatap ke arah kami dengan serius.
Arka pun melangkah perlahan ke arah Dimas. Bocah menggemaskan itu terus menatap Dimas dengan wajah was-was.
"Angkat Arka, Nia! Bawa dia mendekat padaku."
Aku pun mengangkat tubuh Arka, mendekatkannya pada Dimas, yang sudah berada di dalam mobil.
"Sayang? Apa kau salah paham padaku? Aku tidak menyakiti Mamamu." Dimas mencoba menjelaskan.
"Benarkah?" tanya Arka dengan tatapan polos. Menatap laki-laki tersebut dari luar kaca mobil yang terbuka.
"Kau ingin tahu, apa yang aku lakukan pada Mamamu?"
Arka pun mengangguk pelan. Kemudian Dimas meraih wajah Arka. Melakukan hal yang sama persis, seperti yang ia lakukan padaku tadi. Arka pun tersenyum lebar.
"Itu yang tadi Om lakukan," kata Dimas.
"Om, bukan menggigit Mama?" Arka bertanya dengan begitu polosnya. Dan itu membuat Dimas tertawa.
"Arka Sayang? Sebenarnya, Om juga suka gigit Mama kamu, jika boleh!"
"Jangan! Jangan sakiti Mamaku?!" Arka tampak sedikit marah.
"Gigitan Om pada Mamamu itu berbeda, Sayang. Jadi, Mamamu tidak akan marah, dan tidak akan kesakitan," ucap Dimas seraya tertawa.
Sontak kujauhkan Arka darinya. Dimas benar-benar tidak bisa menahan candaannya itu terhadap anak-anak. Dia benar-benar kelewatan, menceritakan hal semacam itu kepada Arka.
"Di! Tidak bisakah kau menjaga perkataan seperti itu terhadap anak-anak?" omelku.
Dimas hanya tertawa, lalu menyalakan mobilnya. Dan pergi meninggalkan halaman rumahku.
"Ayo, Fania, masuk!" ajakku.
"Oke!"
__ADS_1
***
Malam hari.
Fania sedang asyik mencoba pakaian-pakaian seksi yang ia peroleh tadi di mall. Sedangkan aku, aku asyik menata dan menggantung pakaian-pakaian yang Fania pilihkan untukku di mall tadi siang.
Aku sedang berpikir, pakaian yang mana, yang akan kukenakan besok. Besok adalah hari pertama aku masuk bekerja. Aku tidak tahu betapa indahnya hari esok. Apakah di kantor mereka semua akan menerimaku dengan baik? Apakah ayahnya Dimas akan menyukaiku? Oh, aku belum masuk bekerja, tapi sudah nervous luar biasa.
"Imania! Mengapa melamun?"
Suara Fania membuyarkan lamunanku. Aku pun selesai menggantung pakaian-pakaian baruku. Kemudian segera berbaring di sebelah Arka yang sudah tertidur pulas. Fania pun segera merapikan kembali pakaian-pakaian batu yang berserakan di atas kasur. Kemudian ia pun ikut berbaring di samping Arka.
"Kenapa tidak jadi dipakai?" tanyaku heran pada sahabatku ini. Tadi, Fania terlihat cantik dan sangat seksi ketika mengenakan jumpsuit berwarna merah muda. Jangan ditanya seperti apa. Karena modelnya sangat terbuka.
"Belum saatnya."
"Kapan saatnya?" tanyaku heran.
"Besok saja, ha-ha ...!"
"Fania."
"Hm ...."
Fania sedikit terkejut mendengar pertanyaanku. Dia refleks mendudukkan tubuhnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya bertanya padamu. Mengapa kau terkejut seperti itu?"
Fania terdiam sesaat, lalu berkata, "Tadi apa pertanyaanmu?"
"Menurutmu, Dimas itu lelaki yang bagaimana?"
Fania terdiam lagi. Aku memperhatikan mimik muka Fania yang terlihat gugup.
"Di-Dimas me-nurutku ...."
Aku pun mendudukkan tubuhku. "Hei! Mengapa kau gugup begitu, sih?"
"Siapa yang gugup?"
__ADS_1
"Kau!"
"Aku ... aku tidak merasa gugup. Aku biasa saja."
"Kalau begitu, berikan pendapatmu soal kekasihku itu," kataku seraya memandangnya.
"Dimas itu baik. Dia perhatian. Dia ... dia sangat royal terhadap wanita. Dan ... dan ... meskipun kadang-kadang menyebalkan, tetapi dia sangat manis," kata Fania kemudian menggigit bibir bawahnya sendiri. "Bukan manis maksudku, tapi ... tapi tampan." Fania kembali menggigit bibir bawahnya sendiri. "Ma-maksudku—"
Aku menghela napas dalam, mengembuskannya perlahan. "Bagiku ... dia tidak hanya tampan, baik, perhatian, ataupun royal terhadap wanita. Tetapi ... dia adalah cinta pertamaku."
Fania memandangku dengan serius.
"Kau tahu mengapa aku sangat mencintainya?" Aku melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawabnya. "Dia sudah sangat menjadi berarti sejak kami SMA. Kami berpacaran." Kuukir senyum seraya mengingatnya.
"Kami menjalani hubungan dengan sangat manis. Layaknya pasangan remaja pada umumnya. Pada saat itu ... kami seperti dimabuk cinta. Cinta bertumbuh dan bersemi begitu cepat. Hingga memunculkan kembang-kembang cinta luar biasa," lanjutku.
"Kalian berpacaran sejak SMA?" Fania mengulang pertanyaanku.
"Hm ...." Aku mengangguk. "Hingga akhirnya, kami berpisah. Dia mengejar cita-citanya di California. Sedangkan aku di Indonesia, turut mengejar cita-citaku, yaitu dirinya."
"Apa maksudmu?" tanya Fania bingung terhadap pernyataanku.
Kembali kuhela napas panjang. "Kami berjalan di atas ego masing-masing. Saat itu ... hubungan kami merenggang. Dimas tak memberiku kabar lagi. Sedangkan aku, terus menanti kabar darinya. Lebih lucunya lagi, ayahnya Dimas menghubungiku. Dia meneleponku."
"Ayahnya Dimas meneleponmu?"
"Hm ...." Aku kembali mengangguk. "Awalnya aku tidak tahu siapa yang menghibungiku. Dapat nomorku dari mana, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba beliau memintaku agar menjauhi Dimas. Ia menentang keras hubungan kami. Dia juga memintaku untuk tidak menghubungi Dimas lagi. Dia bilang Dimas sudah dijodohkan dengan seseorang yang selevel dengannya."
"Dimas dijodohkan?" tanya Fania tidak percaya.
Aku pun mengangguk. "Sampai saat ini, mereka masih dalam status bertunangan."
Fania semakin terkejut mendengar pernyataanku. "Jadi ... jadi ... kau dan Dimas ... berselingkuh?"
Kuhela napas kasar, kemudian kuambil bantal untuk menimpuknya. "Hei! Tidak bisakah kau mendengarku dulu, sebelum melontarkan kata-kata seperti itu? Sungguh menyebalkan! Kau merusak nuansa nostalgiaku, Fania!"
"Bukankah benar pernyataanku? Kalian berselingkuh?" katanya seraya tertawa.
-- BERSAMBUNG --
___________________________________________
__ADS_1