BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Dua Mobil Hitam


__ADS_3

Dering handphone-ku masih berbunyi, dan aku pun segera mengangkatnya.


"Halo?"


"Imania, kau di mana?"


"Aku di rumah orang tuaku."


"Aku akan ke situ."


"Baiklah, kutunggu."


Dewi meneleponku di saat yang kurang tepat. Sehingga membuatku terciduk karena telah membohongi Rudi. Ah, sudahlah! Biarkan saja.


Tidak lama setelah menelepon, Dewi datang ke rumahku. Ia mengantarkan kue untuk Arka. Katanya, dia kangen sekali pada Arka. Sayangnya, Arka belum diantarkan pulang oleh mas Bastian.


Jadi, Dewi duduk sebentar bersamaku untuk ngobrol. Dia juga menanyakan tentang perceraianku dengan mas Bastian. Karena memang, aku jarang bertemu dengannya. Kita hanya ngobrol via WhatsApp.


Kuceritakan semua yang terjadi terhadap rumah tanggaku. Termasuk tentang Bella. Dewi sangat terkejut saat mendengar bahwa Bella sedang hamil. Dia pun menguatkanku dan memintaku untuk tabah. Setelah cukup mengobrol, Dewi berpamit untuk pulang.


***


Malam hari.


Aku tidak bisa tidur dengan tenang. Pikiranku melayang pada Fania. Sedang apa dia? Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkannya. Pesanku juga tidak ada yang dibalas. Semua centang satu.


Aku kembali mengingat kejadian tadi siang. Saat Fania ditampar oleh Reza. Pacarnya itu sudah sangat keterlaluan. Dan Fania tidak bisa melawan. Betapa sedihnya diriku. Aku berada di sana, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, Rudi pun dihajar habis-habisan oleh Reza.


Aku sangat gelisah. Aku pun mengirim pesan kepada seseorang.


[Kamu sedang apa?]


Aku menunggu balasan darinya. Satu menit ... dua menit ... tiga menit .... Tak ada satupun balasan. Aku semakin gelisah. Bukan karena pesanku tak terbalas. Tapi karena, tak ada yang bisa mengalihkan pikiranku yang resah saat ini. Aku tidak bisa tidur. Aku pun kembali mengirim pesan


[Di ... aku tidak bisa tidur. Aku membutuhkanmu sekarang.]


Kutunggu lagi selama beberapa menit. Tidak biasanya Dimas tak membalas pesanku. Apa mungkin dia sudah tidur? Tapi ini baru pukul sembilan malam. Biasanya Dimas tidur setelah menghubungiku. Padahal sejak tadi aku menunggu pesan darinya. Ya, Tuhan ... mengapa aku tidak tenang. Jaga dan lindungi Fania ya Rabb ....


Waktu sudah menunjukan pukul satu pagi. Dan aku masih sangat gelisah. Akhirnya aku mengambil air wudhu. Aku ingin meminta keterangan jiwa pada Yang Maha Kuasa. Segera kuambil mukena. Kutunaikan shalat tahajud.


Usai shalat, aku kembali berbaring. Kupejamkan kedua mataku. Aku berusaha tidur. Dan saat aku hampir terlelap, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Aku kembali membuka mata. Kuambil handphone dari nakas. Panggilan telepon dari Dimas.


Aku ingin mengangkatnya, tapi ... ini sudah pukul dua pagi. Aku tidak ingin mengganggunya dan membuatnya bangun kesiangan dan terlambat kerja gara-gara aku. Jadi ... kuputuskan untuk tidak mengangkat panggilan darinya. Akhirnya, kuletakkan handphone-ku kembali di nakas. Dan aku mencoba untuk tidur.


Setelah beberapa saat, dering handphone-ku pun berhenti. Dan aku pun segera tidur di sebelah Arka. Aku sudah pasrahkan penjagaan Fania kepada yang paling berhak dan paling bisa kuandalkan, yaitu Tuhan.


Kalian tahu, tidak? Ketika hati dirundung gelisah. Jiwa dan pikiran merasa resah. Yang harus kita lakukan adalah berdoa, bertawakal kepada-Nya, kemudian berpasrah. Aku sering melakukannya. Itu akan membawa kita ke dalam ketenangan jiwa yang sesungguhnya. Dan di saat kita mampu meraih ketenangan jiwa. Maka di situlah letak kedamaian antara pikiran dan hati.


***


Keesokan harinya, aku masih menunggu balasan dari Fania. Wanita aneh yang datang pun secara aneh itu, sudah mampu membuatku menyayanginya. Itulah sebabnya, sepanjang malam aku mengkhawatirkan keadaannya.


Hari ini aku tidak pergi ke mana-mana. Ayah dan ibuku akan pergi menghadiri acara kondangan bersama ayah. Sebenarnya, aku sempat diajak untuk ikut. Tapi aku menolak. Jadi, aku sendirian di rumah, karena Arka pun ikut bersama mereka.


Saat aku sedang menyapu halaman, tiba-tiba saja sebuah mobil masuk ke halaman. Mobil yang tidak asing lagi di mataku. Seseorang pun keluar dari mobil berwarna hitam tersebut, kemudian menghampiriku.


Aku langsung melempar senyum padanya.


"Assalamualaikum, Sayangku?" sapanya sembari tersenyum.


"Waalaikumsalam ...," balasku.


"Apa perlu mencium tangan juga?" tanyanya seraya mengedipkan mata.

__ADS_1


"Ish! Tidak usah. Belum saatnya."


"Kenapa? Aku juga sudah mencium bagian yang lain darimu."


"Di! Malu didengar tetangga. Jangan begitu."


"Kalau begitu, mari kita masuk!"


"Kau tidak bekerja?" tanyaku mengamatinya yang berpenampilan biasa, tanpa jas dokternya.


"Hari ini aku libur."


Dimas nyelonong masuk mendahuluiku. Dan aku langsung menahan lengannya.


"Kenapa? Bukankah kau malu bicara di luar? Ayo kita masuk!"


"Di! Orang tuaku sedang pergi."


"Wah, itu bagus! Kita bisa ...." Dimas menghentikantikan perkataannya. Diganti dengan permainan alisnya.


Refleks aku memukul lengannya lirih. "Di! Jangan macam-macam!"


Dimas mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Kita bisa ... ngobrol dengan bebas."


Akhirnya, kami pun masuk ke dalam rumah. Dimas duduk di sofa ruang tamu. Dan aku bergegas ke dapur untuk membuatkannya kopi. Setelah itu, aku membawanya ke depan. Dan meletakkannya di atas meja, di hadapan Dimas.


"Ada apa kau ke sini?" tanyaku seraya duduk berseberangan dengannya.


"Aku rindu padamu."


"Tidak adakah yang lebih penting?"


"Ada. Aku cinta padamu."


"Aku juga serius, Sayang ...."


Aku tidak melanjutkan bertanya lagi. Dimas selalu bercanda saat kuajak serius.


"Jangan cemberut. Aku hanya ingin minta maaf, soal semalam. Sepulang dari rumah sakit, aku langsung tiduran. Niatnya sebentar, eh, kebablasan. Maaf, tidak membalas pesanmu dengan cepat."


"Kau tentu sangat lelah. Tidak masalah."


Dimas mulai menatapku serius. "Tadi malam, kau bilang tidak bisa tidur. Kenapa?"


"Fania, Di."


"Fania? Ada apa dengan wanita aneh itu?"


Aku pun menceritakan kejadian kemarin, saat sepulang dari rumah mertuaku. Tentang pencegatan kami di jalan. Bahwa Fania diperlakukan kasar oleh pacarnya itu. Hingga akhirnya, Rudi datang dan menolong kami.


"Wah, seharusnya aku yang datang, bukan Rudi! Itu menyebalkan!" desisnya.


"Jika kau yang datang menolong kami, maka kau yang akan dihajar oleh pacar Fania sampai babak belur!"


"Rudi babak belur?" Dimas tertawa terpingkal-pingkal. "Itu berarti pahlawan kalian kalah? Menyedihkan!"


"Jangan menertawakan seperti itu. Belum tentu kau bisa selamat, jika berada di posisi Rudi."


"Jika aku yang di sana, maka alur ceritanya akan berbeda. Justru pacar si Alien Pencopet itu yang akan babak belur, hingga lari tunggang langgang karena takut nyawanya melayang olehku," katanya dengan percaya diri.


"Pacar Fania itu menyeramkan. Matanya besar, tubuhnya besar, suaranya mengerikan sekali! Pokoknya ... dia itu sangat sangar!"


"Oh, ya? Lain kali biar aku yang menghadapi. Tapi ... kau tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Tapi, Fania ditampar dua kali oleh pacarnya. Kemudian ia dibawa pergi bersamanya."


"Dan kau ... kau pulang diantar Rudi?" tanya Dimas seraya melebarkan kedua matanya.


Dengan jujur, aku mengangguk. "Iya."


Dimas tampak kesal mendengar itu. Dia menghembuskan napas kasar, kemudian berkata, "Apa aku perlu memasang CCTV di dahimu. Agar aku tahu setiap pergerakanmu di belakangku?"


"Kau terlalu berlebihan. Rudi sangat baik padaku. Dia menghargai wanita. Dia tidak akan macam-macam," jelasku.


"Tapi Rudi suka padamu!"


"Kau selalu saja cemburu tanpa alasan yang jelas!"


Seketika suasana menjadi hening. Aku tidak suka Dimas selalu mencemburuiku seperti itu. Dia pun mengambil secangkir kopi yang kusuguhkan. Disesapnya kopi tersebut dengan tatapan yang terus memperhatikanku. Kemudian ia letakkan kembali di atas meja.


"Bagaimana kabar Fania?"


"Aku tidak tahu. Sudah kuhubungi dan kukirimi pesan kepadanya. Tapi tidak ada yang terkirim. Aku khawatir terjadi apa-apa padanya. Pacar Fania itu sangat kasar! Menyeramkan!"


"Wah, berbeda sekali denganku yang tampan dan menggemaskan, ya? Ha-ha ...!"


Saat kami sedang berbincang, tiba-tiba sebuah mobil juga berhenti di depan rumah. Mobil tersebut juga berwarna hitam. Sudah bisa ditebak, siapa yang datang. Benar saja, seseorang keluar dari mobil tersebut. Sesaat ia memperhatikan mobil yang terparkir di samping mobilnya. Kemudian ia melangkah menuju rumah orang tuaku.


Aku pun beranjak membukakan pintu.


"Mas Bastian, ada apa ke sini?" tanyaku langsung setelah membuka pintu.


"Aku ingin menjemput Arka. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Dan juga ... aku ingin bicara sebentar denganmu."


"Tidak perlu!" Tiba-tiba Dimas muncul menghampiri kami.


Mas Bastian tidak terlalu terkejut. Karena sebelumnya dia sudah tahu, siapa yang sedang datang di rumahku.


"Apa masalahmu? Aku hanya ingin bicara sebentar saja!" ucap mas Bastian.


"Masalahnya adalah ... kau mengganggu kemesraaan kami," kata Dimas seraya mendekatkan wajahnya di depan wajah mas Bastian.


"Oh, jadi, selama ini, kau memang sudah mengincar Imania dariku?" tanya mas Bastian dengan wajah penuh amarah.


"Ya! Jika iya, kenapa?"


"Di!" sergahku.


"Sial! Ternyata aku memiliki seorang teman bak serigala berbulu domba. Kau menusukku dari belakang!"


"Imania, mingirlah sebentar." Dimas memintaku untuk mundur. Dan aku langsung menahannya.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku dengan wajah cemas.


"Aku hanya ingin memberinya sebuah pelajaran berharga, Nia. Jangan cemas!" jawab Dimas, lalu melangkah mendekati mas Bastian. Sehingga jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter. Mereka pun saling bertatapan dengan tajam.


-- BERSAMBUNG --


__________________________________________


Readers Tersayang ...!


Nanti Author Keceh akan balik lagi.


Semalam Author kurang fit, jadi enggak bisa ngetik banyak. Tapi Author usahakan nanti akan UP beberapa episode lagi, kok?


Tungguin, ya? Pukul 10.00 WIB Author Keceh akan UP again.

__ADS_1


Thank You ...!


__ADS_2