
Pagi selanjutnya, seperti biasa, aku tengah memasak bersama bi Surti di dapur. Kali ini, aku memasak banyak. Fania bilang mau berkunjung ke sini bersama Rudi.
"Sayang, masak apa?" Dimas menghampiriku yang tengah berdiri di depan kompor.
"Ayam goreng, rendang, dan berbagai macam tumisan."
"Hm ... baunya enak." Dimas mengendus bau masakan tersebut.
"Beruntungnya Mas Dimas, dapat istri yang cantik, pinter masak lagi," puji bi Surti.
"Bi Sur bisa aja," balasku.
"Iya, dong, Bi. Rejeki anak soleh," sahut Dimas sembari mencium pipiku.
"Dimas jangan begitu, ah. Malu sama Bi Sur," tegurku.
"Enggak apa-apa, Mbak Ima. Justru itu bagus. Semakin romantis pasangan maka akan semakin harmonis, dan sekaligus semakin cepat pula punya bayi," tutur bi Surti sembari tersenyum.
"Doakan, ya, Bi," ucapku.
"Bibi selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
"Fania sama Rudi jadi datang?" tanya Dimas.
"Jadi."
"Kamu sudah mandi?"
"Belum. Sebentar lagi aku mandi, setelah semua matang."
"Mandi bareng, yuk!" ajak Dimas.
Aku yang tengah mengaduk tumisan pun segera mencubit pinggang Dimas. "Dimas, malu sama Bibi, ih!"
Dimas hanya tertawa , lalu duduk menungguku selesai memasak. Bi Surti pun ikut tertawa melihat betapa blak-blakannya Dimas.
"Bibi doakan, kalian selalu akur, romantis, dan langgeng. Aamiin."
"Aamiin ...." Aku dan Dimas serentak mengamini.
Usai memasak, aku dan Dimas mandi bersama. Hanya mandi, loh, tanpa ninu-ninu. Karena semalam sudah tempur berkali-kali. Ha-ha.
***
Pukul sembilan pagi, bel pintu berbunyi.
Ting-tung!
Itu pasti Fania dan Rudi. Aku berjalan menuju pintu untuk menyambut kedatangan mereka. Kubuka pintu tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Fania dan Rudi serentak.
"Waalaikumsalam," balasku seraya tersenyum lebar.
"Apa kabar sahabatku tersayang?"
"Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?"
"Baik juga."
Aku dan Fania saling berpelukan, melepas kerinduan yang mendalam. Setelah itu, kupersilakan mereka untuk masuk dan duduk di sofa.
"Kalian mau minum apa?" tawarku.
"Aku juice," ucap Fania.
"Aku kopi saja. Sudah lama tidak minum kopi buatanmu," ujar Rudi yang membuat ekspresi wajah Fania berubah.
__ADS_1
"Eghem!" dehem Fania.
Rudi pun tertawa dan berkata, "Jangan ngambek, entar pirangnya luntur, loh?" Rudi menggoda Fania sembari mencubit pipinya.
"Ya, sudah. Aku ambilkan minuman dulu, ya?"
Aku beranjak ke dapur. Kemudian kembali dengan membawa minuman, kue, dan juga camilan, bersama bi Surti dan bi Murti yang membantuku menjamu mereka. Kemudian aku duduk dan menunggu Dimas turun. Tidak lama, Dimas turun dan duduk bersama kami.
"Wah, pengantin baru, ciyeee?" goda Fania.
Dimas meletakkan tangannya, memeluk pundakku. "Ya, beginilah. Lagi romantisan terus. Nunggu dedek bayinya tumbuh," ujar Dimas.
"Wah, asyiknya. Pasti tiap malam bikin, ya?" tanya Fania.
"Iya, lah. Tiap malam, bangun tidur, mandi pagi, mandi sore, pokoknya tancap gas terus, ha-ha."
Segera kucubit pinggangnya. "Dimas, jangan mengada-ada!"
"Ih, senangnya. Apa enggak capek, tuh, tiap saat bikin."
"Enggak, dong, Kakak. Rasanya itu, loh, muantep buanget! Ha-ha."
Dimas ada-ada saja. Ah, biarlah. Akhirnya kami pun berbincang-bincang. Rudi terlihat berbeda dan lebih pendiam. Dia hanya bicara bila ditanya. Sebenarnya, ada apa dengan Rudi? Bukankah Fania dan Rudi berpacaran? Akan tetapi, mengapa Rudi terlihat seperti tidak bersemangat.
Setelah ngobrol sekian lama, kami pun makan bersama. Saat kami sedang asyik makan, tiba-tiba bi Murti menghampiriku dengan membawa sebuah paket. Aku melirik Dimas sesaat. Kemarin Dimas bilang akan ada sebuah paket untukku. Berarti ini ....
"Ini ada paket. Ditaruh di mana, Mbak?" tanya bi Murti.
"Taruh di sofa atas, ya, Bi."
"Siap, Mbak." Bi Mur pun naik ke lantai atas.
Setelah makan, aku dan Fania naik ke lantai atas untuk bercerita berdua sembari duduk di sofa. Sedangkan Dimas mengajak Rudi ngobrol ke ruang gym.
"Buka, dong paketnya? Penasaran, nih?" pinta Fania sembari memegang paket tersebut.
"Buka saja. Aku juga tidak tahu isinya. Itu hadiah dari Dimas."
"Ini hadiah dari Dimas?" tanya Fania dengan mata terbelalak.
Aku tersenyum malu. Kemudian mengangkat satu lingerie dan mengamatinya. "Bukankah percuma ini dipakai? Sama saja telanjang, bukan? Hanya menutupi sedikit bagian. Ah, Dimas ada-ada saja menyuruhku memakai pakaian seperti ini."
"Ya ampun. So sweet tahu? Gila, tuh, adik durhaka. Ternyata dia seagresif dan sepengertian itu terhadap istri. Tidak kusangka, selera s*ks-nya tinggi juga, ha-ha."
Aku tidak tahu apakah tidak memalukan memakai pakaian seperti ini. Rasanya ... aku tidak bisa membayangkan betapa anehnya bila lingerie ini kupakai.
"Fan, bagaimana ketemuan kemarin dengan ibunya Rudi?" Aku pun segera mengalihkan pembicaraan.
"Biasa saja. Ibunya Rudi ramah, tetapi tidak tampak bahwa dia menyukaiku. Masak melihat warna rambutku, aku dikira orang bule."
"Terus?"
"Ya, aku bilang bahwa aku keturunan Indo asli. Dia malah tertawa seperti mengejekku. Menyebalkan."
"Eh, tidak boleh begitu. Beliau calon mertuamu."
"Dia bilang, wanita solehah itu harus pandai menutup auratnya. Dan wanita yang baik itu harus pandai memasak. Lalu dia bertanya padaku, kamu bisa masak apa saja? Ya, kujawab, telor, tahu, tempe, mie instan, sosis, daging juga bisa."
Aku tertawa mendengar jawaban Fania. "Terus?"
"Aku disuruh masak. Dan kejadian sewaktu dirumahmu terulang kembali."
"Gosong semua?" tanyaku semakin penasaran.
Fania mengangguk. Spontan aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Fania.
"Ish, jahat! Tertawa di atas penderitaan orang lain!"
__ADS_1
"Besok kamu datang ke sini. Aku akan mengajarimu memasak."
"Serius?" Fania menatapku gembira.
"Hu um."
Kami pun berbincang ria. Rasanya aku sangat rindu momen-momen bicara berdua dengan sahabatku itu.
"Imania, aku pengen pipis."
"Ya, sudah, sana, gih."
Fania pun pergi ke kamar kecil untuk buang air. Sedangkan aku beranjak dari sofa dan menuju balkon. Kutatap langit biru nan indah, dengan cahaya mentari yang menyoroti bumi menjadi lebih hangat. Selang beberapa menit, tiba-tiba terdengar suara seseorang menghampiriku.
"Eghem!"
Aku menolehnya. "Rudi."
"Senang melihatmu bahagia," ucapnya seraya melempar senyum.
"Terima kasih. Eh, bukankah kamu lagi ngobrol sama Dimas?"
"Dia lagi sibuk nge-gym."
Untuk sejenak kami hening. Entah mengapa, ada rasa canggung mengobrol berdua bersamanya.
"Bagaimana rasanya menikah dengan orang yang kamu inginkan?" tanya Rudi sembari menatapku.
"Bahagia sekali. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata."
Rudi memandangiku sesaat, lalu berkata, "Aku juga ingin menikah dengan orang yang kucintai."
"Bukankah itu adalah Fania?"
"Entahlah."
Ada apa dengan Rudi? Dia tampak tidak bahagia. "Bukankah kau berpacaran dengan Fania?"
Rudi menunduk. "Ya, tapi ... terus terang aku belum bisa jatuh cinta padanya."
Aku sangat terkejut mendengar ucapan Rudi. "Rudi, kenapa? Kau, kan, waktu itu bilang sendiri bahwa kau menerima cinta Fania?"
"Itu hanya agar rasa cemburuku tertutupi. Tapi faktanya tidak."
"Rud, cemburu? Apa maksudmu?"
Rudi meletakkan tangannya di atas tangan kiriku yang kuletakkan di atas pagar balkon. "Jujur, aku belum bisa move on darimu."
Prang!
Tiba-tiba terdengar suara benda pecah. Aku dan Rudi menoleh bersamaan. Fania sudah berdiri tidak jauh di belakang kami. Sebuah gelas berisi juice jatuh dan pecah. Fania menatap kami dengan mata berkaca-kaca.
"Fania!" Aku menghampirinya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku mau pulang." Fania mengusap air matanya.
"Fania, aku ...." Rudi ingin mengatakan sesuatu, tapi Fania langsung berlari menuju lantai dasar.
"Fania, kau salah paham! Aku ...."
"Rud, cepat kejar Fania."
"Imania, tadi itu aku belum selesai bicara. Aku cuma mau bilang, bahwa aku belum bisa move on darimu, tapi aku akan segera move on dengan berusaha mencintai Fania," jelas Rudi.
"Cepat kejar dia, Rud!"
Rudi pun segera berlari dan mengejar Fania. Beberapa saat kemudian, Dimas yang bertelanjang dada menghampiriku. Ia melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
-- BERSAMBUNG --