BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Dokter Elang Dalam Bentuk Wanita


__ADS_3

Wanita itu berjalan menghampiriku yang sedang duduk di kursi teras.


"Hai," sapanya. "Boleh aku duduk?"


Dengan ekspresi datar, aku pun mempersilakannya duduk. "Silakan."


Wanita tersebut pun duduk berhadapan denganku. Lalu menyapa Arka yang sedang asyik bermain. Setelah itu ia kembali memfokuskan pandangannya padaku.


"Ada apa lagi kau datang ke mari?" tanyaku dengan wajah tidak senang.


"Apa kau sangat membenciku?" Dia bertanya balik.


"Kau menggoda suamiku. Apa ada alasan lain untuk membencimu, selain itu?"


"Kau terlalu jujur rupanya," katanya seraya tertawa. "Apa begini sikapmu terhadap tamu?"


"Hah?"


"Aku haus!" katanya seraya menyentuh leher jenjangnya.


Aku pun menatapnya heran. "Apa begini sikap tamu yang benar?"


Aku pun beranjak mengambilkan air untuknya. Kutuang segelas air putih dingin, yang kuambil dari dalam kulkas. Lalu membawanya ke luar.


"Ini," kataku seraya meletakkan segelas air dingin tersebut ke hadapannya.


Dia mengernyitkan dahi, lalu berkata, "Apa Bastian semiskin ini?"


"Apa maksudmu!"


"Aku tidak mau air putih. Aku mau juice!" katanya bak seorang majikan.


Aku menghela napas panjang, mengembuskannya kasar. Lalu meraih gelas tersebut untuk kubawa masuk ke dapur, tetapi Fania menahan tanganku.


"Yang ini biarkan di sini!" katanya seenaknya. "Kau, ambilkan aku juice!"


Aku menatapnya kesal. "Hei! Kau ini siapa? Mengapa memerintahku sesuka hatimu? Aku bukan pembantumu!"


"Aku tak bilang kau pembantu!"


"Tapi sikapmu ini seolah-olah aku adalah--"


"Sudahlah!" Ia menyela perkataanku. "Ambilkan saja, cepat!"


Dengan terpaksa aku pun meletakkan kembali gelas di tanganku. Kemudian membuatkan segelas orange juice. Dan membawanya ke teras.


"Terima kasih ...." ucapnya sembari tersenyum.

__ADS_1


Aku melirik gelas yang berada di hadapan Fania sudah kosong. Lalu kuletakkan segelas juice jeruk itu di atas meja. Fania pun segera meraihnya, kemudian meminumnya.


"Ah, segar!" katanya.


Aku menatapnya masih dengan perasaan kesal. Tetapi ada kelucuan saat aku memperhatikannya meminum juice tersebut. Dia menghabiskan juice dalam sekali isapan. Wanita ini, cantik dan feminim sekali, tapi tingkahnya tanpa basa-basi, dan tanpa bersikap jaim sedikitpun.


"Kenapa? Apa kau juga tergoda dengan kecantikanku?"


Sepertinya Fania memperhatikan tatapanku terhadapnya. "Aku hanya ... sedikit terkejut. Ada wanita feminim yang bertingkah seperti ini! Memalukan!"


"Aku tidak suka sok imut. Pada dasarnya aku memang sudah sangat imut, bukan?"


"Katakan, apa maksud kedatanganmu ke mari!"


"Sungguh, tidak sabaran!" gerutunya kesal. "Ambilkan camilan untukku!"


Aku semakin kesal dibuatnya. "Tidak ada!"


"Aku tidak akan bicara mengenai kejadian semalam, kalau begitu!"


Aku terperanjat. Jadi dia ke sini untuk memberitahuku soal kejadian semalam? Tanpa berpikir lagi, aku pun beranjak untuk mengambil beberapa snack dari dalam kulkas.


"Eh! Bawakan lagi segelas juice untukku, ya?"


Dengan merasa sedikit konyol, aku pun kembali ke dapur untuk membawakan apa yang diminta Fania. Demi mengetahui kejadian sebenarnya., baiklah.


"Nah, begini baru tuan rumah yang baik," katanya seraya meraih satu bungkus snack di hadapannya, lalu membuka dan memakannya.


"Sekarang, ceritakan apa yang terjadi semalam!"


"Sungguh, tidak sabaran!" ucapnya sambil memakan camilan yang memenuhi mulutnya. "Pijat punggungku dulu, ya?"


Aku mulai geram dengan tingkahnya.


Fania menatapku seraya tertawa.


"Just kidding, Honey!"


Dia pun melanjutkan bicara, setelah selesai mengunyah camilan yang memenuhi mulutnya. "Kau ingin tahu kejadian semalam?"


"Ya," kataku seraya mengembuskan napas kasar.


"Semalam ...." Ia mulai menatapku serius. "Semalam ... itu sangat menyenangkan. Pulang dari sini, aku langsung ke rumah pacarku. Dan kau tahu? Di sana hanya ada aku dan pacarku. Kami bersenang-senang semalaman. Jadi ... semalam itu cukup memuaskan. Aku dibuatnya lemas sekali! Tapi enak!" katanya lalu tertawa.


Kurasa wanita ini sudah gila. "Aku tidak menanyakan tentang kejadian malammu! Aku bertanya tentang kejadian yang menimpa suamiku semalam!"


"Oh ... itu?" gumamnya sambil menikmati snack di tangannya.

__ADS_1


Aku masih menunggunya dengan sabar. Mas Bastian belum mau bicara, menjelaskan tentang kejadian semalam. Mungkin, hanya lewat Fania aku dapat mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Bastian. Aku menemukannya di pinggir jalanan. Keadaannya sangat mengerikan!" katanya lalu kembali tertawa.


Aku sudah sedari tadi menunggunya untuk menceritakan kejadian itu. Dan ternyata Fania juga tidak tahu? Oh, wanita ini sudah cukup membuang kesabaranku. Aku berdiri mempersilakannya untuk pergi.


"Aku ada urusan lain. Pergilah!"


"Kau mengusirku?" tanya Fania sembari mengangkat kedua alisnya. "Kalau begitu kau saja yang pergi, aku akan tetap di sini!" katanya seenak hati.


"Hei, ini rumahku!"


"Ya, aku juga tahu."


"Pergilah! Aku sudah menjamumu dengan begitu baik. Kupikir, kau serius akan menceritakan perihal kejadian semalam. Ternyata selain penggoda, kau juga pembuat!"


"Imania, Sayang ... bukankah sudah kuceritakan, kejadian semalam itu enak sekali. Bahkan, aku ingin melakukannya lagi nanti malam," katanya tanpa merasa berdosa.


"Percuma bicara denganmu!" gerutuku kesal. Aku pun kembali duduk.


Tingkah Fania sangat mirip dengan dokter elang. Suka membuat kesal, bertingkah seenaknya, dan blak-blakan. Hanya saja, ini mungkin adalah Dimas dalam bentukan wanita. Jika keduanya di sandingkan, tentu sangat cocok. Sama-sama gila!


Arka berdiri dari lantai, meraih satu Snack di atas meja. Lalu memakannya.


"Sini, Sayang. Duduk sama Tante," ajak Fania pada Arka.


Arka pun duduk di sebelahnya, sambil menikmati snack dan juice jeruknya. Aku memperhatikan sikapnya terhadap Arka. Fania sebenarnya pribadi yang manis, terlihat saat ngobrol dengan Arka. Apakah dia hanya bersikap manis terhadap anak-anak?


"Imania!"


Aku menatapnya bergeming.


"Jangan terpesona denganku. Aku bukan lesb*."


Aku tak menghiraukan perkataannya. Kupalingkan wajahku dari pandangannya.


"Kemarin malam, aku sedang duduk bersama teman-temanku di cafe." Dia mulai berbicara lagi. Tapi aku masih berpura-pura tak menghiraukannya. Bukankah, dia hanya akan mempermainkanku? Aku tidak mau menanggapinya serius. Fania pasti akan mempermainkanku lagi.


"Saat aku sedang asyik minum. Tiba-tiba ada keributan di cafe." Nada bicara Fania mulai terdengar serius. "Aku pun menghampiri kedua orang yang sedang ribut itu. Dan ternyata, itu Bastian."


Aku masih berpura-pura tak menghiraukannya.


"Bastian dihajar habis-habisan oleh seorang dokter!"


Sontak aku terperangah mendengarnya. Aku menatap Fania dengan mata terkejut.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1



__ADS_2