BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Melabrak Dokter Elang


__ADS_3

"Seorang dokter?" Sontak aku terkejut mendengarnya.


"Ya, kata teman-temanku, yang memukul Bastian tadi malam adalah seorang dokter."


"Apa kau melihatnya?"


"Ya, aku melihat orang yang memukul Bastian."


Hatiku berdebar-debar mendengar penuturan Fania. Aku semakin takut, untuk mendengar nama dokter yang disebut Fania. Apa ... Dimas yang melakukannya?


"Seperti apa ciri-ciri dokter itu?"


Fania meletakkan satu bungkus snack yang sudah kosong. Lalu mengambil satu snack lagi untuk ia makan.


"Fania!"


"Sebentar, aku habiskan satu snack lagi. Baru aku akan mengatakannya padamu."


Aku melenguh kesal. "Please, Fania! Jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda. Setelah kuhabiskan ini, aku bersungguh-sungguh akan mengatakannya padamu," katanya lalu mengunyah snack tersebut.


Arka turun dari kursi, lalu mengambil juice dari atas meja. Arka meminum juice tersebut, kemudian bermain puzzle lagi di atas lantai yang beralaskan tikar. Aku pun beranjak dari kursi, lalu duduk di sebelah Fania. Aku memandang Fania sejenak yang sedang asyik mengunyah snack di tangannya.


Karena lama sekali, aku pun mengambil snack tersebut dari tangan Fania. Lalu memakannya.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Fania seraya menatapku kesal.


"Aku hanya membantumu menghabiskan snack ini. Agar kau cepat bicara!"


Fania menghela napas kasar. Menatapku seraya berkata, "Aku tidak tahu siapa dokter yang menghajar Bastian."


Aku berhenti mengunyah snack di mulutku. Menatap Fania kecewa. "Apa kau tidak tahu ciri-cirinya?"


"Kalau itu aku tahu."


"Seperti apa?"


Fania meraih juice dari atas meja, lalu meminumnya dengan cepat, hingga gelas tersebut kosong. Lalu meletakkannya kembali.


"Dia ... dia ...." Fania mencoba mengingat-ingat. Aku menatapnya tak sabar, dengan mulut yang masih penuh berisi makanan ringan.


"Dia manusia."


Uhuk! Aku menyemprotkan seluruh snack dari dalam mulutku ke wajah Fania. Fania pun menatapku dengan emosi.


"Hei! Kau sengaja, ya?"


"Aku tidak sengaja, sungguh ...," ucapku seraya meraih juice-ku. Betapa terkejutnya diriku, saat meraih gelas itu sudah kosong. Padahal tenggorokanku sedikit sakit akibat tersedak.


Fania pun tertawa seraya mengusap-usap wajahnya. "Kita impas, ya?"


Aku yang masih terbatuk-batuk pun kembali menatapnya kesal. "Kau!"

__ADS_1


"Aku pulang dulu, ya?" katanya lalu beranjak pergi. Namun, ia berbalik kembali menghampiriku. "Jika kau ingin tahu, dokter yang menghajar Bastian itu, masih muda. Dan juga tampan," kata Fania lalu pergi dengan mobilnya.


Jantungku berdebar-debar. Pikiranku berkecamuk memikirkan dokter itu. Tidak salah lagi, itu pasti Dimas. Dia benar-benar melakukan apa yang waktu itu pernah dia katakan.


"Apa aku harus mengenyahkan Bastian terlebih dahulu, agar kau bisa menerimaku?"


"Jika kau menyakiti suamiku, aku tak segan membunuhmu!"


"Ya, bunuhlah aku, tapi dengan cintamu. Aku rela!"


"Kau gila!"


"Ceraikan Bastian! Jadi, aku tak perlu menghabisinya!"


"Jangan pernah menyentuh suamiku, sedikitpun!"


"Kau hanyalah lelaki tidak waras! Jangan pernah mendekatiku lagi! Berhenti menggangguku! Tidak usah sok baik lagi pada suamiku! Kau tidak lebih dari seorang teman makan teman! Aku sudah sangat menahan emosiku! Jadi, tinggalkan segala kenangan kita! Pergilah menjauh dariku!"


Percakapan kami di mobil waktu itu telah terekam jelas di dalam memoriku. Apa dia sesadis itu? Demi memintaku kembali, ia sampai melakukan cara-cara kasar. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi lagi. Besok, aku akan menemuinya.


***


Hari-hariku seperti biasa. Bangun lebih awal, menyiapkan sarapan pagi, mengurus Arka, dan mengurus segala pekerjaan rumah. Suamiku sudah berangkat bekerja. Seperti niatku kemarin, hari ini aku akan menemui dokter elang itu.


Arka kuantar ke rumah neneknya --mertuaku-- dan aku berangkat mengendarai motor ke rumah sakit tempat dokter itu bekerja. Sesampainya di sana, aku langsung bertanya kepada salah seorang suster yang tengah berjalan di koridor rumah sakit.


"Suster!" panggilku.


Aku berbicara lirih pada suster tersebut, agar tidak menimbulkan salah paham. "Apa kau tahu, di mana ruang kerja Dokter Elang?"


"Dokter Elang? Setahuku, tidak ada yang bernama Dokter Elang di sini."


Sontak kugigit bibir ini. "Ma-maksudku, Dokter Dimas Adi Wibowo."


"Oh, dokter ganteng itu? Ada perlu apa memangnya?"


"Ah, ada yang perlu kubicarakan dengannya," jawabku.


"Kebetulan sekali, aku juga akan pergi ke ruangannya. Ayo ikuti aku!" katanya lalu berjalan di depanku.


Aku pun mengekor di belakang suster tersebut.


"Apa kau adalah kerabatnya?" tanya suster tersebut seraya berjalan.


"Bukan. Aku hanya ... temannya."


"Dia itu kekasihnya Dokter Vanessa Lilliana, Dokter Estetika atau Kecantikan di rumah sakit ini," katanya.


Oh ... jadi Nessa adalah dokter kecantikan. "Ya, aku sudah tahu."


"Bukankah mereka itu sangat serasi? Yang satu tampan, yang satunya cantik sekali. Mereka pasangan yang sempurna."


"Iya, benar."

__ADS_1


"Tapi kau juga cantik," katanya seraya menolehku yang masih mengekor di belakangnya.


"Kau juga cantik, Sus," balasku.


"Jangan genit sama dokter Dimas, ya? Nanti dilabrak sama dokter Vanessa!" katanya tiba-tiba. Tapi aku tak menyahutinya.


Suster ini masih muda. Tubuhnya berisi, seragam susternya itu dibuat ketat dan seksi. Pinggul dan dadanya tampak menonjol. Cara jalannya berlenggak-lenggok bak seorang model yang sedang catwalk.


Tidak lama, kami pun sampai di depan ruangannya. Mataku tertuju pada papan di atas pintu yang bertuliskan 'Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah'. Oh, jadi Dimas adalah dokter spesialis jantung. Aku baru mengetahuinya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Suara dokter elang itu dari dalam ruangan.


Suster tersebut pun masuk, dan menyerahkan berkas di atas meja. Aku masih berdiri di depan pintu ruangannya. Kuperhatikan suster tersebut berlenggak-lenggok genit di hadapan dokter elang tersebut.


"Ini data yang Anda minta, Dokter Ganteng?" ucapnya genit. Tetapi Dimas sama sekali tidak memperhatikannya.


"Terima kasih," ucapnya tanpa memandang suster tersebut sama sekali. Dimas hanya fokus menatap layar laptop di mejanya.


"Dokter belum makan?"


"Sudah," kata Dimas cuek.


"Mau kubawakan minum ke sini?"


"Tidak usah!"


"Atau mau minum susu?"


.


Dimas mengangkat pandangan ke suster tersebut. Tatapannya yang tajam, membuat suster tersebut ketakutan.


"Maaf, permisi?"


Suster itu pun segera ke luar dari dalam ruangan. Aku geleng-geleng sendiri melihat kelakuan suster genit tersebut. Padahal, dia tadi yang mengingatkanku supaya jangan genit. Nanti dilabrak dokter Vanessa, katanya. Tak disangka, ternyata dia sendiri yang genit. Sepertinya, suster tersebut hanya menceritakan dirinya sendiri tadi.


Dimas sepertinya tak menyadari ada aku yang berdiri di sini. Aku langsung menghampirinya. Dan berdiri di depan mejanya. Dia tampak fokus menatap laptop tersebut.


"Apa lagi, sih?" tanyanya tanpa menaikkan pandangannya padaku. "Aku sibuk! Jika kau terus menggodaku, akan kuberitahu Dokter Vanessa. Agar kau dilabraknya lagi habis-habisan!"


"Kaulah yang akan kulabrak habis-habisan!"


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Tersayang ... bantu Rate Bintang Lima, ya?


Berikan dukungan pada Author. Jangan lupa LIKE, COMENT, and VOTE?


Thank You ....

__ADS_1


__ADS_2