BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Calon Imam


__ADS_3

Ayah tak sadarkan diri. Kami pun segera membawanya menuju rumah sakit. Arka kubangunkan pelan-pelan, mengajaknya ikut ke rumah sakit. Kami pun mengangkat ayah, dan memasukkannya ke dalam mobil.


Di dalam mobil, ibu terus menerus menangis. Ia menyalahkan mas Bastian sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


"Ini semua salahmu! Jika saja kau tidak berbuat itu, ayah tidak akan seperti ini!" cecar ibu pada mas Bastian.


Mas Bastian diam saja. Ia hanya fokus mengendalikan mobilnya.


"Dengar! Jika sampai terjadi sesuatu pada ayah! Aku tidak akan memaafkanmu!"


Ibu pun kembali terisak. Sedangkan Arka yang duduk bersamaku di depan, ia menatap kakeknya tersebut dengan penuh iba.


"Kakek ...." panggil Arka lirih, seraya menoleh ke jok belakang.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, kami pun sampai di rumah sakit. Ayah langsung dibawa oleh para perawat ke UGD.


"Harap tunggu di luar, ya?" ucap salah seorang suster, lalu masuk ke dalam ruang UGD tersebut.


Kami pun menunggu di luar dengan perasaan sangat cemas. Ibu tidak berhenti menangis. Sedangkan mas Bastian hanya menunduk lesu, meremas kepalanya, sambil sesekali menyalahkan dirinya.


Seorang dokter yang kukenal tampak berlari masuk ke ruang UGD. Karena buru-buru, ia sampai tak melihatku yang sedang duduk bersama Arka, ibu, dan mas Bastian.


Selang beberapa menit, dokter itu pun keluar.


"Keluarga Bapak Ahmad!" seru dokter tersebut.


Mas Bastian yang sedari tadi duduk pun segera berdiri. "Saya."


Dokter itu pun tampak terkejut melihat mas Bastian, dan kami di sini.


"Bastian! Kau! Itu ayahmu?"

__ADS_1


Mas Bastian mengangguk lemah. "Bagaimana kondisi ayahku?"


"Dia ... dia masih kritis. Sebentar lagi, kami akan memindahkannya ke ruang ICU."


Ya, Tuhan ... cobaan apalagi ini?


Ibu pun berdiri dan mendamprat mas Bastian habis-habisan. "Ini semua gara-gara kau! Anak tidak tahu diri! Sudah dikasih wanita yang baik, wanita yang sempurna. Masih saja kembali pada wanita itu? Lebih-lebih kau hamili dia? Kau ini manusia atau iblis! Tidak tahu diuntung!"


"Ibu ... tenanglah! Ayah sedang ditangani. Lebih baik kita berdoa saja. Memohon kepada Tuhan, agar ayah segera melewati masa kritisnya." Aku mencoba menenangkannya.


"Di, apa yang terjadi pada ayahku?" tanya mas Bastian.


"Ayahmu terkena serangan jantung mendadak. Apakah sebelum ini, ayahmu sudah pernah terkena serangan jantung seperti ini?"


"Belum pernah, Di."


"Apa dia punya riwayat darah tinggi?"


"Iya, Dok!" jawab ibu cepat.


Dimas menjelaskan keadaan ayah dengan profesional. Padahal baru kemarin ia dan mas Bastian berkelahi. Akan tetapi, Dimas tampak tidak mencampuradukkan masalah pribadi.


Ibu semakin terisak. Aku hanya dapat memberikan semangat pada ibu agar tetap tabah. Ia melihat tubuh ayah yang terbaring tak berdaya. Lewat kaca kecil di pintu tersebut, ibu mengamatinya sambil terus terisak. Sedangkan mas Bastian menyandarkan tubuhnya ke dinding. Matanya basah, kakinya lemas, seakan tak sanggup lagi untuk berdiri.


"Ya, sudah, aku permisi," ucap dokter tersebut sambil menggenggam tanganku sesaat sambil melewatiku. Untung tidak ada yang melihat.


***


Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB. Aku menghampiri ibu yang masih terduduk lesu. Kedua mata malaikat itu tampak sembab oleh air mata. Aku tidak tega melihat wajah ibu sesedih itu.


"Ibu?" Aku merangkul pundak ibu. "Lebih baik, kita ambil air wudhu. Kita shalat dzuhur terlebih dahulu, ya? Kita meminta pada Tuhan. Agar Dia menguatkan ayah, dan mengembalikan ayah, agar sehat seperti semula."

__ADS_1


Ibu pun berdiri. Ia melangkah gontai menuju mushala kecil yang disediakan oleh rumah sakit. Aku benar-benar tidak tega melihat ibu seperti itu. Aku pun mengajak Arka untuk shalat bersama, mendoakan kakeknya.


Kami pun sampai di tempat wudhu. Kulihat ibu membasuh wajahnya yang sembab. Ia tidak berkata apa-apa sedari tadi. Ia tidak bicara apapun. Setiap kuajak bicara, ibu hanya diam. Sungguh ... ada sebersit rasa bersalah terhadapnya. Namun, apa ini salahku? Aku sedang tak ingin memikirkan hal itu. Saat ini, yang ayah butuhkan adalah doa. Dan aku harus terus menyemangati dan menjaga ibu.


Setelah ibu selesai wudhu, ia langsung masuk ke dalam mushala tersebut. Aku mengajari Arka, yang mana yang lebih dulu dibasuh. Dari telapak tangan, mulut, hidung, wajah, lengan, dahi, telinga, dan kaki. Arka memang sudah biasa mengikutiku menunaikan shalat sejak kecil. Jadi, aku hanya perlu mengingatkan langkahnya saja.


Kini giliranku yang berwudhu. Tiba-tiba ada yang berdiri di sebelahku. Ia tersenyum padaku. Aku berusaha tak menghiraukannya. Tetapi saat aku hampir selesai berwudhu, ia malah menyentuh pipiku. Jadi, aku harus mengulangi wudhu. Dan saat aku hampir selesai lagi, ia kembali menyentuh pipiku seraya tertawa. Aku pun mulai kesal.


"Di! Jangan membuatku batal lagi, ya!" ucapku kesal padanya.


Dan aku mengulanginya lagi. Tapi saat aku baru akan membasuh wajahku, ia mengecup pipiku. Sontak aku terkejut. Kusapu pandangan ke sekeliling, aku takut ada yang memperhatikan kami. Dan syukurlah, sepertinya tidak ada.


"Di! Jangan macam-macam!"


"Aku senang kita bisa shalat bersama," katanya seraya tersenyum. "Ini pertama kalinya kita shalat bersama, Nia."


Aku menangkap binar-binar cahaya di mata elangnya. Seolah tersirat sebuah harapan indah di sana.


"Aku harap, nanti, kita bisa shalat bersama setiap hari. Aku ingin menjadi imammu."


Aku pun tersipu mendengar pernyataannya. Aku hanya membalas dengan senyuman. Lalu aku melanjutkan berwudhu. Kami pun berwudhu bersama, dengan hati yang masih terus bergetar.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Tersayang?


Author masih terus memohon maaf, ya? Tulisannya kurang rapi, nih. Soalnya Author ngetik banyak banget. Jadi, untuk kerapian akan Author perbaiki bulan depan. Saat ini, Author ingin memenuhi request kalian semaksimal yang Author Keceh bisa.


Author harap, kalian enggak bosan dan tetap setia menunggu sampai ENDING. Author Sayang banget sama kalian.

__ADS_1


Kepuasan kalian adalah kewajiban bagi Author.


Salam Manis Dari Author Paling Manis .... đź’–


__ADS_2