BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Terlambat Jatuh Cinta


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, di hari Minggu. Mas Bastian mengajak kami untuk jalan-jalan. Arka pun menyambutnya dengan girang. Kebetulan, kami juga sudah lama tidak pergi bersama. Jadi, aku menyetujuinya.


Di dalam mobil, aku duduk di depan bersama mas Bastian. Sedangkan Arka duduk di belakang bersama Fania. Kita akan pergi ke water park.


"Mas, apa kau sudah izin kepada Bella untuk pergi bersamaku?" tanyaku penasaran. Aku khawatir mas Bastian tidak meminta izin dulu kepada istrinya.


"Sudah," jawabnya.


Aku tidak tahu apakah mas Bastian jujur atau berbohong.


"Awas, Mas!!" teriakku.


Mas Bastian langsung mengerem mobilnya. Hampir saja mas Bastian menabrak mobil sedan di depannya yang tengah berhenti karena lampu merah.


"Maaf, kepalaku sedikit pusing. Mungkin karena aku belum makan sejak kemarin," ucap mas Bastian sembari memegangi kepalanya.


"Apa lebih baik, kita mencari makan terlebih dahulu?" tanyaku merasa iba.


"Kita hampir sampai. Ke water park dulu saja," kata mas Bastian, lalu kembali menjalankan mobilnya setelah lampu lalulintas berubah hijau.


Wajah mas Bastian tampak sedikit pucat. Ia tampak lelah. Bahkan, kudengar sesekali perutnya berbunyi meminta diisi. Pasti mas Bastian sangat lapar.


"Kopimu tidak pernah berubah, Imania. Rasanya selalu sama. Padahal kita sudah cukup lama berpisah. Kau masih mengingat betul selera kopiku."


"Seandainya Abel bisa membuatkanku kopi seenak dirimu."


"Abel tidak seperti dirimu. Dia terlalu manja. Bahkan terlalu banyak menuntut. Ternyata benar kata ibu. Dia jauh sekali bila dibandingkan denganmu, Imania."


"Imania, masakanmu sangat enak. Aku merindukan masakan ini setiap hari, usai bercerai denganmu."


"Abel tidak pandai memasak. Dia jarang sekali memasak. Aku sering kelaparan dibuatnya, Imania."


"Bella berubah setelah kami menikah. Dia terlalu boros dan selalu menuntut segala sesuatu. Gaya hidupnya, sangat jauh berbeda darimu ketika menjadi istriku."


"Dia selalu membentak dan membangkang bila kuperintah, Imania. Dia tidak sepertimu, yang penurut dan berbudi pekerti terhadap suami."


"Bella tidak peduli terhadapku. Bahkan ketika aku jatuh sakit. Ia malah memarahiku."


Sebenarnya, terselip sedikit rasa iba padanya. Akan tetapi, ya, inilah takdir. Mas Bastian yang memutuskan, ia juga harus siap menerima konsekuensinya.


"Imania," panggil mas Bastian.


"Eh, iya, ada apa, Mas." Aku tersadar dari lamunanku.


"Kau melamun, ya?" tanya mas Bastian.


"Ah, i-iya," jawabku.


"Aku tadi bertanya padamu."


"Kau bertanya apa?'


"Bagaimana hubunganmu dengan Dimas?"


Aku terdiam sesaat. Apa aku harus mengatakan bahwa kami sudah putus?

__ADS_1


"Kami ... sedang ... tidak berkomunikasi," jawabku jujur.


"Kenapa?" tanya mas Bastian yang menolehku terkejut.


"Rumit untuk dijelaskan, Mas."


Mas Bastian tiba-tiba meletakkan tangannya di atas punggung tanganku. Ia meremas tanganku lembut. Aku pun menolehnya. Aku menangkap senyum mengembang di wajah mas Bastian. Segera kutarik tanganku pelan. Aku tidak tahu apa maksud senyum yang terlukis di wajah mas Bastian padaku. Namun, aku menangkap sebuah binar cahaya yang tak biasa dari kedua mata mas Bastian. Itu seperti ... menyiratkan sebuah pengharapan.


Tidak lama, kami pun sampai di water park. Arka berjalan masuk dengan semangat bersama mas Bastian. Sedangkan aku dan Fania mengekor di belakangnya.


"Imania," panggil Fania sembari menjajarkan langkahnya denganku.


"Ya."


"Awas, hati-hati. Nanti kalian CLBK!" bisik Fania.


"Ish! Apaan, sih. Itu tidak mungkin."


"Apa kau tidak memperhatikan tatapan Bastian padamu? Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta ketika memandangmu, Imania."


"Ah, masa, sih? Perasaanmu saja."


"Imania, aku peringatkan padamu. Jangan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tidak untuk selamanya, oke!" katanya kemudian ngeloyor masuk mendahului mas Bastian yang berjalan di depan.


Kami pun sampai di pinggir kolam. Fania dengan semangat langsung melepaskan pakaian luarnya satu per satu. Dia memang sudah mempersiapkan pakaian renang yang ia pakai sejak dari rumah. Arka pun dengan semangat minta dilepaskan pakaiannya.


"Papa! Ayo, bermain air sama Arka!" ajak Arka.


"Arka sama Tante Fania dulu, ya? Papa lapar banget, ini. Papa mau makan dulu, ya?"


"Ya, deh. Tapi nanti Papa harus berenang sama Arka, ya? Janji!" Arka menyodorkan jari kelingkingnya pada mas Bastian.


"Ayo, Arka, let's go!" ajak Fania.


Fania pun bermain ria dengan Arka di dalam kolam renang. Sedangkan aku mengambil duduk di kursi pinggir kolam.


"Imania, apa kau lapar? Aku akan membeli mie seduh."


"Tidak, Mas. Kau saja yang makan."


Mas Bastian pun pergi untuk membeli mie. Setelah beberapa menit, ia kembali dengan membawa dua cup mie panas. Ia pun duduk berhadapan denganku.


"Mas, bukankah, aku sudah bilang, bahwa aku tidak lapar?" tanyaku heran mendapati dua cup mie yang dibawa oleh mas Bastian.


Mas Bastian tersenyum menatapku. "Jika hanya satu cup, perutku tidak akan kenyang, Imania."


Aku menatapnya semakin iba. Kasihan mas Bastian, dia pasti lapar sekali. Aku terus memperhatikannya yang tengah menyantap mie instan itu dengan lahap. Uap mie panas itu mengepul, aroma mie pun tercium begitu menyengat.


Setelah satu cup mie habis. Mas Bastian mengambil mie yang satunya. Ia memandangku sesaat. "Maaf, aku lapar sekali," katanya dengan wajah mengiaskan perasaan malu.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku senang melihatmu makan seperti itu," ucapku sembari mengulum senyum.


Mas Bastian pun melanjutkan makan tanpa berkata-kata. Aku yang terus memperhatikannya, tiba-tiba dikejutkan oleh isak tangis mas Bastian yang tengah menyantap mie. Mataku terbelalak mendapati bulir-bulir bening yang menetes pada kedua belah pipi mas Bastian.


"Mas ...."

__ADS_1


"Aku adalah lelaki paling bodoh di dunia ini, Imania," ucap mas Bastian sembari terisak. Mulutnya masih dipenuhi mie instan tersebut.


"Mas ...."


Mas Bastian mengusap air mata yang terus meluncur dari kedua matanya. Kepulan uap panas dari mie tersebut seakan berlomba untuk menyembunyikan wajah basah mas Bastian. Akan tetapi, uap yang mengepul tidak lebih banyak dari air mata yang terus meluncur ke kedua pipi mas Bastian.


"Aku telah melepaskan keberuntunganku, demi memenuhi egoku. Aku sudah membuang wanita paling berharga, hanya demi wanita yang menarik. Padahal yang menarik itu bersifat klise, kamuflase."


"Mas ...." Aku masih menatapnya bingung.


"Aku telah menyia-nyiakan wanita sepertimu, Imania. Aku sudah menyakiti istri yang sempurna seperti dirimu. Aku terlalu bodoh!" ucapnya sembari terus menyantap mie-nya.


"Aku terlalu hanyut pada cinta masa lalu. Sehingga rela membiarkan cinta masa depan yang sesungguhnya," lanjutnya sembari mengusap wajahnya yang basah.


"Imania, mie instan ini bahkan lebih terasa enak dibandingkan dengan makan di rumah. Bila di rumah, aku selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Bella. Dia tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Bahkan, pakaian kerjaku, aku sendiri yang mencuci. Pekerjaan rumah banyak yang terbengkalai. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Bila aku memberi pengarahan padanya, dia selalu bilang, bahwa dia itu istriku, bukan pembantuku," papar mas Bastian sembari terisak.


Baru kali ini, aku melihat sosok mas Bastian yang serapuh ini. Meskipun ia pernah melukai perasaanku. Meskipun telah begitu banyak kekecewaan yang ia lakukan terhadapku. Namun, melihat keadaannya sekarang, hatiku merasa sesak. Nyeri sekali melihat setiap tetes air mata yang keluar dari mata yang pernah begitu teduh memerangiku. Mata yang pernah menyoroti hiruk pikuk rumah tanggaku dengan pengharapan itu. Tanpa sadar, bulir-bulir bening dari kedua mataku ikut tumpah. Kudengarkan setiap curahan hati mantan suamiku itu.


Mas Bastian terus melahap mie itu sembari terisak. Sungguh, pemandangan yang teramat menyedihkan.


"Mungkin, ini adalah karma, dari dosa besar yang pernah kulakukan bertubi-tubi terhadapmu, Imania. Tuhan sedang menghukumku. Tuhan sedang membalik keadaanku. Aku sadar dan terima itu."


Kuusap air mata yang turun membasahi kedua pipiku. Aku merasakan pedih yang mas Bastian alami. Tentu sangat sulit baginya menerima segala hal pahit ini.


Mas Bastian telah menghabiskan mie instan di hadapannya. Hanya tersisa air seduhan mie di dalam cup. Dan itu, ia habiskan sampai tiada sisa satu tetes pun. Ia kembali terisak di hadapanku.


"Aku merasa gila bila harus menyesali perbuatanku. Aku ... aku tidak mampu menatap wajahku sendiri di cermin. Aku merasa begitu buruk, Imania. Ternyata ... seperti inilah rasanya menyesal. Semua adalah salahku. Aku tidak pernah menggubris perkataan kedua orang tuaku. Dan ... inilah akhir dari keegoisanku." Mas Bastian menyeka wajahnya yang basah menggunakan tangannya. "Imania, aku menyesal sudah mengkhianatimu."


Kuusap air mataku. Kemudian kuraih tangan mas Bastian. Kugenggam erat seakan mencoba untuk menguatkannya. "Mas ... semua yang telah terjadi, ini adalah sebagian dari skenario Tuhan. Sebagian lagi adalah dari langkah yang telah kita pilih. Akan tetapi, pada dasarnya, apapun yang ditakdirkan kepada kita adalah atas kehendak Tuhan. Jika Tuhan tidak menghendaki, maka semua ini tidaklah terjadi."


Mas Bastian menatapku bergeming.


"Mas ... kadangkala kita selalu bertindak atas penilaian hati. Hingga pada akhirnya, kita mengesampingkan logika. Padahal, hati terlalu overdosis dalam memutuskan segala sesuatunya. Jadi, berlatihlah untuk berpikir menggunakan logika. Lain kali, kau tidak boleh salah memutuskan langkah lagi, ya?" ucapku mencoba menenangkannya.


Mataku beralih ke pada dua cup mie instan yang telah ludes dilahap mas Bastian. Hatiku teriris melihatnya. Kemudian kembali kutatap mata lelaki di hadapanku. "Mas ... tiada gunanya meratapi nasib. Itu hanya akan membuatmu semakin terpuruk. Jalani saja dengan ikhlas. Aku yakin, Bella bisa menjadi istri yang terbaik, seperti yang selalu kau dambakan. Dan itu butuh waktu, Mas. Pelan-pelan ...."


Mas Bastian menarik napasnya dalam, menatapku dengan mata yang basah, lalu meremas jemariku. "Imania, aku terlambat jatuh cinta kepadamu."


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Readers Keceh nan Badeh!


Author mau ucapkan, MARHABAN YA RAMADHAN, untuk Readers Keceh yang menjalankan (bagi yang muslim).


Selamat menyambut bulan Ramadhan tahun ini dengan gembira, ya?


Selamat menunaikan ibadah puasa? Semoga yang menjalani diberikan kelancaran dan selalu dilingkupi berkah dari Yang Maha Kuasa.


Mari kita sambut bulan Ramadhan dengan hati yang suci, hati yang bersih, hati yang ikhlas, dan hati yang gembira, ya?


Semoga kita senantiasa sehat dan dijauhkan dari segala mata bahaya dan sakit. Dijauhkan pula dari Virus COVID-19. Aamiin.


Semoga bulan penuh kesucian ini, juga dapat membersihkan virus COVID-19 yang mewabah di dunia sekarang. Aamiin.

__ADS_1


Oh, ya, selamat beribadah dan selamat pagi!


Thank You ...!


__ADS_2