
Kuceritakan segala yang terjadi tentang Arka. Fania sangat shock mendengar kenyataan pahit yang telah terjadi. Fania sangat menyayangi putraku. Ia sangat dekat dengan Arka. Mereka berdua sudah seperti kakak dan adik. Bisa dibayangkan, betapa terpukulnya hati Fania. Dia sangat sedih, sama sepertiku. Dia menangis ... terus menangis. Meratapi kepergian Arka.
Tidak hanya menceritakan tentang kepergian Arka dari dunia ini. Pelan-pelan ... aku juga menceritakan segala tentang pak Wibowo kepada Fania. Kujelaskan perihal alasan pak Wibowo meninggalkan ibunya Fania, yaitu Arumi. Hingga penyesalan yang begitu mendalam di benak pak Wibowo.
Fania sangat terkejut mendengar seluruh ceritaku perihal pak Wibowo. Ia marah. Itu yang pertama kali diekspresikan oleh Fania. Akan tetapi, dilain sisi ia juga sedih mengetahui semuanya. Termasuk mengetahui sekertaris Ve adalah kakak kandung dari Arumi. Dia semakin membenci kedua orang tersebut. Yaitu pak Wibowo dan juga sekertaris Ve.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan mereka berdua!" ucap Fania sembari menangis.
"Aku dan ibuku sudah cukup menderita gara-gara si Wibowo itu! Dia adalah seorang lelaki pengecut! Aku sangat membencinya!" lanjut Fania sembari mengepalkan tangannya.
Itu adalah respon dari Fania. Apa yang dapat kulakukan? Hanyalah menasihatinya dan meminta Fania untuk membuka hatinya, memaafkan pak Wibowo dengan besar hati. Nyatanya itu sulit. Aku memahami mengapa Fania seperti itu. Bahkan bila aku berada di posisi Fania. Kemungkinan aku juga melakukan tindakan yang sama. Yaitu kecewa, marah, dan benci.
***
Seminggu kemudian.
Fania sudah diperbolehkan pulang. Dokter mengatakan bahwa ia sangat takjub melihat progres kepulihan Fania dari pendarahan yang sempat terjadi di otak. Itu seperti keajaiban. Karena dokter sendiri tidak yakin otak Fania dapat difungsikan secara normal lagi. Kami sangat bersyukur. Tuhan masih menurunkan keajaiban untuk sahabatku itu. Dan ... kami pun pulang.
Biaya rumah sakit sudah dibayar oleh pak Wibowo, sesaat setelah Fania terbangun dari koma. Namun, setelah kepergiannya itu, pak Wibowo tak menjenguk Fania kembali.
Rudi yang menjemput dan mengantar kami untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, Fania meminta untuk diantarkan ke pusara Arka terlebih dahulu. Ia ingin mengunjungi makam Arka.
Akhirnya, Rudi pun mengantarkan kami ke pusara Arka. Di tengah perjalanan, kami turun untuk membeli buket bunga. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir Arka tersebut.
Sesampainya di sana, Fania tidak dapat lagi menahan kesedihannya. Ia tak mampu lagi menahan diri untuk tidak menangis. Air mata Fania tak terbendung lagi. Begitupun aku, yang masih tidak menyangka semua ini bisa terjadi. Seperti mimpi buruk. Putra kecilku yang malang telah pergi.
Aku dan Fania meletakkan buket bunga tersebut di atas pusara Arka. Aku, Fania, dan juga Rudi pun duduk dan bersama-sama mendoakan Arka.
__ADS_1
"Arka ... tante kangen sama Arka."
"Arka sedang apa sekarang? Apa Arka melihat tante? Apa Arka bisa mendengar Tante?" Fania mengusap nisan bertuliskan nama Arka.
"Kita tidak bisa bermain lagi, ya? Tapi ... kapan-kapan kita bisa main lagi. Tante tidak tahu kapan. Mungkin, suatu saat kita akan bertemu lagi."
Fania mulai terisak lagi. Jangankan Fania, aku dan Rudi pun ikut terisak.
"Arka Sayang. Tidurlah yang nyenyak. Tante akan sering-sering mengunjungi Arka. Arka anak hebat. Arka anak kebanggaan tante. Maafin tante, ya. Tante baru bisa mengunjungi Arka. Damailah di sisi Tuhan. Selamat jalan, Sayang ...."
Fania memeluk nisan sembari terisak. Membuatku ikut terhanyut dalam kenangan indah masa-masa kami dulu.
Aku kembali teringat akan masa itu. Ketika Arka menanyakan perihal papa baru. (Episode 143)
"Mama? Apa kita mau jalan-jalan sama papa?"
"Bukan, Sayang. Kita mau jalan-jalan sama Om Dimas."
"Itu karena ... Om Dimas adalah teman Mama. Memangnya kenapa, Sayang."
"Arka pikir, Mama mau mencari papa baru untuk Arka."
"Arka mau enggak, kalau mama mencari Papa baru untuk Arka."
"Bagaimana dengan papa Bastian?"
"Dia tetap menjadi papamu, selamanya."
__ADS_1
"Berarti, kalau Mama mencari papa baru, Arka akan punya dua papa?"
"Arka Sayang ... papa Bastian akan menjadi papa Arka selamanya, tapi tidak bisa tinggal bersama kita. Dia tetaplah papamu, tapi bukan menjadi suami mama lagi. Tetapi sekarang, papa dan mama adalah teman. Dan kami akan selalu membahagiakan Arka. Arka mengerti?"
"Nah, kalau nanti mama mendapatkan papa baru untuk Arka, itu pun jika Arka setuju dan menyukainya. Jika tidak, mama tidak akan memaksa Arka."
"Ya, Ma."
Aku mengusap bulir bening yang terus mengucur deras dari kedua mataku. Sayang sekali, mama tidak sempat memberikan papa baru buat Arka. Maafkan mama, Nak. Belum sempat membahagiakan Arka dengan maksimal. Sampai jumpa di surga, ya, Sayang. Doakan biar mama kuat menjalani hidup meski tanpa kehadiran Arka lagi. Mama akan selalu menyayangi dan mengenang Arka. Jadilah jagoan kecil mama selalu ....
Setelah kami puas mencurahkan kerinduan. Kami pun beranjak untuk pulang.
***
Sesampainya di rumah orang tuaku. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang tengah mengantarkan sebuah paket. Awalnya kupikir dia salah kirim. Ternyata benar, itu paket untukku. Pengantar paket itu juga memberikan secarik kertas padaku. Isinya adalah ... surat dari Vanessa Liliana.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh?
Sebenarnya episode ini masih panjang. Berhubung Author Keceh semakin tidak fit hari ini. Jadi, tidak apa-apa, ya, atas kekurangannya. Episode ini terpotong separuhnya. Akan kusambung di episode selanjutnya.
Author Keceh sudah berjanji UP. Jadi, terpaksa Author terbitkan episode ini.
Besok kita sambung lagi, ya?
__ADS_1
Untuk Readers Tersayang, mohon untuk selalu menjaga kesehatan. Jaga dan atur pola makan dengan baik. Semoga kalian senantiasa sehat.
Thank you ...!