BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Masa-Masa Memilukan (Cukup Sekali Dikhianati, Tidak Untuk Kedua Kali)


__ADS_3

"Imania, aku terlambat jatuh cinta kepadamu."


Betapa terkejutnya mendengar pernyataan mas Bastian. Dia ... dia jatuh cinta padaku? Apa barusan aku salah dengar?


"Mas ... a-apa maksudmu?"


"Aku menyukaimu, Imania. Aku ... aku ... aku jatuh cinta padamu."


Deg! Mata kami saling menatap. Bola mata yang basah itu berkilau sesaat, ketika mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang tidak pernah sekalipun kudengar selama menikah dengannya. Kalimat yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehku.


"Sejak kapan?"


Mas Bastian meremas jemariku erat. Mata itu terus menatapku dalam. "Sejak setelah kujatuhkan talak tiga padamu."


Aku menatapnya tidak mengerti. Namun, mas Bastian segera menceritakan tentang perasaannya saat itu.


"Kau ingat, ketika ayahku berada di rumah sakit. Ia terkena serangan jantung gara-gara aku. Saat dia koma, aku benar-benar stress. Aku membenci diriku sendiri. Aku ... aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, jika sampai terjadi sesuatu pada ayah."


Ya, aku mengingat kejadian itu. Mas Bastian pun kembali bercerita, sembari aku bernostalgia.


"Di situlah, aku melihat dirimu. Di situ, aku baru menyadari, bahwa aku cemburu setiap kali Dimas mendekatimu. Aku tidak suka kau dekat dengannya. Aku benci melihatmu bermesraan dengannya. Aku ... aku cemburu Imania. Aku cemburu," papar mas Bastian dengan mata yang sendu.


Pernyataannya membuatku tertunduk dalam. Aku masih tidak menyangka mas Bastian mengeluarkan pernyataan seperti ini.


"Imania, kau ingat, ketika kau mendapatiku tidur di koridor rumah sakit. Lalu kau menempelkan tanganmu ke dahiku. Dan kau tampak begitu panik mendapatiku sakit. Kau berlari menuju kantin, dan kau kembali dengan membawakanku bubur dan teh hangat di rumah sakit saat itu. Saat itu ... aku sudah jatuh cinta padamu."


Tak terasa, aku begitu terharu mendengar penuturan mas Bastian tentangku. Sehingga tanpa sadar, buliran bening di mataku kembali menetes.


"Satu lagi. Kau ingat ketika aku menghampirimu ke rumah orang tuamu. Waktu kau terjatuh saat akan mengambil kunci lemari. Dan kau terkilir. Kau ingat?"


Aku mengangguk. Namun, tak bisa menatapnya. Aku khawatir terjatuh lagi bila terlalu hanyut dalam masa lalu.


"Dan aku memijat kakimu di bawah naungan wajahmu. Saat itu ... aku mendongak ke atas. Lalu yang kulihat adalah sesosok wajah bidadari. Di mataku, kau sangat cantik. Aku sampai bergeming memandang wajahmu. Dan kau tersipu malu. Sungguh, Imania, kau begitu cantik dan sempurna. Dan aku terlambat menyadari dirimu ... beserta perasaanku."


"Mas ...."


"Imania, tatap aku!" pinta mas Bastian sembari menggenggam erat jemari tanganku.


Aku pun menatap wajah basah itu. Menatap mata yang masih mengeluarkan embun penyesalan itu.


"Di detik-detik perceraian kita. Aku sangat tersiksa. Tuhan menyiksaku dengan penyesalan dan rasa cemburu. Dadaku terasa sakit dan sesak. Apalagi ketika memelukmu di depan Kantor Pengadilan Agama waktu itu. Aku merasakan sakitnya, melepas hatiku yang sudah terlanjur terbelah," ungkap mas Bastian.


"Kau tahu, lebih sakit mana antara patah hati dan penyesalan? Bagiku menyesal adalah yang paling menyakitkan. Karena di saat aku menyesal, hatiku tidak hanya merasakan sakit dan patah, tetapi juga hancur."


Bola mata kami saling bertukar memori. Seakan tengah membuka kembali masa-masa menyedihkan waktu itu. Masa tersulit ketika kita harus ikhlas dan rela melepaskan hati yang tak bisa dimiliki lagi.


"Imania, seandainya waktu bisa diputar kembali. Aku ingin memperbaiki diriku." Terpancar binar cahaya keseriusan di dalam perkataan mas Bastian padaku.

__ADS_1


"Sekarang ... kau sudah tahu segalanya. Penyesalanku, kepedihanku, dan rasa cintaku yang tiba-tiba muncul sejak saat itu ... hingga sekarang," ucap mas Bastian lagi.


"Mas ... bukankah sudah kubilang. Tidak perlu menyesali segala yang telah terjadi. Jika masa lalu itu menyedihkan dan penuh penyesalan. Kita masih punya masa depan, yang penuh kebahagiaan dan pengharapan. Jadi ... berhentilah meratapi masa lalu. Fokus saja menuju masa depan yang lebih baik," tuturku mencoba menasehati.


Kedua mata mas Bastian berkilat. Dihapusnya embun matanya dari pipi. Sesungging senyum melintas di wajahnya. "Apa ... itu berarti ... masih ada harapan untuk kita bersama lagi, Imania?"


Pertanyaan mas Bastian membuatku terkejut dan bungkam sesaat. Sepertinya mas Bastian telah keliru memahami perkataanku. Aku mengatakan itu untuk diri kita masing-masing, bukan untuk bersama kembali.


Kulempar sebuah senyum padanya. Kutaruh telapak tangan kiriku di atas punggung tangan mas Bastian yang tengah menggenggam jemariku erat. "Mas ... aku sudah menganggapmu sebagai sahabat, semenjak talak tiga yang kau jatuhkan di malam itu. Aku sudah mengikhlaskan dirimu seutuhnya. Aku sudah bersikeras untuk memahamimu. Membiarkanmu mencintai Bella, melepaskanmu untuk hidup bersama dengannya. Aku sudah melapangkan dadaku selebar-lebarnya, bahkan untuk sekadar mengenal Bella."


Mas Bastian menatapku serius. Kedua bola mata itu masih menyinarkan sebuah pengharapan. Dan itu membuatku semakin tidak tega. Akan tetapi, aku tidak bisa memberinya pengharapan itu.


"Kau tahu? Ketika malam itu kau berkata jujur padaku, bahwa kau sudah menghamili seseorang. Di situlah hatiku sudah hancur, sehancur-hancurnya. Aku ...." Aku kembali terisak mengingat kejadian di malam itu, sebelum mas Bastian menjatuhkan talak tiga padaku.


Mas Bastian menunduk dalam, seperti sedang menyadari sesuatu yang salah pada dirinya, sesuatu yang pernah ia lakukan padaku.


"Saat itu hatiku sudah remuk. Hancur berkeping-keping. Aku ... aku merasa tidak ada lagi yang bisa kupertahankan. Aku sudah setia menjaga perasaanku untukmu. Dan semuanya sia-sia." Aku terisak, mengingat sesak yang melandaku malam itu.


"Jika saja, kau tidak sampai menghamili Bella. Mungkin, aku masih bisa bertahan demi anakku. Akan tetapi ... cinta itu tidak bisa dipaksakan. Sekeras apapun kita memaksa, maka cinta akan semakin menyiksa. Oleh sebab itu, aku meminta agar kau segera menjatuhkan talak tiga padaku. Agar setengah hatiku yang sudah remuk segera runtuh dan lepas dari dadaku."


"Imania, maafkan aku ... maafkan aku ...." Mas Bastian kembali terisak sembari tertunduk.


Aku tertawa kecil di sela tangisku. Menertawai konyolnya diriku sendiri. "Lebih konyolnya lagi, aku memintamu agar membawa Bella—wanita yang telah kau hamili itu. Memintamu agar mengenalkanku padanya. Dan kau tahu mengapa aku melakukan itu?"


Mas Bastian mengangkat wajahnya, menatap netraku yang sudah basah kuyup.


"Kau pikir aku biasa saja waktu berkenalan dengannya? Tidak, Mas. Sakit ... sesak ... pedih. Hatiku terluka, Mas. Namun, aku berusaha menahannya. Aku berusaha tersenyum manis padanya. Berusaha menampilkan sisi eleganku, bahwa aku baik-baik saja. Padahal aku sangat rapuh. Aku terluka parah saat itu, Mas. Aku ...."


Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku. Kupikir, aku sudah benar-benar menimbun luka itu dalam-dalam. Nyatanya, ketika mengingat kembali masa-masa itu. Luka di dadaku seperti kembali terbuka. Perih ... sesak.


Kuseka berkali-kali wajahku, sedangkan mas Bastian yang ikut terisak pun menyeka wajahnya yang basah.


"Maaf ...." Mas Bastian mulai berkata lagi. "Aku tidak tahu apa yang bisa menyembuhkan lukamu itu. Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf. Aku ... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."


"Cukup menjalani kehidupan kita masing-masing saja, Mas. Jangan ungkit masa-masa itu lagi. Karena sejujurnya, aku tidak sekuat dan sehebat yang kau kira. Saat ini pun, jiwaku masih rapuh. Aku masih memiliki trauma tersendiri untuk menjalin hubungan serius bersama laki-laki. Aku tidak mau tersakiti lagi."


"Itu berarti, tidak ada kesempatan bagiku untuk membawamu kembali, Imania?"


Kupejamkan kedua mataku, kuambil napas dalam, mengembuskannya perlahan. Kemudian membuka kembali kelopak mata ini. Menatap kedua mata mas Bastian. "Sesudah talak tiga kau jatuhkan waktu itu. Aku sudah menghapus dalam-dalam perasaan cintaku terhadapmu, hingga tak tersisa."


Mas Bastian tertawa kecil, lalu tersenyum padaku. Ia embuskan napas panjang, lalu berkata, "Kuharap kau bahagia bersama lelaki, yang sangat beruntung, karena mampu mendapatkan cintamu itu, Imania."


"Doa yang sama untukmu. Berbahagialah bersama Bella. Terima dia apa adanya. Semoga kalian bisa saling memahami dan selalu mencintai."


Setelah tercurah segala perasaan, kami saling tertawa menatap satu sama lain. Mengusap wajah basah kami masing-masing. Kami sedang menyadari, bahwa ada sebuah kisah konyol dan menyedihkan di antara kami. Kisah yang ingin kutimbun dalam-dalam, agar tak mengingatnya lagi.


"Papa?" teriak Arka yang sudah berdiri di tepi kolam, memandang ke arah kami.

__ADS_1


Mas Bastian menyadari janjinya untuk bermain air bersama Arka. Untuk sesaat ia menatapku dalam lagi sembari berkata, "Kita masih bersahabat, kan?"


"Tentu saja," ucapku sembari mengulum senyum.


Mas Bastian pun segera berdiri dan beranjak ke arah Arka. Di tepi kolam, ia membuka pakaian luarnya, hingga menyisakan celana pendeknya. Ia pun segera menceburkan diri ke dalam air. Seolah tidak ada apa-apa, mas Bastian langsung tertawa gembira bersama Arka. Berkali-kali kulihat mas Bastian mencelupkan wajahnya ke air dan mengusap kedua matanya. Seakan ingin menghapus sisa hujan dari kedua bola mata itu.


Aku bukan wanita yang sangat kuat apalagi hebat. Aku hanya seorang wanita biasa. Sekali terluka, aku bisa rapuh. Sekali dikhianati, tidak untuk kedua kali. Namun, aku bukan seorang pembenci. Aku selalu siap melapangkan hati untuk memaafkan, tetapi tidak untuk menerimanya kembali. Cukup sekali saja aku merasakan pedihnya luka pengkhianatan. (Imania Saraswati)


***


Usai bermain air di water park, mas Bastian mengajak kami untuk makan di restoran Rudi. Kami pun setuju. Makanan di restoran Rudi sangat enak, itulah sebabnya, kami belum bisa move on dari menu-menu Giant Restauran.


Setelah sampai di Giant Restauran, kami masuk dan mengambil tempat duduk. Seseorang waitress pun datang dengan membawa buku menu. Beberapa menu kami pesan sesuai selera masing-masing.


Tidak lama kemudian, waitress tersebut datang kembali dengan membawa menu-menu pesanan kami. Kami pun segera menyantap hidangan lezat yang tersaji.


Saat kami sedang asyik makan, tiba-tiba mataku dikejutkan oleh dua orang yang baru saja masuk dan menuju tempat duduk. Seorang laki-laki dan wanita yang tengah menggandengnya mesra.


Saat aku tengah menatapnya terkejut, mata lelaki itu pun tepat bertemu dengan mataku. Mereka berjalan menuju meja yang tidak jauh dari tempat kami. Lelaki itu segera mengalihkan pandangannya dariku. Seakan mencoba cuek dengan keberadaanku.


"Imania, itu Dimas dan Nessa?" ucap Fania sembari menunjuk ke arah mereka yang tengah duduk.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Keceh ...!


Saat ini Author Keceh masih On Going mengetik menuju Ending, ya?


Terima kasih atas dukungan kalian, ya? Karena berkat Readers Keceh Tersayang, Novel ini mampu masuk menembus KATEGORI NOVEL KONTRAK BERKUALITAS.


Tanpa partisipasi dan dukungan dari kalian, Author tidak mungkin bisa mencapai itu semua. Jadi, mohon tetap dan terus dukung novel ini menjadi salah satu novel yang unik dan digemari oleh para Readers Keceh Noveltoon, ya?


Dengan cara, LIKE, VOTE, KOMEN, RATE BINTANG LIMA. Karena ini gratis, kok?


Eh, ada yang minta dibuatkan SEASON 2, ya?


Tenang saja, meskipun tidak ada season 2 tapi Author Keceh sudah siapkan novel terbaru yang insyaAllah terbit di bulan Juli. Ini baru rencana loh, ya? Semoga saja bisa terbit di sini juga. Makanya kasih donk dukungan ke Author Keceh.


Dengan antusias kalian, Author Keceh akan semakin semangat menulisnya. Jadi, dukung terus Author Keceh dengan memfavoritkan novel ini dan memberikan VOTE sebanyak-banyaknya.


Oh, ya? Khusus Ramadhan ini, mohon maaf jika Author hanya up sekali per hari. Tapi kuusahakan 2 kali per hari kok?


Maklum, Author Keceh kalau laper suka pusing, nih, kepala, he-he. Eits! Jangan lupa FOLLOW dan masuk GRUP ya?


Author juga suka bagi poin di grup! Yuk bisa buat menangin GIVE AWAY VOTING yg Author Keceh selenggarakan ya? Poinnya digunakan untuk VOTE novel ini ya?

__ADS_1


THANK YOU! 😘


__ADS_2