
Fania kembali duduk di sebelah mas Bastian. Ia juga meletakkan beberapa camilan dan minuman di sebelah Arka. Sedangkan aku kembali menatap mas Bastian.
"Apa yang tadi ingin kau katakan, Mas?"
"Oh, tidak jadi. Mungkin lain kali saja!"
Dia membuatku penasaran.
"Sebenarnya ... sebelum sidang perceraian tiba, aku ... aku merasa sangat menyesal. Karena entah mengapa, tiba-tiba aku merasa ... aku ... aku ... aku men—"
Aku menghela napas dalam. Mencoba melupakan perkataan mas Bastian yang tertunda tadi. Kemudian kami duduk bersantai bersama, sembari minum dan makan beberapa camilan yang di beli Fania.
"Papa, Arka lapar!" rengek Arka.
"Baiklah, setelah ini kita akan makan dulu," kata mas Bastian.
Setelah puas menghabiskan waktu di taman hiburan. Kami pun ke luar, dan naik kembali ke dalam mobil. Kemudian meluncur menuju rumah makan.
"Kita mau ke mana, Bas?" tanya Fania yang duduk di sebelah mas Bastian di depan.
"Makan."
"Iya, maksudku ke mana? Makan di mana?"
"Giant Resto."
"Oh, my God! Ke sana lagi? Tidak, jangan ke sana! Aku tidak mau!"
"Kenapa memangnya?"
"Aku tidak mau bertemu si arogant Rudi lagi! Pokoknya jangan kesamaan!" kata Fania.
"Arka ingin makan dessert di resto Om Rudi!" kata Arka.
"No, Arka! No!" Fania ngotot sekali untuk menahan kami pergi ke sana.
"Yes, Tante, yes!"
"No!!"
"Yes!!"
Arka dan Fania tampak saling ngotot. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Aku yang memutuskan! Tetap yes!!"
Fania tampak kesal sekali. Aku memahaminya, sebab baru beberapa hari yang lalu, kan, Fania disuruh-suruh seperti pembantu di restoran Rudi. Aku jadi teringat akan kejadian yang Fania ceritakan waktu itu. Saat Fania menyiram wajah Bella dengan juice di restoran Rudi.
Anehnya, mas Bastian sepertinya bersikap biasa saja terhadap Fania. Apa ... Itu berarti mas Bastian tidak marah, istrinya telah diperlakukan kasar oleh Bella?
__ADS_1
"Bastian, please!" Fania belum menyerah rupanya. Dia tetap memprovokasi mas Bastian agar memutar arahnya.
Akan tetapi, sebentar lagi kami akan sampai di restoran Rudi. Percuma saja Fania menolak, kami akan tetap menuju ke sana. Selain Rudi adalah teman kami, menu makanan di tempat Rudi sangatlah enak. Bahkan, Arka selalu menyukainya. Terutama menu dessert. Arka bisa menghabiskan beberapa menu dessert kesukaannya di sana.
Mobil pun berhenti di depan Giant Restauran. Kami turun dari mobil. Tetapi tidak dengan Fania. Dia tetap berada di mobil. Aku pun menghampiri Fania yang terduduk lesu di mobil, seraya memanyunkan bibirnya.
"Ayo, Fan? Kamu tidak mau makan enak?"
Fania diam saja. Rupanya dia ngambek.
"Beneran, nih, enggak mau ikut?" Aku melongok dari luar kaca mobil yang terbuka setengah.
"Di sana ada seafood kesukaanmu, loh? Lobster yang dagingnya empuk sekali! Kepiting raksasa yang dagingnya super lembut! Ada juga steak yang rasanya menggoyang lidah. Sip buntut super gurih di lidah. Dessert-dessert manis yang meleleh di lidah. Oh ... Fania. Kau sungguh ingin melewatkan itu semua?"
Aku masih menatap Fania yang duduk dan mulai bergeming.
"Ah, sudahlah! Ayo kita masuk!" ajakku pada Arka yang sudah tak sabar untuk makan.
Aku, Arka, dan mas Bastian pun masuk ke dalam restoran. Saat kaki kami baru melewati pintu, aku merasa ada yang berjalan di belakangku. Dan ternyata itu Fania. Aku tersenyum lebar melihatnya yang berjalan mengendap-endap di belakang kami, dengan memakai sebuah topi dan kacamata hitam.
Mas Bastian menyadari bahwa itu barang miliknya. Ia pun segera menegur Fania. "Hei! Itu barang-barangku! Cepat lepaskan! Untuk apa kau berpenampilan seperti itu?"
"Oh, Bastian, diamlah! Berjalanlah terus, jangan terus menatapku seperti itu."
Akhirnya, kami pun mengambil tempat duduk. Mas Bastian segera memesan begitu banyak menu makanan. Aku sampai terkejut. Dulu, mas Bastian begitu memperhitungkan untuk hidup hemat. Apa sekarang ... dia sudah berubah menjadi begitu royal?
Kami pun menunggu beberapa saat. Hingga, beberapa waitress datang bergantian menyajikan menu-menu di atas meja kami. Disusul seseorang yang mungkin akan menambah rasa kesal Fania. Menu terakhir adalah Rudi sendiri yang mengantarkannya.
"Hai, Imania? Hai, Arka? Apa kabar? Selamat datang di istana pelipur laparku?" ucap Rudi dengan ramah seperti biasa.
"Hai, Om?" balas Arka.
"Alhamdulillah, baik, Rud. Bagaimana denganmu? Masih single-kah?" tanyaku.
Rudi meletakkan menu dessert kesukaan Arka, kemudian duduk di sebelahku. Dan juga adalah di sebelah Fania.
"Ya, aku masih jomlo, Imania. Aku masih menunggu seseorang siap menerima cintaku."
"Oh, ya? Kalau begitu, kau sudah punya wanita incaran, donk?" balasku turut senang.
"Sudah. Tetapi dia tidak peka sama sekali terhadap perasaanku. Padahal aku sudah menunggunya begitu lama. Dia sepertinya mencintai laki-laki lain," jawab Rudi sedih.
"Jika belum terlambat, kau harus terus mengejarnya. Perjuangkan dia!" saranku.
"Benar! Aku akan terus mengejar dan memperjuangkannya." Rudi menatapku dengan tatapan mata berbinar-binar. Itu membuatku merasa sedikit risih.
"Eghem!" Lagi-lagi mas Bastian berdehem.
"Hai, Bas! Apa kabarmu? Di mana istri barumu itu?" tanya Rudi dengan santai
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" jawab mas Bastian.
"Wah, ini ada acara apa? Bukankah kalian sudah bercerai? Kalian tidak akan rujuk, bukan? Lalu bagaimana nasib istri barumu nanti?"
"Hari ini ulang tahun Arka. Kami hanya ingin menyenangkan hati Arka," jawabku langsung. Aku tidak ingin Rudi salah paham menilai kedekatan kami.
"Arka ulang tahun?" tanya Rudi pada Arka.
"Iya, Om," jawab Arka.
Rudi langsung memanggil seorang waitress. Dan waitress tersebut pun menghampiri Rudi.
"Katakan kepada Chef Arnold, untuk membuatkan satu kue ulang tahun yang paling enak dan paling spesial! Hias dengan sangat ceria! Karena kue ini untuk anak-anak!"
"Baik, Pak!"
Waitress tersebut pun segera pergi untuk melakukan tugasnya.
"Tidak perlu repot-repot, Rud," ucapku merasa rikuh.
"Tidak masalah. Lagi pula, ini untuk calon anakku."
Kami semua terkejut mendengar pernyataan Rudi.
"Hanya bercanda, ha-ha ...!" jawab Rudi dengan kikuk. Ia tampak menggaruk-garuk kepalanya seraya tertawa.
Kami pun mulai menyantap makanan yang tersaji. Fania tampak duduk dengan cemas. Hingga Rudi pun tersadar, ada satu sosok di sebelahnya yang belum sempat ia sapa.
Rudi mengamati tingkah aneh seseorang yang duduk di sebelahnya. Mata Rudi tampak menyelidik dengan seksama. Sedangkan Fania dengan kikuk tetap melanjutkan makannya.
Rudi menyipitkan kedua matanya. Seperti sedang mengamati sosok berpenampilan aneh di sebelahnya. Rudi pun mendekatkan wajahnya pada sosok tersebut. Mengamati dengan teliti setiap inci wajah yang ada di hadapannya tersebut. Sedangkan Fania menjadi terhenti menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Fania! Ha-ha ...!" Rudi tertawa terpingkal-pingkal menyadari sosok tersebut adalah Fania. Fania dengan kesal melepas kacamata hitam yang menutupi matanya, dan menatap Rudi dengan sangat kesal.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh Tersayang ...!
Jika kalian penasaran TOKOH PIGURAN seperti apa? Silakan buka Episode 1– 13.
Sementara ini baru sampai situ yang ada gambarnya, ya?
TOKOH FANIA, RUDI, BELLA, dll masih dalam proses review.
Tungguin, ya?
Thank You ...!
__ADS_1