BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Hanya Janji


__ADS_3

Ia terus menghujami bibir ini dengan kelembutan-kelembutan. Seakan tengah melepaskan hasrat yang selama ini terbengkalai. Selama sepersekian detik bibir itu menjamuku. Setiap kali tangan ini mencoba mendorong dada bidangnya, justru ia semakin menarik leherku dan menekankan rasa lembut itu dalam-dalam.


Usai puas melayangkan kecupan demi kecupan, serta belaian pengecap rasa yang memadu rasa manis, perlahan-lahan ia lepaskan kelembutan itu dari bibirku. Tanganku yang masih menempel di dadanya, mampu merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang, sama seperti yang tengah kurasakan.


Ia membelai lembut bibirku. Mengusap sisa-sisa basah akibat ulahnya. Ia terus menatapku lekat-lekat, dan berkata, "Rasanya masih sama. Manis. Itu berarti ... kau masih menjaga ini untukku."


Kutepis jemarinya dari bibirku. "Kau selalu kurang ajar. Tidak berubah."


"Aku memang tidak pernah berubah. Sejak kita bertemu dulu, hingga sekarang, perasaanku masih sama padamu. Aku ... masih sangat mencintaimu."


"Pergilah! Jangan lakukan ini lagi. Lagi pula ... kau juga bisa melakukannya dengan—" Segera kuhentikan perkataanku. Seharusnya aku tak perlu membahas Nessa. Bukankah itu percuma? Itu takkan mengubah apapun.


Dimas meraih daguku. "Coba lanjutkan perkataanmu tadi."


Kuempas tangannya dari daguku. Aku berbalik membelakanginya. "Itu tidak penting lagi untukku."


"Tapi itu penting untukku."


"Dan aku sudah tidak peduli."


"Tapi aku masih peduli."


"Terserah! Itu bukan urusanku!"


"Benar. Itu memang bukan urusanmu. Tapi urusanku."


Aku segera beranjak dari tempat. Aku benar-benar malas berdebat dengannya.


"Aku masih mencintaimu," katanya.


Aku tetap berjalan, meninggalkannya.


"Tidak bisakah kau berhenti dan mendengarku sejenak."


Aku tetap mengabaikannya. Namun, ia berlari mengejarku. Ia menahan lenganku dan membalikkan tubuhku padanya.


"Kau tahu kenapa aku terpaksa menikahi Nessa?"


Aku hanya menatapnya, tapi tak menjawab pertanyaannya. Bukankah itu tak berarti lagi?


"Karena umur Nessa akan segera berakhir."

__ADS_1


"Siapa yang tahu tentang umur? Bukankah itu hanya kehendak Tuhan? Bisa saja, kan, Nessa hidup sepuluh atau bahkan seratus tahun lagi atas kehendak-Nya."


"Sayangnya ... kesempatan hidupnya hanya sampai usia dua puluh lima."


Dua puluh lima? Bukankah itu berarti ....


"Aku bukan Tuhan. Tapi aku seorang dokter. Aku yang menanganinya. Aku juga yang telah beberapa kali membelah dadanya."


Aku tertegun mendengar penuturan Dimas. Kemudian bertanya, "Berapa kali, kau membelah dadanya?"


"Empat kali."


Aku menelan salivaku sendiri. "Apa ... separah itu?"


"Tidak akan parah lagi. Karena organ jantungnya sudah terlalu rapuh dan tak dapat berfungsi dengan baik lagi. Kinerja jantungnya akan segera terhenti."


Aku menatapnya bingung. "Jika kau tahu usianya tidak akan lama lagi. Lalu ... untuk apa kau menikahinya?"


"Hanya ... agar aku tidak berhutang janji lagi."


"Janji apa?"


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Serentak kami mengalihkan pandangan pada sosok wanita yang tengah berdiri sekitar sepuluh meter dari kami.


"Bagus! Bagus sekali!" katanya sembari menghampiri kami yang terbelalak memandangnya.


"Nessa," ucapku.


Nessa berhenti di depan Dimas. Kini ... Nessa menatap Dimas penuh arti. Kedua matanya membendung air. Dadanya naik turun, dengan napas yang tak teratur.


"Jadi ... kau benar-benar menikahiku hanya karena janji?"


Dimas hanya bergeming. Sepertinya ia tengah menyesali perkataannya tadi. Dia tentu tidak menyangka bahwa Nessa mendengarnya.


"Kau tahu bahwa umurku tidak akan lama lagi, kan? Kupikir ... kau menikahiku karena tulus ingin membahagiakanku di sisa-sisa hidupku."


Air mata Nessa mulai turun. Dadanya semakin naik turun terpacu emosi.


"Kenapa tidak bilang saja, bahwa kau sedang menunggu kematianku. Agar kalian bisa segera menikah?"


"Nessa," panggilku.

__ADS_1


"Diam kau!" sergah Nessa sembari mengacungkan telunjuknya ke depan wajahku.


"Kau sangat beruntung, Imania. Walaupun raganya bersamaku, tetapi hatinya selalu untukmu. Dia tak pernah mencintaiku. Dia hanya terpaksa menerimaku."


"Ness, aku ... aku sudah putus dengannya. Kami sudah tidak ada hubungan apapun. Aku sudah berusaha untuk tidak kembali padanya," ujarku.


"Pada kenyataannya, kau tidak bisa, kan? Kau masih mencintai Dimas, kan?"


"Nessa," panggil Dimas.


Nessa pun mengalihkan pandangannya kembali kepada Dimas.


"Maafkan aku ...."


Nessa tertawa kecil mendengar pernyataan maaf dari Dimas, tetapi matanya terus mengeluarkan bulir-bulir bening.


"Maaf ... meskipun aku tidak mencintaimu. Aku akan tetap menepati janjiku, untuk menikahimu."


"Janji? Janji kau bilang?!"


"Ness, tenangkan dirimu!" ucap Dimas cemas.


"Setelah mendengar semua pernyataanmu itu, kau pikir aku bisa tenang?!"


"Ness." Aku mengusap punggungnya, tapi Nessa mengempaskan tanganku.


"Dimas, kau tidak perlu melakukan itu!" Nessa semakin terisak. Tangan kanannya mulai memegangi dadanya erat-erat. Seakan tengah menahan sesuatu yang terasa ingin meledak.


"Tidak perlu menikahiku! Aku tidak butuh dikasihani! Aku hanya ingin cintamu! Tapi ... itu mustahil. Pergilah! Pergilah kalian!"


Dimas mencoba menenangkan Nessa. Mimik wajah Dimas tampak panik memperhatikan Nessa. Begitupun aku.


"Kau jahat! Kau tidak mencintaiku ...."


Tiba-tiba napas Nessa tersengal-sengal. Wajahnya seperti tengah kesakitan. Kemudian tubuhnya terhuyung dan Dimas segera menangkap tubuhnya. Nessa tak sadarkan diri.


"Nessa, bertahanlah!" ucap Dimas panik.


Dimas segera menggendongnya, membawanya turun. Aku yang juga merasa panik dan bersalah pun mengikutinya.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2