BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Malam Terakhir Tidur Bersama Sahabatku


__ADS_3

"Arumi maafkan aku."


Selang beberapa menit kemudian, Fania bangun dari pingsan. Ia tampak terkejut mendapati dirinya berada di pangkuan pak Wibowo. Cepat-cepat ia berdiri, diikuti kami yang juga bangkit dari duduk.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi padaku?" tanya Fania sembari memegangi kepalanya.


"Tadi ... kau pingsan," jawabku.


Fania seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Kemudian ia memandang geram ke arah pak Wibowo. "Ini pasti gara-gara kau!" tudingnya.


Pak Wibowo bergeming sejenak, lalu bertanya, "Arumi, apa kau masih di sini?"


"Aku bukan Arumi. Aku Fania!"


Kini giliran pak Wibowo yang memegangi kepalanya. Tiba-tiba tubuh pak Wibowo terhuyung. Dimas segera menopang tubuh ayahnya agar tidak jatuh.


"Ayah, kau tidak apa-apa?" tanya Dimas dengan mimik khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Hanya ... sedikit pusing."


"Lebih baik bawa Ayah kembali ke mobil," saranku turut khawatir.


Dimas memapah pak Wibowo. "Ayah butuh istirahat dan menenangkan pikiran. Ayo kita pulang."


"Tunggu!" Pak Wibowo menahan langkahnya, menatap Fania lekat-lekat. "Fania, ayah tahu kau sangat membenciku. Ayah bisa mengerti perasaanmu. Tapi ... kalau kau sudah berubah pikiran untuk memaafkan ayahmu yang dzalim ini, ayah siap untuk kau pukuli seratus kali. Atau setidaknya ... kau mau menyebutku ayah, cukup sekali saja. Aku pasti sangat bahagia."


Usai mengucapkan kalimat itu, pak Wibowo beranjak terlebih dahulu dengan dipapah oleh Dimas. Sedangkan aku masih berdiri di sisi Fania yang tengah menatap punggung ayahnya itu.


Aku menatap kedua mata Fania yang mulai menitikkan bulir-bulir kepedihan. Kuusap-usap pundaknya, mencoba menenangkan hati sahabatku itu. Fania terisak menatap kepergian sang ayah yang masih tak termaafkan itu.


"Fania ...."


"Apakah aku termasuk durhaka karena tidak mampu memberikan maaf untuk orang yang disebut 'ayah' itu?" ucapnya terisak.


"Fania ...."


"Apa dia pikir, setelah apa yang ia perbuat terhadapku dan ibuku adalah sesuatu hal yang mudah termaafkan?"


Fania mengusap wajahnya yang basah. Aku menatapnya sedih sekali. Usahaku untuk menyatukan kembali ayah dan anak itu tidak berhasil. Rasanya ... sesak yang tengah dialami oleh pak Wibowo dan Fania, ikut menjalar ke dadaku. Ini memilukan.


"Aku pernah bersumpah untuk memukulinya seratus kali. Tapi ... entah mengapa aku tidak berdaya untuk melakukannya. Padahal aku sangat membencinya. Benci sekali."


Kupeluk sahabatku erat. Aku memahaminya. Tentu tidak mudah melewati masa-masa menyengsarakannya semenjak kecil. Apalagi Fania kerap mendapatkan kekerasan dari paman dan bibinya—kedua orang yang pernah mengasuhnya.


"Imania, aku belum bisa memaafkannya," isaknya.


"Pelan-pelan ... kau pasti bisa," ucapku lembut.


"Aku benci Wibowo! Aku sangat membencinya!"


"Sst ... tidak baik terlalu membenci seseorang. Tenangkan dirimu." Aku turut menitikkan air mata kesedihan terhadap hubungan mereka.


"Sungguh, lebih baik dia mati saja. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi!"


"Fania, tenangkan dirimu. Tidak baik bicara seperti itu."


Setelah memenangkan Fania, aku membawanya masuk ke mobil Dimas. Kami pun segera pulang. Tadinya kami pikir, usahaku akan berhasil. Dan kami bisa merayakan hari bersatunya ayah dan anak itu dengan makan bersama di restoran Rudi. Namun, ternyata tidak seperti ekspektasi. Fania sama sekali belum membuka pintu maafnya untuk pak Wibowo.


Rencana untuk mendekatkan mereka telah gagal. Sedih sekali. Fania juga tidak mau diajak makan ke restoran. Padahal biasanya dia paling semangat bila mendengar kata 'makan'. Mungkin, suasana hati Fania telah menghalangi dan ikut meredupkan nafsu makannya.


Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memaafkan kesalahan orang lain. Sekeras apapun usaha kita untuk menyatukan mereka, bila salah satu atau dua-duanya tidak ada dasar untuk saling memaafkan. Maka semua itu percuma. Namun, tidak ada usaha yang sia-sia. Setidaknya, kita telah berusaha untuk mengetuk pintu hatinya. (Thamie AK)

__ADS_1


***


Beberapa hari setelah kejadian di pantai, Fania menjadi sering murung. Wanita berambut pirang yang biasanya ceria, menjadi lebih diam. Dia menjadi jarang bicara denganku. Kadang-kadang dia tampak seperti sedang merenung. Kadang juga terlihat melamun. Aku sedikit mengkhawatirkannya.


Malam ini, kami tengah berbaring di atas tempat tidur. Semoga kali ini dia mau kuajak bicara.


"Fania, tiga hari lagi, aku akan menikah," ucapku membuka pembicaraan. Aku berharap Fania merespon seperti biasanya. Fania yang cerewet, bawel, dan ceria.


"Semoga berjalan dengan lancar," balas Fania singkat.


"Fania, boleh kutanya sesuatu?"


"Hm ...."


"Apa ... kau menerima Dimas sebagai adikmu?"


Fania terdiam sejenak, lalu berkata, "Dia tidak ada sangkut pautnya dengan kebencianku pada Wibowo itu."


"Itu berarti ... kau mau menganggapnya sebagai adikmu?"


Fania menghela napas panjang, lalu bercerita, "Aku pernah jatuh cinta kepada Dimas. Kau ingat, kan? Saat kejadian di mal dulu. Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa kami masih berhubungan darah. Untung ada Rudi, yang dengan cepat mengalihkan hatiku padanya. Sehingga aku tidak jadi mencintai Dimas dan mengkhianati perasaanmu, Imania," paparnya sembari menatap langit-langit kamar.


"Sungguh ... kadang-kadang masih tidak percaya kalau dia adik tiriku," lanjutnya.


"Aku juga tidak menyangka."


Kami hening sesaat, berada dalam pikiran masing-masing.


Aku menarik napas dalam, dengan hati-hati aku bertanya, "Fania, apa kau ... benar-benar membenci pak Wibowo? Apa selamanya ... kau tidak akan pernah mengakuinya sebagai ayahmu? Dia tampak sangat menyesali perbuatannya."


"Aku mau tidur." Fania mengacuhkan pertanyaanku, kemudian memiringkan tubuhnya, membelakangiku.


Lagi-lagi Fania tidak suka membahas apapun yang berhubungan dengan ayahnya tersebut.


Fania tidak menjawab.


"Oke, kita bahas yang lain saja," ujarku untuk mengalihkan pembicaraan. "Fania, sebentar lagi aku akan menikah."


"Aku sudah tahu. Kau juga sudah mengatakan itu tadi," ucapnya tanpa mengubah posisi tubuhnya.


"Itu berarti ... kita tidak bisa tidur bersama lagi, ya," ucapku sedikit sedih.


Fania membalikkan tubuhnya, menghadapku. "Apa kau sedih?" tanyanya.


"Sedikit."


"Seharusnya kau senang. Karena akan ada kehangatan di setiap malammu, bukan?"


Aku menoleh pada wajah yang menatapku lekat. "Kita akan rindu saat-saat seperti ini. Di mana kita bisa saling curhat, saling berbagi, dan bercanda."


Fania tersenyum menatapku. "Kau tidak akan kesepian. Karena akan ada Dimas yang pastinya lebih perhatian dariku."


"Fania, bagaimana denganmu nanti. Apa kau tidak akan kesepian bila tanpaku?"


"Aku akan pergi dari rumah ini."


Aku sangat terkejut mendengarnya. "A-apa maksudmu? Kau tidak boleh melakukan itu!"


"Kenapa tidak boleh?"


Kutangkupkan kedua tanganku ke pipinya. "Aku tidak akan membiarkanmu terlantar. Tidak sama sekali!"

__ADS_1


"Siapa bilang aku akan terlantar?" ucapnya terkekeh.


Aku memicingkan mata, menatapnya tak mengerti.


"Serigala betina mengajakku untuk tinggal di sarangnya."


Mendengar itu, aku merasa sangat senang. "Benarkah?"


Fania mengangguk tanpa melepaskan senyuman dari wajahnya.


Aku segera memeluk tubuh sahabat kesayanganku itu. "Entah mengapa aku sangat senang mendengarnya. Kau akan terjamin tinggal bersamanya. Aku yakin, Kak Ve sangat sayang padamu. Dia akan menjaga dan memperhatikanmu semestinya."


"Hm ... ekspektasimu terlalu tinggi. Tidak bertengkar dengan serigala betina itu saja pasti sudah untung."


Kulepaskan pelukan, menatapnya heran. "Apa tidak ada panggilan lain yang lebih manis untuknya?"


Fania tertawa melihat ekspresi wajahku. "Itu adalah panggilan termanis dariku."


"Kalaupun bertengkar, itu pasti ulahmu yang membuatnya kesal!" cibirku.


"Doakan saja, semoga aku tidak membuatnya stroke, ha-ha."


"Kau kejam sekali. Menurutku ... Kak Ve sebenarnya keibuan."


Fania tertawa mendengar penuturanku. "Penilaianmu sungguh manis." Fania mencubit hidungku gemas.


"Aww! Sakit." Kusingkirkan tangannya dari hidungku. "Kapan kau akan tinggal bersamanya?"


"Besok, serigala betina itu akan menjemputku. Kuharap ... kau tidak merindukanku."


"Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu? Tentu saja, aku akan sangat merindukanmu."


"Kau bisa mengunjungiku sewaktu-waktu. Atau aku yang mengunjungimu," ucap Fania yang membuatku merasa sumringah.


"Tentu saja. Berkunjunglah ke rumahku. Aku akan sangat gembira."


"Jadi ... ini malam terakhir kita tidur bersama?" tanyanya.


"Apa ada yang perlu kita lakukan malam ini sebagai kenangan?" Aku balik bertanya.


Fania memanyunkan bibirnya, seraya mengedip-ngedipkan sebelah matanya, lalu mendekatkan wajahnya padaku.


"Hei, apa kau gila?" Aku langsung mendorong bibirnya agar menjauh.


Fania hanya tertawa melihat ekspresi wajahku.


"Aku bukan lesbi*n!"


"Hei, kenapa serius sekali? Aku hanya bercanda," ucapnya.


"Kau membuatku terkejut saja," dengusku kesal.


"Aih! Kau pikir aku sudah gila? Aku masih normal. Jika tidak, mana mungkin aku menyukai Rudi."


"Omong-omong ... ada persamaan sifat antara Dimas denganmu," ucapku sembari tersenyum padanya. "Kalian sama-sama konyol!"


Akhirnya kami pun tidur dengan mendengarkan sebuah lagu favorit Fania. Yaitu lagu yang justru sangat tidak kusukai. Demi merayakan malam terakhir tidur bersamanya. Aku berusaha tenang dan mengikhlaskan telingaku yang berdenyut memberontak untuk tidak mendengar suara bising dari handphone Fania.


Persahabatan itu, tidak dengan memaksanya untuk menyukai hal-hal yang kita sukai. Tetapi belajar, untuk terbiasa dengan hal-hal yang sahabat kita sukai. (Thamie AK)


Lagu Favorit Fania berjudul YOU ONLY LIVE ONCE. Lagu yang dibawakan oleh SUICIDE SILENT. Band Deathcore Amerika dari Riverside, California.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2