
Aku menghela napas panjang. Kuambil dompet dari tasku. Tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu, Fania sudah memberikan seluruh belanjaan tersebut kepada kasir. Selagi kasir itu menghitung jumlah belanjaan Fania. Aku pun segera menghitung sisa uang di dompetku.
"Total semuanya satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah," kata kasir tersebut.
Ya, ampun! Uangku tinggal tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.
"Imania, cepat bayar!"
Aku menatap Fania dengan sedikit kesal. "Fania! Uangku tidak cukup!"
"Yah, sudah terlanjur dihitung. Bagaimana, donk?" ucap Fania seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ada apa Imania?"
Seseorang tiba-tiba datang menghampiriku. Ia memperhatikanku yang sedang mengeluarkan uang dari dompet.
"Berapa totalnya, Mbak?"
"Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, Mas?"
Lelaki itu pun langsung memberikan uang sejumlah tersebut kepada kasir. Lelaki tersebut tersenyum padaku. Aku jadi merasa tidak enak padanya.
"Simpan saja uangmu," katanya.
"Aku meminjam uangmu dulu, ya? Aku akan menggantinya lain waktu, setelah aku mendapatkan pekerjaan," kataku.
"Kau akan bekerja?" tanya lelaki itu seraya melebarkan kedua matanya.
Aku mengangguk. "Aku akan melamar pekerjaan dulu."
"Di mana?"
"Belum tahu. Aku belum mencari yang ada lowongan pekerjaan."
"Kalau begitu, kau boleh melamar pekerjaan di tempatku."
"Benarkah?" Aku tersenyum senang.
"Kau boleh datang kapanpun. Restoranku selalu siap menerimamu," katanya seraya tersenyum.
"Terima kasih banyak, Rud!" kataku gembira. Aku senang, tanpa harus repot-repot mencari pekerjaan, Rudi sudah menawariku bekerja di Giant Restauran.
__ADS_1
"Imania. Kau tidak usah memikirkan uang yang tadi. Anggap saja, aku memberikannya untuk Arka," kata Rudi kembali.
Aku pun melirik Fania yang masih sembunyi di balik trolli. Sepertinya, Fania masih rikuh untuk bertemu dengan Rudi. Dan Rudi menyadari pandanganku ke arah Fania. Rudi pun memeriksa seseorang yang sedang bersembunyi tersebut. Rudi menghampirinya.
"Hei! Sedang apa kau di situ?"
Fania pun mendongakkan kepalanya. Ia terbelalak melihat Rudi mengetahui persembunyiannya.
"Sial! Aku bertemu dengan wanita aneh ini lagi!" umpatnya dengan ekspresi sebal.
Fania pun berdiri. Ia tidak berani menatap Rudi. Mungkin Fania masih merasa bersalah atas kejadian muntah di tubuh Rudi itu.
"Ya, sudah. Kami pulang dulu, Rud," ucapku seraya menggendong Arka yang masih duduk di atas trolli.
"Imania!" sergah Rudi.
"Ya?"
Rudi mengambil sesuatu dari dompetnya. "Ini kartu namaku."
Aku menatap Rudi bingung. "Untuk apa? Aku juga sudah tahu namamu?"
"Sesampainya di rumah, kau langsung menghubungi nomor telepon yang tertera di sini, ya?" tutur Rudi seraya memberikan kartu namanya padaku.
"Fania! Ini belanjaanmu! Pegang sendiri, ya? Sekalian bawakan belanjaanku," kataku pada Fania.
Rudi pun mengalihkan pandangannya pada Fania. "Jadi, itu belanjaanmu?"
Fania tak menjawab. Ia langsung mengambil belanjaan tersebut. Lalu berlari keluar dari supermarket.
"Jika saja aku tahu itu belanjaannya, aku tidak akan membayarkannya!" gumam Rudi.
"Apa aku perlu mengganti uangmu segera?" tanyaku.
"Oh, tidak usah. Aku ikhlas untukmu, Imania."
"Ya, sudah. Aku pulang, ya? Terima kasih ...."
"Sama-sama ...."
Aku pun masuk ke dalam mobil. Dan Fania pun segera menjalankan mobilnya. Di dalam perjalanan, Fania mengomel sendiri di dalam mobil.
__ADS_1
"Laki-laki itu! Dia tampak manis. Tapi sedikit sadis!"
Aku memperhatikan Fania yang masih terus mengomel.
"Kenapa dia sangat menyebalkan, sih?"
"Fania, apa kau menyukai Rudi?"
Fania tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak. Itu membuatku dan Arka tersentak.
"Apa kau bilang! Menyukainya? Itu tidak akan!"
"Tapi tatapanmu saat berkenalan itu sangat berbeda."
"Hei! Dia sama sekali tidak menarik! Dia bukan tipeku!" bantah Fania.
Aku tahu. Fania tidak mungkin mengakuinya. Sebenarnya, menurutku Rudi adalah laki-laki yang baik. Dia ramah, lumayan tampan, dan juga sudah mapan.
"Imania!"
"Hm ...."
"Apa kau tidak memperhatikan tatapan Rudi padamu? Dia seperti menyimpan ketertarikan padamu."
"Itu tidak mungkin, Fania. Kami hanya berteman. Apa kau cemburu?"
"Hei! Aku sudah bilang. Aku tidak tertarik padanya. Lelaki angkuh seperti dia. Mana ada yang mau dengannya!"
Fania pun kembali menyalakan mobilnya. Kami langsung pulang ke rumah orang tuaku.
-- BERSAMBUNG --
___________________________________________
Readers Tersayang ...?
Besok pagi, niatnya Author akan Up lagi.
Untuk malam ini, cukup di sini dulu, ya?
Author mau lanjut ngetik dulu.
__ADS_1
Tetap setia menunggu ....
Thank You ...!