BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Seluk-Beluk Fania


__ADS_3

"Kau akan bekerja di tempat Rudi?" ulangnya.


"Ya," jawabku yakin.


"Tidak boleh!"


"Kenapa?" Aku mengerutkan kening.


"Kau tidak akan kuizinkan bekerja di tempat Rudi. Nanti bisa-bisa Rudi menggodamu!"


Aku memasang wajah cemberut. Yang tidak mungkin Dimas bisa melihatnya.


"Kenapa diam?" tanyanya.


"Aku ingin bekerja!" jawabku dengan nada kecewa.


Terdengar suara helaan napasnya. "Kalau begitu, jangan di tempat Rudi."


"Melamar pekerjaan itu susah, Di! Dan Rudi sudah menawariku pekerjaan. Itu kebetulan sekali."


"Pokoknya tidak! Jangan di tempat Rudi, TITIK!"


Aku sangat kecewa mendengar Dimas tidak menyetujuiku untuk bekerja di tempat Rudi. Padahal, Rudi juga baik. Kupikir, aku pasti akan senang bekerja di restoran Rudi.


"Nia, besok aku akan mencarikanmu pekerjaan. Jadi, kau tidak usah khawatir!"


Aku tidak menjawabnya.


"Nia, apa kau marah?"


"Tidak."


"Jangan cemberut!"


"Ya."


"Kau tahu, aku sedang apa?"


"Tidak."


"Aku sedang memeluk guling yang tidak ada nyawanya," candanya.


"Tidak lucu!"


"Benar. Itu tidak lucu. Lebih lucu jika yang kupeluk ada nyawanya, ya? Dan itu dirimu!"


Aku mulai tersenyum mendengarnya.


"Apa kau sedang tersenyum?" tanya Dimas mencoba menebak.


"Eghem ...! Eghem ...!" Fania tiba-tiba berdehem.


"Siapa itu?" tanya Dimas.


"Coba tebak!"


"Kau tidur bersama Alien Pencopet itu?"


Begitulah kami berbincang-bincang hampir dua jam. Dan akhirnya aku pun mengantuk. Dan telepon pun diakhiri dengan romantis. Sedangkan Fania kulihat sudah tertidur nyenyak.


***

__ADS_1


Satu minggu kemudian.


Hari ini aku ingin mengunjungi mertuaku. Aku pun memasak banyak makanan kesukaannya. Dan tentunya berdasarkan diet yang dianjurkan oleh dokter. Aku tidak sembarangan memasukan bumbu-bumbu dan bahan-bahan makanan. Semua atas info dari Dimas. Aku sudah menulis apa-apa yang boleh dan tidak boleh, di kertas.


Usai memasak, aku pun memasukannya ke rantang susun. Aku sangat rindu pada mereka. Begitupun Arka, yang hampir setiap hari menanyakan papa dan kakek-neneknya itu.


Kuhampiri wanita yang masih tertidur di kasur. Aku pun membangunkannya.


"Fania? Ayo bangun! Kau jadi mengantarkan aku, kan?" Kugerak-gerakkan tubuhnya. Akhirnya dia pun terbangun.


"Aku masih ngantuk ...," jawabnya sambil mengucek kedua matanya.


"Oh, Fania. Ini sudah terlalu siang. Lihatlah sudah jam berapa ini?"


"Jam berapa memangnya ...," tanyanya dengan suara kantuk.


"Jam sembilan."


"Baru juga jam sembilan. Ah ...." Fania menguap. "Kalau di rumah pacarku, jam segini aku masih di ranjang."


"Dasar pemalas!" umpatku.


Fania pun duduk lalu memintaku mendekat. Dan ia berbisik. "Jam segini biasanya kami masih berninu-ninu."


Aku segera meninggalkannya. Dia sama saja seperti Dimas. Apa di dalam otak mereka hanya ada pikiran mesum seperti itu?


"Jika kau tidak cepat bersiap-siap, aku akan pergi sendiri!" ucapku seraya menutup pintu kamar.


Aku menunggu Fania sambil duduk di sofa. Arka sudah tidak sabar ingin mengunjungi kakek-neneknya tersebut. Dan setelah menunggu selama setengah jam, Fania pun keluar dengan mengenakan pakaianku. Dia sudah wangi, rambut pirangnya pun sudah diikatnya rapi. Tetapi wajahnya masih tampak mengantuk. Hanya saja, tertutup make up tipis-tipis. Tapi matanya itu tidak bisa berbohong. Dia masih tampak seperti orang yang baru bangun tidur.


"Ayo, berangkat. Aku sudah siap!" katanya seraya berjalan keluar.


"Fania!"


"Hm ...," jawabnya tak bersemangat.


"Apa ... kau tidak mandi?"


Fania menoleh sesaat padaku, lalu tertawa. "Kau sangat mengamatiku rupanya."


"Kau tidak mandi?" ulangku.


"Aku masih mengantuk. Mandinya nanti saja," jawabnya.


"Jorok sekali! Apa kau jarang mandi?"


"Aku hanya mandi satu kali dalam sehari. Kadang-kadang malah tidak mandi sama sekali. Kecuali jika bersama pacarku. Aku bisa mandi berkali-kali. Ha-ha ...!"


"Ck!" Aku tidak lagi menanyakannya. Jika sudah menjurus ke situ, mau ditanya apa, Fania akan menjawab apa.


"Aku sudah seminggu di rumahmu. Lama sekali tidak melakukannya."


"Apa ada bahasan lain?" Aku mencoba mengalihkan pikirannya dari otak mesumnya itu.


"Aku selalu ingin melakukannya setiap kali mengingat itu. Itu enak sekali."


"Fania, apa kau tidak ingin menikah?" tanyaku.


Fania terdiam sesaat. "Aku ingin menikah."


"Mengapa tidak menikah saja dengan pacarmu? Jika kau menikah, apapun yang kau lakukan dengannya, itu halal." Aku mencoba menasehati.

__ADS_1


"Aku mau menikah. Tapi tidak dengannya."


Aku menatapnya tidak mengerti. "Kenapa? Bukankah dia kekasihmu?"


"Dia memang pacarku. Tapi ... aku tidak mencintainya," katanya seraya mengukir senyum samar di wajahnya.


"Jika tidak mencintainya, mengapa mesti berpacaran?"


"Apa kau sangat penasaran?" Dia balik bertanya.


"Sekarang kau sahabatku. Kau sudah menjadi bagian dari keluargaku. Kami semua menyayangimu, termasuk Arka! Aku berhak tahu tentang dirimu, bukan?"


Dia tersenyum padaku. "Terima kasih. Terima kasih sudah mau menerimaku," jawabnya dengan suara yang sangat tulus.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Fania!"


"Pertanyaan apa?" Fania pura-pura tidak mengerti.


"Mengapa kau berpacaran dengannya, jika kau tidak mencintainya?"


Fania kembali diam. Ia hanya mengulas sedikit senyum. Lalu menarik napasnya dalam-dalam. "Aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya cinta. Lagi pula ... sejak kecil aku tidak pernah dicintai. Aku juga tidak pernah tahu rasanya kasih sayang dari orang tua," jawabnya dengan mimik muka sedih. "Aku berpacaran dengan Reza, hanya karena iseng saja. Aku ingin tahu apa itu cinta. Kupikir setelah berpacaran hingga bercinta dengannya, aku akan tahu apa itu cinta. Nyatanya, aku tidak menemukan apa-apa yang disebut dengan CINTA itu."


Aku memperhatikan wajah Fania yang diselimuti rasa sedih. Aku merasa, Fania memiliki beban hidup yang teramat menyedihkan. Semua itu terlihat jelas, saat Fania berbicara dengan serius. Wajahnya mengukir senyum. Namun matanya, matanya terlihat sendu. Sebenarnya, siapa wanita ini? Seperti apa seluk beluknya? Dan mengapa dia sampai menjadi seperti sekarang ini? Ada banyak pertanyaan yang ingin segera kutemukan jawabannya.


"Fania ... di mana orang tuamu?"


Fania menghentikan mobilnya. Dan ini masih setengah jalan menuju rumah mertuaku. Fania tampak sedang menetralkan perasaannya. Mengapa dia terlihat sensitif bila ditanya perihal kedua orang tuanya?


"Ibuku sudah meninggal. Aku sendiri tidak pernah tahu seperti apa ibuku. Kecuali dari sebuah foto, yang kutemukan dari laci milik bibi. Sebenarnya, aku juga tidak yakin itu foto ibuku. Mereka semua menyembunyikan identitas ibuku," kata Fania dengan nada lirih.


"Kata paman dan bibiku, serta kata orang-orang, ibuku meninggal setelah melahirkanku. Dan ayahku ... aku tidak tahu siapa dan di mana. Semua orang yang kutanyai perihal ayahku, mereka tidak tahu. Termasuk paman dan bibiku, mereka seperti menyembunyikan itu semua dariku," lanjutnya lagi.


Kulihat, mata Fania berkaca-kaca. Ia seperti sedang berusaha keras untuk menahan air matanya di hadapanku. Hatiku ikut merasakan kesedihan di setiap penuturannya. Hatiku ikut merasakan sesak. Mungkin, itu sebabnya, Fania bertingkah tidak seperti wanita dewasa pada umumnya, karena dia pun tidak pernah mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya.


Aku menyentuh pundak Fania. Berusaha menguatkan. "Fania ... aku selalu di sini bersamamu. Kau boleh mencurahkan isi hatimu padaku. Kau boleh membagi kesedihan dan kepedihanmu denganku. Dan aku siap memeluk dan menjadi bahu sandaranmu sewaktu-waktu kau membutuhkan. Mulai saat ini, belajarlah untuk menganggapku lebih dari seorang teman. Anggap aku seperti sahabat yang siap menopang beban hidup bersamamu!"


Satu tetes air mata Fania turun. Namun ia segera mengusapnya. Ia langsung bertingkah seolah tidak ada apa-apa.


"Hei! Kita bisa terlambat! Ayo kita lanjutkan perjalanan!" jawabnya seraya tersenyum lebar. Ia berusaha menutupi segala risaunya. Ia berusaha menutup rapat-rapat luka dalam benaknya dariku. Aku tahu, mungkin saat ini, Fania belum siap untuk berbagi banyak kisahnya denganku. Tapi aku yakin, pelan-pelan, kita pasti akan menjadi layaknya kopi dalam satu gelas. Kita akan berbagi manis dan pahit itu bersama. Hingga semua rasa itu, akan menjadi sebuah rasa yang enak dan indah untuk dinikmati. Fania ... be strong with me!


Fania kembali menjalankan mobilnya. Tidak begitu lama, kami pun sampai. Aku mendapati banyak sepeda motor di depan rumah mertuaku ini. Dan juga, mobil mas Bastian yang terparkir di halaman.


"Wah, ada acara apa di rumah mertuamu?" tanya Fania yang juga ikut terkejut.


"Tidak tahu," jawabku.


Aku, Arka, dan Fania pun turun dari mobil. Dan saat kami sudah di depan pintu yang tidak tertutup, kami lebih terkejut lagi.


"Imania!" seru mas Bastian yang sedang duduk bersanding dengan seorang wanita dengan gaun pengantin berwarna putih. Di depan mereka ada seorang penghulu yang sepertinya sudah siap melaksanakan tugasnya.


-- BERSAMBUNG --


___________________________________________


Readers Tersayang ...!


Nanti Author Keceh balik lagi, di pukul 15.00 WIB. Ditunggu kisah selanjutnya, ya?


Ingat! Jangan lupa untuk SELALU LIKE, COMENT, VOTE!


Thank You ...!

__ADS_1


__ADS_2