
Aku pun beranjak dari tempat tidur. Kuhampiri Fania yang masih duduk seraya tertawa. Kutimpuk ia dengan bantal tersebut hati-hati, agar tidak mengenai Arka yang sudah tertidur pulas.
"Pelankan tawamu itu, Fania! Nanti Arka terbangun!"
Fania pun berhenti setelah cukup tertawa. Kemudian aku duduk di sebelahnya.
"Ayo, ceritakan lagi padaku!" pinta Fania seraya merangkulku.
"Kau tidak serius mendengarkanku!" ucapku kesal.
"Sorry ... sorry ...." Fania menepuk pundakku lirih. Kemudian melepaskan rangkulannya. "Sekarang, coba lanjutkan lagi."
"Tadi sudah sampai mana?" tanyaku.
"Apanya?" Fania balik bertanya.
"Nostalgiaku."
"Oh ... sudah sampai yang berselingkuh!"
Aku menatap tajam Fania, lalu kembali menimpuknya dengan bantal.
"Aku enggak jadi cerita, deh! Malas!"
"Idih! Ngambek!" Fania mencoba merayuku. Ia memelukku seraya berkata, "Janji, deh! Aku bakalan serius mendengarkanmu!" Kemudian ia melepas pelukannya.
Aku pun menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. "Intinya, Dimas dijodohkan. Mungkin itu sebabnya dia tak lagi menghubungiku. Padahal, aku sangat mencintainya. Aku sangat menginginkannya. Hingga pada akhirnya, kami benar-benar Miss Comunication."
"Wah, sedih, deh!" ucap Fania dengan wajah memelas. "Terus, bagaimana dengan tunangan Dimas sekarang?"
Aku pun menceritakan segalanya kepada Fania. Mulai dari pertemuan pertama semenjak perpisahan, lalu saat-saat Dimas menggodaku, hingga tentang Nessa yang tetap kekeuh memaksakan cintanya kepada Dimas.
"Imania. Itu berarti kau akan tetap mempertahankan cinta kalian? Lalu, bagaimana dengan Nessa? Dan ... ayahnya Dimas, bukankah dia sudah melarang keras hubungan kalian?"
"Pertanyaanmu seperti wartawan saja! Tidak bisakah satu-satu?"
Fania menghela napas kasar. "Kupikir, hubunganmu dengan Dimas begitu tenang dan damai. Nyatanya begitu rumit!"
Aku menanggapinya seraya tersenyum. "Aku akan melewatinya."
"Aku mengkhawatirkanmu, Imania ...," ucapnya seraya memelukku lagi.
"Terima kasih ... tapi, besok aku akan bekerja di kantor milik ayahnya Dimas," terangku.
"Perjuangkan cinta kalian!" ucap Fania menyemangatiku.
Setelah cukup berbincang, kami pun tidur.
***
Keesokan harinya, aku bangun lebih awal. Dengan semangat, aku mandi, kemudian bersiap-siap untuk berangkat menuju kantor. Aku memilih satu set atasan dan bawahan yang dipilihkan Fania kemarin. Atasan kombinasi warna krem dan putih. Bawahannya adalah celana berwarna krem juga.
Kutatap diriku di cermin. Make up tipis-tipis sudah berhasil menghias wajahku. Kuambil satu pashmina dengan warna senada dengan pakaian yang kukenakan. Tak lupa kusemproti tubuhku dengan parfum beraroma lembut.
Handphone-ku tiba-tiba berdering. Aku pun mengangkatnya.
"Halo?"
"Assalamualaikum, Sayang? Selamat pagi?" Suara di seberang telepon.
"Waalaikumsalam ...," balasku.
"Kamu sudah bersiap-siap untuk berangkat? Ini sudah pukul 06.30 WIB. Jangan terlambat, ya?"
__ADS_1
"Aku sudah siap untuk berangkat," jawabku.
"Wah, benarkah?"
"Hm ...."
"Kalau begitu kujemput, ya?"
"Di, kau mau mengantarku?"
"Iya. Sekalian berangkat ke rumah sakit."
"Tapi, Di!"
Tin ...! Tin ...! Tin ...!
Bunyi klakson mobil terdengar di telepon. Oh, tidak! Suaranya juga terdengar di depan rumah. Ah, Dimas selalu saja mengejutkanku. Berarti sedari tadi, dia meneleponku seraya menyetir?
"Aduh, siapa, sih, berisik sekali!" Fania terbangun. Ia pun mengucek kedua matanya. Kemudian melihatku dengan pandangan setengah terbuka. "Kau sudah rapi rupanya."
"Fania, bagaimana dengan penampilanku?" tanyaku seraya memperlihatkan diri.
"Aku masih ngantuk!" jawabnya, kemudian tidur kembali seraya memeluk guling.
"Ah, kau! Selalu saja malas! Kalau begitu, aku berangkat dulu, ya?" ucapku seraya mengambil tas.
Sebelum keluar, aku menghampiri Arka yang masih tertidur pulas. Aku pun mencium kening Arka, kemudian menghampiri Fania.
"Jangan lupa untuk menjaga Arka, ya?" bisikku di telinga Fania.
"Hemph ... apa kontrak kerjaku sebagai baby sitter sudah dimulai?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam.
Aku tidak menanggapinya. Segera kulangkahkan kaki menuju dapur. Ibuku sedang memasak di sana.
"Wah, kau terlihat sangat berbeda!" kata ibu.
"Apa penampilanku bagus?"
Ibu mengangkat dua jempol padaku. "Kau terlihat sangat cantik hari ini," puji ibu.
"Ya, sudah. Aku berangkat ya, Bu?"
"Sebentar ...." Ibu mengambil sebuah kotak bekal dan memberikannya padaku. " Ini! Untuk sarapanmu!"
Aku pun menerimanya seraya tersenyum. "Terima kasih, Bu."
"Eh, kamu berangkat naik apa?"
Tin ...!
Suara klakson mobil itu terdengar lagi. Padahal baru saja aku mau bilang, kalau aku akan naik ojek online. Aku khawatir ibu terlalu bersikap berlebihan kepada Dimas.
"Itu siapa?" Ibu langsung mematikan kompor, kemudian beranjak ke luar rumah.
"Ibu!" seruku, tapi ibu tetap melangkah ke luar.
Aku pun mengekor di belakangnya. Betapa girangnya ibuku, saat tahu yang mobil di depan rumahnya adalah milik dokter tampan itu. Ibuku segera menghampiri Dimas yang menungguku di dalam mobil.
"Eh, Nak Dimas?"
"Eh, Bibi." Dimas pun turun dari mobilnya untuk menyalami ibuku.
"Seharusnya menunggu di dalam rumah saja," kata ibu.
__ADS_1
"Terima kasih, Bibi. Mungkin lain kali saja, ya?"
"Kau mau kubuatkan bekal?" tawar ibu pada Dimas.
"Boleh, Bi, jika tidak merepotkan," jawab Dimas yang membuatku terkejut.
"Tunggu sebentar, ya?"
Dengan senang hati, ibu masuk ke dalam rumah lagi. Aku pun menghampiri Dimas. Dimas menatapku tak berkedip. Ia terus memandangku dari atas hingga ke bawah.
"Di! Jangan melihatku seperti itu!"
"Nia? Kau cantik sekali hari ini. Fania memiliki selera yang bagus tentang fashion rupanya."
"Jadi, kau mau memujiku atau memuji Fania?"
Dimas tersenyum seraya menyentil hidungku dengan telunjuknya. "Dua-duanya. Kau sangat cantik dan terlihat seperti ABG lagi. Sedangkan Fania memiliki selera tinggi tentang fashion."
"Oh, ya?"
Ibu menghampiri kami kembali, seraya membawa kotak bekal untuk diberikan kepada Dimas. Dimas pun menerimanya dan berterima kasih.
Kami pun pamit untuk berangkat bekerja. Dan betapa terkejutnya saat Dimas sedang menyalami ibu, tiba-tiba ibu mencubit pipi Dimas lagi dengan gemas. Aku sangat heran terhadap ibu. Bahkan dengan Arka, ibu tidak segemas itu.
"Bu, titip Arka, ya?"
"Kau tenang saja. Arka aman bersamaku. Kam ada Fania juga," ucap ibu seraya tersenyum.
"Ya, sudah. Kami berangkat, ya Bibi?" ucap Dimas.
Kami pun masuk ke dalam mobil dan langsung menuju kantorku. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, kami pun sampai. Dimas memberhentikanku di depan kantor.
Dimas meraih jemariku. Menatapku dalam-dalam. "Nia, kuharap ... kau bisa sabar menghadapi ayahku."
Entah mengapa, perkataan Dimas malah membuatku semakin gugup.
"Jangan gugup!" Seperti membaca pikiranku. Dimas meremas jemariku lembut. "Hanya dengan ini kau bisa mengambil hati ayahku. Kenalilah ayahku. Mungkin, dia terlihat menakutkan. Tapi percayalah, ayahku juga manusia. Dia memiliki hati, yang dapat terluluhkan oleh perasaan yang lembut. Aku yakin, kau bisa. Aku ... aku ingin kita berjuang bersama-sama."
Aku membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang sengaja kulukiskan, agar dia tidak terlalu mengkhawatirkan aku. Meski sejujurnya, aku takut menghadapi situasi ini.
"Nia, perjalanan cinta kita masih sangat panjang. Tapi aku selalu yakin, kita bisa melewatinya. Ingatlah! Bahwa kita sudah mempersiapkan segalanya, termasuk mental. Hingga saatnya kebahagiaan itu tiba, kita bisa menggenggam erat secara leluasa. Tanpa beban, dan tanpa ada aral melintang lagi seperti sekarang ini," lanjut Dimas seraya mendekatkan wajahnya.
Aku kembali tersenyum menanggapinya. Kuhela napas panjang. "Kau juga, harus selalu menguatkanku!"
"Aku akan selalu ada bersamamu."
Mata kami pun saling menatap.
Dimas menangkupkan kedua tangannya ke pipiku. Mendekatkan wajahnya, memusatkan bibirnya pada bibirku. Kelembutan itu pun kembali menghangatkan pagi. Membuat dada yang nervous semakin bergemuruh. Beradu antara cinta dan kekhawatiran.
Dimas melepaskan bibirnya dari bibirku. Namun, tetap menatapku. "Kau cantik sekali hari ini. Aku mencintaimu."
"Aku juga ... mencintaimu," balasku.
"Temui sekertaris Ve terlebih dahulu. Aku sudah memintanya untuk mengurusmu. Jadi, jika ada apa-apa, langsung saja hubungi dia.
"Kau menitipkan aku padanya, seperti anak kecil saja," ucapku.
"Bagiku, kau masih seperti anak kecil. Manis, perlu dimanja, perlu dipantau, serta perlu ditimang. Ha-ha ...!"
Aku pun keluar dari mobil tersebut. Dimas pun pergi. Kubaca basmalah sebelum masuk ke kantor. Aku berharap agar segalanya lancar.
Saat aku masuk ke dalam kantor, semua orang di dalam kantor pun menatapku. Aku berusaha tenang, tapi tetap saja. Aku sangat gugup. Terlebih saat melihat seseorang lelaki paruh baya yang sedang mengamatiku secara seksama.
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --