
Selamat jalan dengan wanitamu itu, dokter elang. Kuberjalan, tak peduli keringat yang membasahi kening, sejalan dengan rasa sesak di dada. Biar saja, aku sudah tak peduli lagi. Ya, harusnya begitu.
Aku berhenti sejenak. Mataku sudah sesak oleh bulir-bulir bening yang memaksa untuk keluar. Tidak! Aku tidak boleh menangisinya lagi. Aku harus bisa membuktikan bahwa aku bisa move on. Aku bisa bahagia tanpanya.
Kutarik napas dalam-dalam, kuembuskan perlahan. Tidak! Jangan menangisinya lagi, Imania. Kau harus kuat!
Aku kembali berjalan, lalu mempercepat langkah menjadi berlari. Semoga kau bahagia, Imania ... semoga kau lebih bahagia tanpanya, Imania. Berlarilah sekuat tenaga dari rasa ini. Berlarilah dan jangan mencoba kembali lagi.
Aku terus menatap lurus ke depan. Berlari menuju kantor. Meski jiwa mampu memotivasi diri sendiri. Namun, pada kenyataannya, hati ini terus merasai sesak. Entahlah. Padahal aku terus berusaha ikhlas. Mungkin, ini yang dinamakan luka di dalam mencintai. Tersakiti dalam kenikmatan cinta yang membelenggu.
Setelah berlari dengan peluh yang mengguyur tubuh, akhirnya aku sampai di kantor. Aku masuk lewat pintu utama. Napasku sudah terengah-engah, kuhela napas beberapa kali agar jantungku berdetak normal lagi.
"Hai, Nona. Apa kau berjalan kaki?" tanya Rangga di pintu masuk kantor.
"Minggir," ucapku mengabaikannya.
Namun, Rangga menghalangi jalanku di pintu. "Apa kau habis berolahraga? Kau kelihatan lelah sekali. Tapi keringatmu itu cukup menggoda iman. Biar aku mengelapnya," goda Rangga sembari mendekatkan tangannya ke wajahku, tapi langsung kutepis.
"Jangan kurang ajar!"
"Kau selalu galak padaku."
"Minggir, Rangga, please ...."
"Hei, kamu!" Suara seseorang dari dalam kantor.
Rangga pun menoleh. Sudah berdiri pak Wibowo di hadapannya.
"Tugasmu di sini adalah sebagai security, bukan penggoda!"
"Maaf, Pak," ucap Rangga sembari menunduk. Kemudian menggeser tubuhnya, memberiku jalan untuk masuk.
Aku pun masuk dan mengucapkan terima kasih pada pak Wibowo. "Terima kasih, Pak."
"Untuk apa?" tanyanya dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Karena ... sudah membantuku masuk."
"Siapa yang membantumu? Aku akan keluar. Dia juga menghalangi jalanku," katanya tanpa aura kehangatan.
Pak Wibowo pun beranjak keluar dari kantor. Sedangkan aku bergegas menuju ruang kerja.
***
Aku selesai mengecek seluruh dokumen. Pekerjaan kantor sudah beres hari ini. Aku teringat dengan handphone yang tengah di-charger. Baterai sudah full. Kulepaskan charger, lalu mengaktifkan kembali handphone tersebut.
Setelah handphone menyala, tertera notifikasi sebelas panggilan tak terjawab dan pesan beruntun masuk dari sebuah kontak. Kubuka pesan dari kontak dengan nama, 'Mr. R'. Aku belum mengganti nama kontak tersebut menjadi 'Rudi'. Biarlah saja.
[Imania, maafkan aku, ya? Aku tidak bisa mengantarkanmu ke kantor hari ini.]
[Imania, i'm so sorry.]
[Imania, aku harus mengantar ibuku ke rumah sakit. Maafkan aku, ya?]
[Hati-hati di jalan. Maaf sekali lagi ....]
Itu adalah pesan yang Rudi kirim tadi pagi. Kebetulan baterai handphone-ku habis gara-gara dipakai mendengarkan musik semalam. Jadi, pesan itu baru masuk.
[Apa handphone-mu mati? Pesanku baru terkirim? Panggilanku juga tidak ada yang terjawab.]
[Apa kau terus menunggu pesan balasan dariku?]
[Iya. Aku terus mengecek pesan darimu sedari pagi.]
[Maaf, handphone-ku mati. Ini juga baru di-charger.]
[Kamu berangkat naik apa tadi pagi?]
[Aku naik ojek online.] Lebih baik berbohong, agar Rudi tidak merasa bersalah.
[Syukurlah. Aku sangat mengkhawatirkanmu.]
__ADS_1
[Bagaimana keadaan ibumu?]
[Dia sedang dirawat di rumah sakit.]
[Di rumah sakit mana? Biar aku ke situ, ya?]
[Di rumah sakit Cahya Nugraha.]
RS. Cahya Nugraha? Bukannya itu tempat di mana Dimas dan Vanessa bekerja?
[Apa aku perlu menjemputmu?] tanya Rudi.
[Tidak usah. Aku berangkat sendiri saja.]
[Baiklah, hati-hati, ya?]
[Oke.]
Ini baru pukul dua siang, tetapi pekerjaanku sudah selesai. Lebih baik aku langsung ke rumah sakit. Kupesan taksi online untuk mengantarku ke sana. Tidak lupa, aku akan membeli buah tangan untuk ibunya Rudi.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Hai, Readers Keceh Tersayang?
Author masih ingatkan lagi, untuk membantu RATING Author Keceh, ya?
Bantu RATING BINTANG LIMA, ya?
Jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE, beri TIP juga boleh.
Pokoknya dukung terus karya Author Keceh, ya?
Yang belum masuk grup, Monggo, gabung bareng Readers Keceh.
__ADS_1
Nantikan kelanjutannya nanti malam, ya?
THANK YOU ...!